Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku” (1 Samuel 15:10-11).
“Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya” (Roma 11:29).
Dua ayat di atas kelihatannya merupakan ayat yang bertolak belakang ya? Namun sebenarnya apabila kita mencermatinya, kita akan menemukan bahwa firman Allah tidak bisa dicermati hanya sepintas lalu. Aku akan menjelaskan pengertian yang Tuhan berikan kepadaku ketika aku menanyakan maksud dari kedua ayat itu.
Tuhan adalah Allah yang sangat luar biasa, Dia Allah yang berdaulat namun Ia bukanlah Allah yang memaksakan kehendak-Nya dalam hidup kita. Ia memberikan kepada kita pilihan bebas, sehingga kita dapat memilih untuk mengikuti kehendak-Nya atau menolaknya. Namun sebagai manusia yang memiliki pengertian yang sangat terbatas, kita seringkali menolak rencana-Nya dalam hidup kita karena kita merasa bahwa rencana-Nya itu “kurang” baik. Akibatnya kita menolak rencana-Nya dan mengikuti rencana yang kita rancang dalam hati kita. Itulah yang disebut dengan dosa pemberontakan.
Hal itulah yang dilakukan Saul ketika ia telah diberi perintah oleh Tuhan melalui nabi Samuel “Beginilah firman TUHAn semesta alam: Aku akan membalaskan apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang- halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki- laki maupun perempuan, kanak- kanak maupun anak- anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai” (1 Samuel 15:2-3). Saul telah diberi perintah yang SANGAT jelas untuk membunuh semuanya, bahkan bukan hanya manusia, naun juga hewan- hewan milik orang Amalek. Namun Saul tidak melakukan TEPAT seperti perintah Tuhan, “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu- lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka” (1 Samuel 15: 9).
Setelah melakukan kesalahan itu, Saul ditegur oleh nabi Samuel, namun ia tidak bertobat. Bahkan yang mengerikan, Saul malah menyalahkan rakyat serta membela diri dengan berlogika; “ Lalu kata Saul kepada Samuel: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan megikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu- lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal” (1 Samuel 15:20-21).
Dari ayat- ayat di atas, kita tahu bahwa penyebab utama dari penyesalan Allah yang telah memilih Saul sebagai raja atas Israel bukanlah Allah salah pilih. Namun Tuhan menyesal karena Saul tidak mengikuti perintahnya dan memilih untuk menaati pikirannya sendiri. Bahkan ketika Saul ditegur oleh nabi Tuhan, dia tidak bertobat dan malah menyalahkan rakyatnya. Saul tidak memiliki hati yang mudah ditegur dan diajar. Sikap hati Saul inilah yang membuat Allah menyesal karena Ia telah mengurapi Saul menjadi raja Israel. Karena seorang raja Israel seharusnya membawa bangsa Israel semakin mengasihi Tuhan, bukan memberontak kepada perintah Tuhan.
Melalui kesalahan Saul ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang yang diurapi Tuhan tidak lantas menjadi orang yang sempurna, tidak pernah salah, atau menjadi orang yang patut dipercaya sepenuhnya. Orang yang diurapi Allah tetaplah harus menjagai hatinya agar senantiasa menaati kehendak Allah. Orang yang diurapi Allah tetaplah harus berjalan bersama Roh Kudus sehingga Ia tidak mendurhaka kepada Allah.
No comments:
Post a Comment