November 30, 2011

PASANGAN HIDUP

Pasangan hidup alias PH, sapa sih yang nggak memikirkan tentang hal ini? Kebanyakan orang menentukan kriteria atas pasangan hidup yang didambakannya. Bagi yang cewek, pengen dapet cowok yang baik hati, pinter, putih, tinggi, kaya, dsb. Bagi yang cowok, pengennya dapet cewek yang cantik, putih, lemah lembut, bisa masak, dsb. Nggak ada yang salah dengan menentukan kriteria atas pasangan hidup yang kita idamkan, tapi apa sih hal terpenting yang musti kita cermati?
          
Sebagai anak Tuhan, tentunya kita tahu bahwa Tuhan mempunyai rencana yang besar atas hidup setiap kita kan. Namun seringkali kita teledor untuk memahaminya dalam perjalanan hidup kita. Kalo Tuhan punya rencana yang besar atas hidup kita, Tuhan mau pakai hidup kita menjadi alat-Nya, tentunya kita nggak boleh sembarangan sama hidup kita ini. Harus extra hati-hati dalam segala tindakan, keputusan, dan pemikiran kita. Nggak terkecuali tentang PH ini.
          
Kita tahu dalam Alkitab, Daud adalah orang yang sangat luar biasa. Dia deket bangeeeet sama Tuhan. Pas bergumul, dia berdoa. Pas seneng, dia nyanyi muji Tuhan. Pas terjepit, dia berseru sama Tuhan. Top banget pokoknya. Tapi, kalo kita cermati, kita akan nemuin bahwa Daud nggak pernah berdoa dalam masalah PH. Nggak percaya? Coba deh selidiki Alkitab kalian.
          
Kejatuhan Daud dalam masalah PH dikarenakan dia nggak berdoa meminta petunjuk Tuhan ketika dia menyukai seorang gadis. Akibatnya, dia tercatat memiliki 8 istri, banyak selir, dan yang paling mengenaskan adalah sebuah perselingkuhan. Kita tahu bahwa dalam masalah pasangan hidup, Daud nggak bisa jadi teladan buat kita.
          
Balik lagi ke rencana Tuhan dalam hidup kita. Di Alkitab, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Jadi, dalam membuat rencana di hidup kita, Tuhan tahu bahwa kita nggak mampu sendirian. Oleh karena kebaikan-Nya, kita diberikan penolong alias PH itu. Tujuan utamanya adalah menolong kita untuk menyelesaikan mandat Tuhan di bumi, yaitu untuk membantu kita dalam memenuhi panggilan kita.
          
Kalau kita uda tahu fakta ini, berarti kita musti lebih selektif dalam memilih PH donk. Karena orang tersebut haruslah orang yang bisa membantu kita dalam mencapai tujuan yang Tuhan letakkan dalam hidup kita. Jadi PH tuh bukan cuma untuk nemeni kita doank, tapi terutama untuk menjadi mitra kita dalam menjalani misi kita di bumi ini. So pertama- tama, kalau kita dekat sama seseorang, kita harus perhatiin, apakah orang tersebut visi hidupnya menyenangkan Tuhan? Lalu, gimana hidupnya, apakah dia taat melakukan firman Tuhan ato nggak, hidupnya menjadi berkat bagi sekelilingnya ato nggak, apa karakternya memuliakan Tuhan. Jadi, jangan cuma ngeliat secara fisik aja (dia cantik or ganteng), ato secara jasmani (pinter, tinggi, kaya, dsb). Tapi liat hatinya, liat cara hidupnya, liat buah- buahnya.
          
Daripada kita meminta hal- hal yang bersifat fisik dan jasmani, lebih baik kita meminta hal- hal yang bersifat rohani, terutama supaya orang tersebut adalah orang yang cinta Tuhan dan bisa membawa kita semakin deket sama Tuhan. Lebih baik mendapatkan orang yang secara fisik biasa saja, namun memiliki hati yang cinta dan takut akan Tuhan. Karena orang yang cinta dan takut akan Tuhan, akan diberkati Tuhan, lebih daripada orang yang memiliki kelebihan- kelebihan fisk dan jasmani.
          
Beberapa waktu lalu ketika aku merenungkan hal ini, Tuhan ngomong dengan sangat jelas, “Aku mau pakai hidupmu, oleh karena itu, setiap keputusanmu itu penting. Apapun tindakanmu, bukan hanya manusia yang memperhatikannya, tapi juga Sorga dan neraka”. Ngeri bener pas Tuhan bilang begitu, karena aku baru sadar bahwa orang yang mau dipakai Tuhan tuh hidupnya bener- bener harus diperhatiin sungguh- sungguh. Sekali salah melangkah, akibatnya bisa fatal.
          
Ada perkataan seperti ini, “Surga dan neraka bisa dirasakan di bumi melalui pernikahan”. Menurutku itu adalah hal yang sangat benar. Kalau kita salah memilih PH, pastilah kita akan merasakan penderitaan yang sangat luar biasa, karena PH akan menemani kita sepanjang sisa hidup kita. Namun berbahagialah orang yang menemukan orang yang tepat, karena selain membuat hidup kita semakin efektif, PH yang tepat juga membuat kita bisa menikmati hidup yang dikaruniakan Tuhan.

Nah memilih PH ini merupakan hal yang sangat vital dalam hidup kita, jadi pikirkan baik- baik sebelum mengambil keputusan. Berdoalah, tanya pendapat orangtua dan pemimpin rohani, tunggu waktu yang tepat. Jangan sampai kita salah memilih PH. God bless you ^^

Nov 20th 2011
1:40 pm

KEEP GOD’S PROMISE TILL THE END

Janji Tuhan… Pasti kita semua pernah memperoleh janji Tuhan dalam kehidupan kita, baik janji untuk pribadi, keluarga, kelompok, dan sebagainya. Tentunya kita pasti senang ketika kita mendapat janji dari Tuhan tersebut. Kita akan berkata, “Yesssss, amin Tuhan. Terjadilah seturut kehendak-Mu”.
           
Janji Tuhan memang merupakan hal yang kita sukai, kita harapkan, dan kita nantikan penggenapannya. Namun, agar janji Tuhan itu benar- benar digenapi dalam kehidupan kita, kita memerlukan waktu dan proses. Ada bagian yang harus kita lakukan, misalnya mengampuni, mengasihi, dan sebagainya. Ada tenggang waktu yang harus kita tunggu.
           
Menurutku, bagian yang paling sulit adalah menunggu itu. Menunggu… Semua orang cenderung menghindari aktivitas tersebut. Mengapa? Karena membosankan, karena tidak tahu kapan penantian itu akan berakhir, karena kita tidak suka menunggu.

Mari kita lihat tokoh Alkitab yang sabar menantikan janji Tuhan dalam hidupnya, hingga janji itu digenapi. Yuk buka di kitab Yosua 14:6-15. yang akan aku soroti adalah ayatnya yang ke-10 dan 11, “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk”. Tokoh tersebut adalah KALEB. Dia adalah salah satu dari 12 pengintai yang disuruh oleh Musa, untuk mengintai tanah Kanaan. Dia adalah salah satu orang yang mempercayai janji Tuhan dan beriman bahwa Tuhan akan menepatinya. Dan dialah yang memegang teguh janji Tuhan dalam hidupnya, hingga 45 tahun lamanya.

Empat puluh lima tahun???? Lama banget yah…. Tapi Kaleb tetap setia. Kaleb tetap menunggu. Kaleb tidak kehilangan harapan. Kaleb tidak menjadi kecewa kepada Tuhan. Kaleb tetap percaya bahwa Tuhan yang berjanji, Dia juga yang akan menggenapinya. Dan apa yang Kaleb dapatkan sebagai upah kesetiaannya menunggu penggenapan janji Tuhan? Penggenapan itu sendiri! Di ayat 13-15 dikatakan bahwa Yosua memberikan Hebron kepada Kaleb, sesuai dengan yang pernah dijanjikan oleh Tuhan

Apa yang perlu kita pelajari dari seorang Kaleb? Banyak hal. Menurutku, nggak mudah untuk menunggu penggenapan sebuah janji selama waktu tersebut. Mengapa? Karena masa- masa Israel di padang gurun merupakan masa- masa yang sangat sulit. Padang gurun yang panas, kering, tak bersahabat, membuat banyak orang Israel lemah imannya dan menjadi kecewa pada Tuhan. Berputar- putar selama 40 tahun di padang gurun, tanpa tahu masa depan, akankah bangsa Israel dibawa masuk ke tanah Kanaan sesuai dengan yang Tuhan janjikan? Tidak ada kepastian, hanya janji dari Tuhan.

Namun Kaleb memiliki sikap hati yang benar. Dalam masa- masa sulit tersebut, dia tidak memandang kesulitan- kesulitan yang ada. Dia memandang apa yang bangsa Israel abaikan. Kaleb memandang penyertaan Tuhan selama 40 tahun, berupa tiang awan dan tiang api. Kaleb mensyukuri pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya, berupa makanan dan minuman yang selalu disediakan-Nya secara ajaib setiap hari. Kaleb melihat fakta yang mustahil, namun dia juga melihat kebesaran Tuhan.

Kaleb memutuskan untuk mempercayai Allah yang berjanji kepadanya, karena kebaikan-kebaikan-Nya melampaui segala kesulitan yang ada. Kaleb tetap memelihara janji Allah dalam hatinya, sambil merindukan penggenapannya terjadi. Dia menjagai dirinya agar tidak menjadi lemah ataupun lelah dalam menunggu. Dia menjaga rohnya tetap menyala-nyala bagi Tuhan. Dia tetap melakukan bagiannya untuk taat dan setia, sambil tetap berputar- putar di padang gurun, ikut menanggung ketidakpercayaan bangsa Israel.

What an amazing man! Tidak mudah untuk dijalani, namun ia berhasil melewati semua itu dengan penyertaan Tuhan, serta menerima apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Ternyata setelah 45 tahun berlalu, Tuhan tidak lupa. Dia setia memelihara hidup Kaleb dan Dia menggenapi janji-Nya. Betapa Kaleb telah membuktikan di depan mata bangsa Israel yang tegar tengkuk itu, bahwa Allah yang disembahnya selama ini adalah Allah yang hidup.

Coba kita renungkan hidup kita masing- masing. Setiap kita pasti memiliki janji Tuhan kan? Sudah berapa lama kita menunggu Tuhan menggenapi janji- janji-Nya dalam hidup kita? Satu tahun, tiga tahun, lima tahun, 10 tahun, atau 20 tahun? Adakah kita mulai tidak percaya, ragu- ragu, bimbang? Ataukah kita bahkan sudah melupakan janji- janji tersebut karena kita merasa bahwa Tuhan sudah lupa dengan janji-janji-Nya? Mungkinkah kita berpikir bahwa Tuhan tidak sanggup menggenapi janji- janji-Nya? Tetapkah kita bertahan?

Peganglah janji-janji-Nya. Lakukanlah bagianmu. Tetaplah setia. Pegang teguh iman dan pengharapanmu di dalam Dia. Jangan padamkan rohmu. Jangan bersungut- sungut. Jangan putus asa. Jangan berpikir bahwa Tuhan lupa atau tidak mampu menggenapi. Dia tetap Allah yang sama. Allah yang menggenapi janji-Nya kepada Kaleb, adlaah Allah yang sama yang berjanji kepada kita. Nantikanlah Dia sampai Dia menggenapi janji-Nya dalam hidupmu. God bless you.


Friday, November 18, 2011
12:30pm

DREAM

Sabtu 12 November 2011, aku mendapatkan sebuah mimpi buruk yang sangat mengejutkanku. Dalam mimpi itu, aku diberitahu seseorang bahwa papaku meninggal. Seketika itu juga, aku menangis, shock, menyesal, takut. Perasaan- perasaan itu menyesakkan dada. Aku nyesel karena belum sempat memberitakan keselamatan bagi papaku. Tiba- tiba dalam mimpi itu seperti di Adijasa (rumah duka), dan seperti ada ibadah penghiburan. Lalu dalam mimpi itu, ada pendetaku (ko Philip) datang memelukku. Pada saat dipeluk itulah aku merasakan kasih Bapa, kemudian aku terbangun.
           
Mimpi yang cukup singkat itu benar- benar menempelakku. Aku takut sekali waktu aku bangun, apakah mimpi itu benar- benar menjadi kenyataan? Karena beberapa kali aku bermimpi orang meninggal dan nggak lama kemudian orang yang bersangkutan benar- benar meninggal. Aku mau telpon papaku, tapi aku takut. Akhirnya, pagi itu aku berdoa sambil menangis. “Tuhan, apa maksud dari mimpi itu? Papa nggak kenapa- napa kan?” Tuhan menjawab, “Mimpi itu adalah sebuah warning bagimu, Luc. Apa hari ini kamu masih menginginkan keselamatan bagi keluargamu seperti dahulu? Apa kamu masih menyadari betapa pentingnya keselamatan jiwa mereka? Apakah kamu masih berdoa dengan hati yang terbeban untuk mereka, ataukah kamu berdoa sebatas rutinitas dan ucapan bibir saja?”
            
Aku nggak bisa bilang apa- apa ketika itu, aku duduk merenung dalam- dalam. Apakah bagiku keselamatan keluargaku masih penting, ataukah aku mulai melupakannya? Aku menyadari beberapa minggu terakhir ini, aku sibuk dengan banyak hal. Aku sibuk memikirkan skripsiku, masa depanku, pasangan hidup, pekerjaan setelah aku lulus, dan sebagainya. Dan perlahan- lahan, aku mulai mengesampingkan betapa pentingnya keselamatan bagi keluargaku.
            
Pagi itu aku kembali bertobat, aku meminta hati yang baru, hati yang benar- benar mengasihi keluargaku dan terbeban dengan keselamatan mereka. Bahakn aku meminta kairos (kesempatan yang tepat) unutk menginjili mereka. Aku menyadari bahwa berdoa dan menjadi teladan saja tidaklah cukup. Diperlukan tindakan yang nyata agar mereka bisa mendengar dan merasakan kasih Bapa.
            
Kemudian malamnya, aku datang ke connect group. Pemimpin connect group waktu itu menyampaikan tentang “Seberapa penting Roh Kudus dalam hidupmu?” Aku sempat sharing tentang mimpiku. Kemudian pemimpinku bertanya, “Kalau hari ini kamu dihadapkan pada pilihan antara keselamatan papamu dan Roh Kudus, mana yang kamu pilih?” Aku berpikir sejenak dan aku menjawab “Roh Kudus”. Karena bagiku, tanda Roh Kudus, segala sesuatu tidak ada artinya.

Aku menjawab demikian bukan sekedar menjawab. Aku ingat, beberapa tahun lalu Tuhan pernah menantangku, “Seandainya saja sampai detik terakhir papamu tidak selamat, apakah kamu masih akan tetap setia mengasihi-Ku?” Aku menangis ketika Dia menanyaiku demikian. Bagiku pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Aku mengasihi papaku dan tentunya aku ingin papaku diselamatkan. Namun jika sampai akhir papaku tetap menolak keselamatan dari Yesus, apakah aku masih bisa mengasihi-Nya? Aku tidak tahu. Pada saat itu, Tuhan memberiku pengertian yang sangat jelas, bahwa keselamatan papaku adalah perkara yang mudah bagi-Nya. Namun, ia ingin aku menyadari bahwa mengasihi-Nya bukanlah keinginan satu dua hari. Mengasihi-Nya merupakan komitmen seumur hidup. Apakah kasihku kepada-Nya murni, ataukah kasih yang bersyarat? Oleh karena itu, Dia memberiku pertanyaan berat tersebut.

Kembali disadarkan ketika connect group malam itu, betapa aku mulai menggeser posisi-Nya di hatiku. Roh Kudus adalah Pribadi yang paling berharga di dunia ini. Aku bisa mencapai semua hal yang aku inginkan, aku bisa memperoleh hal-hal terpenting di hidup ini, namun apa artinya semua itu tanpa kehadiran Roh Kudus dalam hidupku? Tanpa Roh Kudus, rohku mati. Tanpa Roh Kudus, hidupku hampa. Tanpa Roh Kudus, segalanya nggak berarti.

Biar mulai hari ini, kita kembali menempatkan Roh Kudus di posisi pertama dalam hati dan hidup kita. Kita boleh memiliki impian, harapan, cita-cita, keinginan, dan sebagainya. Namun jangan sampai semua itu melebihi kerinduan kita terhadap Roh Kudus.

Nov 20th, 2011
2:30 pm


November 15, 2011

BERKAT YANG MENJERAT

Sebagai manusia, kita pasti lebih senang apabila kita mendapatkan segala sesuatu yang berlabelkan BERKAT. Baik itu berupa kesehatan, promosi jabatan, doa- doa yang dijawab, mendapatkan pasangan hidup, pemulihan keluarga, pekerjaan yang kita dambakan. Kita pasti akan sangat bersukacita dan dapat bersyukur dengan lebih mudah apabila kita mendapatkan berkat.

Hal tersebut sangatlah manusiawi, namun sadarkah kita, bahwa berkat seringkali tidak membuat hidup kita berubah menjadi lebih baik, secara permanen? Maksud saya adalah, ketika kita mendapat berkat, kita cenderung menikmati berkat tersebut hingga terlena. Karena diberkati, kita menjadi kurang berdoa, kurang bergumul, kurang mencari Tuhan. Padahal saat kita menanti jawaban doa, kita bergumul, kita rajin berdoa, atau bahkan sampai berpuasa. Intinya kita tekun mencari Tuhan, selama doa- doa kita belum dikabulkan. Namun ketika jawaban yang kita nantikan telah tiba, kita telah memperoleh apa yang kita dambakan, bagaimanakah cara hidup kita? Umumnya pasti berubah, kita menikmati berkat yang ada hingga kita lupa tetap melekat pada Sumbernya, yaitu Tuhan.

Berkat seperti itu, saya sebut sebagai “berkat yang menjerat”. Mengapakah dikatakan “menjerat”? Karena tanpa kita sadari, hati kita terjerat oleh berkat itu. Hati kita lebih melekat kepada berkat daripada kepada Tuhan. Hati kita lebih fokus kepada berkatnya, bukan kepada Sumber berkat itu sendiri.

Tidak ada yang salah dengan yang namanya “berkat”. Tidak salah juga kalau kita senang menerima berkat. Tuhan sendiri adalah Allah yang suka memberi berkat kepada setiap kita, anak-anak-Nya. Dia lebih suka memberi berkat kepada anak-anak-Nya, daripada kita suka memintanya. Namun, masih ingatkah kita, bahwa berkat terbesar dalam hidup kita ini bukanlah berkat itu sendiri? Masih sadarkah kita bahwa berkat terbesar di muka bumi ini adalah Tuhan secara pribadi? Tanpa Tuhan di hidup kita, apakah arti semua berkat yang kita terima?

Bahkan dalam kitab Yesaya 65, Tuhan sendiri berkata, “Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata:”Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.” Kata- kata yang diucapkan Tuhan dengan penuh kerinduan dan kepedihan. Bukankah Tuhan begitu mulia dan memiliki segalanya? Sebenarnya, Ia sama sekali tidak membutuhkan manusia. Namun mengapa Ia begitu rindu untuk ditemukan oleh manusia? Mengapa Ia begitu ingin dikenal oleh manusia? Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).  Jawabannya adalah karena kita adalah ciptaan-Nya, Dia ingin kita hidup di dalam Dia, menikmati segala sesuatu yang baik yang dari Dia, agar kita melakukan apa yang baik dalam Dia.

Oleh karena itu, marilah kita menjagai hati kita masing- masing, agar hati kita tidak terjerat oleh berkat yang kita terima. Namun biarlah hati kita terpikat kepada Pribadi yang sangat mengasihi kita, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Count your blessing and don’t forget the Source, Jesus.

Friday, November 11, 2011
11:20 am