6. Apakah Anda menaruh kesukaaan di dalam mempelai Kristus?
"Makin dekat Anda dengan Tuhan, akan makin dekat pula Anda dengan sesama orang percaya" (Peter Jeffrey).
"Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demiklian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela" (Efesus 3:25-27).
Jelas bahwa, seperti halnya Kristus, setiap orang yang mendapatkan Roh Yesus akan mengasihi apa yang Yesus kasihi dan apa yang baginya Yesus rela mati, yakni mempelai-Nya, gereja. Jadi, salah satu tes terbaik untuk menguji apakah kita ini kepunyaan Kristus adalah apakah kita menyukai apa yang menjadi kesukaan-Nya, yaitu orang-orang yang membentuk gereja-Nya.
"Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku (Mazmur 16:3).
Menaruh kesukaan di dalam "orang-orang kudus yang ada di tanah ini" berarti menemukan sukacita yang datang karena kehadiran dan pelayanan para pengikut Kristus, baik sebagai jemaat maupun sebagai individu. Apakah hal ini menggambarkan Anda?
Ketika Tuhan menciptakan orang kristiani, Dia mengubah hati orang itu secara dramatis sehingga kesukaan kepada para pengikut Kristus menjadi sesuatu yang mudah dan alami bagi jiwa, sama seperti kita suka memandang keindahan matahari tenggelam atau menikmati makanan lezat.
MENGEKSPRESIKAN KESUKAAN ANDA DI DALAM MEMPELAI KRISTUS
I. Bertumbuhlah untuk lebih memandang mempelai Kristus dan apa yang dilakukannya sebagaimana Yesus memandangnya
Seperti yang dituliskan Paulus dalam II Korintus 4:16: "Meskipun manusia lahiriah kami makin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari". Mereka yang penglihatan rohaninya menjadi lebih jelas akan makin jelas pula melihat kemegahan dan nilai dari karya gereja, yang sangat kontras dari hal-hal yang akan segera sirna. Apa yang terlihat begitu kuat serta mengesankan di mata dunia mulai terlihat lemah dan pudar daya tariknya dalam pandangan orang kristiani dewasa. Makin mata Anda melihat mempelai Yesus dan karyanya sebagaimana yang dilihat Yesus, Anda akan makin mengasihinya, sebagaimana Yesus mengasihi mempelai-Nya, yakni gereja.
Tunjukkan kesukaan Anda di dalam mempelai Kristus dalam cara-cara yang akan membuat perbedaan secara nyata.
II. Carilah kesukaan yang ditemukan dalam bidang-bidang pelayanan yang tidak kelihatan dan tidak menonjol
Kejarlah kemuliaan rahasia yang tersembunyi di balik pelayanan yang tampaknya biasa. Berikan hati, waktu, uang, dan semangat Anda kepada sang mempelai yang baginya Kristus rela memberikan hidup-Nya. Seberapa pun rendah atau tak berguna tampaknya karya gereja di mata dunia, ini adalah pekerjaan yang akan bersinar dengan kemuliaan Tuhan selama-lamanya.
"Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan" (Ibrani 6:10).
7. Apakah disiplin rohani makin penting bagi Anda?
"Tanpa hidup yang disiplin, Anda akan menjadi orang kristiani yang tidak bertumbuh" (Peter Jeffrey)
Semangat kerohanian yang menyala-nyala pada awal kehidupan kristiani seseorang mungkin tampak lebih mengagumkan, tetapi tungku hatinya baru efektif ketika apinya menyala secara konsisten.
Satu hal yang paling berperan dalam menyalakan api pertumbuhan rohani adalah disiplin rohani kristiani yang dipraktekkan dengan tekun. Disiplin rohani bagaikan alat peniup dan pengorek api-- alat yang dipakai Tuhan untuk meniup dan menjaga api kekal yang telah Dia kobarkan di dalam diri umat-Nya.
APA SAJAKAH DISIPLIN ROHANI ITU?
I. Disiplin rohani adalah sarana-sarana yang ditetapkan Tuhan, yang dapat menolong kita mendekat kepada Tuhan, mengalami-Nya, dan diubahkan makin serupa dengan Kristus
Salah satu pendekatan disiplin rohani adalah membaginya sebagai disiplin rohani pribadi dan kelompok (jemaat). Contoh disiplin rohani pribadi adalah membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi, doa pribadi, berpuasa, berwaktu teduh, menulis jurnal rohani. Disiplin yang membutuhkan kehadiran orang lain contohnya adalah kebaktian, doa bersama, Perjamuan Kudus, dan persekutuan.
Apa yang diberikan-Nya melalui satu disiplin rohani tidak terulang pada disiplin rohani lainnya. Semua disiplin rohani kristiani penting dan memiliki manfaat masing-masing. Sebuah disiplin yang diabaikan adalah sebuah berkat yang tidak diambil.
II. Disiplin rohani kristiani adalah sarana menuju kesalehan, menuju "kekudusan", sebab "tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan"
Orang kristiani yang bertumbuh memiliki selera yang makin besar akan hal-hal yang dapat membawanya makin menikmati indahnya hubungan dengan Tuhan. Dan, ketika kita makin intim dengan Yesus, kita akan makin tertarik kepada sarana-sarana untuk mewujudkan keintiman tersebut. Kita tidak akan menganggap disiplin semata-mata kewajiban, atau sekadar pola menuju keserupaan dengan Kristus yang harus diikuti, tetapi sebagai hidup dan cahaya surgawi bagi jiwa kita.
APA BAHAYA DARI DISIPLIN ROHANI?
Saya tidak mengatakan bahwa peningkatan prioritas disiplin rohani secara otomatis mengindikasikan peningkatan dalam keserupaan kita dengan Kristus. Orang Farisi pada zaman Yesus dan pengikut aliran tertentu pada zaman sekarang terkenal sangat kencang dalam menjalankan disiplin rohani. Namun, tanpa adanya hadirat dan karya pemurnian dari Roh Tuhan di dalam diri kita, usaha seperti itu hanya membuat seseorang lebih bersalah pada Hari Penghakiman.
Disiplin rohani sendiri bukanlah pertanda keserupaan dengan Kristus, melainkan lebih kepada sarana untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hanya anugerah Tuhan yang bekerja melalui disiplin rohanilah yang dapat mengubah orang-orang yang mempraktikannya dengan mata iman yang tertuju kepada Tuhan.
Selain penggunaan disiplin rohani dengan motivasi salah, bahaya lainnya adalah ketidakseimbangan. Bekerja untuk Kristus adalah praktik yang baik; suatu praktik kristiani yang sehat. Namun, bekerja bagi Kristus sedemikian rupa sehingga tidak punya cukup waktu untuk bersama-Nya dan firman-Nya, tidaklah sehat dan salah secara rohani.
APA YANG SEBAIKNYA SAYA LAKUKAN?
A. Bertekunlah dalam usaha untuk semakin serupa dengan Kristus dan menikmati-Nya melalui disiplin rohani, bukan hanya mengejar efisiensi dan menyelesaikan berbagai macam kewajiban
Lawanlah godaan untuk percaya kepada kerohanian instan atau jalan pintas menuju keserupaan dengan Kristus
"Tak ada jalan yang cepat dan mudah menuju kedewasaan rohani. Jiwa yang mencari kematangan rohani yang lebih dalam harus disiapkan untuk tugas yang lama dan sulit. Jika kita hendak mencari Kerajaan Allah, kita harus mengabaikan formula apa pun yang menjanjikan kepuasan rohani secara instan" (R.C. Sproul).
B. Nyalakan kehidupan rohani anda dengan setidaknya satu sodokan
Pilihlah satu disiplin rohani yang jelas untuk membuat sekurangnya satu sodokan nyata dalam api pertumbuhan jiwa Anda.
8. Masihkah Anda berdukacita karena dosa?
"Saya meyakini bahwa langkah pertama untuk mencapai standar kekudusan yang lebih tinggi adalah menyadari sepenuhnya akan keberdosaan manusia yang luar biasa" (J.C Ryle)
Makin dekat dengan Kristus, makin kita akan membenci dosa karena dosa sama sekali tidak serupa dengan Kristus. Dan makin kita membenci dosa, makin kita akan berduka setiap kali kita menyadari bahwa kita telah merangkul apa yang telah membunuh Juru Selamat kita. Kenyataan bahwa ada suatu pergumulan melawan dosa dan suatu perasaan yang berduka atas dosa itu baik. "Bukan ketiadaan dosa, melainkan dukacita atasnya yang membedakan anak Tuhan dari orang-orang dengan pengakuan iman yang kosong" (A.W. Pink).
Makin dekat Anda dengan cahaya Kristus, makin banyak dosa yang dipaparkan cahaya kudus-Nya di hadapan Anda. Thomas D. Bernard berkata, "Kepekaan kita kepada dosa berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Tuhan". Namun, perlu ada proporsi yang seimbang antara peristiwa pengakuan dosa dalam kehidupan kristiani dengan kemerdekaan tiada banding dari pengampunan dan anugerah keselamatan yang kita miliki melalui Kristus.
APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN JIKA SAYA TIDAK BERDUKACITA KARENA DOSA?
A. Pastikan Anda memahami Injil dalam Perjanjian Baru
Berikan perhatian khusus pada dua hal penting dalam Injil: apa yang membuat Yesus harus mati disalib dan apa hubungan antara pertobatan dan iman yang dihasilkannya.
B. Mohon supaya Tuhan menunjukkan kondisi keberdosaan Anda
Mintalah agar Dia memperlihatkan secara spesifik, bagaimana Anda berbuat dosa, kapan Anda melakukannya, di mana Anda berbuat dosa, mengapa Anda berbuat dosa, serta kepada siapa Anda berdosa.
C. Berdoalah dengan perlahan mengikuti Mazmur 51, jadikan mazmur ini sebagai doa dari dasar hati Anda
Renungkan fakta bahwa dosa Andalah yang memakukan Dia yang kudus dan tak berdosa dari Surga pada kayu salib
Kabarkan Injil kepada diri Anda sendiri setiap hari
9. Apakah Anda makin cepat mengampuni?
"Jiwa yang tak mau mengampuni... adalah pembunuh kehidupan rohani nomor satu" (James Coulter)
"Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang yang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu)" (Markus 11:25-26).
Pengampunan adalah kehendak Tuhan dan juga merupakan jalan kembali menuju kemerdekaan dan sukacita. Ketika Tuhan menjadikan kita "ciptaan baru" (II Korintus 5:17), Dia memberi kita ruang untuk mengasihi dan menaati kehendak-Nya (Mazmur 40:9). Dan, keinginan hati untuk melakukan kehendak Tuhan--seperti mengampuni--berdenyut dalam diri kita, bahkan ketika kita menolaknya dalam keberdosaan kita.
Tiga kali dalam Injil, Yesus secara langsung menghubungkan pengampunan kita terhadap sesama, dengan pengampunan Tuhan bagi kita-- Markus 11:25-26, Matius 6:14-15, dan Lukas 6:37. Bukan berarti kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan bagi dosa-dosa yang kita lakukan terhadap-Nya dengan cara memberikan pengampunan kepada sesama atas dosa mereka terhadap kita. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa roh yang mengampuni mencirikan orang-orang yang telah diampuni. Orang yang bertobat di hadapan Tuhan adalah orang yang memberi pengampunan bagi sesama.
Dalam Alkitab tidak ada istilah "memaafkan dan melupakan". Tidak hanya itu, Alkitab tidak pernah meminta kita untuk melupakan pelanggaran setelah kita memaafkannya, meskipun kadang-kadang sikap melupakan merupakan buah dari pengampunan. Janji Tuhan bagi semua orang yang mengenal Dia melalui Kristus adalah "Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yeremia 31:34). Pengampunan-Nya berarti bahwa Dia tidak akan mengingat hal itu untuk melawan kita di kemudian hari. Dia tidak pernah akan mengungkit-ungkitnya lagi. Itulah cara yang harus kita pakai dalam mengampuni orang lain. Mungkin ada masa-masa ketika kepercayaan perlu dibangun kembali setelah pelanggaran diampuni, tetapi pengampunan berarti bahwa perbuatan buruk itu tidak akan pernah lagi menjadi dasar keretakan dalam hubungan. Berhati-hatilah agar Anda tidak berpikir telah mengampuni hanya karena Anda telah melupakannya.
MEMERIKSA HATI:
C.S. Lewis mengamati, "Setiap orang berpikir, pengampunan adalah hal yang indah, sampai ia memiliki sesuatu untuk diampuni".
A. Apakah Anda siap untuk mengampuni?
Mungkin sebaiknya pertanyaan ini dibuat sebaliknya: Apakah ada seseorang yang tidak siap Anda ampuni? Agar tumbuh makin menyerupai Dia, berarti kita harus juga mengampuni dalam setiap situasi.
B. Apakah Anda perlu memulai proses pengampunan dengan seseorang?
Jika Anda mendapati diri Anda tidak dapat mengabaikan apapun bentuk kesalahan itu, dan sulit mempraktikkan I Petrus 4:8 yaitu, "kasih menutupi banyak sekali dosa", maka tanggung jawab Anda adalah menolong si pelaku kesalahan melihat kesalahannya, dan mengusahakan rekonsiliasi.
C. Apakah Anda suka mengampuni?
Orang kristiani sejati suka mengampuni. Karena pengampunan Tuhan atas mereka, orang-orang ini berpikir betapa indah dan menyerupai Tuhan ketika mereka memberi atau menerima pengampunan. Itu sebabnya, kesiapan untuk mengampuni adalah suatu tanda yang jelas akan pertumbuhan dalam kesalehan.
10. Apakah Anda merindukan surga dan hidup bersama-sama dengan Yesus?
"Engkau dapat menilai seseorang dari apa yang menjadi dambaan hatinya" (C.H. Spurgeon).
ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH ADALAH ORANG KRISTIANI YANG MENDAMBAKAN SESUATU
"Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita" (Roma 8:22-23).
"Selama kita di dalam kemah ini, kita [mengacu kepada tubuh jasmani kita] mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman surgawi" (II Korintus 5:2).
Jadi, ketika orang kristiani mendambakan pembebasan tubuh, ia juga berharap untuk berada di hadirat Tuhan, yang akan membebaskan (atu memuliakan) tubuhnya untuk hidup di surga selamanya dan menikmati persekutuan yang kekal dengan umat Tuhan.
ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH MENDAMBAKAN KEKUDUSAN
Mendambakan kelegaan kekal dari persoalan duniawi juga bersifat universal dan tidak hanya dirasakan orang Kristiani. Setiap orang di bumi memimpikan saat ia dapat meletakkan segala bebannya. Keinginan untuk beristirahat dan mendapatkan kelegaan, atau kerinduan untuk bertemu kembali dengan orang tercinta yang telah meninggal, keinginan tersebut adalah sesuatu yang umum, baik di kalangan nonkristiani maupun kristiani. Hanya karena seseorang menantikan dan makin berharap untuk melihat anak, orangtua, atau pasangan mereka di surga, tidak berarti ia bertumbuh sebagai seorang kristiani.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya, "Apakah Anda merindukan surga dan hidup bersama-sama dengan Yesus?", melainkan juga "Untuk surga yang mana dan Yesus yang mana?" Orang kristiani yang bertumbuh makin merindukan surga yang kudus, bukan hanya surga yang nyaman. Mereka berharap akan hubungan yang kudus, bukan sekadar nostalgia. Mereka rindu untuk melihat Yesus yang kudus. Mereka makin merasa tidak kerasan berada di dunia yang penuh dosa karena mereka makin rindu kepada tempat yang kudus, orang-orang kudus, dan Tuhan yang "kudus, kudus, kudus" (Wahyu 4:8). Mereka begitu rindu untuk berbagi dalam kekudusan ini, lebih daripada istirahat, kelegaan, atau pertemuan kembali dengan keluarga dan teman lama mereka di surga.
ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH MENDAMBAKAN KEKUDUSAN DI SURGA LEBIH DARI SEGALANYA
Pertimbangkan kembali kekuatan dari kata-kata "kita mengeluh karena kita rindu", pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-- itu memang jauh lebih baik. Paulus menulis seperti orang yang tidak hanya mengecap dan melihat bahwa Tuhan itu baik (Mazmur 34:9)n tetapi seperti orang yang telah menemukan kekudusan Tuhan secara kekal dan mau tak mau kecanduan, ia merasa tak pernah cukup, dan ia mengeluh "karena rindu" akan satu hal yang dapat memuaskannya-- yakni kenikmatan akan wajah Tuhan yang menyenangkan itu sendiri.
ORANG KRISTIANI YANG MENDAMBAKAN SURGA ADALAH ORANG KRISTIANI YANG BERTUMBUH
I. Mereka menetapkan pikiran kepada perkara yang di atas
Orang Kristiani yang bertumbuh menganggap serius, sekaligus bersukacita atas perintah "Carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:1-2). Harta terbesar mereka ada di sebelah kanan Tuhan.
Tekad untuk menyediakan beberapa waktu secara teratur untuk merenungkan dunia dan Dia yang akan segera datang, akan mendorong, memberanikan, memperkuat, menggairahkan, menerangi, menarik, dan menenangkan kita. Orang yang tidak dapat menemukan waktu untuk merenungkan Yesus dan surga mungkin sedang membuang-buang waktu atau lebih sibuk daripada yang Tuhan harapkan.
II. Mereka menyucikan diri sebagai persiapan untuk melihat Pribadi yang Suci
Rasul Yohanes menulis tentang jaminan Tuhan bahwa ketika Yesus "dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci" (I Yohanes 3:2-3).
III. Kerinduan kita akan kekudusan di surga menarik kita menuju kekudusan sekarang
Kita tidak bisa hanya menunggu kekudusan, tetapi harus mengejarnya. J.I. Packer menulis, "Harapan akan surga yang kudus, yang akan dinikmati bersama-sama Juruselamat kita yang suci, adalah motif yang ampuh untuk hidup dalam kekudusan sekarang".
Apakah Anda memiliki "harapan ini", untuk "melihat-Nya sebagai Dia apa adanya?" Bagaimana hal itu memengaruhi Anda? Bagaimana hal itu membuat Anda menyucikan diri? Bagaimana pandangan Anda tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya mendorong Anda bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus? Makin dekat seorang kristiani yang bertumbuh ke rumah surgawinya, ia akan-- untuk alasan yang benar-- berpikir lebih jauh mengenai apa dan siapa yang menunggunya di surga. Dan, ia akan merindukannya.
DONALD S. WHITNEY