June 30, 2013

A LETTER OF ENCOURAGEMENT

Berasa surprise banget waktu malem-malem mau doa en tiba-tiba Tuhan bikin aku galau abis dengan banyak hal yang terjadi di idup (yang selama ini ga terlalu kupikirin tentunya). Mulai deh bermunculan masalah sidang akhir yang kagak keluar-keluar jadwalnya, kerjaan apa yang Tuhan mau buat aku, panggilan hidup, masalah keluarga, masalah pelayanan, dsb-nya.

Pas diingetin tentang apa aja yang lagi aku hadepin en pergumulin, tiba-tiba aku nangis. En pas itu Tuhan kasi 1 ayat di II Korintus 12:9--> “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna”. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”.

Ujung-ujungnya, aku nggak berdoa buat pergumulan-pergumulanku,tapi menikmati “makanan yang lezat” dari Firman-Nya, kata demi kata. En, aku bener-bener dikuatkan. So, check this out:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna”.                            


CUKUP --> apa yang Yesus telah lakukan di atas kayu salib, lebih dari CUKUP untuk meng-cover semua pergumulan, masalah, kesulitan, kegalauan, ketakutan, penderitaan, dsb yang kita alami
Apapun yang sedang kita pergumulkan saat ini, belajarlah untuk mencukupkan diri dalam Tuhan. Jangan bilang kalo apa yang Tuhan lakukan itu nggak cukup ato kurang untuk bantu kita ngadepin pergumulan kalian saat ini.

KASIH --> kita dikasihi oleh Bapa bukan karena kita layak, tapi karena STATUS kita sebagai ANAK BAPA.
Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang tulus, tanpa mengharapkan balasan apapun dari kita. Semua itu dilakukan-Nya karena kita adalah anak-anak-Nya.


KARUNIA --> pemberian dari Bapa untuk memperlengkapi hidup kita (bukan hanya bakat en talenta, tapi juga keluarga, fasilitas hidup, temen-temen, bahkan orang yang bikin kita sebeeeel setengah mati) agar hidup kita lebih baik lagi
Bedanya kasih en karunia disini nih: kasih diberikan tanpa mengharapkan apapun (termasuk imbalan ato balasan). Tapi karunia diberikan agar hidup kita menjadi lebih baik lagi (ada target ato harapan).
Karunia Tuhan dalam hidup kita bisa aja berupa penghiburan dari keluarga ato temen kita, teguran ato kritikan dari orang lain yang mungkin nggak suka sama kita, dsb.

-KU --> semua tuh bersumber dari TUHAN, jadi jangan andalkan yang laen!
Hidup kita tuh ibarat selang air yang harus selalu melekat sama keran air (maksudnya disini tentunya TUHAN) untuk dapet air. Kalo kita nggak melekat sama keran air, hidup kita nggak akan bisa dapetin air (apapun yang kita butuhkan).
Makanya ada ayat yang bilang: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mazmur 62:2-3).

BAGIMU --> semua hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita (entah baik maupun buruk), tujuannya adalah untuk KEBAIKAN KITA.
Roma 8:28 bilang, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.
Masalahnya adalah, kita tahu nggak sih kalo Tuhan tuh mengerjakan segala sesuatu buat kebaikan kita? Sering banget kita berpikir kalo Tuhan tuh jahat karena mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi dalam hidup kita.
Padahal Tuhan tuh selalu merancangkan apa yang baik, bahkan jauuuuhhhh lebih baik daripada apa yang bisa kita rancangkan.
Yeremia 29:11 mengatakan; “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

SEBAB --> sebab tuh awal, akibat tuh akhir. Apapun yang kita alami saat ini tuh belum finish, masih awalnya. Orang dunia aja bilang NO PAIN, NO GAIN. Kalo nggak ada proses, nggak akan ada hasil yang baik. Kalo nggak ada hal-hal buruk, kita nggak akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Oleh karena itu, berlarilah, kejarlah sampai finish.

Hidup kita tuh ibarat puzzle, yang dibangun oleh banyak kepingan kecil yang penuh warna, goresan en bentuknya beda-beda (ada yang bagiannya menonjol, ada yang bolong). Setiap orang, kejadian, en proses yang Tuhan ijinkan terjadi tuh membentuk setiap bagian yang diperlukan untuk bikin hidup kita lengkap. Kita nggak bisa bilang sama Tuhan, “Aku mau hidupku penuh dengan warna-warna cerah, kaya merah, kuning, ijo, biru aja. Aku nggak suka warna hitam karena jelek en gelap”.
Bayangin kalo ada puzzle yang cuma punya satu warna, nggak bagus kan, nggak menarik. Begitu juga dengan hidup kita ^^


JUSTRU --> cuma dapet pewahyuan simple kayak gini untuk kata JUSTRU:
Justru itu kamu masih belum boleh nyerah! 
Justru itu kamu masih harus terus berjuang!
Justru itu jangan berhenti berdoa!
Justru itu jangan berhenti berharap!
Justru itu kamu nggak boleh putus asa!


DALAM --> Melalui setiap pergumulan en permasalahan yang kita sedang hadapi, Tuhan pengen bekerja di bagian dalam dari diri kita, yaitu hati en pikiran (dimana nggak ada seorangpun yang tau en bisa ngerti). Tuhan mau ubahkan apa yang masih belum beres di dalam diri kita (entah masih ada trauma masa lalu, kepahitan, ketakutan, kebencian, dsb).
Kalo bagian dalam-nya kita udah beres, barulah ntar hasilnya keliatan di luar, sehingga bisa kesaksian yang hidup buat orang lain.


KELEMAHAN --> Tuhan mau ubah kelemahan kita jadi kekuatan Tuhan, keterbatasan kita jadi ketidakterbatasan-Nya, ketidakmampuan kita jadi kemampuan-Nya, dukacita kita jadi sukacita, supaya kita bisa lihat Tuhan melalui “kelemahan” kita.


KUASA-KU --> kuasa Tuhan bisa mengubah apapun menjadi mulia.
Tapi inget, hanya KUASA TUHAN. Bukan kehebatan kita, bukan koneksi kita, bukan harta kita, bukan yang laen-laen.


MENJADI --> kata “menjadi” merupakan akibat dari setiap PROSES yang akan kita lihat, jika kita SETIA.
Untuk mencapai kata “menjadi”, butuh yang namanya kerendahan hati untuk diproses, untuk dileburkan demi suatu tujuan yang lebih baik. Contohnya adalah untuk bikin kue yang enak, kita butuh macem-macem bahan (paling gampang pasti ada tepung, mentega, gula, baking powder, telur). Tiap bahan yang ada harus rela meleburkan diri mereka menjadi suatu adonan supaya bisa menjadi kue yang enak. Bayangin kalo tepung bilang, “Aku nggak mau bercampur sama mentega yang lengket itu. Aku pengen tetep putih”. Nggak bakalan ada yang namanya kue yang enak kalo masing-masing bahan mempertahankan dirinya sendiri :P
Jadi, ayok kita belajar punya kerendahan hati untuk diproses en melebur dengan apa yang Tuhan mau.
Semua hal yang ada di hidup kita ini bergantung banget sama yang namanya RESPON HATI kita, mau nggak kita dibentuk, mau nggak kita diproses.
Aku pun belajar untuk nerima apa yang Tuhan rencanakan dalam hidupku, sekalipun bidang itu bukan bidang yang aku suka. En ini masih dalam proses bergumul en merendahkan hati untuk tunduk :P

SEMPURNA --> apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, nggak pernah setengah-setengah! Semuanya pasti sempurna!
Kalo apa yang kita hadapi sekarang masih buruk ato belum sempurna, itu berarti belum selesai!

Perkataan Tuhan ini diawali dengan kata CUKUP en diakhiri dengan kata SEMPURNA, hal ini berarti: Ketika kita belajar mencukupkan diri dalam kasih karunia Tuhan, maka Tuhan akan membawa hidup kita berjalan menuju kesempurnaan.

Ketika kita udah memahami kalimat “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku menjadi sempurna”, barulah kita bisa dengan sukacita mengatakan kalimat berikutnya: Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Be blessed!


22 Juni 2013

June 10, 2013

TOTALITAS


Dalam dunia perfilman, tentunya kita tidak asing dengan sosok yang bernama Jackie Chan. Jackie Chan adalah aktor yang terkenal dengan film kungfu yang dibumbui dengan aksi kocak. Selain itu, Jackie Chan dikenal pula sebagai aktor yang memerankan sendiri setiap aksi berbahayanya tanpa menggunakan jasa stuntman alias pemeran pengganti.
  
Kali ini aku pengen menyoroti TOTALITAS yang dimiliki oleh Jackie Chan dalam setiap peran yang dimainkannya bahkan hingga ia selalu memerankan sendiri setiap adegan berbahaya. Menurutku, di dunia ini nggak banyak aktor/ aktris yang berani mengambil resiko sebesar itu. Sebagian besar orang pasti memilih untuk menyerahkan adegan-adegan berbahaya kepada stuntman ketimbang memerankannya sendiri.
    
Namun berbeda dengan Jackie Chan, dia memilih untuk memerankan sendiri semua adegan berbahaya yang ada di setiap film hingga dia berkali-kali mengalami cedera bahkan patah tulang di bagian lengan. Dia paham betul dengan resiko menjadi aktor yang selalu memainkan peran-peran yang membuat dirinya terluka. Sungguh sebuah sikap totalitas yang patut diacungi jempol. Nggak heran kalo dia terkenal dan diakui hingga dunia internasional.
  
Sebagai anak Tuhan, sudah seharusnya kita paham dengan resiko yang akan kita hadapi: menderita karena kebenaran, diolok-olok karena nggak mau kompromi, dikucilkan karena dianggap aneh, dan sebagainya. Namun, sebagai “aktor/aktrisnya Tuhan”, apakah selama ini kita berani mengambil resiko sampai ke level tertinggi atau kita malah menyuruh stuntman (a.k.a orang lain) ketika ada hal-hal yang nggak enak yang mestinya kita hadapi? Apakah selama ini kita bisa memerankan tugas dan tanggung jawab kita sebagai garam dan terang dengan sebaik-baiknya atau kita malah bersembunyi dalam selimut ketakutan kita?
    
Yang sering aku temui, banyak orang yang mengaku dirinya Kristen namun jika ada seruan untuk berdoa puasa, menyangkal diri, memikul salib atau bayar harga, mereka cenderung untuk melimpahkan tugas tersebut ke orang lain. Mirip sekali dengan sebagian besar aktor/ aktris yang menyerahkan bagian tersulitnya kepada stuntman, tanpa menyadari bahwa kekristenan adalah tentang memikul salib dan membayar harga.

Seringkali kita hanya mau “memerankan adegan-adegan” yang tidak menyiksa diri kita, seperti menerima berkat, jawaban doa, ataupun memperoleh promosi jabatan. Namun jika kita mulai menghadapi scene yang menegangkan atau beresiko, seperti difitnah tanpa alasan, dikhianati, ataupun membayar harga untuk mengampuni, kita memilih untuk mengorbankan orang lain untuk menjalani bagian tersebut. Berapa banyak dari kita yang ketika menghadapi masalah-masalah malah datang ke orang lain (pendeta atau pemimpin rohani) dan menyuruh mereka mendoakan atau bahkan berpuasa untuk kita, sementara kita tetap makan enak dan tidak mau datang ke bawah kaki Tuhan?

Padahal Yesus dengan jelas mengatakan; “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Jadi, yang namanya resiko dan bayar harga adalah satu paket yang kita harus terima sebagai orang yang mau mengikut Tuhan, bukan suatu option. Tentunya ada berkat dan kemuliaan yang akan kita peroleh setelah semua penderitaan yang kita alami.
         
Jika orang dunia aja kenal filosofi “no pain, no gain”, seharusnya sebagai seorang pengikut Kristus pun kita menyadari hal itu. Tak akan ada kemuliaan tanpa harga yang dibayar, tak akan ada berkat tanpa kemauan untuk membayar harga, tak akan ada pujian dari Sang Sutradara Agung tanpa kerelaan untuk memikul salib. Tanpa totalitas, nggak akan ada yang namanya hasil yang maksimal.
      
Jika engkau seringkali melimpahkan tanggung jawab atau masalah bayar harga ke orang lain, jangan heran jika dirimu nggak akan pernah dipercayai peran yang lebih besar. Jika engkau hanya ingin mengambil bagian “berkat” tanpa mau menjalankan totalitas dalam memainkan peranmu, jangan harap akan yang namanya pujian. Jika engkau hanya ingin bagian yang terbaik tanpa pernah mau menjalani bagian tersulitnya, maka engkau tak akan pernah mencapai yang namanya “ketenaran” ketika Bapa menilaimu di hadapan para malaikat-Nya.


June 8th 2013
3:18 pm

June 3, 2013

I LOVE YOU MOREEE


Post ini akhirnya aku putuskan untuk aku publish lagi karena satu dan lain hal. Sebenernya nggak nyaman untuk aku publish, tapi kalo pengalamanku ini bisa jadi berkat buat orang lain, it’s ok. Aku mau singkirkan kenyamananku demi tujuan yang lebih besar, yaitu agar Tuhan disenangkan ^^

                
Malem itu (31 Mei 2013), aku diberkati banget dengan kotbah ko Philip di doa malam, tentang jangan mendua hati dalam mengasihi Tuhan. Kotbah hari itu ngebahas tentang Ananias dan Safira yang ngasi persembahan di kaki para rasul bukan karena mengasihi Tuhan, tapi supaya diliat orang. Karena mereka menipu Roh Kudus en para rasul, akibatnya mereka berdua mati seketika. Ngeri banget kan akibat dari hati yang mendua dan menipu Roh Kudus. Summary-nya di SINI.
                
Setelah kotbah itu selesai, langsung deh aku dapet kesempatan untuk praktek, hahaha. Tuhan tuh emang luar biasa baik, Dia langsung selidiki hatiku, apakah hatiku bener-bener mencintai Dia atau mendua hati. Jadi kejadiannya, setelah kotbah tuh para jemaat disuruh berdiri sama ko Philip. Beliau sempet ngasi instruksi untuk kami berdoa untuk FKA Malaysia di bulan Juni ini. Nah pas aku berdiri (posisi bangku yang aku duduki tuh di bawah balkon), di seberang sana aku ngeliat sosok cowok yang kayaknya familiar. Karena nun jauh disana, aku nggak yakin tuh orang beneran orang yang kukenal ato bukan.
                
Well, dulu aku pernah “jatuh cinta” sama seorang cowok yang notabene temen baikku sendiri. Waktu aku berdoa tentang hal itu, Tuhan bilang “NGGAK”, entah nggak jodoh, nggak boleh, ato nggak waktunya. Aku taat aja, lalu jaga jarak sama dia, berdoa untuk naruh keinginanku di dalam tangan Tuhan serta naruh hatiku sekali lagi di hadapan Tuhan. Kami tetep bertemen sampai sekarang, tapi nggak sedeket dulu demi menghindari tumbuhnya “tanaman yang nggak ditanam oleh Bapa” (alias perasaan suka itu tadi :P).
                
Nah, pas aku ngeliat sosok yang familiar itu, aku jadi kangeeen banget sama dia. Terakhir kali ketemu dia tuh Desember tahun lalu en aku tau kalo hatiku uda netral (alias uda nggak ada perasaan suka lagi sama dia en murni mengasihi sebagai temen). Waktu itu, jujur aja aku uda nggak terlalu fokus dengan apa yang ko Philip sampaikan, bahkan waktu kami seharusnya mulai berdoa untuk FKA, aku malah berdoa sama Tuhan supaya aku nggak fokus sama sosok di seberang sana, wkwkwkwk. Parah banget sih gue, doanya melenceng dari topik tuh.
               
Tiba-tiba, pas aku doa kayak gitu, Tuhan tuh ngomong dengan nada pilu, “Luc, apa hari ini kamu dateng ke gereja karena kangen sama Aku?” Jleeeeb, aku langsung nangis sejadi-jadinya. Aku tau kalo sampai hari ini hatiku mengasihi Tuhan, tapi kayaknya aku dateng ke gereja bukan karena kangen sama Tuhan, tapi karena hari ini ada doa malam en uda lama aku nggak punya kesempatan untuk dateng (biasanya tiap jumat tuh aku ada pelayanan di menara doa, jadi nggak bsia ikut doa malam). Trus, Tuhan ingetin masa-masa dulu banget ketika aku awal-awal bertobat, gimana antusiasnya aku kalo mau ke gereja, gimana rajinnya aku dateng ibadah atopun connect group, gimana senengnya aku kalo dapet kesempatan untuk melayani. Tapi Lucy yang hari ini, biasa aja tuh, nggak seantusias itu sama Tuhan, hatiku emang tetep cinta Dia, tapi udah nggak ada kangen-kangennya.
               
Makin lama, aku makin nangis. Udah nggak peduli sama kanan kiri (sampai-sampai mamaku yang waktu itu berdiri di sebelahku bengong-bengong ngeliat aku nangis kayak gitu). Tiba-tiba dengan lembut Tuhan bilang, “Uda lama kamu nggak pernah nangis kayak anak kecil gini di hadapan-Ku, Luc”. Hal itu bikin aku makin hancur hati.
“Oh Tuhan, ampuni Lucy yang hatinya bergeser ini. Ampuni aku kalo aku udah nggak seantusias dulu sama Engkau, ampuni kalo hatiku nggak lagi bergelora dengan cinta kayak dulu. Aku tau kalo cowok itu pernah mengisi hari-hariku dengan banyak hal yang baik, tapi semua itu nggak menyamai kehadiran-Mu, Tuhan. Aku tau cuma Engkau yang mengasihi aku segitu luar biasa, cuma Engkau satu-satunya Pribadi yang setia bersamaku. Aku nggak mau kangen sama orang itu lebih daripada aku kangen sama Engkau”.
                
Setelah perjumpaan dengan Tuhan malam itu, hatiku diubahkan sekali lagi, untuk mengasihi Tuhan lebih lagi denagn segenap hatiku. Aku udah nggak peduli tuh cowok emang beneran sosok yang kukenal ato bukan. Aku tau kalo saat itu sebenernya Tuhan lagi menguji hatiku. Tuhan pengen aku tau betapa udah nggak murni lagi hatiku ini terhadap Dia. Thanks Tuhan buat koreksinya dan kesempatan untuk bertobat lagi.
                
Kejadian itu membukakan mata en hatiku, bahwa manusia nggak pernah tau apa yang sebenrnya ada dalam hatinya. Selama ini aku mengira kalo hatiku tetep fokus mengasihi Dia, tapi ternyata aku salah. Tanpa sadar, ternyata hatiku uda bergeser, secara nggak sengaja hatiku uda mendua. Puji Tuhan buat Firman yang mengena en teguran secara langsung yang aku terima. Aku mau menjagai hatiku supaya nggak bergeser lagi, aku mau hatiku terus menerus dikoreksi sama Tuhan, supaya hanya Dia yang aku kasihi sedemikian rupa.

PS: Sekitar seminggu setelah kejadian ini, Tuhan ijinkan aku ketemu secara nggak sengaja sama cowok itu pas aku lagi nge-mall. Dalam hati, aku was-was sih. Tapi disitu aku tau maksud Tuhan, Dia pengen nguji gimana hatiku, gimana responku. Pas ketemu dia, hatiku biasa-biasa aja. Keindahan Tuhan bener-bener memudarkan dunia deh.
Kami sempet say “Hi” en ngobrol bentar, en disitu aku tau dengan sangat jelas kalo hatiku udah nggak ada apa-apa sama dia. Aku tau kalo dia nggak segitu berharganya kalo dibandingkan dengan Tuhan. Tenkiu Tuhan buat pengalaman ini. I love You more!


June 10, 2013