Karena abis hectic month, aku males baca yang berat2. Kebetulan dapet giveaway buku "Rectoverso", ya uda dibaca aja pas Mayday. Karena bukunya simple tapi cukup puitis, aku tertarik buat nonton filmnya, dan kecewa karena ga mengena sama sekali. Bukannya jelek-jelekkin sih, tapi menurutku dialog filmnya dangkal banget en beberapa pemainnya ga bisa menjiwai karakternya gitu 😣
CURHAT BUAT SAHABAT
1. Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku...dan segelas air putih.
2. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.
3. "Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?" demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.
MALAIKAT JUGA TAHU
1. Dia mencintai tidak cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, tidak cuma rayuan gombal, tapi fakta. Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain. Dia cinta sama kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.
2. Bagi perempuan itu, cinta tanpa pilihan adalah penjara. Ia ingin dirinya dipilih dari sekian banyak pilihan. Bukan karena ia satu-satunya pilihan yang ada.
3. Persahabatan yang luar biasa ternyata mensyaratkan pengorbanan di luar batas kesanggupannya. Perempuan itu mengucap maaf berkali-kali dalam hati.
4. Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.
SELAMAT ULANG TAHUN
1. Janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru.
2. Suatu waktu nanti, kamu boleh terus percaya bahwa kemarin... besok... lusa... dan hari-hari sesudah itu... aku masih di sini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... berjam-jam yang lalu: "Selamat ulang tahun".
AKU ADA
1. Pesan ini akan tiba kepadamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.
2. Ia tahu kemana hatimu berlabuh, dan kemana sesekali hatimu berlayar.
3. Aku tahu apa yang kau sadari, aku tahu apa yang kau syukuri, dan kini aku tahu cara berbicara denganmu.
4. Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat beragam cara. Engkau hanya perlu merasa dan biarkan alam berbicara.
5. Engkau tersenyum bersama segenap jiwamu, karena hari ini kita sama-sama mengetahui satu rahasia: cinta adalah aku, cinta adalah engkau, cinta adalah dia, dan cinta tak pernah mati.
6. Kali ini kau tidak mengucapkan namaku seperti perpisahan, bukan juga perjumpaan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua: aku tahu engkau tahu aku ada.
HANYA ISYARAT
1. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.
2. Ia hanya mengetahui apa yang sanggup ia miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki.
PELUK
1. Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.
2. Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Namun, kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
3. Jadi aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih daripada siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun, aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih daripada apapun.
4. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan ditujukan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir.
5. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Rasakanlah semua. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.
GROW A DAY OLDER
1. For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun. We're like that dark chocolate bar where you can have four at once without getting jittery.
2. Spending ten magical hours with a person I'm madly in love with, realizing nothing could ever work between us, and his birthday is coming in two days. It's a frantic combination between drowning and wanting to get out, between dying and gasping for life.
3. For once, I strive to be blatantly honest about who I truly am. To him, I might be this creative genius, a spiritual enthusiast with whom he can spend hours discussing the illusion of self. To him, I might be a unique blend of lowbrow jokes and complicated quantum theories. To him, I might be the perfect friend. But deep down, I'm just in love.
4. It's been a long, long way of saying goodbye. I cannot afford to doubt now. Everything is set and synchronized. I can feel it. The universe is working on a farewell scene and it's going to be brilliant. It will be a goodbye with integrity and class.
5. If you love someone, you have to embrace the whole package, right? Love the person as is. I'd like to say I don't agree but it sounds wise and true. I cannot love him as is. A crowded relationship is naturally not my thing. I didn't even know why I got myself into this.
CECAK DI DINDING
1. Jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua, dan seterusnya sampai mati.
2. Akhirnya ia mengetahui apa yang ia inginkan. Bahagia dengan satu kejujuran, kemudian berserah dalam ketakberdayaan.
3. Hatinya ditemukan. Tapi tak lagi sama. Tak ubahnya dinding yang tampak polos saat terang, tetapi berubah jadi rimba semarak saat gelap datang.
4. Cecak cecak di dinding. Diam-diam merayap. Hatinyalah nyamuk, yang... Hap! Selamanya tertangkap.
FIRASAT
1. Kalau mendengar saja cukup, kenapa harus dipaksakan bicara?
2. Kalau begitu, apa yang bisa saya bikin nanti? Sesuatu yang datang dari hati.
3. Kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan firasat saya, lantas apa? Kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.
4. Untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah? Untuk belajar menerima. Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan belajar berdamai dengan hidup ini.
5. "Bukan salah kamu, nak. Bukan salah siapa-siapa. Yang harus terjadi pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa kamu lakukan. Lepaskan..."
TIDUR
1. Aku tak pernah tahu kemana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu kemana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa disana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata.
2. Sekalipun kujelaskan, kau tak akan mengerti, wahai pramugari. Perjalanan ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan bermimpi.
3. Betapa sulitnya menikmati angkasa luas tak terperi tanpa rasa ngeri, setelah sekian lama engkau tersekap dalam kotak dimana engkau terantuk setiap kali bergerak. Lewat pembiasaan, kotak pengap itu menjadi hangat. Benturan menjadi hiburan. Hingga pada satu titik, engkau ingin kotak itu selamanya melingkupimu. Kebebasan yang tiap hari kaudamba dan kaukejar dalam mimpi, menjadi mimpi permanen yang sepaket dengan upayamu untuk mewujudkannya. Sekalipun engkau ingin dan engkau teriakkan inginmu pada setiap orang, pada saat kotak itu terbuka, engkau malah gelagapan, menggapai-gapai udara kosong demi mencari kungkungan itu lagi. Engkau lebih rindu terantuk dan terbentur-bentur ketimbang bertemu kehampaan yang dulu kau interpretasikan sebagai kebebasan.
4. Tidurlah yang tenang, bisikku tanpa suara. Aku akan ada saat mata kalian membuka. Selalu ada. Esok, lusa, dan seterusnya. Sudah cukup lama aku tertidur, memejamkan mata demi melewatkan mimpi demi mimpi bersama kalian. Sekarang, biarkan aku yang terjaga.
BACK TO HEAVEN'S LIGHT
1. Why now? Why him? Why, God? And there was no answer. Perhaps those questions are rhetorical by nature, but we feel the need to ask them anyway.
2. There was a point before life itself, when we all decided to forget everything we've known. It was necessary so life had a point, so that it would all makes sense. Like fellow blind travelers, we're all blinded by our unknowingness.
3. There's no one to blame. There's nothing to blame. There shouldn't even be a need to question. He had his choices, and I had mine. We all have our freedom to decide. We all have our preference to experience. I've forgiven him for leaving, I've forgiven myself for staying, and I've forgiven life for creating this drama of birth and death.
Dee Lestari
Rectoverso