December 31, 2014

DESPERATE FOR LOVE


Akhir-akhir ini aku sering banged ketemu sama orang-orang yang ngebet pol tentang masalah percintaan alias pasangan hidup (PH). Menurutku nggak ada yang salah sih, terutama kalo emang uda mateng secara umur, karakter, en finansial. Tapi, yang jadi masalah adalah beberapa orang ngebet soal topik satu ini hanya karena umur mereka mulai memasuki lampu kuning (hampir 30), sehingga akhirnya terkesan kayak kejar target tanpa paham makna sesungguhnya dari "in a relationship".

Beberapa kali ketemuan dengan banyak orang, aku denger cerita yang luar biasa mencengangkan tentang orang-orang yang kusebut "desperate for love", sehingga mereka berusaha mengejar cinta dengan segala cara. Mulai dari cowok yang gencar banget nyatain statusnya yang masih jomblo, cewek yang pakai baju mini-mini untuk narik perhatian lawan jenis, cowok yang nggak peduli ama perbedaan agama en konsisten tembakin panah ke cewek yang menarik hatinya, cowok yang "menebar jala" kemana-mana alias pdkt ke banyak cewek, cewek yang nekad nembak cowok yang dia taksir sampai berkali-kali padahal selalu ditolak, cowok yang rela keluarin duid puluhan juta untuk beliin barang-barang buat cewek yang sedang diincer, sampe ke cowok yang pake alasan-alasan rohani kayak minjemin DVD kotbah untuk "menangkan hati" cewek yang dia sukai. Errrr.

Jujur aja, aku kasian ngeliat orang-orang yang pakai cara demikian demi mendapatkan cinta. Semua yang mereka lakuin JELAS SIA-SIA kalo mereka mau mengejar cinta yang sejati. Cinta tuh bukan sesuatu yang bisa dibeli, dipaksakan, dimanipulasi, ato ditimbulkan dengan serangkaian usaha. Cinta adalah sebuah KARUNIA dari Tuhan, supaya manusia bisa menikmati cinta-Nya en celebrate together with the right one that they love.

Alasan-alasan yang aku temukan saat aku tanya apa sih motivasi mereka sampai segitu gila-gilaan, bikin aku geleng-geleng kepala. Ada yang bilang malu karena menjomblo selama 25 tahun sampai dijuluki jomblo perak oleh temen-temennya (hah emang ada jomblo perak? LOL banged julukannya), ada yang ngerasa tuh cowok/cewek adalah jodohnya, ada yang ngerasa nggak bisa hidup tanpa ada orang yang support en menemani, ada yang bilang dikejar umur en keluarga besar uda ribut. Nggak tau harus ketawa ato simpati sama alasan-alasan nggak jelas di atas.

Menurutku pribadi, orang yang gencar nyatain status jomblonya berarti nggak paham karunia yang Tuhan kasi sebagai single, yaitu masa persiapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik (bukan hanya mencari the right one, tapi seharusnya dia menjadi the right one). Orang yang rela tampil dengan pakaian mini-mini demi menarik perhatian lawan jenis berarti nggak memahami bahwa seharusnya dia menjadi "kebun tertutup dan mata air termeterai" yang hanya bisa di-unlocked oleh suaminya. Orang yang nggak peduli dengan background agama adalah orang yang nggak paham bahwa hubungan dengan Tuhan adalah dasar dari sebuah hubungan yang langgeng. Orang yang secara acak tebar jala en deketin cewek yang merespon adalah orang yang nggak paham bahwa cinta tuh unik, bukan siapa cepat dia dapat. Orang yang bela-belain beliin barang-barang mahal untuk dapetin hati seorang cewek adalah orang yang nggak paham bahwa cinta adalah sesuatu yang berharga, yang nggak bisa dibeli oleh uang. Orang yang nekad nembak cowok berkali-kali walopun uda ditolak adalah orang yang nggak menyadari porsinya sebagai cewek tuh menunggu. Orang yang pakai alasan rohani untuk deketi cewek yang dia taksir adalah orang yang nggak menghargai Tuhan secara penuh, dia nggak paham kalo kerohanian bukanlah senjata untuk menangkan hati cewek, tapi senjata untuk menangkan jiwa.

Inilah pelajaran yang bisa kupetik dari semua kisah yang kudengarkan dari berbagai pihak:
Pertama, cinta yang sejati tuh nggak dateng dengan instan. Cinta sejati tuh butuh proses, waktu, en tahan uji. Segala sesuatu yang kita dapatkan dengan instan, ujungnya selalu nggak baik untuk jangka panjang. Liat aja apa akibatnya kalo orang sering makan mie instan :p Cinta sejati tuh memerlukan waktu en proses untuk matang, dapat diuji, en dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, Kidung agung 2:7c  bilang "jangan menggerakkan dan membangkitkan cinta sebelum diingininya".

Kedua, cinta yang bisa bertahan sampai kekal adalah cinta yang dibangun berdasarkan fondasi yang benar. Fondasi dari apa yang kita bangun adalah hal yang sangat penting. Kalo fondasi kita rapuh, maka hubungan yang kita bangun bakal rapuh juga. Tapi kalo fondasi kita kokoh en benar, maka hubungan yang kita bangun nggak akan goncang sekalipun dihantam berbagai masalah. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu" (Matius 7:24-25).

Ketiga, cinta adalah sarana untuk kita memuliakan Tuhan. Cinta diciptakan Tuhan dan ditaruh dalam kehidupan manusia bukan untuk alasan yang murahan, tapi agar kita bisa menikmati hubungan dengan pasangan kita en memuliakan Tuhan melalui hubungan itu. Seperti yang Alkitab katakan, bahwa cinta yang sejati adalah seperti cinta Kristus kepada gereja-Nya, cinta seperti itulah yang seharusnya kita miliki, yaitu unconditional and unlimitless. Sehingga ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang, kita bisa memuliakan Tuhan melalui hubungan tersebut dengan cara memperlakukan pasangan kita dengan benar seperti yang Tuhan kehendaki.

BOY MEETS GIRL

     
Tahun ini adalah tahun yang paling penuh warna yang pernah kualami. Selain bergumul tentang pelayanan en CG, aku bergumul juga tentang pekerjaan, studi lanjut, en juga tentang pasangan hidup alias PH. Tahun ini banyakkkk banged cowok yang PDKT aku dengan segala cara yang menurutku awkward, bikin ilfil, nggilani, sampe yang bikin deg-degan. Karena itu, baru-baru ini aku baca buku "Boy Meets Girl"-nya Joshua Harris en belajar banyak hal yang luar biasa tentang hubungan antara pria en wanita.
       
Well, seperti sebelum-sebelumnya, tetep aja banyak cowok yang PDKT aku, mulai dari temen kantor, temen CG, orang yang baru kukenal di  CG pro-M, bahkan temen baik. Sebagian besar cowok-cowok itu geje, cuma ada 1 cowok yang sempet bikin aku deg-degan en pergumulin (xixixi).  Bosen banged rasanya ngadepi cowok-cowok geje, yang cuma tertarik sama aku karena penampilan luar ato alasan dangkal. Bosen banged ngeliat cowok-cowok yang bisa dengan mantapnya sebutin alasan-alasan mereka suka sama aku, tapi diri mereka sendiri nggak punya kualitas seperti yang mereka sebutin. Misalnya mereka bilang suka aku karena aku cinta Tuhan, padahal kualitas kerohanian mereka masih dipertanyakan. Ato mereka bilang aku adalah orang yang punya karakter, eh ternyata mereka sebagai cowok aja belum bisa punya karakter yang berkenan di mata Tuhan. Arghhhhh.
         
Aku menyadari kalo semua orang emang butuh cinta, tapi cinta yang seperti apa? Apakah cinta sesaat, cinta kepepet, cinta kagum, cinta karena dikejar umur, ato cinta yang dibangun berdasarkan kasih Kristus? Banyak orang yang nggak memahami konsep ini. Padahal cinta yang paling membahagiakan adalah cinta yang dibangun berdasarkan persahabatan yang berkualitas, dinaungi oleh kasih Kristus, dan diuji oleh waktu.
         
Ada bagian dari buku ini yang membahas tentang "lebih dari teman biasa tapi belum jadi kekasih", yaitu tentang gimana menjaga hati masing-masing (tanpa harapan berlebihan akan kemungkinan berpacaran) namun tetap saling mengasihi sebagai saudara dalam Kristus. Paulus pernah berpesan sama Timotius dalam hal ini, "Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian" (I Timotius 5:1b-2). Joshua Harris bilang kira-kira begini: "Persahabatan antara lawan jenis adalah sebuah kesempatan untuk menjadi saudara di dalam Kristus dengan penuh kemurnian. Seorang pria perlu belajar menjadi seorang pemimpin, inisiator, dan melindungi saudarinya dalam Kristus. Seorang wanita perlu belajar bagaimana mendukung seorang pria sebagai saudara dalam Kristus, menghargai kepemimpinan seorang pria, dan mengembangkan karakter yang lemah lembut". Nah, inilah yang seharusnya dikejar terlebih dulu dalam hubungan antara pria dan wanita, bukan melulu tentang cinta!
         
Ini loh konsep hubungan yang benar, yang Tuhan inginkan dari putra dan putri-Nya. Yaitu sebuah persaudaraan yang murni, yang memuliakan Tuhan. Tumbuhnya benih-benih cinta adalah suatu bonus dari sebuah persahabatan. Tapi hubungan cinta yang dibangun instan tanpa didasari oleh persahabatan adalah cinta yang dangkal.


Refleksi:
Selama ini aku nggak pernah galau tentang masalah PH. Bertaun-taun aku berhasil fokus untuk melayani Tuhan en sesama, sekalipun temen-temenku uda pada punya pacar bahkan ada beberapa yang udah nikah. Awalnya aku berpikir kalo semua itu (selain karena kebaikan Tuhan) adalah karena aku punya kemauan yang kuat en prinsip “pacaran sekali untuk menikah”. Tapi aku baru sadar kalo ternyata Tuhan kasi aku seorang sahabat yang bener-bener berlaku as my brother in Christ, dimana dia memperlakukan aku dengan sangat baik, memenuhi kebutuhanku akan kasih en perhatian, membangun kehidupanku dalam Tuhan baik secara kerohanian maupun karakter, sehingga aku ngerasa nggak perlu untuk nyari-nyari cowok laen demi sebuah “status” or perhatian. Aku belajar banyak hal en dapet banyak kesempatan untuk berlaku as a sister in Christ, gimana jadi wanita yang support en negur dia tapi tetep ngehargain hakikatnya sebagai cowok.

Bener-bener bersyukur banget punya cowok satu itu bertaun-taun, sehingga hidupku sangat stabil (alias nggak galau tentang PH sebelum waktunya, hehehe). Bersyukur banget buat semua kesabaran, teguran, kasih, perhatian, en quality time yang dia berikan dalam hidupku. So dalam tahun-tahun kemarin, sekalipun buanyak cowok yang PDKT aku, aku sama sekali nggak tersentuh karena semua kebutuhanku sebagai cewek udah dipenuhi oleh sahabatku itu. En kedekatan kami ini nggak eksklusif, dalam arti masing-masing tetep punya waktu sendiri-sendiri untuk bangun hubungan dengan orang lain (sesama atopun lawan jenis), melayani Tuhan en sesama, maupun family time. Intinya tetep jaga hubungan yang sehat, pertumbuhan karakter en rohani, serta tetep jadi berkat buat orang lain.

Kami sama-sama tau, one day masing-masing kami akan punya pasangan sendiri en kami bersyukur buat waktu-waktu yang ada untuk saling membangun sebagai sodara dalam Kristus, bersyukur buat kesempatan belajar dari persahabatan lawan jenis yang kami bangun. The right one is on the way. Yeayyy!

ORDAINED

"I praise You because I am fearfully and wonderfully made; Your works are wonderful, I know that full well. My frame was not hidden from You when I was made in the secret place. When I was woven together in the depths of the earth, Your eyes saw my unformed body. All the days ORDAINED for me were written in Your book before one of them came to be" (Psalms 139:14-16).

Beberapa minggu kemarin, aku sempet stres berat. Bergumul dengan
masalah pekerjaan yang luar biasa menekan, sampai aku pengen resign en cari pekerjaan baru. Bergumul dengan studi lanjut, apakah aku bisa biayain S2 tahun depan dengan gaji yang pas-pasan, ato aku ambil aja tawaran beasiswa untuk sekolah bahasa setaon di Cina. Belum lagi bergumul tentang kerinduan untuk masuk ke dalam pelayanan baru di tahun depan. Trus juga bergumul tentang pasangan hidup, siapa sih my real prince. Kayaknya semua aspek hidupku lagi di zona kritis deh.
       
Berdoa, berpuasa, en berserah. Tapi aku belum juga dapet ketenangan.Sampai di suatu minggu siang, pas aku sedang baca buku "A Deeper Level"-nya Israel Houghton en nyampe di Mazmur 139:14-16. Langsung damai sejahtera dari Surga tuh turun di hatiku. Aku langsung klik pas dapet kata "ORDAINED". Dalam bahasa Indonesia, ordained tuh artinya ditetapkan. Waow, ayat itu maknanya luar biasa banget. Aku jadi semakin paham bahwa segala sesuatu dalam hidup ini, sudah Tuhan tetapkan, sudah Tuhan atur dengan sempurna. Tentang masa depan, pasangan hidup, pekerjaan, pelayanan, keluarga, dll. Jadi, aku nggak perlu kuatir dengan apapun juga. Tuhan punya rancangan yang sempurna bagiku, sekalipun saat ini aku masih "buta" dengan masa depan, pasangan hidup, en pekerjaan.
   
Tuhan tuh baik banget, tiba-tiba semua hal yang menekan hidupku terangkat dari pundakku pas aku baca ayat itu. Entah kenapa, I'm always blessed tiap kali baca Mazmur 139. En terutama kali ini, ketika kata-kata di ayat itu melompat ke hatiku en menimbulkan damai sejahtera. Lucy nggak mau kuatir en stres tentang semua area di hidupku, Tuhan. Lucy berserah, because I know that You have ordained everything for my goodness. Thanks God for Your kindness and mercy.

En tiba-tiba inget kejadian sebtu malem beberapa minggu lalu, yang merupakan salah satu bukti kalo Tuhan ordained everything perfectly. Jadi waktu itu aku dateng ibadah pro-M sama sahabatku en kami nggak berhenti bersyukur untuk banyak ordained things yang Tuhan siapkan buat kami. Pertama, kotbah hari itu really jleb jleb buat kami berdua (summary-nya di SINI). Kami tau hal-hal apa aja yang harus kami ubah di hidup kami. Thanks pastor Edward Supit buat kotbahnya yang ngubahin hati.
   
Kedua, malem itu hujan turun dengan deras setelah musim panas berkepanjangan. Puji Tuhan, akhirnya udara berubah jadi sejuk. Ketiga, pas pulang ibadah sahabatku ini berencana mau ajak aku makan di Bon Ami deket gereja, tapi karena ujan makin deres, kami ganti tempat. Dia ajak aku ke TP, trus kami mau makan di Fish&co. Ternyata udah lewat waktunya last order karena udah jam 21.30. Wah kami berpikir, gimana nih pulang dengan perut laper, sementara di luar hujan deras. Muter otak, akhirnya kami nyoba ke Excelso. Puji Tuhan, masih bisa order. Makan enak sambil quality time berdua ;) Sebenernya hal itu kecil, cuma masalah perut. Tapi kami berasa bangeeeettt kalo Tuhan tuh perhatiin kami sampai hal-hal detail kayak gitu. Keempat, pas selesai makan, kami pulang pas banget ujan uda berhenti. Bener-bener luar biasa.
   
Kelima, pas pulang aku sempet was-was, wah gimana kalo daerah rumahku banjir. Surprisingly, ternyata daerah rumahku aman, sodara-sodara :D Waow, Tuhan bikin semuanya sempurna. Hal-hal sepele pun He was ordained for our goodness. So malem itu pulang rumah dalam kondisi full, diberkati secara rohani en jasmani. What an awesome night. Thanks Lord!
   
Nah kalo hal-hal kecil tentang perut yang laper en masih ada restoran yang mau terima pesanan di detik-detik terakhir sebelum tutup, trus ujan yang berhenti saat kami mau pulang, en kondisi sekitar rumah yang nggak banjir sehingga aku bisa nyampe rumah dengan selamat aja Tuhan perhatiin. Masa sih hal-hal krusial dalam hidup, seperti pekerjaan, masa depan, pelayanan, en pasangan hidup kagak disiapin Tuhan dengan lebih matang? Aku yakin kalo Tuhan udah siapin yang terbaik, dengan cara yang ajaib, en dengan kasih yang sempurna. Suprise me, Lord. I will trust in You for all my day.

PRACTICAL PERSONALITY READING

Awal Desember ini, aku ikut sebuah workshop bareng salah satu temenku. Emang sih kami ngerasa butuh banged untuk ngembangin diri en pemahaman tentang bidang yang satu ini, karena kami berpikir dalam dunia kerja nggak cuma skill yang dibutuhkan, tapi juga pemahaman tentang karakteristik manusia. En we felt blessed waktu belajar tentang hal ini, apalagi pembicaranya adalah seorang expert dan anak Tuhan. Sekedar peringatan, pengetahuan tentang karakteristik manusia ini NGGAK BOLEH disalahgunakan untuk memanipulasi ato manfaatin kelemahan orang lain demi kepentingan pribadi. Tapi boleh digunakan untuk mengembangkan hubungan yang benar dengan sesama, membangun hubungan yang berkualitas dengan rekan sekerja, en memahami karakteristik orang yang kita kasihi.
Secara garis besar, inilah yang di-share waktu workshop (mengacu pada Myers Briggs Type Indicator/MBTI):
Pertama, dari preffered world, kita bisa membagi karakteristik seseorang menjadi 2, yaitu introvert (I) dan ekstrovert (E). Orang yang introvert mengisi "tangki bensinnya" ketika dia sedang sendirian, me time-nya adalah ketika dia bisa menyendiri. Sedangkan orang yang ekstrovert, mendapatkan semangat baru saat dia berkumpul sama temen-temen ato keluarganya, alias sumber energinya adalah saat dia berkumpul dengan orang banyak. Hal ini gampang banget diliat secara sekilas, apakah seseorang enjoy ketika bersama dengan orang banyak ato nggak.

Kedua, mengenai information, dibagi menjadi 2 bagian, sensing (S) dan intuitive (N). Orang yang sensing adalah orang yang detail dalam memberikan informasi, pandai melihat celah kecil, hebat dalam menggunakan 5 indera. Contoh: Kenapa pilih baju itu? Enak ya pakainya? Dia akan menjawab secara detail, "Warna birunya loh bagus banget, dipakai juga lembut di kulit. Dibuat selfie juga bagus hasilnya". Sedangkan seorang intuitive akan memberikan informasi yang singkat ato namun seringkali memberikan makna lebih. Contohnya, dengan pertanyaan yang sama dia akan menjawab "Bagus sih, enak juga. Kalo mau beli aja di TP" (menambahkan asumsi kalo si penanya pengen beli juga).

Ketiga, tentang decision making dibagi menjadi 2 kategori, thinking (T) and feeling (F). Orang dengan karakteristik thinking akan mengambil keputusan berdasarkan salah ato benar, baru mempertimbangkan perasaan/ kepentingan orang lain. Sedangkan orang yang karakteristiknya feeling adalah kebalikannya. Dia akan memikirkan perasaan/ kepentingan orang lain terlebih dahulu, baru berpikir antara benar dan salah. Contohnya, orang yang posisinya adalah boss, ketika ada karyawan yang kinerjanya nggak beres padahal uda berkali-kali ditegur. Si thinking akan berpikir, "Wah kalo aku biarin dia kerja disini terus, aku bisa rugi". Tapi si feeling akan berpikir, "Kalo aku pecat dia, gimana nasib anak istrinya?" Keputusan akhir si feeling en si thinking kemungkinan bisa sama, tapi pola pikir mereka pada awalnya berbeda.

Keempat, dari structure and plan, dibedakan menjadi 2 karakteristik, yaitu judging (J) dan perceiving (P). Karakteristik orang judging adalah punya perencanaan yang matang, bisa bikin rundown acara, sekalipun untuk liburan. Dia akan mempersiapkan segala sesuatu dengan masak-masak, en bisa stress kalo ada yang menginterupsi jadwal yang dia buat. Sementara orang perceiving adalah orang yang let it flow, sering bilang "gampang lah", tapi selalu punya ide kreatif saat keadaan mendesak alias flexible.

Lalu bahas juga tentang LOVE LANGUAGE, yaitu affirmative word, quality time, receiving gift, act of service, and physical touch. Setiap orang pada umumnya punya 2 perpaduan love language dalam dirinya. Orang yang love language-nya affirmative word tuh menganggap penting setiap kata-kata. So, jangan pernah ngomong kasar ato ngomong sesuatu yang bikin dia tersinggung. Bukan berarti kita jadi sembunyiin kebenaran, tapi musti bijak membedakan apa yang perlu disampaikan en apa yang nggak. Quality time, orang ini suka banged spend time with their beloved, seneng betul kalo ada orang yang kasi dia undivided attention. Jangan pernah abaikan dia pas lagi ngobrol dengan sibuk chatting, dia bisa marah en ngerasa nggak dikasihi. Orang yang love language-nya receiving gift tuh umumnya seneng banget dikasi en ngasi sesuatu. Orangnya cenderung antusias kalo mendekati momen-momen tertentu, contohnya ulang tahun, wisuda, hari jadian, dsb. Kalo orang terdekatmu punya love language ini, please don't forget setiap tanggal bersejarahnya dia. Act of service tuh orangnya hepi banget kalo dia dilayani, misalnya diambilin minum, dibukain pintu, ditarikkin kursi kalo mau duduk. Buat dia, setiap bentuk pelayanan yang kita lakuin adalah tanda kalo kita mengasihi dia. Physical touch, orangnya suka banget nyentuh en disentuh orang, tapi bukan dalam arti ambil kesempatan dalam kesempitan ya. Kalo orang yang kita kasihi tuh love language-nya ini, kita bisa tepuk bahunya untuk kasi support, pegang tangannya sebentar. En ko Ronee (si pembicara) sempet kasi tambahan the 6th love language, yaitu didengarkan.

Trus ada lagi materi tentang 5 money personalities, dimana kita bisa memahami kepribadian seseorang ketika berhubungan dengan uang. Umumnya, tiap orang juga punya 2 perpaduan dalam hal ini. Pertama, risk taker, yaitu orang yang impulsive and life in the moment, biasanya ambil keputusan dengan cepat, suka dengan new experience. Kedua, spender, yaitu orang yang secara alamiah suka buru-buru belanja, mendapatkan sensasi menyenangkan ketika keluarin duid, en rela bayar lebih demi kenyamanan. Ketiga, security seeker, yaitu orang yang suka punya rencana keuangan, suka hal-hal yang bisa diprediksi, en mau berkorban hidup sederhana demi hal besar di masa depan. Keempat, saver, yaitu tipe orang yang rarely spend impulsively, suka bandingin harga untuk dapet yang paling murah. Kelima, flyer, yaitu orang yang mengutamakan relationship di atas uang, tidak mencemaskan uang, bisa membiarkan orang lain membuat keputusan mengenai keuangan.

Nah, kalo kita gabungin MBTI sama love language en money personalities, maka kita bisa dapetin gambaran tentang seseorang secara utuh. Hal ini akan sangat membantu untuk menentukan strategi kita dalam mendekati customer apalagi membangun hubungan dengan sesama (sekali lagi, bukan untuk memanipulasi orang yah). Namun, sometimes yang menjadi tantangan adalah kebanyakan manusia sudah mengalami berbagai penyesuaian dalam hidupnya (entah karena masa lalu yang buruk, pengalaman, kedewasaan, dsb) yang bikin orang itu susah dibaca personalities-nya secara utuh. 

GENEROUSITY

Tahun ini, aku bener-bener diajar Tuhan tentang memberi. Aku ini orang
yang cenderung pelit en susah untuk memberi orang lain, kecuali ke orang-orang yang aku sayang. En Tuhan bener-bener bentuk aku di area satu ini.

Jadi ceritanya, Juli kemarin ada satu temenku yang adiknya sakit en butuh biaya banyak. Tahun ini aku mulai deket sama dia, sering saling cerita en sharing. Waktu dia ngomong kalo adeknya sakit, aku tergerak untuk ngasi sejumlah uang sih. Tapi nggak nyangka, tiba-tiba Tuhan sebutin satu nominal yang menurutku lumayan besar. Seumur-umur, aku nggak pernah ngasi orang dengan nominal segitu. Awalnya ada perasaan "berat" lah, sempet tawar menawar sama Tuhan. Tapi karena aku tau kalo Tuhan lagi ngajar aku tentang hal ini, okelah aku taat. Transfer sesuai nominal yang Tuhan kasi. Well done! Seneng banget pas tau kalo pemberianku ini agak meringankan beban temenku ini. Ya walopun nggak bisa bantu sebanyak yang dia butuhkan.

Aku kira aku uda lulus ujian memberi. Tapi ternyata belum. Bulan lalu ada papa dari anak CG yang kecelakaan, en sekali lagi Tuhan nyebutin nominal untuk aku kasi ke orang itu. Dalam hati berkelit, "Wah Tuhan, bulan-bulan ini aku lagi banyak pengeluaran loh, pengen beli HP baru jugak soalnya BB uda trouble, belum lagi nabung buat S2". Tapi sekali lagi belajar taat, cepet-cepet transfer dah.

Trus akhir-akhir ini lagi diusik sama Roh Kudus, tentang memberi ke orang miskin. Beberapa waktu lalu juga salah satu sahabatku sempet nyinggung topik ini pas kami ngobrol, dia bilang "Kita ini kalo dibilang gaji'e akeh yo nggak, tapi lebih dari cukup lah. Kalo isa memberi, ya berilah. Rasae pengen gitu ngasi sebagian gaji untuk orang yang butuh, terutama ke anak-anak yang nggak isa sekolah". Pas dia ngomong gitu, langsung klik. Soalnya beberapa bulan terakhir emang aku lagi mempergumulkan hal yang sama, merasa kok aku ini egois banget, punya penghasilan tapi kurang memberi ke orang yang kekurangan. En emang waktu itu sempet Tuhan kasi hikmat untuk menabur di pelayanan yang bantu anak-anak kurang mampu supaya bisa lanjutin sekolah.

Aku sadar, terkadang aku terlalu nyaman dengan hidupku, bahkan cenderung kurang bersyukur. Emang sih gajiku minim, tapi aku masih bisa nabung, masih bisa bayar asuransi, masih bisa cukupi semua kebutuhanku tanpa minta duid dari ortu lagi (puji Tuhan). Sempet mikir, kalo tahun depan beneran ambil S2, gajiku nggak cukup nih. Tapi Tuhan mau paksa aku keluar dari zona nyamanku en mulai ngeliat ke bawah, dimana masih banyak orang yang sangat bergumul dengan kebutuhan pokok mereka. Kalo hari ini aku punya pekerjaan en penghasilan sendiri, aku nggak boleh egois en pakai semua untuk kepentinganku aja. Hidup ini bermakna kalo kita bisa berbagi, hidup ini bernilai kalo kita masih bisa memberi. Memberi bukan masalah jumlahnya, tapi hati. Mudah untuk memberi ketika kita punya banyak, tapi yang Tuhan sorot adalah kondisi hati kita saat memberi (terutama kalo yang di tangan kita tuh pas-pasan), apakah kita memberi dengan ngomel ato bersyukur?

En diingetin ayat bahwa Tuhan sangat menghargai orang yang memberi serta menganggap pemberian kita tuh sebagai pemberian bagi-Nya: "Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku" (Matius 25:35-36).

Emang yang namanya memberi nggak selalu tentang duid, tapi dalam hidupku, aku sedang belajar memberi dalam bentuk uang. Buat aku gampang untuk ngasi makanan, pakaian, or hal-hal lain karena mamaku adalah tipe orang kayak gitu en aku banyak belajar dari beliau. Tapi masalah banget buat aku kalo uda tentang duid. En aku nggak mau nganggep hal ini sebagai beban, tapi sebagai sebuah keistimewaan untuk melayani. Use everything in my life for Your glory, Lord.

SPIRITUAL CHECKUP PART 2 (DONALD S. WHITNEY)

6.  Apakah Anda menaruh kesukaaan di dalam mempelai Kristus?
"Makin dekat Anda dengan Tuhan, akan makin dekat pula Anda dengan sesama orang percaya" (Peter Jeffrey).
"Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demiklian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela" (Efesus 3:25-27).
Jelas bahwa, seperti halnya Kristus, setiap orang yang mendapatkan Roh Yesus akan mengasihi apa yang Yesus kasihi dan apa yang baginya Yesus rela mati, yakni mempelai-Nya, gereja. Jadi, salah satu tes terbaik untuk menguji apakah kita ini kepunyaan Kristus adalah apakah kita menyukai apa yang menjadi kesukaan-Nya, yaitu orang-orang yang membentuk gereja-Nya.
"Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku (Mazmur 16:3).
Menaruh kesukaan di dalam "orang-orang kudus yang ada di tanah ini" berarti menemukan sukacita yang datang karena kehadiran dan pelayanan para pengikut Kristus, baik sebagai jemaat maupun sebagai individu. Apakah hal ini menggambarkan Anda?
Ketika Tuhan menciptakan orang kristiani, Dia mengubah hati orang itu secara dramatis sehingga kesukaan kepada para pengikut Kristus menjadi sesuatu yang mudah dan alami bagi jiwa, sama seperti kita suka memandang keindahan matahari tenggelam atau menikmati makanan lezat.

MENGEKSPRESIKAN KESUKAAN ANDA DI DALAM MEMPELAI KRISTUS
I. Bertumbuhlah untuk lebih memandang mempelai Kristus dan apa yang dilakukannya sebagaimana Yesus memandangnya
Seperti yang dituliskan Paulus dalam II Korintus 4:16: "Meskipun manusia lahiriah kami makin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari". Mereka yang penglihatan rohaninya menjadi lebih jelas akan makin jelas pula melihat kemegahan dan nilai dari karya gereja, yang sangat kontras dari hal-hal yang akan segera sirna. Apa yang terlihat begitu kuat serta mengesankan di mata dunia mulai terlihat lemah dan pudar daya tariknya dalam pandangan orang kristiani dewasa. Makin mata Anda melihat mempelai Yesus dan karyanya sebagaimana yang dilihat Yesus, Anda akan makin mengasihinya, sebagaimana Yesus mengasihi mempelai-Nya, yakni gereja.
Tunjukkan kesukaan Anda di dalam mempelai Kristus dalam cara-cara yang akan membuat perbedaan secara nyata.
II. Carilah kesukaan yang ditemukan dalam bidang-bidang pelayanan yang tidak kelihatan dan tidak menonjol
Kejarlah kemuliaan rahasia yang tersembunyi di balik pelayanan yang tampaknya biasa. Berikan hati, waktu, uang, dan semangat Anda kepada sang mempelai yang baginya Kristus rela memberikan hidup-Nya. Seberapa pun rendah atau tak berguna tampaknya karya gereja di mata dunia, ini adalah pekerjaan yang akan bersinar dengan kemuliaan Tuhan selama-lamanya.
"Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan" (Ibrani 6:10).

7.  Apakah disiplin rohani makin penting bagi Anda?
"Tanpa hidup yang disiplin, Anda akan menjadi orang kristiani yang tidak bertumbuh" (Peter Jeffrey)
Semangat kerohanian yang menyala-nyala pada awal kehidupan kristiani seseorang mungkin tampak lebih mengagumkan, tetapi tungku hatinya baru efektif ketika apinya menyala secara konsisten.
Satu hal yang paling berperan dalam menyalakan api pertumbuhan rohani adalah disiplin rohani kristiani yang dipraktekkan dengan tekun. Disiplin rohani bagaikan alat peniup dan pengorek api-- alat yang dipakai Tuhan untuk meniup dan menjaga api kekal yang telah Dia kobarkan di dalam diri umat-Nya.

APA SAJAKAH DISIPLIN ROHANI ITU?
I. Disiplin rohani adalah sarana-sarana yang ditetapkan Tuhan, yang dapat menolong kita mendekat kepada Tuhan, mengalami-Nya, dan diubahkan makin serupa dengan Kristus
Salah satu pendekatan disiplin rohani adalah membaginya sebagai disiplin rohani pribadi dan kelompok (jemaat). Contoh disiplin rohani pribadi adalah membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi, doa pribadi, berpuasa, berwaktu teduh, menulis jurnal rohani. Disiplin yang membutuhkan kehadiran orang lain contohnya adalah kebaktian, doa bersama, Perjamuan Kudus, dan persekutuan.
Apa yang diberikan-Nya melalui satu disiplin rohani tidak terulang pada disiplin rohani lainnya. Semua disiplin rohani kristiani penting dan memiliki manfaat masing-masing. Sebuah disiplin yang diabaikan adalah sebuah berkat yang tidak diambil.
II. Disiplin rohani kristiani adalah sarana menuju kesalehan, menuju "kekudusan", sebab "tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan"
Orang kristiani yang bertumbuh memiliki selera yang makin besar akan hal-hal yang dapat membawanya makin menikmati indahnya hubungan dengan Tuhan. Dan, ketika kita makin intim dengan Yesus, kita akan makin tertarik kepada sarana-sarana untuk mewujudkan keintiman tersebut. Kita tidak akan menganggap disiplin semata-mata kewajiban, atau sekadar pola menuju keserupaan dengan Kristus yang harus diikuti, tetapi sebagai hidup dan cahaya surgawi bagi jiwa kita.

APA BAHAYA DARI DISIPLIN ROHANI?
Saya tidak mengatakan bahwa peningkatan prioritas disiplin rohani secara otomatis mengindikasikan peningkatan dalam keserupaan kita dengan Kristus. Orang Farisi pada zaman Yesus dan pengikut aliran tertentu pada zaman sekarang terkenal sangat kencang dalam menjalankan disiplin rohani. Namun, tanpa adanya hadirat dan karya pemurnian dari Roh Tuhan di dalam diri kita, usaha seperti itu hanya membuat seseorang lebih bersalah pada Hari Penghakiman.
Disiplin rohani sendiri bukanlah pertanda keserupaan dengan Kristus, melainkan lebih kepada sarana untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hanya anugerah Tuhan yang bekerja melalui disiplin rohanilah yang dapat mengubah orang-orang yang mempraktikannya dengan mata iman yang tertuju kepada Tuhan.
Selain penggunaan disiplin rohani dengan motivasi salah, bahaya lainnya adalah ketidakseimbangan. Bekerja untuk Kristus adalah praktik yang baik; suatu praktik kristiani yang sehat. Namun, bekerja bagi Kristus sedemikian rupa sehingga tidak punya cukup waktu untuk bersama-Nya dan firman-Nya, tidaklah sehat dan salah secara rohani.

APA YANG SEBAIKNYA SAYA LAKUKAN?
A. Bertekunlah dalam usaha untuk semakin serupa dengan Kristus dan menikmati-Nya melalui disiplin rohani, bukan hanya mengejar efisiensi dan menyelesaikan berbagai macam kewajiban
Lawanlah godaan untuk percaya kepada kerohanian instan atau jalan pintas menuju keserupaan dengan Kristus
"Tak ada jalan yang cepat dan mudah menuju kedewasaan rohani. Jiwa yang mencari kematangan rohani yang lebih dalam harus disiapkan untuk tugas yang lama dan sulit. Jika kita hendak mencari Kerajaan Allah, kita harus mengabaikan formula apa pun yang menjanjikan kepuasan rohani secara instan" (R.C. Sproul).
B. Nyalakan kehidupan rohani anda dengan setidaknya satu sodokan
Pilihlah satu disiplin rohani yang jelas untuk membuat sekurangnya satu sodokan nyata dalam api pertumbuhan jiwa Anda.

8.  Masihkah Anda berdukacita karena dosa?
"Saya meyakini bahwa langkah pertama untuk mencapai standar kekudusan yang lebih tinggi adalah menyadari sepenuhnya akan keberdosaan manusia yang luar biasa" (J.C Ryle)
Makin dekat dengan Kristus, makin kita akan membenci dosa karena dosa sama sekali tidak serupa dengan Kristus. Dan makin kita membenci dosa, makin kita akan berduka setiap kali kita menyadari bahwa kita telah merangkul apa yang telah membunuh Juru Selamat kita. Kenyataan bahwa ada suatu pergumulan melawan dosa dan suatu perasaan yang berduka atas dosa itu baik. "Bukan ketiadaan dosa, melainkan dukacita atasnya yang membedakan anak Tuhan dari orang-orang dengan pengakuan iman yang kosong" (A.W. Pink).
Makin dekat Anda dengan cahaya Kristus, makin banyak dosa yang dipaparkan cahaya kudus-Nya di hadapan Anda. Thomas D. Bernard berkata, "Kepekaan kita kepada dosa berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Tuhan". Namun, perlu ada proporsi yang seimbang antara peristiwa pengakuan dosa dalam kehidupan kristiani dengan kemerdekaan tiada banding dari pengampunan dan anugerah keselamatan yang kita miliki melalui Kristus.

APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN JIKA SAYA TIDAK BERDUKACITA KARENA DOSA?
A. Pastikan Anda memahami Injil dalam Perjanjian Baru
Berikan perhatian khusus pada dua hal penting dalam Injil: apa yang membuat Yesus harus mati disalib dan apa hubungan antara pertobatan dan iman yang dihasilkannya.
B. Mohon supaya Tuhan menunjukkan kondisi keberdosaan Anda
Mintalah agar Dia memperlihatkan secara spesifik, bagaimana Anda berbuat dosa, kapan Anda melakukannya, di mana Anda berbuat dosa, mengapa Anda berbuat dosa, serta kepada siapa Anda berdosa.
C. Berdoalah dengan perlahan mengikuti Mazmur 51, jadikan mazmur ini sebagai doa dari dasar hati Anda
Renungkan fakta bahwa dosa Andalah yang memakukan Dia yang kudus dan tak berdosa dari Surga pada kayu salib
Kabarkan Injil kepada diri Anda sendiri setiap hari

9.  Apakah Anda makin cepat mengampuni?
"Jiwa yang tak mau mengampuni... adalah pembunuh kehidupan rohani nomor satu" (James Coulter)
"Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang yang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu)" (Markus 11:25-26).
Pengampunan adalah kehendak Tuhan dan juga merupakan jalan kembali menuju kemerdekaan dan sukacita. Ketika Tuhan menjadikan kita "ciptaan baru" (II Korintus 5:17), Dia memberi kita ruang untuk mengasihi dan menaati kehendak-Nya (Mazmur 40:9). Dan, keinginan hati untuk melakukan kehendak Tuhan--seperti mengampuni--berdenyut dalam diri kita, bahkan ketika kita menolaknya dalam keberdosaan kita.
Tiga kali dalam Injil, Yesus secara langsung menghubungkan pengampunan kita terhadap sesama, dengan pengampunan Tuhan bagi kita-- Markus 11:25-26, Matius 6:14-15, dan Lukas 6:37. Bukan berarti kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan bagi dosa-dosa yang kita lakukan terhadap-Nya dengan cara memberikan pengampunan kepada sesama atas dosa mereka terhadap kita. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa roh yang mengampuni mencirikan orang-orang yang telah diampuni. Orang yang bertobat di hadapan Tuhan adalah orang yang memberi pengampunan bagi sesama.
Dalam Alkitab tidak ada istilah "memaafkan dan melupakan". Tidak hanya itu, Alkitab tidak pernah meminta kita untuk melupakan pelanggaran setelah kita memaafkannya, meskipun kadang-kadang sikap melupakan merupakan buah dari pengampunan. Janji Tuhan bagi semua orang yang mengenal Dia melalui Kristus adalah "Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yeremia 31:34). Pengampunan-Nya berarti bahwa Dia tidak akan mengingat hal itu untuk melawan kita di kemudian hari. Dia tidak pernah akan mengungkit-ungkitnya lagi. Itulah cara yang harus kita pakai dalam mengampuni orang lain. Mungkin ada masa-masa ketika kepercayaan perlu dibangun kembali setelah pelanggaran diampuni, tetapi pengampunan berarti bahwa perbuatan buruk itu tidak akan pernah lagi menjadi dasar keretakan dalam hubungan. Berhati-hatilah agar Anda tidak berpikir telah mengampuni hanya karena Anda telah melupakannya.

MEMERIKSA HATI:
C.S. Lewis mengamati, "Setiap orang berpikir, pengampunan adalah hal yang indah, sampai ia memiliki sesuatu untuk diampuni".
A. Apakah Anda siap untuk mengampuni?
Mungkin sebaiknya pertanyaan ini dibuat sebaliknya: Apakah ada seseorang yang tidak siap Anda ampuni? Agar tumbuh makin menyerupai Dia, berarti kita harus juga mengampuni dalam setiap situasi.
B. Apakah Anda perlu memulai proses pengampunan dengan seseorang?
Jika Anda mendapati diri Anda tidak dapat mengabaikan apapun bentuk kesalahan itu, dan sulit mempraktikkan I Petrus 4:8 yaitu, "kasih menutupi banyak sekali dosa", maka tanggung jawab Anda adalah menolong si pelaku kesalahan melihat kesalahannya, dan mengusahakan rekonsiliasi.
C. Apakah Anda suka mengampuni?
Orang kristiani sejati suka mengampuni. Karena pengampunan Tuhan atas mereka, orang-orang ini berpikir betapa indah dan menyerupai Tuhan ketika mereka memberi atau menerima pengampunan. Itu sebabnya, kesiapan untuk mengampuni adalah suatu tanda yang jelas akan pertumbuhan dalam kesalehan.


10.  Apakah Anda merindukan surga dan hidup bersama-sama dengan Yesus?
"Engkau dapat menilai seseorang dari apa yang menjadi dambaan hatinya" (C.H. Spurgeon).

ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH ADALAH ORANG KRISTIANI YANG MENDAMBAKAN SESUATU
"Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita" (Roma 8:22-23).
"Selama kita di dalam kemah ini, kita [mengacu kepada tubuh jasmani kita] mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman surgawi" (II Korintus 5:2).
Jadi, ketika orang kristiani mendambakan pembebasan tubuh, ia juga berharap untuk berada di hadirat Tuhan, yang akan membebaskan (atu memuliakan) tubuhnya untuk hidup di surga selamanya dan menikmati persekutuan yang kekal dengan umat Tuhan.

ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH MENDAMBAKAN KEKUDUSAN
Mendambakan kelegaan kekal dari persoalan duniawi juga bersifat universal dan tidak hanya dirasakan orang Kristiani. Setiap orang di bumi memimpikan saat ia dapat meletakkan segala bebannya. Keinginan untuk beristirahat dan mendapatkan kelegaan, atau kerinduan untuk bertemu kembali dengan orang tercinta yang telah meninggal, keinginan tersebut adalah sesuatu yang umum, baik di kalangan nonkristiani maupun kristiani. Hanya karena seseorang menantikan dan makin berharap untuk melihat anak, orangtua, atau pasangan mereka di surga, tidak berarti ia bertumbuh sebagai seorang kristiani.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya, "Apakah Anda merindukan surga dan hidup bersama-sama dengan Yesus?", melainkan juga "Untuk surga yang mana dan Yesus yang mana?" Orang kristiani yang bertumbuh makin merindukan surga yang kudus, bukan hanya surga yang nyaman. Mereka berharap akan hubungan yang kudus, bukan sekadar nostalgia. Mereka rindu untuk melihat Yesus yang kudus. Mereka makin merasa tidak kerasan berada di dunia yang penuh dosa karena mereka makin rindu kepada tempat yang kudus, orang-orang kudus, dan Tuhan yang "kudus, kudus, kudus" (Wahyu 4:8). Mereka begitu rindu untuk berbagi dalam kekudusan ini, lebih daripada istirahat, kelegaan, atau pertemuan kembali dengan keluarga dan teman lama mereka di surga.

ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH MENDAMBAKAN KEKUDUSAN DI SURGA LEBIH DARI SEGALANYA
Pertimbangkan kembali kekuatan dari kata-kata "kita mengeluh karena kita rindu", pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-- itu memang jauh lebih baik. Paulus menulis seperti orang yang tidak hanya mengecap dan melihat bahwa Tuhan itu baik (Mazmur 34:9)n tetapi seperti orang yang telah menemukan kekudusan Tuhan secara kekal dan mau tak mau kecanduan, ia merasa tak pernah cukup, dan ia mengeluh "karena rindu" akan satu hal yang dapat memuaskannya-- yakni kenikmatan akan wajah Tuhan yang menyenangkan itu sendiri.

ORANG KRISTIANI YANG MENDAMBAKAN SURGA ADALAH ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH
I. Mereka menetapkan pikiran kepada perkara yang di atas
Orang Kristiani yang bertumbuh menganggap serius, sekaligus bersukacita atas perintah "Carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:1-2). Harta terbesar mereka ada di sebelah kanan Tuhan.
Tekad untuk menyediakan beberapa waktu secara teratur untuk merenungkan dunia dan Dia yang akan segera datang, akan mendorong, memberanikan, memperkuat, menggairahkan, menerangi, menarik, dan menenangkan kita. Orang yang tidak dapat menemukan waktu untuk merenungkan Yesus dan surga mungkin sedang membuang-buang waktu atau lebih sibuk daripada yang Tuhan harapkan.
II. Mereka menyucikan diri sebagai persiapan untuk melihat Pribadi yang Suci
Rasul Yohanes menulis tentang jaminan Tuhan bahwa ketika Yesus "dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci" (I Yohanes 3:2-3).
III. Kerinduan kita akan kekudusan di surga menarik kita menuju kekudusan sekarang
Kita tidak bisa hanya menunggu kekudusan, tetapi harus mengejarnya. J.I. Packer menulis, "Harapan akan surga yang kudus, yang akan dinikmati bersama-sama Juruselamat kita yang suci,  adalah motif yang ampuh untuk hidup dalam kekudusan sekarang".
Apakah Anda memiliki "harapan ini", untuk "melihat-Nya sebagai Dia apa adanya?" Bagaimana hal itu memengaruhi Anda? Bagaimana hal itu membuat Anda menyucikan diri? Bagaimana pandangan Anda tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya mendorong Anda bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus? Makin dekat seorang kristiani yang bertumbuh ke rumah surgawinya, ia akan-- untuk alasan yang benar-- berpikir lebih jauh mengenai apa dan siapa yang menunggunya di surga. Dan, ia akan merindukannya.


DONALD S. WHITNEY

SPIRITUAL CHECKUP PART 1 (DONALD S. WHITNEY)

Tahun ini bener-bener tahun penuh kasih karunia! Tuhan "menghajarku" dengan berbagai hal yang luar biasa berat, tapi Dia kasi waktu dimana aku bisa belajar banyak hal. Bersyukur banget buat kasih setia-Nya yang selalu menopangku, buku-buku rohani yang menempelak en mengokohkan imanku kepada Yesus, en partner rohani yang memperlengkapi aku. "SPIRITUAL CHECK UP" adalah salah 1 buku yang kutemukan di saat yang tepat. Karena summary-nya panjang, aku bakal bagi dalam 2 notes ya.  This is it:

Apakah Anda sehat secara rohani atau hanya sibuk secara rohani?

10 QUESTION TO DIAGNOSE YOUR SPIRITUAL HEALTH:
1. Apakah Anda haus akan Tuhan?
"Hasrat kudus, yang diwujudkan dalam kerinduan, rasa lapar dan haus akan Tuhan dan kekudusan, kerap kali disebut Alkitab sebagai bagian penting dari agama yang sejati" (Jonathan Edwards)
"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia (Filipi 3:10)".
"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:2,3).
Apapun yang terjadi dalam kehidupan Kristiani Anda, kehausan jiwa Anda merupakan pertanda jiwa yang bertumbuh.

3 jenis rasa haus rohani:
a. Rasa haus dari jiwa yang kosong
Manusia biasa, yaitu manusia yang belum bertobat, memiliki jiwa yang kosong. Tanpa Tuhan, ia terus menerus mengejar sesuatu yang dapat mengisi kekosongan tersebut. Jiwa kosong yang merasa haus dan terus mencari ini buta terhadap kebutuhan sejatinya. Hal yang ironis dari seseorang yang jiwanya kosong adalah ia tak henti-hentinya kecewa dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi ia mudah merasa puas dalam pencariannya akan Tuhan.
"Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya" (Yohanes 4:14).
b. Rasa haus dari jiwa yang kering
Perbedaan antara jiwa yang kosong dan jiwa yang kering adalah jiwa yang kosong TIDAK PERNAH mengalami "aliran-aliran hidup" (Yohanes 7:38), sementara jiwa yang kering pernah mengalaminya dan menyadari ada sesuatu yang hilang.
Jiwa seorang kristiani mengalami kekeringan melalui satu dari 3 cara:
A. Terlalu banyak minum dari sumber air duniawi yang kering dan terlalu sedikit dari "batang air Allah" (Mazmur 65:10)
B. "Pengabaian Tuhan" (ada masa ketika Tuhan membanjiri jiwa kita dengan hadirat-Nya, sementara pada waktu lain kita kekeringan karena merasa Dia tidak ada)
"Umat kristiani harus memercayai Tuhan yang sedang menarik diri" (William Gurnall).
Ingatlah bahwa kemampuan merasakan keterpisahan dari hadirat Tuhan merupakan hal yang baik. Kepekaan rohani seperti ini menunjukkan kondisi rohani yang sehat.
C. Kelelahan mental atau fisik yang berkepanjangan
Seorang percaya mungkin tidak merasakan pertumbuhan rohani ketika ia lelah atau kehabisan tenaga, tetapi dalam pikirannya yang kabur, ia justru merenungkan kenyataan hubungannya dengan Kristus.

c. Rasa haus dari jiwa yang puas
Ia telah "mengecap dan melihat betapa baiknya Tuhan itu" (Mazmur 34:9), dan rasanya begitu memuaskan sehingga ia ingin lebih.
"Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus" (Filipi 3:7-8).

Langkah praktis untuk memuaskan dahaga:
I. Renungkanlah firman Tuhan
II. Naikkanlah doa dari firman Tuhan
III.Bacalah karya para penulis yang membuat jiwa Anda haus


2. Apakah Anda makin dikuasai Firman Tuhan?
"Intisari dari persiapan yang diperlukan untuk menyambut kekekalan adalah memercayai apa yang dikatakan Alkitab kepada Anda dan melakukan apa yang diperintahkan Alkitab" (Thomas Chalmers).
"Apabila aku bertemu dengan firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku" (Yeremia 15:16).
"...selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan" (I Petrus 2:2).

Orang yang makin serupa dengan Yesus dari waktu ke waktu akan makin hidup "dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan".
"Carilah pengajaran dan kesaksian! Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar" (Yesaya 8:20). Ini berarti dengan segera bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang dikatakan Alkitab?" ketika menghadapi hal yang paling biasa sekalipun dan kapan pun Anda punya pertanyaan tentang apapun.

MEMBANGUN KEBERGANTUNGAN KEPADA FIRMAN TUHAN:
I. Perdalam hasrat Anda terhadap firman Tuhan
Luangkan waktu untuk firman Tuhan
Bacalah Alkitab setiap hari dan jangan menutupnya sampai Anda mengerti setidaknya satu hal yang Tuhan ingin supaya Anda lakukan sebagai respons atas bacaan tersebut.
II. Buatlah daftar sedikitnya 5 hal yang selama ini belum Anda lihat dengan pandangan Alkitabiah. Kemudian, selidiki Alkitab dan renungkan dengan sungguh-sungguh satu hal setiap hari selama 5 hari mendatang
Latihlah diri Anda untuk bertanya, "Bagaimana Alkitab menanggapi hal ini?"


3. Apakah Anda makin banyak mengasihi?
"Makin banyak seseorang mengasihi, makin serupa ia dengan Tuhan" (Martin Luther).
"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:34-35).
"Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa saja yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya" (I Yohanes 4:21).
Kasih adalah tanda dan karakteristik kekristenan.

BERBAGAI TIRUAN KASIH SEJATI:
A. Kasih sayang alami
Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita secara alami mengasihi orang-orang tertentu (orangtua-anak, keluarga, sahabat), bahkan di dunia yang telah jatuh dalam dosa. Itulah sebabnya kita menyebutnya kasih sayang alami.
Polesan dari sikap terlalu mengasihi diri sendiri
"Aku akan mengasihimu jika kau mengasihiku"
Ujian bagi keserupaan dengan Kristus bukanlah seberapa besar kasih Anda terhadap orang-orang yang mengasihi Anda, tetapi seberapa melimpahnya kasih Anda bagi orang-orang yang tidak mengasihi Anda.
B. Kasih yang tak seimbang
Kasih semacam ini tidak memperlakukan seseorang secara utuh, sebagai kesatuan tubuh dan jiwa yang sama-sama memiliki kebutuhan mendasar. Contoh: sering memberi kepada fakir miskin tetapi tidak punya kasih atau kepedulian bagi jiwa-jiwa sesamanya.
Kasih yang bertumbuh di dalam Yesus tidak hanya akan mengucapkan perkataan-perkataan kasih, tetapi akan melakukan perbuatan-perbuatan kasih juga, seperti yang dilakukan-Nya.

Orang yang bertumbuh dalam kasih akan menunjukkan pertumbuhan itu setidaknya dalam 3 hal:
a. Kasih mereka bagi sesama orang kristiani makin kuat (I Yohanes 3:14, Galatia 6:10)
b. Kasih bagi yang terhilang
c. Kasih bagi keluarga Anda

Setiap orang kristiani dirancang untuk bertumbuh, dan itu termasuk bertumbuh dalam kasih yang dinyatakan bagi keluarga. Mungkin hal tersebut dinyatakan dalam rasa syukur yang lebih daripada sebelumnya, atau jarang marah, atau lebih banyak belaian kasih sayang, lebih sabar, bertanggung jawab, murah hati, hemat, atau lebih banyak memanfaatkan waktu bersama mereka.

Menumbuhkan kasih:
I. Ambillah waktu untuk merenungkan tentang kasih sebagai tanda paling penting dan unik dari seorang kristiani
"Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah (Yohanes 4:8)
Biarkan hati Anda sering-sering dihangatkan oleh nyala kasih Tuhan
Berdoalah sungguh-sungguh memohon agar "dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan" (Efesus 3:18-19).
Temukan keyakinan bahwa Tuhan adalah Bapa Anda ketika Anda mengasihi seperti Dia mengasihi
Setiap orang yang "lahir dari Allah" pasti memiliki ciri-ciri-Nya, yaitu kasih (I Yohanes 4:7)
II. Jadikan sikap meneladani Tuhan sebagai sukacita Anda
"Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita" (Efesus 5:1-2)
III. Kenalilah dalam hubungan-hubungan mana saja Anda paling bertumbuh dalam kasih
Pikirkan orang-orang tertentu ketika Anda hendak bertumbuh dalam kasih, bukan sekedar semua orang secara umum.
IV. Ambillah inisiatif untuk menyatakan kasih, terutama ketika kecil kemungkinannya kasih Anda akan mendapat balasan
Biarlah sukacita yang Anda rasakan karena meneladani Tuhan itu menjadi penuh, tanpa memedulikan tanggapan atas kasih yang Anda tunjukkan.

4. Apakah Anda makin peka terhadap kehadiran Tuhan?
"Jika jiwa orang percaya dalam kondisi yang sehat, ia akan sering mengambil waktu untuk datang ke hadirat Tuhan dengan tujuan agar dapat bersekutu dengan-Nya" (A.W. Pink)
Seiring makin dekat kita dengan Tuhan, seharusnya kita dapat mengenali keberadaan-Nya dengan lebih siap dan lebih sering.
Ketidakpekaan terhadap kehadiran Tuhan di dekat kita jelas menandakan kurangnya kesadaran bahwa "mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" (Amsal 15:3).
Merupakan dua hal yang berbeda ketika Anda merindukan kehadiran Tuhan sekalipun Anda sedang tidak merasakannya, dengan ketika Anda menjalani rutinitas hidup tanpa menyadari hilangnya hadirat Tuhan. Ada perbedaan mendasar antara Yesus yang berseru ketika disalib, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46) dan Simson yang berkata sebelum ditangkap, "Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas,.. Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa Tuhan telah meninggalkan dia" (Hakim-hakim 16:20).

Langkah praktis untuk bertumbuh dalam kesadaran akan kehadiran Tuhan yang terus menerus:
I. Sering-seringlah mengunjungi tempat di mana Tuhan telah menyatakan diri-Nya secara jelas-- yaitu Alkitab
"Makin kita mengetahui dan membaca Alkitab, makin kita akan dibawanya ke dalam hadirat Tuhan. Jadi, jika Anda menghendaki agar Tuhan selalu ada di hadapan Anda, luangkan banyak waktu untuk membaca Alkitab secara teratur setiap hari" (Martyn Lloyd-Jones).
Tanggapilah kehadiran Tuhan bersama Anda melalui percakapan dengan-Nya
Anda dapat berdoa, bercakap-cakap dengan Tuhan menggunakan bagian-bagian dalam Alkitab, terutama pasal-pasal dalam kitab Mazmur. Biarkan kata-kata yang berasal dari hati dan pikiran Tuhan sendiri menjadi "kendaraan" untuk mengangkut segala beban dalam hati dan pikiran Anda kepada Tuhan.
II. Carilah Dia dalam perwujudan kehadiran-Nya yang hanya diberikan melalui ibadah jemaat
Teguhkan kembali secara terus menerus kebenaran bahwa Tuhan itu mahahadir
Tuhan ada bersama kita, bahkan ketika kita tidak merasakan kehadiran-Nya. Namun demikian, kita harus meneguhkan kembali segala kebenaran yang kita ketahui, bahkan ketika kita merasa hal itu tidak benar. Hal ini akan menolong kita agar hidup lebih berpegang pada iman daripada perasaan.

5. Apakah Anda makin peduli dengan kebutuhan rohani dan jasmani sesama?
"Tidak ada hal yang di dalamnya manusia mencerminkan Tuhan lebih nyata daripada berbuat baik terhadap sesama" (John Calvin)
Mata yang peka dan tangan yang suka menolong adalah perlambang orang yang lahir baru di dalam Kristus. Menjawab kebutuhan sesama adalah cara pelayanan Yesus.
"Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa" (Kisah Para Rasul 4:33-34).
"...kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh hendak kulakukan" (Galatia 2:10).
Membagikan suatu berkat rohani (misalnya, dengan memberitakan Injil) tanpa memperhatikan kebutuhan jasmani yang ada di depan mata, tidaklah membawa manfaat bagi siapa pun, terutama bagi orang yang kita layani.
Ini tidak berarti bahwa setiap kebutuhan yang ada harus selalu dipenuhi. Yesus sendiri pun tidak menanggapi setiap kebutuhan yang sebenarnya bisa Dia penuhi. Kalaupun Dia beranjak pergi, itu karena Dia sedang memusatkan diri pada hal lain yang Dia tahu merupakan kehendak Tuhan bagi-Nya saat itu. Terkadang, orang Kristiani yang bertumbuh harus melakukan hal yang sama.

Apakah pertumbuhan rohani Anda timpang? Apakah Anda selalu berbicara tentang hal-hal yang benar, tetapi tidak berbuat apapun untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani sesama? Lalu bagaimana?
Temui Sang Dokter mata agung
Selama pelayanan-Nya di dunia, Yesus menyembuhkan orang buta terutama untuk menunjukkan bahwa kuasa-Nya yang ajaib mampu mencelikkan mata orang yang buta secara rohani.
Begitu kita dilahirkan kembali, "segalanya menjadi baru" (II Korintus 5:17), termasuk pandangan rohani kita. Anda akan mendeteksi tangisan dalam jiwa seseorang sebelum tangisan itu tumpah di wajah mereka, dan mengenali kekosongan hati orang-orang yang bahkan tidak menyadari kehampaan hidup mereka. Luka batin dan kebutuhan yang sebelumnya tidak pernah Anda perhatikan mulai bermunculan dari orang-orang dan tempat yang akrab bagi Anda.
Kenali luka batin dalam setiap hati dan keluarga
Cobalah untuk mengenali kebutuhan di sekitar Anda melalui "saringan kebutuhan". Segala peluang untuk melayani sebagaimana Kristus melayani akan muncul dengan jelas.
Lakukan sesuatu bagi pemberitaan Injil dan kebaikan sesama
Jangan hanya duduk berpangku tangan sampai Anda "merasa dituntun" pada situasi atau kebutuhan tertentu. Jelajahi dunia di sekitar Anda dengan membawa Injil dan kasih Kristus, dan Anda akan mendapati Yesus menuntun Anda menjumpai kebutuhan-kebutuhan yang Dia rindukan untuk Anda layani. Dan, ketika Anda menjadi alat Tuihan untuk melayani kebutuhan sesama, Anda akan mendapati Tuhan sendiri melayani segala kebutuhan Anda.


DONALD S. WHITNEY

LEADING ON EMPTY

Oktober kemarin aku baca buku "Leading on Empty" en bener-bener dapet banyak hal. Intinya buku ini cocok banged sama yang aku alami. Thanks God, begitu banyak berkat yang masih Kau jatuhkan dalam hidupku.

Buku ini mbahas tentang kelelahan memimpin, dimana sebagai manusia yang namanya kelelahan adalah sesuatu yang wajar. Tuhan nyiptain manusia bukan untuk terus bekerja, terus berbuah, terus melayani, terus mengajar, terus memimpin. Tapi Tuhan kasi kita waktu untuk rest. Bahkan Tuhan ciptakan sistem tubuh kita sedemikian rupa sehingga ada hormon yang namanya serotonin, yang berfungsi untuk membuat kita relaks. Hormon ini akan diproduksi kembali di dalam tubuh kita ketika kita beristirahat.

Nah, masalahnya gimana kalo tuntutan hidup kita bikin kita susah istirahat, gimana kalo sekeliling kita selalu menuntut kita ready 24/7, gimana kalo tanggung jawab kita bikin waktu istirahat kita tersita? Ketika kita nggak cukup istirahat, otomatis hormon serotonin nggak terproduksi secara penuh dalam tubuh kita. Sehingga ketika keesokan harinya kita memulai aktivitas kita lagi, kita nggak full.

Kalo keadaan itu terus terjadi, akibatnya tubuh akan pakai hormon adrenalin untuk memaksa tubuh kita bekerja. Padahal hormon adrenalin tuh hanya boleh dipake di saat-saat darurat. Nah, kalo kondisi tersebut terus berlanjut, akibatnya kita akan exhausted, stress bahkan depresi, muak dengan aktivitas yang dulunya bikin kita hepi. En akhirnya kita akan memimpin dalam kehampaan (tanpa passion/tanpa sukacita, hanya berupa kewajiban).

Itulah yang tepatnya kualami di tahun ini. En sekarang aku baru bener-bener paham kenapa Tuhan ijinkan aku keluar dari pelayanan serta "kabur" beberapa bulan dari CG, en tinggal di pro-M. Karena Tuhan pengen ngisi tangki hidupku sampai full. Tuhan pengen pulihkan masa-masa Sabat yang kulalaikan karena tuntutan yang nggak ada abisnya. Tuhan ngajarkan aku, walopun aku punya kemampuan en talenta, aku harus berhikmat, aku harus balance. Nggak semua tuntutan harus kupenuhi, nggak semua tanggung jawab harus kupikul. Rest dari semua tuntutan tuh jauh lebih penting daripada tetap melayani dengan kelelahan.

Nggak ada yang salah dengan yang namanya rest. Tuhan nggak pernah nuntut kita terus aktif 24/7, Dia adalah Allah yang tau batas kita sebagai manusia. Namun seringkali sekeliling kitalah yang mengajukan tuntutan tak terbatas, posisi serta tanggung jawab kita sebagai pemimpin yang bikin kita "merasa bersalah" kalo kita menolak/ menunda sebuah tanggung jawab. Tapi aku bener-bener belajar bahwa di mata Tuhan, lebih baik berhenti ketika kamu tau kamu lelah, daripada kamu tetap bekerja dalam kehampaan.

Aku belajar dari kisah Michael Jordan yang sempat vakum dari dunia basket en beralih ke baseball. Semua orang mempertanyakan keputusannya yang "aneh". Namun Mike Jordan tau kebutuhannya, dia nggak bisa tetap excellent sebagai seorang pemain basket ketika hatinya kehilangan passion akan basket. Itulah yang sempat kualami. Konseling, mengajar, memimpin, berdoa, en semua hal rohani adalah hal-hal yang bikin aku excited. Namun karena tuntutan nggak masuk akal, konflik en keputusan pemimpin yang nggak bijaksana, bikin aku exhausted. Aku jadi "kehilangan passion" akan hal-hal rohani. Bahkan hal-hal rohani sempet bikin aku muak karena aku selalu dituntut, tapi kebutuhanku sebagai manusia akan rest, kasih, perhatian selalu diabaikan.

Waktu-waktu dimana Tuhan ijinkan aku rest kemarin bukanlah waktu yang
terbuang sia-sia, tapi merupakan waktu dimana energiku di-recharge, passionku dimurnikan, kasih mula-mulaku diperbaharui. En aku siap untuk sesuatu yang besar yang sudah Tuhan rancangkan di depan.

So, kesimpulanku adalah jangan pernah tuntut orang untuk bekerja lebih dari batas, jangan pernah tuntut pemimpin rohani/ pendeta selalu standby 24/7, jangan pernah merepotkan orang-orang terus menerus (bergantung pada pemimpin tiap punya masalah, selalu minta konseling tiap ngalami jalan buntu, dsb). Hargai, kasihi, hormati mereka dengan cara beri mereka waktu yang cukup untuk rest, refreshing, en recharge. Jangan hakimi hamba Tuhan yang menolak pelayanan dengan alasan ingin quality time dengan keluarga ato pergi liburan. Jangan pandang sebelah mata orang yang keluar dari pelayanan karena dia kehilangan passion. Setiap orang butuh rest sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.