May 31, 2019

MAY: FAST TRACK MONTH

Ga kerasa bulan Mei udah berakhir dengan begitu cepat tanpa sempat kunikmati sedikitpun 😥 Ngerasa struggling banget di bulan ini, capek fisik, hati, pikiran, mental. Tapi kasih karunia Tuhan selalu cukup di segala musim. Haleluyaa... 

Dua minggu pertama sibuk pindahan kantor, walopun cuma pindah dari belakang ke jalan besar, tapi perjuangannya beneran menguras tenaga. Mberesin dokumen bertaon-taon tuh sama sekali ga gampang, milah-milah en nata kembali di tempat baru. Belom lagi di kantor baru tuh penuh ai-ai super kepo bin suka ngatur bin doyan komen hal-hal ga penting yang bikin capek hati, mau ngelawan tapi mikir jangka panjang, daripada ntar memicu keributan sampe ke telinga big boss, ya kudu ngalah sesaat. Huff... Overall aku lebih suka suasana di kantor baru karena beneran kantor: rapi, baru renov, lebih teratur. Tapi tekanan lebih besar karena gabung ama banyak orang sehingga kudu membiasakan diri bersikap ramah walopun ngerasa terusik ama sikap palsu mereka. Gpp deh, cuma tinggal 1 bulan lagi disitu kok 😁

Bukber tim property, ktemu banyak orang, ngerasa direfresh banget. Aku makin sadar kalo diriku suka kerja bareng banyak orang, suka ktemu hal-hal baru yang menantang. Dari obrolan yang ada, aku belajar bahwa kerajinanmu ga akan pernah sia-sia, setiap usaha yang kita kerjakan bakal Tuhan perhitungkan, cuma tinggal tunggu waktunya Tuhan. Aku percaya Tuhan bakal buka jalan sejak hari pertama aku fokus melangkah maju di bidang ini. Amen. 

Minggu ketiga full lembur bikin orderan cookies. Badanku masih belom fit karena kecapekan pindahan, kedinginan di kantor, capek hati juga. Akhirnya beneran ga hepi tiap lembur, kudu nangis, kudu nyerah, blablabla. Sampe Tuhan pake 1 temen buat ngingetin "kamu hepi kan ngerjain apa yang kamu suka sekalipun lembur?". Aku sadar bahwa ini adalah jalan yang kupilih, yang namanya merintis ga ada yang gampang, jadi kudu bertahan en beriman. Surprisingly salah 1 boss tiba-tiba order cookies, thank God!

Umurku bertambah lagi 1 taon, tumben temen kantor beliin aku cake (maybe karena ini my last bday there). Trus salah 1 direktur yang bday-nya di hari yang sama nraktir kami makan di luar. Dikasi surprise ama trio meme luar biasa, dikasi banyak kado en ucapan, ditelpon nonik hippo disaat dia lembur bikin cookies juga. This is my last 20's bday, ngerasa bahwa aku makin bertumbuh dalam karakter melalui segala kejadian yang Tuhan ijinkan, semakin ngerti en menghidupi apa yang Tuhan kehendaki. Aku puas dengan perubahanku sekarang en masih ngejar kesempurnaan yang Tuhan inginkan. Thanks guys!

Jalan-jalan ke Mangrove Wonorejo bareng mama en 2 temen. Walopun puanas tapi jiwaku disegarkan, aku kangen ngeliat alam, menghirup udara segar, menikmati jalan santai disinari mentari. En ngerasa badanku langsung fit ahahaha. Emang kok obat sakitku tuh selalu murah meriah, yaitu alam.

Akhirnya adekku sidang skripsi en lulus, tinggal tahap akhir bikin logo. Ngerasa terharu, semua perjuangan, doa, en omelanku tuh ada hasilnya. Ahahahaha. Semoga aja dia segera bisa dapet kerjaan yang oke en membanggakan ortu.

Di akhir bulan sempet bantuin jaga depot sodara, ternyata hal sepele ini bikin aku hepi. Ternyata aku beneran tersiksa kerja kantoran, ga ktemu banyak orang, ga ngalami hal-hal baru, ga ada progress lagi. Aku beneran bertekad ga mau kerja kantoran lagi, aku yakin kalo Tuhan yang nyuruh aku resign brati ya Dia emang sediakan sesuatu yang spesial buatku, entah gimana caranya, aku berpegang sama janji-Nya.

Satu hal yang bikin aku terpukau ama Tuhan bulan ini adalah Tuhan tuh tau en peduli dengan segala sesuatu. Di hectic months, orderan cookies sepi karena Dia tau kondisiku en ga mau aku sakit. Di saat udah pindah kantor, tiba-tiba ada beberapa orderan masuk. En aku yang biasanya tepar kalo terlalu sering lembur, sama sekali ga jatuh sakit bulan ini (flu doank tapi tetep sanggup ngantor). Aku menyadari bahwa anugerah Tuhan tuh bukan melulu soal materi, tapi juga kesehatan en good timing. You're awesome, God! Love You 💖


Sering ku tak mengerti
jalan-jalan-Mu Tuhan
Bagai di belantara yang kelam
Tanpa seribu tanya namun tetap percaya
Jejak-Mu Tuhan sungguh sempurna

Ajarku memahami semua yang Kau ingini
Agar hidupku puaskan hati-Mu
Bagi-Mu aku rela sepenuh hati menghamba
Serahkan diri genapi karya-Mu
(Jejak-Mu Tuhan, Jeffry S. Tjandra)  

May 1, 2019

RECTOVERSO (DEE LESTARI)

Karena abis hectic month, aku males baca yang berat2. Kebetulan dapet giveaway buku "Rectoverso", ya uda dibaca aja pas Mayday. Karena bukunya simple tapi cukup puitis, aku tertarik buat nonton filmnya, dan kecewa karena ga mengena sama sekali. Bukannya jelek-jelekkin sih, tapi menurutku dialog filmnya dangkal banget en beberapa pemainnya ga bisa menjiwai karakternya gitu 😣



CURHAT BUAT SAHABAT
1. Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku...dan segelas air putih.
2. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.
3. "Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?" demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.


MALAIKAT JUGA TAHU
1. Dia mencintai tidak cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak cuma rayuan gombal, tapi fakta. Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain. Dia cinta sama kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.
2. Bagi perempuan itu, cinta tanpa pilihan adalah penjara. Ia ingin dirinya dipilih dari sekian banyak pilihan. Bukan karena ia satu-satunya pilihan yang ada.
3. Persahabatan yang luar biasa ternyata mensyaratkan pengorbanan di luar batas kesanggupannya. Perempuan itu mengucap maaf berkali-kali dalam hati.
4. Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.


SELAMAT ULANG TAHUN
1. Janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru.
2. Suatu waktu nanti, kamu boleh terus percaya bahwa kemarin... besok... lusa... dan hari-hari sesudah itu... aku masih di sini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... berjam-jam yang lalu: "Selamat ulang tahun".


AKU ADA
1. Pesan ini akan tiba kepadamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.
2. Ia tahu kemana hatimu berlabuh, dan kemana sesekali hatimu berlayar.
3. Aku tahu apa yang kau sadari, aku tahu apa yang kau syukuri, dan kini aku tahu cara berbicara denganmu.
4. Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat beragam cara. Engkau hanya perlu merasa dan biarkan alam berbicara.
5. Engkau tersenyum bersama segenap jiwamu, karena hari ini kita sama-sama mengetahui satu rahasia: cinta adalah aku, cinta adalah engkau, cinta adalah dia, dan cinta tak pernah mati.
6. Kali ini kau tidak mengucapkan namaku seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua: aku tahu engkau tahu aku ada.


HANYA ISYARAT
1. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.
2. Ia hanya mengetahui apa yang sanggup ia miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki.


PELUK
1. Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.
2. Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Namun, kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
3. Jadi aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih daripada siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun, aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih daripada apapun.
4. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan ditujukan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir.
5. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Rasakanlah semua. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.


GROW A DAY OLDER
1. For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun. We're like that dark chocolate bar where you can have four at once without getting jittery.
2. Spending ten magical hours with a person I'm madly in love with, realizing nothing could ever work between us, and his birthday is coming in two days. It's a frantic combination between drowning and wanting to get out, between dying and gasping for life.
3. For once, I strive to be blatantly honest about who I truly am. To him, I might be this creative genius, a spiritual enthusiast with whom he can spend hours discussing the illusion of self. To him, I might be a unique blend of lowbrow jokes and complicated quantum theories. To him, I might be the perfect friend. But deep down, I'm just in love.
4. It's been a long, long way of saying goodbye. I cannot afford to doubt now. Everything is set and synchronized. I can feel it. The universe is working on a farewell scene and it's going to be brilliant. It will be a goodbye with integrity and class.
5. If you love someone, you have to embrace the whole package, right? Love the person as is. I'd like to say I don't agree but it sounds wise and true. I cannot love him as is. A crowded relationship is naturally not my thing. I didn't even know why I got myself into this.


CECAK DI DINDING
1. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya sampai mati.
2. Akhirnya ia mengetahui apa yang ia inginkan. Bahagia dengan satu kejujuran, kemudian berserah dalam ketakberdayaan.
3. Hatinya ditemukan. Tapi tak lagi sama. Tak ubahnya dinding yang tampak polos saat terang, tetapi berubah jadi rimba semarak saat gelap datang.
4. Cecak cecak di dinding. Diam-diam merayap. Hatinyalah nyamuk, yang... Hap! Selamanya tertangkap.


FIRASAT
1. Kalau mendengar saja cukup, kenapa harus dipaksakan bicara?
2. Kalau begitu, apa yang bisa saya bikin nanti? Sesuatu yang datang dari hati.
3. Kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan firasat saya, lantas apa? Kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.
4. Untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah? Untuk belajar menerima. Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan belajar berdamai dengan hidup ini.
5. "Bukan salah kamu, nak. Bukan salah siapa-siapa. Yang harus terjadi pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa kamu lakukan. Lepaskan..."


TIDUR
1. Aku tak pernah tahu kemana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu kemana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa disana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata.
2. Sekalipun kujelaskan, kau tak akan mengerti, wahai pramugari. Perjalanan ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan bermimpi.
3. Betapa sulitnya menikmati angkasa luas tak terperi tanpa rasa ngeri, setelah sekian lama engkau tersekap dalam kotak dimana engkau terantuk setiap kali bergerak. Lewat pembiasaan, kotak pengap itu menjadi hangat. Benturan menjadi hiburan. Hingga pada satu titik, engkau ingin kotak itu selamanya melingkupimu. Kebebasan yang tiap hari kaudamba dan kaukejar dalam mimpi, menjadi mimpi permanen yang sepaket dengan upayamu untuk mewujudkannya. Sekalipun engkau ingin dan engkau teriakkan inginmu pada setiap orang,  pada saat kotak itu terbuka, engkau malah gelagapan, menggapai-gapai udara kosong demi mencari kungkungan itu lagi. Engkau lebih rindu terantuk dan terbentur-bentur ketimbang bertemu kehampaan yang dulu kau interpretasikan sebagai kebebasan.
4. Tidurlah yang tenang, bisikku tanpa suara. Aku akan ada saat mata kalian membuka. Selalu ada. Esok, lusa, dan seterusnya. Sudah cukup lama aku tertidur, memejamkan mata demi melewatkan mimpi demi mimpi bersama kalian. Sekarang, biarkan aku yang terjaga.


BACK TO HEAVEN'S LIGHT
1. Why now? Why him? Why, God? And there was no answer. Perhaps those questions are rhetorical by nature, but we feel the need to ask them anyway.
2. There was a point before life itself, when we all decided to forget everything we've known. It was necessary so life had a point, so that it would all makes sense. Like fellow blind travelers, we're all blinded by our unknowingness.
3. There's no one to blame. There's nothing to blame. There shouldn't even be a need to question. He had his choices, and I had mine. We all have our freedom to decide. We all have our preference to experience. I've forgiven him for leaving, I've forgiven myself for staying, and I've forgiven life for creating this drama of birth and death.


Dee Lestari
Rectoverso

THE DEVIL AND MISS PRYM (PAULO COELHO)

1. Seharusnya kau tidak percaya pada janji. Dunia ini penuh dengan janji tentang kekayaan, keselamatan abadi, cinta tak terbatas. Ada orang yang berpikir mereka bisa menjanjikan apa saja, ada yang percaya begitu saja pada apapun yang bisa menjamin masa depan yang lebih baik. Orang yang membuat janji yang tak dapat ditepati akhirnya merasa tak berdaya dan frustrasi, dan nasib yang sama juga menanti orang-orang yang percaya pada janji-janji seperti itu.
2. Kalau Anda hidup lama di tempat yang sempurna, akhirnya Anda merasa bosan juga.
3. Aku menemukan bahwa jika dihadapkan pada pencobaan, kita selalu gagal. Jika diberikan kondisi yang tepat, setiap manusia di muka bumi ini akan bersedia melakukan kejahatan.
4. Kapanpun Anda ingin mencapai sesuatu, bukalah mata Anda lebar-lebar, pusatkan pikiran Anda, dan pastikan Anda tahu benar apa yang Anda inginkan. Tak seorangpun bisa membidik sasaran dengan mata terpejam.
5. Ancaman membuktikan bahwa seseorang kehilangan kendali karena orang yang benar-benar berbahaya tidak pernah mengancam.
6. Ada dua macam orang bodoh--yang tidak bertindak ketika diancam, dan yang mengira sedang bertindak karena telah melontarkan ancaman.
7. Kalau ia ingin tahu bagaimana caranya mengalahkan orang asing itu, ia harus mengenalnya dengan lebih baik.
8. Ia telah melewatkan satu malam bersama Baik, satu malam bersama Baik dan Jahat, dan satu malam terakhir bersama Jahat. Tak satupun dari ketiga malam itu menghasilkan sesuatu yang berarti, tapi malam-malam itu terus hidup dalam jiwanya, dan sekarang ketiganya mulai bergulat sendiri untuk melihat siapakah yang paling kuat.
9. Cara terbaik untuk melemahkan musuh adalah dengan membuatnya percaya kita ada di pihaknya.
10. Kalau Tuhan memiliki neraka yaitu kasih-Nya pada manusia, maka manusia pun memiliki neraka dan neraka itu sangat mudah dijangkau, dan itu adalah cinta pada keluarganya.
11. Bukanlah keinginan untuk patuh pada hukum yang membuat orang berperilaku seperti yang dituntut masyarakat, melainkan rasa takut pada hukuman. Kita masing-masing membawa tiang gantungan di dalam diri kita. 
12. Lebih baik menjadi miskin dan terhormat daripada kaya raya tapi dipenjara.
13. Sekarang pergilah ke hutan dan jernihkan pikiranmu. Kau tau, bukan kau masalahnya. Dan mereka juga tahu itu, tapi mereka butuh seseorang untuk disalahkan.
14. Untuk mencapai yang terbaik dalam dirinya, manusia membutuhkan yang terburuk dari dirinya.
15. Aku terlalu lelah untuk melihat dari sudut pandang yang lebih positif: bahwa aku gagal. Namun sekarang aku memiliki keberanian; aku telah sampai ke titik paling rendah dan menemukan disana pun ada cahaya.
16. Pada akhirnya nanti, kata-kata tidaklah penting. Biarkan mereka bicara, hidup akan memaksa mereka bertindak berbeda.
17. Mengapa Tuhan memaksa Ayub bersikap seperti itu? Karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa pada hakikatnya Ayub tidak baik, bahwa apapun yang dilimpahkan kepadanya adalah berkat kemurahan Tuhan semata, dan bukannya imbalan karena dia berperilaku baik. Kita telah melakukan dosa kesombongan bila kita percaya diri kita lebih baik daripada yang sebenarnya--dan itulah sebabnya kita menderita.
18. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Kejahatan tidak pernah membawa Kebaikan.
19. Kalian yang menganggap diri kalian orang kudus, tidak cukup rendah hati untuk menerima, dan karenanya tidak memberiku kesempatan untuk merasakan nikmatnya memberi. Hanya orang inilah yang mengizinkan Baik mewujudkan dirinya.
20. Bagaimana kita tahu apa yang menyenangkan hati Yang Maha Kuasa? Lakukan apa yang diperintahkan hatimu, dan Tuhan akan senang.
21. Jahat harus mewujudkan diri dan melakukan perannya, supaya pada akhirnya Baik dapat menang. Jika tidak ada pengkhianatan, tidak akan ada salib, kata-kata dalam Kitab Suci tidak akan digenapi, dan pengorbanan Yesus tidak bisa menjadi teladan.
22. Hidup bisa terasa amat panjang atau sangat singkat, tergantung bagaimana kau menjalaninya.



Paulo Coelho
The devil and miss Prym