Beberapa minggu terakhir ini, aku ngalami keadaan yang sangat sulit bagiku. Banyak masalah, tekanan, kekuatiran, dan ketakutan yang menghimpitku. Intimidasi iblis terasa kuat sekali menekan jiwaku, sehingga aku mulai meragukan janji Tuhan, mulai khawatir tentang masa depan, dan sebagainya. Aku tau ini adalah sebuah proses yang harus aku lewati, dan aku tau bahwa aku harus menang atasnya.
Di masa-masa sulit itu, aku tau bahwa Tuhan sedang menarikku semakin dekat dengan-Nya, namun iblis terus saja berusaha menarikku ke bawah. Sungguh suatu pergumulan dan peperangan rohani yang berat dan melelahkan. Namun di masa-masa ini, Tuhan mengajarku lewat banyak hal: kotbah-kotbah yang menguatkanku, pemimpin yang sharingnya memberiku kekuatan, dan Firman-Nya yang meneguhkanku. Aku belajar banyak hal dari masa-masa sulit ini dan aku mau share ke kalian supaya kalian juga dikuatkan.
Pertama, kalo kita ngalami badai masalah, terbang tinggilah seperti burung rajawali. Burung rajawali adalah burung yang memiliki keistimewaan, di matanya ada selaput yang melindungi sehingga ia tidak merasakan panasnya cahaya matahari. Sementara burung-burung lain jatuh karena panasnya cahaya matahari membakar matanya, burung rajawali tetap terbang tinggi sampai mengatasi badai. Sebagai anak Tuhan, kita harus naik tinggi ke gunung Tuhan, yaitu hadirat-Nya. Semakin banyak tekanan yang kita hadapi, justru kita harus semakin sering masuk dalam hadirat-Nya. “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:30-31). Jangan sampai kita dikalahkan oleh masalah ato keadaan kita, justru kita harus menang atas masalah kita. Hanya dalam hadirat-Nya, kita memperoleh kemenangan, kekuatan, dan kelegaan.
Kedua, seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami hal-hal buruk sebelum mengalami hal- hal yang baik. Seperti bangsa Israel yang harus melewati padang gurun sebelum mereka masuk ke tanah Kanaan, seperti itu juga hidup setiap kita. “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibrani 12:12-13). Ketika kita mengalami masa-masa padang gurun, yaitu masa-masa sulit, kita tidak bisa melihat hal-hal yang baik, seolah-olah sekeliling kita hanyalah kekeringan dan ketandusan. Kita tidak melihat adanya harapan, tidak ada seorangpun yang dapat menolong kita, semuanya gelap dan suram. Justru di masa-masa itulah, kita semakin bisa melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang dahsyat dalam hidup kita. Tuhan ingin memberi pengalaman-pengalaman yang baru bersama Dia. Yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah iseng atau kengangguren menaruh kita dalam masa-masa sulit. Ada berkat yang besar yang menanti kita di depan, asalkan kita sanggup menyelesaikan proses yang harus kita lalui. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1:9).
Ketiga, kita harus tetap tenang dalam masa-masa sulit supaya kita bisa berdoa. “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7). Seringkali dalam masa-masa suit, kita gelisah dan terus memikirkan masalah kita. Hal itu bukannya membuat keadaan kita makin baik, tapi justru makin buruk. Kita harus bisa menenangkan diri kita, lalu berdoa membawa perkara kita ke hadapan Tuhan. Apabila kita gelisah dan khawatir, mungkin kita tidak bisa langsung berdoa. Namun tetap carilah cara untuk datang mendekat kepada Tuhan. Kalo aku nggak bisa konsen berdoa karena terlalu tertekan, biasanya aku nerapno 2 cara ini. Satu, aku berlutut di hadapan Tuhan, sambil pasang headset yang muter lagu rohani kenceng- kenceng. Tujuannya apa? Supaya lewat lagu-lagu itu, aku diingetno tentang kebaikan- kebaikan Tuhan di masa lalu, supaya aku jadi tenang lagi. Aku percaya, Tuhan yang dulu sanggup menolongku, sekarang juga masih sanggup dan masih mau untuk menopangku. Kalo cara itu nggak berhasil, aku pake cara satu ini. Dua, aku berlutut dan berdiam diri di hadapan Tuhan. Aku kosongkan pikiranku dari masalah-masalahku, aku tanggalkan beban-bebanku. Lalu aku fokus memikirkan Tuhan, kebaikan- kebaikan-Nya. Aku terus berdiam diri, sampai ada ayat yang muncul di hati ato pikiranku. Biasanya Tuhan mengingatkanku ayat yang sesuai dengan kebutuhanku itu. Setelah itu, aku terus menerus mengucapkan ayat itu sampai ada kekuatan dan iman yang timbul di hatiku.
“Tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan bertindak” (Daniel 11:32).
God bless you, all!
February 25th 2012
12:44 pm