January 31, 2012

TEACHABLE HEART

Teachable heart, hati yang mudah untuk diajar. Sesuatu yang sangat langka untuk ditemukan akhir- akhir ini. Sering kali aku menemukan orang- orang yang mengeraskan hatinya dan merasa dirinya pandai sehingga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Bukankah hidup ini adalah sebuah universitas kehidupan, dimana kita terdaftar sebagai mahasiswa abadi, yang tidak akan pernah lulus hingga ajal menjemput?
          
Namun sebagai manusia, seringkali kita mendahulukan ego kita. Kita memasang cap pada diri kita, bahwa kita sudah “terlalu” pandai atau “terlalu” senior, sehingga kita merasa bahwa kita sudah cukup banyak belajar. Benarkah hal itu? Menurutku TIDAK! Sebagai manusia, berapapun usia kita, berapa banyakpun gelar yang kita peroleh, kita tetap perlu untuk belajar. Belajar adalah sebuah proses seumur hidup. Tidak ada yang namanya berhenti dari belajar. Orangyang merasa dirinya sudah “terlalu” pandai dan memutuskan untuk berhenti belahar, maka orang itu sudah mati selagi hidup.
          
Aku menyadari bahwa kita hidup dalam masyarakat yang “tinggi hati”, sehingga kita cenderung sulit untuk belajar, terutama belajar tentang kehidupan. Belajar bukan hanya di bangku sekolah atau universitas, namun juga belajar dari dan tentang kehidupan. Sebenarnya, kita diciptakan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang mudah untuk diajar, asalkan kita merendahkan hati kita dan mau untuk dikoreksi.

Tuhan memberikan Roh Kudus sebagai Penolong kita, untuk mengajarkan banyak hal kepada kita. Namun terkadang, Tuhan mengijinkan kita untuk belajar dari orang lain, yaitu sesama kita. Janganlah kita memiliki sikap hati yang sombong, sehingga kita memandang rendah orang yang usianya lebih muda dibandingkan dengan kita. Orang yang lebih muda daripada kita, belum tentu tidak memiliki sesuatu yang dapat kita pelajari. Seringkali, aku menemukan bahwa Tuhan memakai anak- anak kecil untuk mengajarkanku bagaimana mengucap syukur, mengajarkan ketulusan, dan kemurnian. Usia tidak menjamin bahwa kita “cukup” pandai atau “cukup” berpengalaman.

Sebagai seorang anak Tuhan, kita harus memiliki hati yang mudah untuk diajar, yaitu hati yang lembut untuk dikoreksi, serta hati yang mau untuk berubah. Walaupun secara rohani, mungkin kita merasa bahwa kita sudah mengenal Tuhan, mengerti kitab suci, berpengalaman dalam melayani. Hal itu tidak berarti kita boleh berhenti untuk belajar. Selalu ada hal baru yang dapat kita pelajari, karena Tuhan memberikan pewahyuan dan pengertian yang baru, sama seperti Ia memberikan manna yang baru setiap pagi kepada bangsa Israel di padang gurun.

Dalam Alkitab, ada seorang tokoh yang memiliki hati yang mudah untuk diajar. Orang itu adalah Apolos. “Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal- soal Kitab Suci. Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.Ia mulai mengajar denagn berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan denga teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara- saudara di Efesus mengirim surat kepada murid- murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, mejadi seorang yang sangat berguna bagi orang- orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu- jemunya ia membantah orang –orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias” (Kisah Para Rasul 18:24-28). Apolos adalah seorang percaya yang sangat menggebu- gebu dalam memberitakan Injil, namun pada saat itu pengetahuannya tentang Yesus sangatlah sedikit. Namun ketika Priskila dan Akwila mengajar dia, dia tidak memiliki sikap hati yang sombong ataupun menolak. Ia dengan rendah hati mau diajar, sehingga Alkitab mengatakan setelah itu ia menjadi seorang yang sangat berguna.

Biarlah dari kehidupan Apolos, kita belajar untuk memiliki a teachable heart, hati yang mudah untuk diajar. Karena ketika kita memiliki a teachable heart lah, kita akan selalu diperbarui oleh Tuhan dari hari ke hari, sehingga kita semakin mengenal Dia.
 God bless you all.

January 18,2012
11:31 am

MAZMUR 118

Jumat lalu (13 Januari 2012), ketika aku serius mengenai skripsiku, Tuhan menguatkanku dengan pasal ini. Sungguh- sungguh sebuah pasal yang tepat dengan kebutuhanku saat itu. Thanks God!
Nyanyian puji- pujian
1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!
Bahwasanya untuk selama- lamanya kasih setia-Nya.
2 Biarlah Israel berkata:
“Bahwasanya untuk selama- lamanya kasih setia-Nya!”
3 Biarlah kaum Harun berkata:
“Bahwasanya untuk selama- lamanya kasih setia-Nya!”
4 Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata:
“Bahwasanya untuk selama- lamanya kasih setia-Nya!”
5 Dalam kesesakan aku berseru kepada TUHAN.
TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan.
6 TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut.
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?
7 TUHAN di pihakku, menolong aku;
aku akan memandang rendah mereka yang membenci aku.
8 Lebih baik berlindung pada TUHAN
dari pada percaya kepada manusia.
9 Lebih baik berlindung pada TUHAN
dari pada percaya kepada para bangsawan.
10 Segala bangsa mengelilingi aku –
demi nama TUHAN, sesungguhnya
aku pukul mereka mundur.
11 Mereka mengelilingi aku, ya
mengelilingi aku –
demi nama TUHAN, sesungguhnya
aku pukul mereka mundur.
12 Mereka mengelilingi aku seperti lebah,
mereka menyala-nyala seperti api duri –
demi nama TUHAN, sesungguhnya
aku pukul mereka mundur.
13 Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh,
tetapi TUHAN menolong aku.
14 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku;
Ia telah menjadi keselamatanku.
15 Suara sorak sorai dan kemenangan
di kemah orang- orang benar:
“Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,
16 tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan,
tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”
17 Aku tidak akan mati, tetapi hidup,
dan aku akan menceritakan
perbuatan- perbuatan TUHAN.
18 TUHAN telah menghajar aku dengan keras,
tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.
19 Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran,
aku hendak masuk ke dalamnya,
hendak mengucap syukur kepada TUHAN.
20 Inilah pintu gerbang TUHAN,
orang- orang benar akan masuk
ke dalamnya.
21 Aku bersyukur kepada-Mu, sebab
Engkau telah menjawab aku
dan telah menjadi keselamatanku.
22 Batu yang dibuang oleh tukang-
tukang bangunan
telah menjadi batu penjuru.
23 Hal itu terjadi dari pihak TUHAN,
suatu perbuatan ajaib di mata kita.
24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN,
marilah kita bersorak- sorak dan
bersukacita karenanya!
25 Ya TUHAN, berilah kiranya
keselamatan!
Ya TUHAN, berilah kiranya
kemujuran!
26 Diberkatilah dia yang datang dalam
nama TUHAN!
Kami memberkati kamu dari
dalam rumah TUHAN.
27 TUHANlah Allah, Dia menerangi kia.
Ikatkanlah korban hari raya itu
dengan tali,
pada tanduk-tanduk mezbah.
28 Allahku Engkau, aku hendak
bersyukur kepada-Mu,
Allahku, aku hendak
meninggikan Engkau.
29 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab
Ia baik!
Bahwasanya untuk
 selama-lamanya kasih setia-Nya.

January 18,2012
11.00 am

January 9, 2012

JAM KEHIDUPAN

Jam kehidupan hanya diputar sekali
Akankah waktu dapat diputar kembali?
Menyesal di akhir, tak ada gunanya

Karena itu, manfatkanlah waktumu
Engkau tidak tahu kapan ia akan berhenti
Hari ini, esok, atau nanti
Ingatlah bahwa hidup ini singkat
Dapatkah kau lakukan segala hal
Untuk menyenangkan Raja segala raja?
Perhatikanlah apa yang terutama
Akuilah Dia dalam setiap jalanmu
Nantikanlah Dia dalam doamu

Jan 7th 2012
14:50

January 3, 2012

DOSA, KONSEKUENSI, DAN KESETIAAN ALLAH

Note ini akan membahas bagaimana seorang manusia berdosa menerima kasih karunia dari Tuhan yang Mahabesar. Kita akan membahas tentang Daud yang berzinah dengan Batsyeba, namun Tuhan memberi kasih karunia setelah Daud bertobat. Hal itu membuktikan bahwa Tuhan adalah Allah yang tidak mengingat- ingat dosa yang sudah diampuni-Nya, asalkan kita sungguh- sungguh bertobat dan tidak mengulanginya kembali.

“Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata:”Itu adalah Batsyeba binti Eliam, istri Uria orang Het itu(II Samuel 11:3). Dan setelah Daud mengetahui bahwa Batsyeba mengandung dari hasil perzinahannya dengan Daud, maka Daud bermaksud menutupinya, namun tidak berhasil, sehingga akhirnya Daud “membunuh” Uria dengan perantaraan peperangan. “Paginya Daud menulis surat kepada Yoab dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria. Ditulisnya dalam surat itu, demikian: “Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati(II Samuel 11:14-15). Dan yang lebih kejam lagi adalah ini “Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki- laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (II Samuel 11:27).

Setelah kisah itu, maka nabi Natan diutus Tuhan untuk menegur  Daud melalui sebuah cerita (II Samuel 12:1-14). Tuhan memutuskan untuk menghukum Daud dengan “membunuh” anak hasil perzinahannya, serta mendatangkan malapetaka- malapetaka atas keluarga Daud karena menghina nama Tuhan perihal mengambil istri orang lain. Disini kita melihat betapa seriusnya Tuhan ketika berurusan dengan dosa. Ia adalah Allah yang adil, ketika kita berdosa maka akan ada konsekuensi yang akan kita dapatkan. Namun ketika kita bertobat, maka Ia akan mengampuni dosa kita dan menerima kita kembali. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (I Yohanes 1:9). Namun hal ini tidak berarti bahwa kita boleh berulang kali berdosa dan bertobat, kemudian jatuh lagi dengan sengaja. Jangan mempermainkan kasih setia Allah!

Namun yang sangat luar biasa disini bukanlah Daud yang bertobat dan mengakui kesalahannya di hadapan Tuhan, ataupun doa puasa Daud untuk anak hasil perzinahannya. Yang luar biasa adalah kasih setia Allah setelah Daud bertobat. Walaupun Allah memberikan konsekuensi dan hukuman atas dosa Daud, Allah tidak membuang Daud. Allah berkenan untuk mengasihi anak Daud dengan Batsyeba, yang dilahirkan setelah pertobatan Daud itu, yaitu Salomo. Bahkan di kemudian hari Salomo merupakan seorang raja yang sangat diberkati Tuhan dengan hikmat, kemuliaan, kekayaan, dan kejayaan.

Dari kisah ini kita melihat betapa besarnya Tuhan yang kita sembah, bahwa Tuhan adalah Allah yang mengampuni dosa kita ketika kita mau sungguh- sungguh bertobat. Dan setelah kita bertobat, maka Ia tetap menunjukkan kasih-Nya dalam hidup kita. Haleluya!

January 2, 2012

TUHAN SALAH PILIH?

Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku” (1 Samuel 15:10-11).
“Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya” (Roma 11:29).
                

Dua ayat di atas kelihatannya merupakan ayat yang bertolak belakang ya? Namun sebenarnya apabila kita mencermatinya, kita akan menemukan bahwa firman Allah tidak bisa dicermati hanya sepintas lalu. Aku akan menjelaskan pengertian yang Tuhan berikan kepadaku ketika aku menanyakan maksud dari kedua ayat itu.
              
Tuhan adalah Allah yang sangat luar biasa, Dia Allah yang berdaulat namun Ia bukanlah Allah yang memaksakan kehendak-Nya dalam hidup kita. Ia memberikan kepada kita pilihan bebas, sehingga kita dapat memilih untuk mengikuti kehendak-Nya atau menolaknya. Namun sebagai manusia yang memiliki pengertian yang sangat terbatas, kita seringkali menolak rencana-Nya dalam hidup kita karena kita merasa bahwa rencana-Nya itu “kurang” baik. Akibatnya kita menolak rencana-Nya dan mengikuti rencana yang kita rancang dalam hati kita. Itulah yang disebut dengan dosa pemberontakan.
                
Hal itulah yang dilakukan Saul ketika ia telah diberi perintah oleh Tuhan melalui nabi Samuel “Beginilah firman TUHAn semesta alam: Aku akan membalaskan apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang- halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang,  kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki- laki maupun perempuan, kanak- kanak maupun anak- anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai” (1 Samuel 15:2-3). Saul telah diberi perintah yang SANGAT jelas untuk membunuh semuanya, bahkan bukan hanya manusia, naun juga hewan- hewan milik orang Amalek. Namun Saul tidak melakukan TEPAT seperti perintah Tuhan, “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu- lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka” (1 Samuel 15: 9).
                
Setelah melakukan kesalahan itu, Saul ditegur oleh nabi Samuel, namun ia tidak bertobat. Bahkan yang mengerikan, Saul malah menyalahkan rakyat serta membela diri dengan berlogika; “ Lalu kata Saul kepada Samuel: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan megikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu- lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal” (1 Samuel 15:20-21). 
                
Dari ayat- ayat di atas, kita tahu bahwa penyebab utama dari penyesalan Allah yang telah memilih Saul sebagai raja atas Israel bukanlah Allah salah pilih. Namun Tuhan menyesal karena Saul tidak mengikuti perintahnya dan memilih untuk menaati pikirannya sendiri. Bahkan ketika Saul ditegur oleh nabi Tuhan, dia tidak bertobat dan malah menyalahkan rakyatnya. Saul tidak memiliki hati yang mudah ditegur dan diajar. Sikap hati Saul inilah yang membuat Allah menyesal karena Ia telah mengurapi Saul menjadi raja Israel. Karena seorang raja Israel seharusnya membawa bangsa Israel semakin mengasihi Tuhan, bukan memberontak kepada perintah Tuhan.
                
Melalui kesalahan Saul ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang yang diurapi Tuhan tidak lantas menjadi orang yang sempurna, tidak pernah salah, atau menjadi orang yang patut dipercaya sepenuhnya. Orang yang diurapi Allah tetaplah harus menjagai hatinya agar senantiasa menaati kehendak Allah. Orang yang diurapi Allah tetaplah harus berjalan bersama Roh Kudus sehingga Ia tidak mendurhaka kepada Allah.

HATI YANG BERKENAN

Ketika kalian membaca judul “Hati yang Berkenan”, pasti kalian berpikir bahwa tulisan ini membahas tentang kehidupan Daud. Yup, tulisan ini lagi–lagi tentang Daud. Karena menurutku, kehidupan Daud tidak ada habisnya untuk dipelajari. Banyak hal yang patut diteladani dari hidup seorang anak bungsu yang dikucilkan oleh keluarganya sendiri ini.

Dari kisah Daud, kita dapat menemukan satu hal, yaitu bagaimanapun masa lalu kita, latar belakang keluarga kita, kekurangan dan kelemahan  kita, semua itu tidak sanggup menghalangi pemakaian Allah dalam hidup kita. Haleluya! Masih ada harapan bagi aku dan kamu yang merasa dirinya tidaklah sehebat orang lain sehingga kita ragu apakah Tuhan akan memakai kita.

Hidup Daud yang dilatarbelakangi dengan penolakan yang hebat dari keluarganya ini, tidaklah membuatnya menjadi pribadi yang kecil hati. Kebersamaannya dengan Allah Israel sejak dia masih muda, mengubah trauma masa lalunya menjadi masa depan yang penuh kemenangan. Ketika keluarganya menolaknya, dia tidak membuang waktunya untuk meratapi nasib. Dia tidak mengambil keputusan untuk menjadi kecewa dan pahit terhadap keluarganya. Daud mengambil keputusan yang tepat – di usianya yang masih sangat muda – untuk berlari ke dalam hadirat Tuhan. Bukan dosa, kesenangan dunia, maupun kuasa gelap yang menjadi pelariannya. Namun kubu pertahanan yang kuatlah, yaitu Tuhan yang menjadi tempatnya mengutarakan isi hatinya.

Keputusan untuk “memilih tempat pelarian yang tepat” inilah yang membuat Daud menjadi tokoh yang paling banyak dibicarakan di seluruh Alkitab, setelah Yesus di urutan pertama. Masa-masa “pelariannya” di sungai hadirat Allah inilah yang membuat hidup seorang anak bungsu dari delapan bersaudara ini berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia dipilih Allah menjadi raja Israel bukan karena penampilan fisiknya, bukan karena kehebatannya dalam berperang, bukan karena elok parasnya, namun karena hatinya yang selalu mencari Allah. Karena hati yang melekat kepada Tuhan itulah, maka Tuhan membuatnya menjadi orang yang sangat luar biasa

I Samuel pasal 24 dan 26 mengisahkan bahwa Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, musuhnya yang selalu berusaha untuk melenyapkannya, sekaligus raja Israel yang diurapi Tuhan. Namun betapa besarnya hati Daud, sehingga ia “meluputkan” musuhnya dari pedangnya dan membiarkan Saul tetap hidup. Hari ini apabila kita diberi kesempatan untuk “membunuh” musuh kita, tindakan apakah yang akan kita ambil? Untuk memperjelasnya, saya akan mengatakan bahwa Saul merupakan alasan utama dari pelarian Daud selama kurang lebih 10 tahun. Berkali-kali Saul berusaha membunuh Daud, padahal Daud merupakan panglima perang Israel yang paling hebat dalam militer yang dimiliki oleh Saul, selain itu Daud juga adalah menantu dari Saul sendiri. Begitu kuatnya rasa iri menguasai hati Saul sehingga ia berkali-kali ingin memusnahkan Daud, orang terbaiknya.

Namun, hal yang paling luar biasa disini adalah respon Daud ketika dia memiliki kesempatan untuk “membalaskan dendam” dan memusnahkan musuhnya ini. Daud mengambil keputusan yang sangat langka, yaitu ia membiarkan musuhnya tetap hidup. Alasan yang mendasari keputusan Daud ini bukanlah karena ia menghormati Saul sebagai raja Israel, bukan juga karena Saul adalah ayah mertuanya, namun hanya karena ada urapan Tuhan di atas kepala Saul (sekalipun jauh sebelum itu Tuhan seudah menolak Saul sebagai raja Israel dan Roh-Nya telah undur dari Saul). Daud menghormati Tuhan yang “pernah” mengurapi Saul di masa lalu dan menghormati Saul seolah-olah Saul tetaplah orang yang diurapi Tuhan, walaupun Daud telah diurapi menjadi taja oleh nabi Samuel lama sebelum dia bertemu dengan Saul.

Daud menyerahkan pembalasan dendam ke tangan Allahnya. Dia tidak mau mengutamakan kedagingannya, walaupun ia memiliki hak untuk membalas dendam. Sungguh suatu respon hati yang sangat luar biasa. Karena keputusan-keputusan yang tepat yang diambil Daud selama hidupnya (terlepas dari kesalahan dan dosa yang dilakukannya), maka Allah mengaruniakan kepadanya kemenangan-kemenangan yang besar dalam hidupnya sehingga seluruh Israel tunduk di bawah kekuasaannya selama 33 tahun. Selama pemerintahannya yang gilang gemilang itu, Daud membawa Israel untuk mendekat kepada Tuhan yang benar. Karena hatinya yang berkenan kepada Allah itulah, maka Yesus membiarkan Diri-Nya untuk disebut sebagai “Anak Daud”.

Dari kisah hidup Daud, kita dapat memahami bahwa Allah tidaklah mencari orang yang sempurna, namun Allah mencari orang yang lemah tetapi memiliki hati yang mengutamakan perasaan-Nya dalam setiap tindakannya. Orang yang dipakai luar biasa adalah orang lemah yang menaruh dirinya di tangan Allah yang kuat.

HAPPY NEW YEAR 2012 ^^

Tahun 2011 terlewati sudah. Banyak hal yang telah terjadi di sepanjang tahun 2011, suka duka, tawa tangis, masalah serta pelajaran- pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya membuatku menjadi pribadi yang lebih dewasa dibandingkan tahun sebelumnya. Di antara semua hal yang terjadi, satu hal yang tak berubah yaitu TUHAN TETAP SETIA.
                
Seringkali aku jatuh, namun tangan- Nya menopangku untuk bangkit kembali. Ketika aku dikecewakan sesamaku, Ia selalu menunjukkan bahwa Ia tidak pernah mengecewakanku. Ketika aku terluka, tangan-Nya senantiasa membalut lukaku. Ketika aku membutuhkan-Nya, Dialah Sahabat yang selalu ada bagiku. Dalam segala situasi yang aku hadapi, hanya Dialah yang mendampingku. Thank you, Jesus ^^
                
Memasuki tahun baru 2012, aku berharap bahwa di tahun ini aku akan mengenal-Nya lebih dalam lagi, bukan hanya sebagai Bapaku yang baik. Namun juga sebagai Sahabat yang setia, Allah penolong, Gunung Batu Keselamatan, Raja Damai, Kekasih Jiwaku, Kubu Pertahanan, dan Sumber Kekuatanku. Semoga di tahun yang baru ini, aku semakin memahami isi hati-Nya dan semakin melakukan kehendak-Nya dengan taat dan setia.
                
Aku tidak takut apapun, sebab Tuhan selalu menyertai langkah kakiku. Aku tidak akan goyah, sebab tangan-Nya yang perkasa selalu siap menopangku. Tidak akan kuragu, karena kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi.  Takkan kubiarkan diriku kuatir, sebab Ia sanggup memeliharaku.
                
Dalam 1 Samuel 7:12, ada tertulis; Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben- Haezer, katanya: “Sampai di sini Tuhan menolong kita”. Aku percaya, Allah yang menolongku di tahun 2011, Dia juga yang akan tetap menolongku di tahun 2012 dan tahun- tahun selanjutnya. Dia tetap Allah yang sama, yang masih sanggup melakukan perkara- perkara yang ajaib, dan nama-Nya Immanuel.
                
Happy New Year all. Semoga tahun ini menjadi tahun yang berbeda dalam hidup kita sekalian. Alami Tuhan setiap hari dalam hidup kita, maka kita akan kuat menjalani sepanjang tahun ini bersama-Nya. God bless you.