February 28, 2012

MENANG ATAS TEKANAN


Beberapa minggu terakhir ini, aku ngalami keadaan yang sangat sulit bagiku. Banyak masalah, tekanan, kekuatiran, dan ketakutan yang menghimpitku. Intimidasi iblis terasa kuat sekali menekan jiwaku, sehingga aku mulai meragukan janji Tuhan, mulai khawatir tentang masa depan, dan sebagainya. Aku tau ini adalah sebuah proses yang harus aku lewati, dan aku tau bahwa aku harus menang atasnya.
              
Di masa-masa sulit itu, aku tau bahwa Tuhan sedang menarikku semakin dekat dengan-Nya, namun iblis terus saja berusaha menarikku ke bawah. Sungguh suatu pergumulan dan peperangan rohani yang berat dan melelahkan. Namun di masa-masa ini, Tuhan mengajarku lewat banyak hal: kotbah-kotbah yang menguatkanku, pemimpin yang sharingnya memberiku kekuatan, dan Firman-Nya yang meneguhkanku. Aku belajar banyak hal dari masa-masa sulit ini dan aku mau share ke kalian supaya kalian juga dikuatkan.
               
Pertama, kalo kita ngalami badai masalah, terbang tinggilah seperti burung rajawali. Burung rajawali adalah burung yang memiliki keistimewaan, di matanya ada selaput yang melindungi sehingga ia tidak merasakan panasnya cahaya matahari. Sementara burung-burung lain jatuh karena panasnya cahaya matahari membakar matanya, burung rajawali tetap terbang tinggi sampai mengatasi badai. Sebagai anak Tuhan, kita harus naik tinggi ke gunung Tuhan, yaitu hadirat-Nya. Semakin banyak tekanan yang kita hadapi, justru kita harus semakin sering masuk dalam hadirat-Nya. “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:30-31). Jangan sampai kita dikalahkan oleh masalah ato keadaan kita, justru kita harus menang atas masalah kita. Hanya dalam hadirat-Nya, kita memperoleh kemenangan, kekuatan, dan kelegaan.
               
Kedua, seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami hal-hal buruk sebelum mengalami hal- hal yang baik. Seperti bangsa Israel yang harus melewati padang gurun sebelum mereka masuk ke tanah Kanaan, seperti itu juga hidup setiap kita. “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibrani 12:12-13). Ketika kita mengalami masa-masa padang gurun, yaitu masa-masa sulit, kita tidak bisa melihat hal-hal yang baik, seolah-olah sekeliling kita hanyalah kekeringan dan ketandusan. Kita tidak melihat adanya harapan, tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita, semuanya gelap dan suram. Justru di masa-masa itulah, kita semakin bisa melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang dahsyat dalam hidup kita. Tuhan ingin memberi pengalaman-pengalaman yang baru bersama Dia. Yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah iseng atau kengangguren menaruh kita dalam masa-masa sulit. Ada berkat yang besar yang menanti kita di depan, asalkan kita sanggup menyelesaikan proses yang harus kita lalui. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1:9).
               
Ketiga, kita harus tetap tenang dalam masa-masa sulit supaya kita bisa berdoa. “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7). Seringkali dalam masa-masa suit, kita gelisah dan terus memikirkan masalah kita. Hal itu bukannya membuat keadaan kita makin baik, tapi justru makin buruk. Kita harus bisa menenangkan diri kita, lalu berdoa membawa perkara kita ke hadapan Tuhan. Apabila kita gelisah dan khawatir, mungkin kita tidak bisa langsung berdoa. Namun tetap carilah cara untuk datang mendekat kepada Tuhan. Kalo aku nggak bisa konsen berdoa karena terlalu tertekan, biasanya aku nerapno 2 cara ini. Satu, aku berlutut di hadapan Tuhan, sambil pasang headset yang muter lagu rohani kenceng- kenceng. Tujuannya apa? Supaya lewat lagu-lagu itu, aku diingetno tentang kebaikan- kebaikan Tuhan di masa lalu, supaya aku jadi tenang lagi. Aku percaya, Tuhan yang dulu sanggup menolongku, sekarang juga masih sanggup dan masih mau untuk menopangku. Kalo cara itu nggak berhasil, aku pake cara satu ini. Dua, aku berlutut dan berdiam diri di hadapan Tuhan. Aku kosongkan pikiranku dari masalah-masalahku, aku tanggalkan beban-bebanku. Lalu aku fokus memikirkan Tuhan, kebaikan- kebaikan-Nya. Aku terus berdiam diri, sampai ada ayat yang muncul di hati ato pikiranku. Biasanya Tuhan mengingatkanku ayat yang sesuai dengan kebutuhanku itu. Setelah itu, aku terus menerus mengucapkan ayat itu sampai ada kekuatan dan iman yang timbul di hatiku.
Tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan bertindak” (Daniel 11:32).
God bless you, all!

February 25th 2012
12:44 pm

February 21, 2012

SAPA SIH LOE, PAKE TEGUR- TEGUR GUE?

“Sapa sih loe, pake tegur- tegur gue?” Pernah nggak ngucapin kalimat ini ke orang lain?  Pernah nggak kita ngerasa sebel banget sama orang yang negur kita? Kok rasanya orang itu sok banget sih, pake negur-negur aku segala. Duh, kamu itu bukan sapa- sapa, lebih muda daripada aku, tapi berani banget negur aku. Ato kamu emang lebih tua daripada aku, tapi nggak usa sok deh negur aku.
          
Sadarkah kita, dalam kehidupan ini, kita bukanlah orang yang sempurna. Kita adalah manusia yang jatuh dalam dosa, yang perlu terus menerus diingatkan untuk tetap berjalan di jalan yang benar.  Oleh karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang menegur, mengoreksi, dan menunjukkan apa yang benar untuk kita lakukan. Pada dasarnya, teguran merupakan hal yang tidak mengenakkan bagi kita, namun teguran merupakan bahan bakar yang diperlukan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
          
Memang ada berbagai macam motivasi ketika orang lain menegur kita. Orang yang menegur kita, tidak selalu mempunyai maksud yang baik kepada kita, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang menegur kita dengan iri hati, dengan kesombongan, ato ada orang yang menegur kita karena ingin mempermalukan bahakan menjatuhkan kita. Apapun motivasi orang yang menegur kita, hendaklah kita memiliki respon hati yang benar. Sadarilah bahwa kita membutuhkan teguran, kita membutuhkan orang lain untuk menilai hidup kita.
          
Tentunya, kita harus memiliki hati yang terbuka terhadap teguran, terutama terhadap teguran dari Roh Kudus. Selain itu, kita juga harus membuka hati kita terhadap teguran yang datang dari sesama kita. Hidup kita harus selalu diperbarui dari hari ke hari, harus selalu dikoreksi dari waktu ke waktu. Jangan sampai kita menjadi orang yang menutup diri dan hati terhadap teguran. Orang yang menutup diri terhadap teguran atau bahkan menolak teguran, adalah orang yang sudah mati selagi hidup. Mengapa aku katakan demikian? Karena hidup ini merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti, sampai kita menghembuskan nafas terakhir. Ketika orang lain menegur kita, kita belajar. Ketika orang lain bahkan mengkritik kita dengan kejam, kita pun belajar. Namun ketika kita menutup hati kita terhadap teguran orang lain, berarti kita menolak untuk belajar karena kita merasa bahwa kita sudah hebat.
          
Ketika posisi kita di bawah, kita dengan rendah hati dan dengan mudahnya, mau menerima teguran. Bahkan mungkin kita dapat dengan cepat berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun masalah timbul ketika kita sudah berada di posisi yang cukup tinggi (baik secara usia maupun jabatan), kita cenderung merasa diri lebih baik daripada orang lain. Hal ini menyebabkan kita menjadi gengsi atau sombong, sehingga kita cenderung menolak ketika ditegur. Terutama apabila orang yang menegur kita merupakan orang yang posisinya di bawah kita, atau lebih muda usianya dibandingkan kita. Yang perlu kita ketahui adalah orang yang merespon teguran dengan sikap hati yang benar, dia akan diberkati Tuhan. Namun orang yang tidak mau ditegur (terutama apabila kita salah), maka kita akan memperoleh ganjaran dari Tuhan.
          
Kita akan melihat contoh dari 2 tokoh Alkitab, bagaimana mereka merespon teguran yang mereka terima. Saul dan Daud adalah orang yang dipilih dan diurapi Tuhan untuk menjadi raja Israel. Mereka sama-sama orang yang terpilih, mereka adalah orang yang sangat dihormati. Namun mereka juga adalah manusia biasa, yang bisa berbuat salah. Yang membedakan mereka adalah RESPON HATI KETIKA DITEGUR.

Dalam kitab 1 Samuel 13:11-12, kita dapat melihat respon Saul ketika nabi Samuel datang menegur kesalahannya, “Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul:”Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran”. Respon Saul sungguh sangat mengejutkan, dia tidak mengakui kesalahannya dan bertobat, tetapi malah sibuk menyalahkan orang lain. Dia menyalahkan rakyatnya (orang Israel), dia menyalahkan nabi Samuel yang tidak kunjung datang, dia membenarkan situasinya yang sedang terjepit oleh orang Filistin, dan dia melanggar perintah Tuhan yang sudah dia ketahui bahwa hanya imam yang boleh mempersembahkan korban kepada Tuhan. Namun sadarkah kita, seringkali kita juga merespon sama seperti Saul merespon. Bahkan mungkin kita lebih buruk lagi, karena kita mungkin juga menyalahkan Tuhan untuk membenarkan tindakan kita.

Kita lihat juga dalam 1 Samuel 15:13-24. Secara singkat, kejadiannya hampir sama dengan sebelumnya, namun respon Saul lebih mengerikan lagi. “Lalu kata Saul kepada Samuel:”Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal” (15:20-21). Yang lebih hebat lagi, Saul tidak sungguh- sungguh bertobat bahkan masih meminta nabi Samuel menunjukkan hormat kepadanya. “Berkatalah Saul kepada Samuel:”Aku telah berdosa, sebab telah kulanggar titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN”(15:24-25).Tetapi kata Saul:”Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juag hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu” (15:30).

Mengapa Saul merespon seperti itu? Tidak tahukah dia, bahwa dia sedang berhadapan dengan nabi Tuhan, bukan dengan orang biasa yang dapat dibantahnya? Aku berpikir, mungkin Saul malu ketika Samuel menegurnya seperti itu, karena ditegur di depan orang Israel. Mungkin Saul merasa dipermalukan di depan rakyat, sementara posisinya saat itu adalah raja Israel. Mungkin juga Saul merasa dirinya adalah raja, yang harus dihormati walaupun dia berbuat salah. Atau mungkin juga, kesombongan Saul tidaklah hilang karena dari mulanya dia adalah anak orang kaya. Namun satu hal yang perlu kita pelajari dari kisah ini adalah tanggalkan egomu ketika kamu ditegur karena kesalahanmu. Hal ini dpaat kita temukan dalam diri Daud.

Sekarang kita akan melihat bagaimana respon Daud ketika seorang nabi menegurnya dalam posisinya sebagai raja Israel. Dalam kitab 2 Samuel 12, dikisahkan bahwa nabi Natan menegur Daud atas perzinahan dan pembunuhan yang telah dilakukannya. Bagaimana Daud merespon? “Lalu berkatalah Daud kepada Natan:” Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud:” TUHAN telah menjauhkan dosamu itu:engkau tidak akan amti. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (2 Samuel 12:13-14). Bahkan setelah Daud tahu bahwa anaknya pasti mati, Daud tidak marah kepada Tuhan, malahan dia masih memohon kepada Tuhan, “Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila iamasuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah” (12:16).

Daud sungguh-sungguh bertobat ketika nabi Natan menegur kesalahannya. Daud tidak membela diri, tidak menyalahkan orang lain, bahkan dia langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bersedia menerima konsekuensi atas dosanya. Sunguh sebuah respon yang berbeda dibandingkan dengan respon Saul. Tidak heran apabila Tuhan menyebut Daud sebagai “orang yang berkenan di hati-Ku”.

Marilah kita sama-sama belajar dari 2 tokoh di atas dan kita mengambil respon hati yang benar dalam hidup kita sehari-hari. Bahkan walaupun kita ditegur oleh orang yang tidak lebih benar daripada kita sekalipun atau kita ditegur oleh orang yang posisinya di bawah kita, hendaklah kita berdiam diri dan menerima teguran itu sambil duduk di bawah kaki Tuhan. Siapa tahu Tuhan memakai orang tersebut untuk menegur kesalahan kita dan Tuhan sedang menguji sikap hati kita. Ketika kita menolak teguran, kerohanian kita tiba-tiba akan berhenti tumbuh. “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5). “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19)

February 20th  2012
12:52 pm

AKU BUKAN DUKUN!

Pernah nggak kalian bertemu ato mengenal orang yang kayaknya deket banget sama Tuhan, yang kalo dia berdoa tu kayaknya Tuhan selalu jawab? Ato orang yang peka banget sama apa yang menjadi kehendak Tuhan? Kalo kita nanya sesuatu ke orang itu, orang itu hampir selalu ngasi jawaban yang tepat dengan kebutuhan kalian? Ato jangan- jangan kalian sendiri adalah orang yang peka itu.
           
Rasanya enak banget, beruntung banget, en bersyukur banget kan kalo ketemu sama orang yang peka sama kehendak Tuhan, yang doanya “manjur”, yang kalo kita butuh apa- apa dengan mudahnya orang itu bisa tau dan memberi kita solusi yang tepat. Namun, apakah kita pernah berpikir bahwa kita pun bisa menjadi orang yang seperti itu, karena Roh Kudus yang sama juga dikaruniakan kepada setiap kita? Roh Allah yang dahsyat yang tinggal dalam hidup orang tersebut, juga tinggal di dalam hidup kita!
           
Bagi beberapa orang, mungkin Tuhan terasa jauh banget. Kalo kita berdoa, kok rasa-rasanya lama banget dijawab. Ato mungkin kita nggak tau gimana sih caranya tau kehendak Tuhan, gimana sih denger suara Tuhan, gimana sih dituntun sama Tuhan? Mungkin karena alasan- alasan itulah, beberapa orang cenderung “mendewakan” orang-orang yang peka tadi itu. Setiap ada masalah, mungkin kita bukan bertanya kepada Tuhan, tapi kita sms, telpon, ato BBM orang- orang yang peka tersebut. Begitu dia jawab, cling cling cling, kita dapet jawaban tanpa perlu susah-susah.
           
Aku pun pernah menjadi orang yang seperti itu, aku “mendewakan” seseorang yang sangat peka dengan kehendak Tuhan. Bukannya datang ke Tuhan sendiri, aku lebih sering bertanya ke orang tersebut kalo aku ngalami masalah. Lama kelamaan, aku bergantung kepada orang tersebut tanpa kusadari. Di suatu titik, Tuhan menegurku lewat orang itu, bahwa aku harus belajar mandiri, aku harus mencari Tuhan sendiri tanpa perantara orang “hebat” itu. Disitulah arah hidupku mulai berubah 180 derajat.
           
Sejak saat itu, aku pun mulai mendekatkan diri pada Tuhan dan aku pun mulai menjadi orang yang peka dengan kehendak Tuhan. Ternyata nggak sulit kok untuk menjadi peka dengan kehendak Tuhan, kuncinya cuma satu, yaitu kita harus mendekat kepada Tuhan. Kalo kita dekat dengan Tuhan, sering bersekutu dengan Dia, lama kelamaan Dia akan mencurahkan isi hati-Nya kepada kita. Jadi dengan mudahnya kita dapat menjawab suatu persoalan karena kita sudah tau kuncinya.
           
Di suatu titik, aku pernah menjadi orang yang sangat peka dengan banyak hal. Aku sangat menikmati hal itu, begitu indah ketika dekat sekali dengan Tuhan. Namun ada satu masalah yang sangat tidak kusukai, yaitu orang di sekitarku yang mengetahui hal itu, menjadi memanfaatkanku. Banyak yang ketika menghadapi masalah, mereka calling aku en tanya ini itu. Aku seneng bisa membantu orang, tapi bukan itu tujuanku, aku juga pengen orang-orang itu mengenal Tuhan sendiri secara pribadi, tanpa perantaraanku. Namun sangat disayangkan, banyak orang yang hanya mau jalan pintas, praktis, dan mudah. Mereka lebih suka bertanya kepada orang-orang yang mereka nilai peka, tapi mereka tidak mau bertanya kepada Sumbernya sendiri, yaitu Tuhan.
           
Setiap kali aku menolong orang lain yang membutuhkan solusi atas permasalahan mereka, aku selalu mendoong orang tersebut untuk mencari Tuhan sendiri, agar mereka tidak menjadi orang yang bergantung pada manusia. Tetapi, banyak orang yang mengabaikan hal itu dan terus saja menjalani jalan pintas dengan bertanya kepada orang lain yang dinilai lebih peka. Hal itu sangat menyakitkan bagiku, terutama ketika suatu saat anak rohaniku berkata, “Ce tolong doain aku ya, doa cece kan biasanya manjur”. Aku langsung merasa sedih ketika dia ngirim sms seperti itu. Disitu aku langsung menanggapi dia, “Aku bukan dukun, kalo kamu mau dapet sesuatu dari Tuhan, ya kamu harus berdoa sendiri”.
           
Kejadian itu berlanjut setiap kali ada orang yang mengetahui kedekatanku dengan Tuhan. Bahkan pemimpin rohaniku pun, yang seharusnya mencari Tuhan sendiri, dia pun seringkali memanfaatkan karuniaku itu. Bukannya mencari kehendak Tuhan dulu melalui doa, dia cenderung kontak aku dulu baru kroscek jawabanku ke Tuhan. Terbalik kan? Sekali dua kali, aku hanya diam. Namun ketika kejadian itu terus berulang, aku menegurnya. Alih-alih sadar, dia malah berkata, “Aku bukan Tanya ke kamu tok kok Luc, aku juga Tanya ke yang lain”. Astaga! Hidup seperti apa yang dia bangun kalo dia seperti itu? Apa yang bisa dia berikan ke anak-anaknya kalo dia nggak membangun keintiman sendiri dengan Tuhan, tapi selalu bertanya kepada manusia sebelum bertanya kepada Tuhan?
           
Kalo kita ngalami sesuatu dalam hidup kita, kemudian kita bertanya kepada orang lain dan orag itu memberikan solusi yang tepat atas hidup kita, bukankah kita memperlakukan orang tersebut seperti dukun? Padahal karunia yang dimiliki oleh orang tersebut merupakan pemberian Tuhan. Bukankah hal itu berarti kita meremehkan Tuhan dan lebih memuliakan manusia? Apakah di mata kita, Tuhan tidak sanggup menjawab kita sendiri sehingga kita menggunakan perantaraan orang lain? Ataukah kita menganggap diri kita bukanlah orang yang diperkenan oleh Tuhan sehingga kita tidak bisa mendekat sedemikian rupa kepada Tuhan? Atau yang lebih ekstrim lagi, kita malas untuk mencari uhan sendiri karena kita menganggap bahwa Dia terlalu jauh untuk kita jangkau?

Aku tau, untuk membangun keintiman dengan Tuhan bukanlah hal yang mudah. Itu bukan seperti 3 langkah mudah ABC, bukan juga dapat dicapai dalam hitungan hari. Bagiku, keintiman dengan Tuhan merupakan hal yang mutlak bagi setiap orang yang menyebut dirinya “orang Kristen” ato “anak Tuhan”. Bagaimanpun juga, kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia yang sangat terbatas, kita memerlukan tuntunan Tuhan setiap saat dalam hdup kita. Oleh karena itu, kita perlu menyadari bahwa keintiman dengan Tuhan bukanlah merupakan suatu pilihan, namun sebuah keharusan dan kebutuhan. Sebuah keintiman dengan Tuhan perlu dibangun secara rutin dan terus menerus, seperti tubuh kita membutuhkan makanan, demikian juga kita membutuhkan Dia, bahkan lebih daripada itu.
           
Beginilah firman TUHAN:” Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!.... Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:5,7). Firman Tuhan tersebut sangatlah jelas, Tuhan tidak suka kepada orang yang mengandalkan manusia ato kekuatannya sendiri. Namun Tuhan sangat menyukai, bahkan memberkati orang yang mengandalkan Dia dalam hidupnya. Tuhan memberikan orang-orang yang berkarunia dalam hidup kita untuk membantu kita mendekat kepada-Nya sendiri, bukan untuk kita manfaatkan, bukan untuk kita jadikan jalan pintas yang membuat kita menjadi malas mencari Tuhan sendiri. Berhati-hatilah, jangan sampai kita tersesat!
           
Janganlah kita menjadi orang yang manja, yang suka mencari jalan pintas untuk memperoleh solusi atas permasalahan kita, ato jawaban yang cepat dan tepat untuk hidup kita. Carilah Tuhan, maka kamu akan menemukan-Nya. Bangunlah hubungan yang intim dengan Dia, bukan dengan manusia untuk mendapatkan pertolongan manusia. Kejarlah hati-Nya, maka kamu akan memperolehnya. Biar melalui note ini, kita nggak lagi jadi orang yang memanfaatkan orang yang berkarunia, namun kita semakin mendekat kepada Tuhan supaya kita menjadi orang yang dapat mengenal hati-Nya secara pribadi. Amin.
God bless you all!

February 20th 2012
11:49 am      

I’M NOT ONLY VIRGIN, BUT ALSO PURE AND HOLY

Di jaman akhir dimana pergaulan bebas sudah menjadi hal yang biasa, sangat diperlukan kehadiran anak-anak Tuhan yang tetep bisa menjadi terang bagi sekelilingnya. Sebagai orang- orang yang ngaku udah kenal Tuhan, kita wajib tampil beda untuk menunjukkan bahwa terang Tuhan bener- bener ada di dalam hidup kita. Ketika kekudusan dan batasan- batasan menjadi sesuatu yang dianggap kuno, nggak relevan, dan uda ketinggalan jaman, disinilah peran anak Tuhan semakin kuat dibutuhkan. Apakah masih ada anak- anak muda yang hidup seturut dengan kebenran Firman Tuhan, yang bisa dijadikan teladan buat sekelilingnya? Alangkah baiknya kalo hal ini menjadi renungan buat setiap kita.
   
Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Korintus 15:33). Ayat ini memperingatkan kita akan bahaya pergaulan di akhir jaman. Kita bukan hanya harus cerdas dalam bidang kita, tapi juga dalam bergaul dan memilih teman. Karena secara tidak sadar, pergaulan kita sedikit banyak yang akan mempengaruhi perilaku en sikap kita sehari- hari. Alangkah baiknya kalo kita menentukan batasan- batasan yang jelas dalam pergaulan kita, terutama dengan lawan jenis.
         
Kita diciptakan sebagai gambaran yang sempurna dari Allah itu sendiri (lihat Kejadian 1:26). Jika kita ini bener- bener merupakan gambaran Allah, bukankah uda seharusnya kita juga mencerminkan citra Allah dalam hidup kita? Terutama kita sebagai cewek, kita diciptakan Tuhan dengan begitu indahnya, untuk memancarkan kelembutan dan kasih-Nya bagi dunia ini. Hendaknya kita sebagai cewek, bisa memuliakan Allah dengan seluruh hidup kita, termasuk dengan tubuh kita.
          
Sebagai seorang yang berharga di mata Tuhan, sebagai cewek uda seharusnya kita memelihara en menjaga tubuh kita dengan baik dan benar. Apalagi cewek seringkali menjadi korban dari hal- hal yang nggak bener. Kitalah yang harus menetapkan standar en batasan dalam segala hal, jangan sampai kita membiarkan diri kita diperalat atau dipakai untuk sesuatu yang nggak berkenan di hadapan Tuhan.
          
Nggak cukup kita hanya menjaga diri kita tetep virgin, namun lebih dari itu, sanggupkah kita tetap menjaga diri kita tetep kudus di hadapan Tuhan? Bahkan saat kita uda berpacaran sekalipun, apakah kita tetep mempertahankan kekudusan itu? Sadarkah kita bahwa Allah kita adalah Allah yang kudus dan ia menuntut anak-anak-Nya untuk juga hidup dalam kekudusan? Sadarkah kita bahwa Allah menyukai kekudusan?
          
Tetep kudus nggak cuma berarti kita nggak berhubungan seks sebelum menikah, namun juga sebisa mungkin kita menjaga jarak dengan sesuatu yang bisa menajiskan kita. Menjaga mata, hati, pikiran, dan seluruh keberadaan kita, itulah artinya menjaga kekudusan. Seringkali dalam bergaul dengan lawan jenis, nggak ada batasan antara cowok en cewek. Mereka dengan mudahnya gandengan tangan, pelukan, cium sana cium sini. Apakah kita boleh melakukan hal kaya gitu?
          
Yesus uda mengorbankan diri-Nya bagi kita, yaitu mati di kayu salib untuk menebus kita. Kalo kita bukan orang yang berharga di mata-Nya, aku yakin bahwa Dia nggak akan sampai mengorbankan diri-Nya seperti itu. Kalo Tuhan menghargai kita sedemikian mahal, masakan kita nggak bisa menghargai diri kita sendiri?
     
Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai” (Kidung Agung 4:12). Kalimat di atas merupakan kalimat yang diucapkan Salomo kepada pengantin wanitanya di hari pernikahan mereka. Bayangkan, betapa bahagianya Salomo ketika dia mendapati bahwa wanita yang dicintainya adalah wanita yang sungguh- sungguh masih kudus dan murni? Apakah suatu saat, pasangan kita dapat mengatakan hal yang sama tentang diri kita?
          
Aku pun bukanlah orang yang sempurna. Aku pun berusaha dan masih belajar untuk menjagai hidupku tetep kudus sampai hari pernikahanku. Oleh karena itu, marilah kita sama- sama berusaha menjagai hidup kita yang berharga ini, agar suatu saat kita bisa membuat pria yang kita cintai dan yang mencintai kita itu bangga kepada kita.
          
Jangan berpikir bahwa menjaga kekudusan merupakan hal yang mustahil karena kita hidup di jaman yang rusak. Pikirkanlah bahwa ada Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita, yang memampukan kita untuk hidup berkenan dia hadapan Tuhan, asalkan kita berusaha bersama Dia. Aku membayangkan di hari pernikahanku, aku dapat mengatakan kalimat ini kepada pangeranku: “I’m not only virgin, but also pure and holy. Here I am, wholly for you”.

February 14th 2012
12:42 pm

KENAPA TUHAN IJINKAN AKU SAKIT?


Rabu lalu (8 Februari 2012), tiba- tiba aku ngerasa nggak enak badan. Ngerasa kedinginan en badan sakit semua.. Kalo diinget- inget aku sempet kecapekan en kehujanan. Alhasil tepar selama beberapa hari karena flu en masuk angin T,T
           
Pas sakit itu, aku sempet ngeluh ke TUHAN, “Tuhan, ini minggu- minggu sibukku loh. Kok aku sakit? Gimana donk, aku jadi nggak bisa kerja dengan efektif kalo sakit gini” (aku lagi sibuk kerja skripsi en jadi panitia sebuah acara kampus).  Tiba- tiba Tuhan jawab, “Aku mau kamu rest dulu, kamu itu kecapekan. Kalo kamu disuruh berhenti juga nggak berhenti kan, ya uda, Aku bikin kamu sakit aja supaya kamu bisa berhenti en rest”. Dieeeennnkkk. Terharu banget pas dijawab begitu. So sweet banget yak.
           
Di masa- masa sakitku itu (tepar sampai tanggal 12 Februari bo), aku diajar Tuhan beberapa hal. Ini yang mau aku share ke kalian. Pertama, Tuhan mau aku rest dari semua kesibukanku. Aku ini orang yang melankolis-kolerik, jadi susah banget disuruh rest kalo kerjaanku belum kelar. Bahkan saat jam tidurpun, sering banget aku susa tidur karena masih mikirin kerjaan yang belum selesai hari itu. Aku menyadari bahwa sifat perfeksionisku itu keterlaluan. Tapi apa daya, seringkali aku berusaha berhenti, tapi tetep nggak bisa. Di momen sakitku kali ini, Tuhan bener- bener ngajar aku untuk nggak “dikejar target”, Tuhan ngajar aku untuk rileks en enjoy my life. Aku baru sadar, karena selama ini aku terlalu sibuk, banyak hal yang nggak bisa aku nikmati di hidupku. Aku terlalu “rush” sehingga nggak bisa merhatiin hal-hal kecil yang indah yang Tuhan ciptakan. Pas sakit ini, aku belajar bersyukur buat hal-hal yang Tuhan ciptakan, kayak udara, matahari.

Kedua, tiba-tiba Tuhan ingetkan aku akan teguran sahabatku beberapa waktu lalu (sekitar 1,5 tahun lalu waktu aku sempet exhausted dengan hidupku): “Jangan sampai jadi anak sulung yang cuma kerja- kerja tok, tapi nggak bisa nikmati berkat Bapa. Salah satu berkat Bapa adalah damai sejahtera. Kamu nggak cuma disuruh kerja, Luc, tapi kamu juga berhak untuk nikmati berkat Bapa” (lihat Lukas 15). Aku ngerasa surprised banget waktu diingetin teguran itu en langsung ketempelak. Bener yah selama ini aku ini kayak robot or mesin, yang cuma kerja mulu. Aku ini nggak sadar kalo bukan itu yang Bapa mau. Bapa pengen aku kerja, tapi Bapa juga pengen aku bisa nikmati berkat- berkat yang Dia punya. Dia nggak mau aku kerja kayak mesin yang nggak berhenti. Dia pengen aku bisa nikmati kesukaan di dalam Dia, nikmati hadirat-Nya, nikmati semua yang baik dari Dia. Thanks God ^^

Ketiga, untuk lebih dekat lagi dengan Dia. Aku menyadari, ketika aku sibuk dengan kerjaanku, aku jarang bisa mendekat ke Dia. Kalo saat teduh pun, maunya cepet-cepet tros segera bobok, ato cepet- cepet supaya bisa ngelanjutin kerjaan yang belum selesai. Dia nggak mau aku kayak gitu. Dia mau aku dateng ke hadirat-Nya dengan nggak buru-buru. Dia mau aku bisa lebih deket sama Dia, masuk hadirat-Nya sampai bener- bener bisa denger isi hati-Nya, bisa ngobrol dengan akrab dengan Dia. Waktu aku sakit kemarin ini, aku mikir kalo aku nggak bisa saat teduh dengan enak, tapi ternyata aku salah besar! Justru waktu-waktu itu menjadi waktu yang sangat berkualitas antara aku dengan Dia. Walopun tubuhku lemah en kepala pusing, aku bisa “melahap” makanan rohaniku dengan lebih maksimal, Firman-Nya berasa lebih mengena ke hatiku. Ketika aku berdoa ato menyembahpun (sekalipun dengan suara jelek plus batuk-batuk), hadirat-Nya membungkusku dengan hangat.

Thanks Tuhan, Engkau ijinkan aku sakit beberapa hari. Aku tau aku perlu waktu rest, aku nggak harus kerja mulu, aku perlu bisa menikmati Engkau. Thank You karena Engkau baik buatku ^^

February, 14th 2012
1:40 pm
           

KENAPA TUHAN CIPTAIN KECOA?

 
Aku paling benci kalo liat binatang yang namanya kecoa. Sebel amit2 dah pokoknya begitu binatang satu ini muncul di hadapanku. Uda item, jelek, jorok, bau, nyebelin lagi. Uuuuuuggghhh. Bener2 dendam kesumat sama tuh hewan :p
           
Tadi malem, pas mau bobok, aku denger suara kresek2 di deket ranjangku. Dengan tampang sebel karena ngantuk, aku noleh. Uda feeling kalo tuh bunyi asalnya dari tempat sampah di samping ranjangku. Cepet2 aku ambil senter en arahin tuh senter ke tempat sampah. Sekilas aku liat makhluk item jelek itu di antara tisu en kertas2. Huwaaaa, nyebelin. Nggak tau uda jam 1 lewat apa, gangguin orang ajah >.<
           
Aku berniat untuk ngeluarin tempat sampah itu ke luar kamar, tapi kalo aku dorong pake kaki trus kecoanya nempel di kakiku gimana? Nggak banget deh. Akhirnya aku punya jurus jitu, ambil sapu trus dorong tempat sampahnya pake sapu. Lumayan kan, jarak masih jauh. Eh, tiba2 tuh kecoa ke luar dari tempat sampah en nangkring di bagian bawah gorden. Aaaaaarrrggghhh, gawat2. Diriku langsung panik, gimana nih kalo dia terbang? Sereeeemmmm. Aku cari2, tiba2 tuh kecoa entah dimana rimbanya. Hati was- was banget. Duh, gimana kalo pas aku bobok, trus dia nempel di badanku? Duh gimana ini?
           
Daripada galau kagak jelas, aku berdoa ke Tuhan dengan ketakutan, “Tuhan, Engkau tau kalo aku benciiiiii banget sama kecoa. Ini ada kecoa di kamarku, Tuhan. Tolong aku, lindungi aku supaya tuh kecoa ga macem2 sama aku. Thanks ya ,Tuhan”. Setelah berdoa, aku uda agak tenang, tapi masih sebel dalam hati. Trus aku nanya ke Tuhan, “Tuhan, ngapain sih Engkau nyiptain tuh hewan? Padahal tuh hewan kan jelek, bau, jorok, ga berguna lagi. Cuma nyusahin en ngganggu manusia doank”. Tuhan jawab dengan nada senyum (mungkin Tuhan mikir, kok ada anak segede aku nanya pertanyaan konyol gitu yah :p), “Aku nyiptain kecoa supaya kamu bersandar sama Aku. Di tengah malem kaya gini, pas orang2 yang sayang sama kamu uda bobok, mereka nggak bisa lindungi kamu dari kecoa itu kan? Tapi Aku bisa lindungi kamu. Orang yang sayang sama kamu uda bobok, tapi Aku nggak pernah bobok. Aku tetep bisa jagain kamu kapanpun kamu butuh Aku”. Nyessss, langsung meleleh hatiku. Oh Tuhan, Kau so sweet banget loh ^^
           
Disitu aku sadar sesadar-sadarnya (walopun ngantuk abiz), bahwa Tuhan tuh bener2 sayang banget sama aku. Kasih sayang manusia terbatas banget, namun kasih sayang Tuhan nggak terbatas. Aku yakin kalo aku aman dalam perlindungan en pemeliharaan-Nya. Kalo untuk hal kecil kaya gini ajah Dia peduli, nggak mungkin Dia nggak peduli sama hal2 besar di hidupku. Akhirnya tadi malem, aku tidur dengan sangat nyenyak dalam damai sejahtera.

February, 8th 2012
12:14 pm

APAKAH ARTI SEBUAH NAMA?

“Apakah arti sebuah nama?” merupakan sebuah kalimat yang sering banget kita dengar. Dari kalimat itu, seolah-olah sebuah nama tuh nggak memiliki makna yang penting. Apakah itu benar? Apakah nama hanyalah sekedar sebuah tanda untuk membedakan sesuatu (ato seseorang)?
          
Aku nggak setuju sama kalimat yang populer itu. Menurutku, sebuah nama itu memiliki arti penting J. Kalo sebuah nama itu nggak penting, ngapain juga kita dikasi nama bagus- bagus sama ortu kita? Kalo nama itu nggak penting, kenapa kok tiap ortu yang mau punya bayi, selalu pusing tujuh keliling nyari nama buat anak mereka? Kalo nama itu bener- bener nggak berarti, kok ada orang yang mencetak buku berisi nama bayi dan maknanya? En buku itu laris manis dijual :P
          
Menurutku, sebuah nama merupakan suatu hal yang sangat penting. Kenapa? Karena setiap nama memiliki arti ato makna yang penting. Aku yakin, ortu kita nggak sembarangan kasi kita nama. Pas mereka mau kasi kita nama, mereka pasti berpikir keras, supaya nama itu bukan hanya bagus didengar, tapi juga bisa menyertai setiap langkah kita, seumur hidup kita. So pasti setiap nama itu penting, karena minimal ada harapan yang ditaruh oleh ortu kita ketika mereka ngasi kita nama.
          
Di atas semuanya itu, aku juga yakin bahwa Bapa kita yang di Surga juga memiliki tujuan dalam nama yang kita miliki. Kita ini disebut anak- anak-Nya loh (ngomong dengan nada bangga J). Walopun kita sering ngrasa kita ini jelek, nggak layak, dan sebagainya, tapi Dia memanggil kita anak-Nya. Dia nggak pernah tuh manggil aku “hamba” ketika Dia berkata-kata ke aku. Dia selalu manggil aku dengan sebutan “Anak-Ku” ato “Sayang”. Aku percaya bahwa Tuhan menaruh sebuah visi yang besar dalam hdiup kita, ketika ortu kita mencari nama untuk kita.
          
Jadi janganlah kita memandang rendah sebuah nama, sekalipun mungkin nama kita nggak keren ato nggak bagus. Ada tujuan, ada visi, ada harapan dalam nama yang kita punya. Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin untuk menghidupi nama itu seumur hidup kita. Jangan minder kalo kita ngrasa nama kita nggak memiliki makna yang bagus. Tetep optimis, cari kehendak Tuhan dalam hidupmu. Mungkin rtu kita nggak kasi nama yang bagus buat kita, tapi aku percaya bahwa Tuhan tetep punya rencana yang indah dalam hidup kita. Amin ^^

DOSENKU MBENCEKNO…………….

 
Semester 7 kemaren, aku diajar sama dosen yang super duper mebncekno. Sebenernya dosen ini pinter, gelarnya banyak (ada 5 kalo nggak salah, astagaaaa), tapi hamper nggak pernah ngajar. Kalo di kelas, biasanya dia bacain renungan pagi (kebetulan aku kuliah jam 7 pagi), tros sisanya dia crita2 gitu. Pokoknya dijamin nggak ngerti apa2 tentang mata kuliahnya, fiuuuhhhh. Bahkan kadang dosenku ini cerita hal yang nyeleneh2 bin nggak penting, geje (ga jelas) bener deh, hahahaha.
           
Tapi Tuhan itu unik banget loh, Dia pake dosenku ini untuk ngajarkan sesuatu ke aku ^^ Aku ini kan tomboy, nggak suka pake rok. Dari kecil ogah bener pake rok. Dateng ke pesta, aku lebih sering pake celana jeans daripada rok. Mau yang nikah tu sepupuku kek, aku nggak peduli, cuek banget. Pokoknya aku nggak mau pake rok (kecuali pas jaman sekolah dari SD sampe SMA tentunya, kepaksa gitu, hehehe).
           
Menurutku, sebagai cewek tuh kita punya hak (wadow bicara hak nih,wakakaakka) untuk pake rok ato celana. Nggak wajib tuh yang namanya cewek musti pake rok. Amit2 deh. Walopun mamaku sering ngomel, sodara2 sering nasehati plus ceramah, temen2 suka negur, aku mah tetep cinta celana. Suka2 gue donks. Hahahaahha. Walopun emang terakhir2 (mulai pernikahan mami rohaniku di akhir tahun 2010), aku mulai belajar pake rok sih, tapi tetep aja nggak nyaman. Duh, kalo bisa aku nggak mau deh pake rok. Kalo bisa, cari celah gimana caranya supaya tetep boleh pake celana panjang ketimbang rok :p
           
Nah, ternyata oh ternyata, nih dosen me-WAJIB-kan setiap mahasiswa di kelas khusus mata kuliah itu (yang isinya mahasiswa semester atas) untuk pake baju professional (kayak orang kerja gitu). Yang cowok wajib pake kemeja lengan panjang plus celana kain. Yang cewek wajib pake kemeja en pake rok! Jedeeeerrrr. Bahkan itu akan masuk ke penilaian (kalo pake rok, bakal dikasi nilai tambahan gitu). Astaga, ini mah pemaksaan. Kan nggak semua cewek kerja pek rok, ada tuh yang pake celana kain  (otak gue berontak lah). Tapi gimana2, dosen lebih menang daripada mahasiswanya L. En mau nggak mau, suka nggak suka, sebel ato seneng, aku harus pake rok. Tersiksa banget bo. Nggak pede amat. Ngrasa konyol.
           
Apalagi pas berita itu nyebar di antara temen2 seangkatan, mereka komen,
“Wah, untung ya aku nggak diajar dosen itu”.
“Tuh dosen aneh2 tros ya”. 
“Kelas dosen X diwajibin pake rok loh, amit2 dah kalo sampe diajar dosen itu”

En segudang komen lainnya yang bikin hati semakin dongkol. Wkwkwkwkwk. Apapun alas an dosen itu, sebenernya dia cuma penegn ngajarin mahasiswanya untuk berpenampilandengan rapi en sopan. Dia pengen mahasiswanya bisa menyesuaikan diri sebelum masuk ke dunia kerja en pake baju2 formal gitu. Ada tujuan yang baik di balik “pemaksaan” yang dia lakuin seh.
           
Waktu aku protes ke Tuhan, Tuhan malah senyum2, huh. Dia malah bilang, “Biarin kamu belajar jadi cewek, kan Aku ciptain kamu sebagai cewek”. Aaaarrrrgggghhh. Nangis bombay dah kalo uda dibilang gitu. Nggak ada ayng belain aku, hikssss. Tapi akhirnya aku belajar enjoy pake rok, belajar menyukai “hak” cewek untuk pake rok. Belajar menyadari kodratku sebagai seorang cewek en keistimewaan seorang cewek, hihihi.
           
Thanks God buat pelajaran berharga yang Kau berikan buat aku. Love You so much :-*

汉语补习 (LES MANDARIN)

 
Sejak September 2011, aku ikut les mandarin. Motivasi awal aku ikut les tuh ada dua. Yang pertama aku pengen belajar bahasa nenek moyangku (malu banget karena aku yang hua ren – keturunan Cina – kagak bisa bahasa mandarin, sementara orang Indo pribumi banyak yang jago mandarin, hehehe). Motivasi kedua, aku pengen suatu saat aku bisa ke Cina en tell them about Jesus Christ in their language.
          
Sebelum les, aku berdoa berdoa berdoa. Tuhan berkenan nggak yah? Tuhan ngijinin aku les mandarin nggak ya? Mumpung aku ada waktu nih (semester kemaren aku kuliah seminggu 2x en kerja skripsi). Setelah berdoa, bergumul, en mempertimbangkan ini itu, aku bilang ke ortu. Mereka setuju2 ajah. Yey! Akhirnya les deh ^^
          
Awal2 les itu, aku nggak mikir bahwa Tuhan sediain sesuatu buat aku di tempat les ini. Aku cuma mikir kalo aku mau belajar mandarin dengan serius,  mau bener2 pelajari apa yang diajarin sama laoshi (guru). Pas itu bertepatan banget sama momen aku ngajuin judul skripsi. Ngajuin judul skripsi aja kayak ngelewati lembah air mata (walah :P), banyak ditolak sampe aku nangis hampir tiap kali ditolak, hahaha.
          
Eh ternyata, Tuhan pake temen2 lesku untuk menjadi penghiburan buat aku. Aku emang nggak deket sama mereka, coz aku dateng awal (sementara mereka dateng mepet2 ato telat) en aku langsung pulang begitu kelas selesai. Tapi lewat kehadiran mereka, candaan mbanyol di kelas, bahkan kejadian2 konyol di kelas, Tuhan menenangkan hatiku. Tuhan pake mereka untuk ngingetin aku supaya aku tetep bisa senyum walopun keadaanku lagi nggak baik. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”  (Amsal 17:22).
          
Jadi walopun kadang aku dateng ke tempat les setelah siangnya judulku ditolak (dateng dengan tampang sedih en hati terluka, wakakakaaka), aku dihibur dengan banyolan2 konyol yang dilontarkan temen2ku. Apalagi waktu pertama kali les, laoshi-ku adalah orang Guangzhou yang notabene nggak terlalu bisa bahasa Indo, jadi komunikasi kita sering banget pake bahasa tarzan ato bahasa isyarat yang konyol :P Disitulah aku menemukan bahwa Tuhan masih peduli en sayang sama aku. Bahwa Dia nggak pernah tinggalkan aku sendiri. Emang nggak keliatan kalo Tuhan yang nghibur aku, tapi Tuhan pake mereka untuk hibur aku. Thanks God.

Sering banget kelasku rame, sampe2 temenku yang di kelas sebelah bilang: “Wah, kelasmu kok kayaknya fun banget ya”. Aku kadang cuma nyengir aja pas sama temenku itu en bilang, “Cece mau pindah kelasku ta? Ayuuuukkkk ^^”. Aku bener2 bersyukur banget dengan kehadiran temen2 les en laoshiku. Mereka nggak pernah tau, bahwa kehadiran mereka memberkati hidupku, membuat aku tau bahwa hidup nggak terlalu berat, mbuat aku masih bisa menikmati hal2 yang lucu.
          
Yang aku tau, sejak aku les mandarin, aku jadi orang yang lebih bisa menikmati hidup. Aku nggak lagi jadi orang yang terlalu serius, nggak terlalu memandang masalah sebagai sesuatu yang berat banget, aku jadi bisa menikmati hal2 yang Tuhan kasi di hidupku. Aku melihat bahwa Tuhan memelihara aku di masa2 sukarku dengan cara yang nggak terduga, lewat kehadiran orang2 yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya.
         
Spesial thanks buat laoshi yang ngajar aku: You laoshi en Tong Tong (her 2 years old child). Juga thanks buat Chen laoshi ^^. Thanks buat temen2 “gila” yang selalu bikin aku ketawa en enjoy: Fan Chuan Xin, Huang Tian Bei, He Xin Ya, Xu Yan Qiu, Xie Mei Mei, Chen Guo You, Zhou Zhuo Shan, Wu Zi Long, ce Yue Liang, ce Xin Ran, Li Ni Da.

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29).

February, 6th 2012
10:32 am

SEVEN YEARS WITH GOD

Tujuh tahun lalu, tepatnya tanggal 5 Februari 2005, adalah hari dimana aku berjumpa secara pribadi dengan Yesus ^^. Aku inget banget hari itu, itu pertama kalinya aku dateng ke Gereja Mawar Sharon. Aku nggak pernah berpikir, bahwa hari itu Tuhan menemuiku secara pribadi en menjamahku. Aku udah sering ke gereja beberapa bulan sebelum itu en komitmen untuk bertobat, tapi belom ketemu Tuhan. Aku cuma seneng aja dateng ke gereja, nggak tau kenapa. Singkat cerita, aku bertobat dari dosa-dosaku en mengakui Dia sebagai Tuhan en Juruselamatku.
Lagu yang mengiringi pertobatanku adalah "Bertemu muka dengan muka, tenggelam di dalam kasih-Mu Bapa. Oh Tuhan kurindukan selalu, diam dalam Bait-Mu”. Lagu yang bener-bener jadi pengalaman pertamaku dengan Tuhan. Aku bener-bener ngalami perjumpaan dengan Dia, walopun aku nggak ngeliat Tuhan dengan mataku, aku tau Tuhan ada disitu. Aku bener-bener ngerasa kasih Tuhan dicurahkan malam itu. Pokoknya itu pertama kalinya aku ketemu Tuhan dalam kehangatan hadirat-Nya.
Setelah bertobat, malam itu juga aku dibaptis, walopun aku asalnya bukan berjemaat di MS. Aku sempet ragu-ragu waktu ditanya apa aku mau dibaptis ato nggak. Tapi aku ngerasa bahwa Tuhan ngomong di hatiku (untuk pertama kalinya), bahwa aku perlu untuk dibaptis malem itu, sebagai tanda bahwa aku sah menjadi milik-Nya. Sungguh indah kalo inget malem itu. Itulah awal perjalananku dengan Tuhan.
Aku mulai belajar mengenal Dia melalui Firman-Nya yaitu Alkitab. Mulai belajar berdoa dan menyembah. Belajar setia sama Tuhan. Mulai kasi perpuluhan. Aku mulai belajar merenungkan Alkitab, menghafal ayat-ayat. Mulai belajar untuk mempelajari setiap kotbah yang aku denger. Pokoknya aku mulai belajar kenal Tuhan dengan cara-cara yang simple.
Pertengahan tahun 2005, ada pendeta yang menantang jemaat untuk berdoa bagi bangsa dan negara. Aku ngerasa Tuhan nyuruh aku maju. Disitulah Tuhan memanggil aku jadi pendoa. Walopun aku nggak tau apa-apa tentang berdoa, nggak ngerti strategi doa, peperangan rohani ato apapun itu. Modal utamaku waktu itu cuma satu: AKU RINDU untuk berdoa. Tanggal 27 Juli 2005 aku dibaptis Roh Kudus dan mulai berbahasa roh. Berbulan-bulan sejak pertobatanku, aku meminta karunia bahasa roh, berkali-kali ditumpangi tangan oleh temen-temen dan pemimpin-pemimpin rohani, tapi belom dapet. Malam itu, di malam pengurapan bagi pendoa baru, aku dibaptis Roh Kudus setelah ditumpangi tangan oleh ketua departemen doa. Mulai belajar melayani Tuhan melalui departemen doa.
Tahun 2006, aku diangkat sebagai seorang pemimpin di cell group. Aku belajar punya hati Tuhan sebagai gembala untuk domba-domba. Mulai belajar untuk memimpin dalam kasih (waktu itu aku masih dalam proses penghancuran karakter). Banyak gagal, tapi juga banyak belajar. Belajar menginjil. Belajar mempraktekkan apa yang aku sampaikan ke anak-anak rohaniku.
Tahun 2007, aku bawa 2 temenku kenal Tuhan. Praise God! ^^. Tahun dimana Tuhan semakin memakai aku melayani orang lain, belajar berani mendoakan orang lain di depan umum (bukan hanya di tempat tersembunyi kayak kamar atau menara doa). Tahun dimana aku diangkat Tuhan lebih “tinggi” daripada pemimpinku. Hal ini menimbulkan “penyiksaan-penyiksaan” di masa-masa berikutnya.
Tahun 2008, merupakan tahun dimana karakterku bener-bener dihancurkan sama Tuhan. Aku dihakimi, dijatuhkan, diusir sama pemimpin yang aku hormati. Aku dipaksa memilih antara pelayanan doa atau youth satellite dimana aku digembalakan. Kekejaman kata-kata harus aku telan mentah-mentah, penghinaan aku alami, namaku dibusukkan sampai ke pemimpin paling atas, bahkan aku dicopot dari kepemimpinan. Bener-bener aneh, pilihanku untuk melayani di departemen doa malah membuat aku "dihukum" dengan cara yang aneh. Tapi disitu Tuhan setia menolongku, menguatkanku melalui mami rohani dan sahabat rohani. Dia nggak pernah biarkan aku jatuh, sekalipun pemimpinku berusaha keras nyari-nyari kesalahanku. Dia membelaku sehingga nggak ada yang bisa pemimpinku perbuat sama aku. Haleluya. Disitu aku belajar bahwa pemeliharaan Tuhan sempurna buat aku.
Tahun 2009, aku belajar menyadari bahwa penghancuran karakter yang Tuhan ijinkan terjadi, itu baik buat aku. Tahun ini Tuhan bener-bener buat aku jadi pribadi yang berbeda, sangat kuat, dan sangat peka. Aku dipakai untuk menyadarkan orang-orang akan karunia dan talenta yang Tuhan berikan kepada mereka, aku mulai sering memperoleh mimpi dan penglihatan yang sangat berguna untuk melayani banyak orang. Aku dipakai menopang orang-orang yang lemah, yang putus asa, yang kepahitan dan minder. Tuhan pake bahuku sebagai tempat orang-orang menangis dan mengeluh. Aku berjalan dengan dengar-dengaran akan suara-Nya, lebih dari sebelum-sebelumnya. Kematian daging menghasilkan kemuliaan yang lebih besar!
Tahun 2010, tahun dimana Tuhan ngajar aku untuk nggak bergantung sama manusia. Banyak masalah terjadi dengan teman-teman terbaikku sehingga terjadi keretakan hubungan. Aku belajar bergantung sama Tuhan sepenuhnya. Belajar “makan” Firman langsung dari tangan-Nya, bukan dari hasil orang lain. Aku belajar memilih tempat dimana Tuhan mau aku melayani, apakah dunia sekuler atau dunia rohani.
Tahun 2011, tahun dimana Tuhan ngajar gimana untuk hidup relevan bagi dunia sekuler (Tuhan nuntun aku untuk lebih melayani di dunia sekuler). Belajar gimana tetep bisa menguatkan orang lain pas aku sendiri sedang lemah, belajar untuk tetep memberkati orang lain walopun sedang masa-masa sukar. Belajar tetep senyum walopun lagi sedih, belajar tetep bisa menopang orang lain walopun nggak ada yang nopang aku. Tahun dimana aku ada di persimpangan untuk kembali fokus melayani di dunia rohani. Tahun dimana Tuhan memulihkan keluargaku, ketika aku berani melangkah. Tahun yang buruk secara fisik, namun dipenuhi kebaikan Tuhan.
Tahun 2012 – Januari sampai 5 Februari – aku belajar untuk memberikan hidupku lebih lagi ke Tuhan. Nggak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi lebih lagi. All out. Bulan-bulan dimana aku struggling, tapi tetep dalam penyertaan Tuhan. Tetep dalam pemeliharaan Tuhan.
Thanks God, buat kesetiaan-Mu di hidupku selama 7 tahun ini. Tujuh tahun sudah kita berjalan bersama. Aku ga mau ini berakhir disini, tapi aku mau ini berlangsung selamanya, Tuhan. Pegang tanganku semakin erat, tuntun aku di jalan-jalan yang Engkau mau sekalipun aku nggak suka, paksakan rencana-Mu dalam hidupku. Biar aku semakin kecil dan Engkau semakin besar di hidupku. Biar kedangingan Lucy semakin hilang dan kepenuhan Roh Kudus semakin nyata di hidupku. Aku sangat mengasihi-Mu, Bapaku :-)



Engkau Bapa yang mengasihiku
tak Kau pandang bentuk dan rupaku
Engkau mengasihiku dengan sepenuh hati
tak pernah sama sperti dunia ini
Engkau Bapa yang mengajariku melewati awan yang kelabu
Engkau yang buatku terbang bagaikan rajawali
mengatasi segala pencobaan
Reff:
Kau Bapaku yang baik
mengerti bahasa tetesan air mata
Tak Kau biarkan kuberjalan sendirian
sbab kau Bapaku yang baik

Kau sungguh baik


February, 6th 2012
12:20 pm