May 31, 2012

HOW DESPERATE ARE YOU?


Kesesakan demi kesesakan. Masalah satu belum selesai, muncul lagi masalah baru. Berdoa namun tak kunjung memperoleh jawaban. Mengharapkan yang baik, namun keadaan semakin buruk. Beriman, namun janji-janji-Nya semakin tidak masuk akal. Segala cara sudah dilakukan, namun tak ada hasil. Putus asa, hilang harapan, bahkan mungkin kecewa.

Hari berganti hari. Bulan-bulan berlalu. Tahun demi tahun. Apa yang kita harapkan tak kunjung tiba. Malahan hal yang buruk semakin nyata di depan mata. Janji Tuhan terlupakan. Mungkin, Tuhan lupa dengan janji-Nya. Atau mungkin saya tidak layak untuk memperoleh penggenapan janji-Nya. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk. Mungkin memang sudah nasib saya seperti ini.

Pernahkah kita mengalami masa-masa seperti itu? Masa-masa yang gelap, dimana harapan kita pupus satu demi satu karena hal yang baik tidak kunjung datang. Mungkin hal-hal buruk terjadi bertubi-tubi dalam hidup kita. Semakin banyak hal baik yang kita lakukan, justru semakin banyak hal yang buruk yang terjadi dalam hidup ini. Mungkin Tuhan meninggalkan saya, atau Dia sedang sibuk mengurus hal lain. Mungkin memang saya harus mengalami hal ini. Ya sudahlah. Mungkin ini sudah nasib saya.

Hal baik, hal buruk. Kesedihan, kegembiraan. Kemakmuran, kekurangan. Sukacita, dukacita. Naik, turun. Dikasihi, dikhianati. Dibutuhkan, tidak dianggap. Dielu-elukan, dicaci-maki. Dipuji, dibenci. Itulah bagian dari kehidupan. Namun, mungkin sebagian dari kita lebih banyak mengalami nasib buruk dibanding nasib baik selama hidup ini. Sehingga akhirnya kita berpikir bahwa memang itulah takdir kita, mungkin sudah ini garis hidup kita. Namun, benarkah demikian?

Mengapa pertolongan itu tak kunjung datang? Mengapa doa demi doa saya panjatkan, namun Surga tetap diam? Mengapa hati saya tetap kosong, padahal banyak hal yang benar telah saya lakukan? Apakah Tuhan melupakan saya? Apakah Dia kehilangan berkas-berkas saya?

Seringkali kita bertanya-tanya demikian ketika beban-beban kita menindih kita. Terutama ketika semua hal telah kita lakukan, namun keadaan tetap saja tidak berubah, bahkan mungkin menjadi lebih buruk. Kita menjadi lemah dan mulai kehilangan iman. Kita menjadi lelah dan berhenti berharap.

Namun di saat-saat itu, Tuhan di Surga sedang menanti. Menantikan apa? Mengutip perkataan Max Lucado dalam buku Six Hours One Friday, “Ia menunggu sampai kita putus asa dan tidak mengandalkan lagi kekuatan manusia, lalu Ia campur tangan dengan kuasa surgawi. Allah menunggu sampai kita mengaku kalah, kemudian-kejutan!”  Yup, Tuhan yang kita sembah merupakan Tuhan yang unik. Seringkali Ia menunggu sampai kita berhenti berusaha dengan kekuatan kita, barulah Ia akan menolong kita. Dia ingin tahu, seberapa batas kekuatan kita untuk berusaha. Dia ingin tahu, di mana titik penyerahan diri kita secara total kepada-Nya. Bukan karena Ia jahat, namun karena Ia sangat mengasihi kita.

Dalam Alkitab, kita bisa melihat contoh orang-orang yang telah putus asa dan berhenti menggunakan kekuatan mereka. Salah satunya adalah seorang perempuan yang telah 12 tahun mengalami pendarahan. Segala upaya telah dilakukan, datang ke berbagai tabib dan dokter, berharap untuk sembuh. Namun hingga hartanya habis, ketika waktu telah terbuang sedemikian banyak, keadaannya tetap tidak berubah. Ia putus asa. Ia tidak mengharapkan kekuatan dan kemampuan manusia untuk sembuh. Ia mengharapkan kuasa ilahi, ”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Dan ia menerima mujizat!

Satu lagi contoh, wanita Siro-Fenisia yang anaknya kerasukan setan. Tak ada kuasa di bumi yang mampu melepaskan anaknya. Segala macam orang pintar dan berilmu telah ia datangi, namun hasilnya nihil. Ketika ia mendengar tentang Yesus, ia datang kepada-Nya. Entah karena masih punya harapan, atau karena telah sangat putus asa. Dan ia berkata, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak”. Dan ia memperoleh “sebongkah roti surgawi” yang menyembuhkan anaknya!

Mengutip kalimat Tommy Tenney dalam buku God’s Eye View, kosong adalah sempurna di mata Allah”. Hal ini berarti bahwa Allah menunggu kita untuk berhenti dengan kekuatan manusia sehingga kuasa-Nya menjadi nyata dan sempurna daam hidup kita. Keterbatasan kita adalah ketidakterbatasan-Nya. Kelemahan kita adalah kekuatan-Nya. Keputusasaan kita adalah harapan bagi-Nya.

So, how desperate are you today? He will answer you with miracles when you aren’t quit!

May 14, 2012

I AM A PRINCESS


Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba aku berpikir tentang pasangan hidup (PH) :P Ketika aku berpikir, aku menyadari bahwa setiap wanita Allah adalah putri-putri Raja. Dan aku tahu bahwa banyak karakter yang harus dimiliki oleh seorang putri Raja, sebelum ia siap bertemu dengan pangerannya. Lalu saat itu, tiba-tiba Tuhan memberikan pengertian demi pengertian kepadaku. Kira-kira inilah yang Ia nyatakan kepadaku.
           
Seorang putri Raja menjaga hidupnya dalam kekudusan. Setiap aturan atau batasan yang Bapanya tetapkan atas hidupnya bukan menjadi suatu beban yang menghalangi, namun menjadi pagar yang melindunginya dari setiap kejadian buruk yang tak perlu seorang putri alami. Seorang putri Raja dikenal karena kecantikannya luar dalam. Bukan hanya wajahnya yang cantik, namun karakter-karakternya sangat mencerminkan karakter Bapanya. Wajahnya mencerminkan kelemahlembutan seorang putri Raja yang mempesona. Ia tidak akan mempergunakan kecantikannya untuk bermain-main atau mencoba peruntungan dengan pria yang bukan pangerannya. Ia mengkhususkan dirinya hanya untuk sang pangeran, yaitu satu-satunya pria yang tepat untuknya, pria yang telah Bapa sediakan untuk mendampingi hidupnya.
            
Seorang putri Raja layak mendapatkan yang terbaik, karena ia mempersiapkan dirinya untuk menerima yang terbaik. Salomo berkata kepada pengantinnya dalam Kidung Agung, “Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai (Kid 4:12). Hal ini menunjukkan bahwa pengantinnya menjagai dirinya sedemikian rupa terhadap pria-pria lain. Kalau kita menjaga hidup kita dengan baik, tentunya kita layak untuk mendapatkan yang terbaik. Bapa tidak akan memberikan yang buruk kepada putri-Nya yang menjaga kekudusan dan hidup dengan benar. Ia akan memberikan kepadamu seorang pangeran yang akan mengasihi dan menjagamu seumur hidup.
            
Seorang putri Raja kelak akan menjadi seorang ratu, yang harus cakap untuk mengatur rumah tangganya. Karakter seorang istri yang baik dicatat dalam Amsal 31:10-31. Karakter-karakter itu antara lain: lebih berharga daripada permata (karena ia menjaga kekudusannya), hati suaminya percaya kepadanya (karena ia adalah seorang yang bertanggungjawab), berbuat baik kepada suaminya, senang bekerja dengan tangannya, bangun kalau masih malam lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya (rajin), membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan (bijaksana). Ia membeli ladang yang diingininya dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya (berhikmat), pada malam hari pelitanya tidak padam (tidak mengenal lelah), ia memberikan tangannya kepada yang tertindas (suka menolong), mengulurkan tangannya kepada yang miskin (murah hati). Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap (merencanakan segala sesuatu dengan baik), ia membuat pakaian dari lenan dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang (pandai bekerja). Ia membuka mulutnya denagn hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada pada lidahnya.
            
Orang yang masih single namun tidak menjaga kekudusannya (mencoba-coba dekat dengan pria atau  tidak menjaga dirinya dalam batasan-batasan)  dapat disamakan dengan orang yang berkali-kali ganti pacar. Kekudusan yang Tuhan inginkan adalah sebuah hal yang mutlak, tidak dapat ditawar atau dilanggar sedikit-sedikit. Seorang putri Raja tahu statusnya, dia tidak perlu mencari-cari perhatian lawan jenisnya dan tidak perlu berusaha mendapatkan pria dengan caranya sendiri. Seorang putri Raja tahu kalau tugasnya adalah menunggu dengan penuh kesabaran, sambil mempersiapkan dirinya menjadi yang terbaik bagi pangerannya.
            
Nah, setelah tahu apa yang Tuhan mau atas putri-putri-Nya, marilah kita menjagai diri kita dengan sebaik-baiknya.  Sebab ada upah yang besar yang menanti kita. God bless you, girls!

May 13, 2012

SIX HOURS ONE FRIDAY (MAX LUCADO)

PENDAHULUAN:
1. Taman doa, lorong pelayanan, ruang pengajaran: semua tentang pelayanan-Nya, tapi tidak satupun mengarah pada tujuan akhir dari pelayanan-Nya. Semua itu terasa tidak penting dibandingkan panggilan sesungguhnya. Panggilan Kristus adalah salib Kristus. 
2. Jikalau panggilan Kristus hanyalah untuk salib, apa yang menjadi panggilan untuk pengikut-Nya? Mengikuti jejak-Nya akan memimpin kita ke banyak tempat. Tetapi jalan itu tidak berhenti disitu. Jalan itu hanya akan berhenti di bawah kaki kayu salib.
3. Mengikuti jejak-Nya akan memimpin kita ke banyak tempat. Beberapa kita akan menjalaninya di antara orang-orang yang sakit. Yang lain akan mengerjakannya di antara orang-orang yang kekurangan. Beberapa akan mengajar dan semua orang akan menyembah dan berdoa. Tetapi jalan itu tidak berhenti disitu. Jalan itu hanya akan berhenti di bawah kaki kayu salib.
4.Biarlah Anda melangkah semakin dekat kepada salib Kristus sampai Anda, seperti yang telah dilakukan Sang Guru, mengambil nafas penghabisan di bukit Kalvari.


SATU: PERINGATAN AKAN BADAI
1. Tempat membuang jangkar. Tempat berpaut. Batu karang kokoh yang ditanam ke dalam dasar yang teguh. Bukan pendapat sepintas lalu atau hipotesa yang dapat ditawar, tetapi hal-hal yang sekokoh besi, yang tak terpungkiri dan membuat Anda tetap bertahan, tidak tenggelam. Seberapa kokohkah tempat berpaut Anda?
2. Enam jam itu bukan enam jam normal. Karena dalam enam jam di hari Jumat itu, Tuhan menancapkan di bumi, tiga tempat berpaut yang cukup kuat melawan badai manapun:
Tempat berpaut KE-1--HIDUP SAYA TIDAK SIA-SIA
Batu karang itu mengamankan lambung hatimu. Pegangan yang teguh pada keyakinan bahwa memang ada kebenaran. Ada yang memegang kendali dan Anda mempunyai tujuan dalam hidup.
Tempat berpaut ke-2--KEGAGALAN-KEGAGALANKU TIDAKLAH FATAL
Bukannya Ia suka akan apa yang Anda buat, tetapi Ia mengasihi siapa Anda. Dia yang berhak untuk menghakimimu telah menyediakan jalan menuju kebebasan. Anda membuat kesalahan, Tuhan tidak. Dan Ia yang menciptakanmu. 
Tempat berpaut ke-3--KEMATIANKU BUKANLAH AKHIR SEGALANYA
Kubur yang ditutup batu itu adalah kubur dari Dia yang hanya sementara disitu. Ia hanya masuk untuk membuktikan bahwa Ia dapat keluar lagi. Berpautlah pada batu Dia dan angin ribut yang bertiup di kuburan berubah menjadi angin sepoi-sepoi di musim semi hari minggu Paskah.
3. Saya berharap badai-badaimu juga akan lewat daripadamu. Tetapi, kalau tidak demikian, ikutilah nasihat sang pelaut: "buang jangkar dalam-dalam, berdoalah, dan berpegang teguh". Dan jangan heran kalau ada yang datang berjalan di atas air dengan tangan terulur kepadamu.


TEMPAT BERPAUT KE-1: HIDUP SAYA TIDAK SIA-SIA
DUA: RESEP TUHAN UNTUK KELETIHAN
1. Kelesuan membuat kata-kata tukang kayu itu begitu mengesankan. Dengarkan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28).
2. Ia beradu mata dan membuat janji yang penuh paradoks: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Matius 11:29).
3. Mereka datang. Mereka membawa kepada-Nya beban keberadaan mereka dan Ia memberi kepada mereka bukan agama, bukan doktrin, bukan pula suatu sistem, melainkan kelegaan. Sebagai hasilnya, mereka memanggil Dia Tuhan. Sebagai hasilnya, mereka menyebut Dia Juruselamat. Bukan karena apa yang Ia katakan, tetapi apa yang Ia buat.

TIGA: DUA BATU NISAN
1. Berapa banyak orang yang akan meninggal dalam kesepian semasa hidupnya? Siapa saja yang ragu bahwa dunia ini membutuhkan kehadirannya. Setiap orang yang merasa bahwa tidak ada yang benar-benar peduli terhadap dia.
2. Doa dari hati yang tulus agar Tuhan yang baik hati di surga, mau ingat akan jiwa seseorang yang terlupakan. Sebuah doa agar kasih karunia Tuhan boleh merembes melalui hati yang retak dan melingkupi seseorang yang lepas dari perhatian gereja. Sebuah doa untuk mengambil hidup yang tidak dapat dipakai oleh siapapun dan memakainya saat tidak ada orang lain yang dapat memakainya.

EMPAT: BUKTI NYATA
1. "Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" (Roma 8:31-32).
2. "Ia memberikan yang terbaik dari diri-Nya", jelas Paulus. Sebab itu, mengapa kita mempertanyakan kasih-Nya?
3. Sebelum hari berlalu, kembali kududuk diam. Kali ini, di hadapan Bapaku. Kali ini bukan dengan hati yang sedih karena apa yang harus kulepaskan, tetapi dengan hati penuh rasa syukur karena apa yang telah saya terima--bukti nyata bahwa Allah peduli terhadap kita.

LIMA: API YANG MENYALA-NYALA DAN JANJI HIDUP
1. "Bagaimana saya tahu Tuhan bersamaku? Bagaimana kalau ternyata ini semua cerita bohong? Bagaimana orang bisa tahu bahwa yang berbicara adalah Tuhan?" Kata-kata yang tepat. Sebab, kalau kita ragu, Tuhan terasa jauh sekali. Itu sebabnya Ia memilih untuk datang mendekat.

ENAM: PESAN-PESAN MALAIKAT
1. Keluhanmu bukanlah mengenai kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan tetapi mengenai kelimpahan keuntungan tambahan. Anda mengeluh tentang hal-hal sepele, bukan hal-hal pokok; mengenai keuntungan tambahan, bukan hal-hal yang perlu. Sumber kesulitanmu adalah berkat-berkatmu.
2. Rasa terima kasih. Sikap lebih sadar akan apa yang Anda miliki daripada yang Anda tidak miliki. Mengenal berkat di dalam hal-hal yang sederhana--pelukan anak kecil, tanah yang subur, matahari keemasan saat terbenam. Menikmati kenyamanan hal-hal yang biasa--tempat tidur yang hangat, makanan yang masih panas, baju yang bersih. Dan tidak ada orang yang lebih banyak alasan untuk bersyukur daripad orang yang sudah diperingatkan akan berkat Tuhan oleh salah satu malaikat-Nya.

TUJUH: INGATLAH
1. Berapa banyak jemaat imannya hanya cukup untuk datang berkumpul, tetapi tidak punya cukup kegairahan untuk keluar? Kalau pintu tidak dikunci, sebaiknya dikunci saja. Kesia-siaan ruang atas. Sedikit iman, tetapi sangat sedikit api kegairahan.
2. Anda tidak membelakangi Yesus, tetapi juga tidak berbalik menghadap kepada-Nya. Anda tidak menghujat nama-Nya, tetapi Anda juga tidak memuji-Nya. Anda tahu, Anda harus melakukan sesuatu, tetapi tidak yakin apa yang harus dilakukan. Anda tahu harus berkumpul, tetapi tidak tahu mengapa.
3. Batu kuburan tidak cukup kuat menahan Dia untuk keluar. Dia yang dikhianati mencari yang mengkhianati-Nya. Apa yang Ia katakan kepada mereka? Hanya satu ungkapan, "Damai sejahtera bagi kamu". Justru yang mereka tidak miliki ditawarkan oleh Dia: damai, ketenangan.
4. Apa yang membuka hati para rasul? Sederhana saja. Mereka melihat Yesus. Mereka bertemu dengan Kristus. Dosa mereka bertabrakan dengan Penebus mereka dan Ia menang! Apa yang menyulut api dalam diri para rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Dia yang seharusnya menyuruh mereka ke neraka, justru Ia sendiri yang pergi ke neraka untuk mereka dan kembali untuk menceritakannya. Ingat bahwa Dia yang mati hidup lagi dan mereka yang bersalah sudah diampuni.
5. Pengampunan yang sungguh-sungguh diterima adalah pengampunan yang akan diberitakan dengan semangat besar. Ada korelasi langsung antara keakuratan ingatan kita dengan keefektifan misi kita.
6. Ketika Anda mengalami masa-masa sulit, ingatlah akan Yesus. Sebelum Anda teringat akan sesuatu, ingatlah akan Dia. Kalau Anda lupa sesuatu, jangan lupakan Dia.
7. Berikan dirimu kesempatan baru. Biarkan Dia berdiri di depanmu. Pergilah ke ruang atasmu dan tunggulah. Manusia tidak pernah sama lagi kalau ia sekaligua melihat harapannya yang pupus dan kasih karunia Kristus yang teguh. Tetapi melihat kedua-duanya bersama-sama adalah pertobatan. 


TEMPAT BERPAUT KE-2: KEGAGALAN-KEGAGALAN SAYA TIDAK FATAL
DELAPAN: KESALAHAN-KESALAHAN FATAL
1. Kesalahan-kesalahan kita terasa seperti batu-batu kecil, kerikil-kerikil yang menjadi suvenir dari peristiwa-peristiwa waktu kita tersandung. Kita membawanya dalam tangan dan tidak lama kemudian tangan kita penuh. Kita menempatkannya dalam kantong dan segera kantong itu menggembung. Kita menaruhnya dalam karung dan kita pikul dia. Karungnya menggores bahu. Tidak ada yang lebih memberatkan punggung daripada sekarung kegagalan.
2. Seandainya Anda mendapat kesempatan lagi, tentu Anda akan berbuat hal yang berbeda dari yang sekarang. Anda akan menjadi orang yang berbeda. Anda akan lebih sabar. Anda akan mengendalikan mulutmu. Anda akan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Tetapi Anda tidak bisa. Apa yang Anda lakukan tidak dapat diubah. Itu adalah sebagian dari apa yang dimaksudkan Paulus ketika ia mengatakan, "Upah dosa ialah maut".
3. Bukankah kita semua mendambakan seorang Bapa yang, meskipun kesalahan kita terpampang di semua dinding, akan selalu mengasihi kita? Kita memang mempunyai seorang Bapa seperti itu. Bapa yang memberikan yang terbaik, ketika kita hanya bisa memberikan yang terburuk. Bapa yang memiliki kasih karunia terbesar, ketika kesetiaan kita terlemah. Kalau karung Anda besar dan penuh sesak, maka Anda akan mendapat kabar yang paling menggentarkan: kesalahan-kesalahanmu tidak fatal.

SEMBILAN: CRISTO REDENTOR
1. Ketika Yesus melihat anak-Nya, apakah pikiran-Nya berbalik cepat ke masa lalu? Apakah Ia mengalami lagi saat membentuk anak ini di surga? Apakah Ia melihat sebagaimana Ia maksudkn dia pada awalnya? "Menenun" adalah bagaimana pemazmur menggambarkan tentang proses penciptaan manusia oleh Tuhan. Bukan dirakit atau diproduksi massal, tetapi ditenun. Setiap benang kepribadian dirajut penuh kasih. Setiap tali perangai dipilih dengan sengaja.
2. Ia menciptakan manusia untuk kemegahan. Namun mereka puas menjadi sedang-sedang saja. Ia telah membentuk mereka penuh kaaih. Mereka saling mencederai satu sama lain dengan kebencian. Saya ingin tahu, apakah Ia merasa letih melihat hati-hati yang ternoda bahkan dibuang?
3. "Tidak adakah seorang yang menghukum kamu?" tanya-Nya. Apa yang wanita berdosa itu dapatkan, tidak pernah ia sangka. Ia mendapat janji dan penugasan. Janji itu: "Aku juga tidak akan menghukum kamu". Penugasannya: "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi".
4. Ia akan mengenal tangan-Nya. Satu-satunya tangan yang tidak menggenggam batu. Ia akan mengenal suara-Nya. Dan ia akan mengenal mata itu. Mata yang melihatnya bukan sebagaimana ia ada, tetapi sebagaimana ia dimaksudkan. 

SEPULUH: PIALA EMAS
1. "Pilihan mereka akan dihormati. Dimana ada racun, disitu ada kematian. Dimana ada piala, disitu ada api. Terjadilah".
2. Raja sangat benci kepada bayangan. Ia benci karena di dalam bayangan anak-anak tidak dapat melihat Raja mereka. Raja membenci piala-piala. Ia membencinya karena piala itu membuat anak-anak-Nya lupa akan Bapa mereka.
3. Allah tentu menangis ketika Yesus melakukan tugas-Nya, meminum piala itu. Setiap dusta, setiap godaan, setiap perbuatan dalam kegelapan ada di dalam piala itu. Perlahan-lahan, dengan mengerikan  kekejian itu meresap ke dalam tubuh Sang Putra. Tindakan terakhir dari inkarnasi. Domba tak bercacat mendapat cacat. Lidah-lidah api mulai menjilat kaki-Nya.
4. Betapa Ia merindukan agar anak-anak-Nya memanggil-Nya Bapa lagi. Suatu bunyi membangunkan-Nya. Ia membuka mata dan melihat sesosok yang transenden berkilauan di pintu. "Sudah selesai, Bapa. Aku sudah kembali ke rumah".

SEBELAS: KEMBALILAH PULANG
1. Kegagalan membuat orang menuding orang lain dan mengelak tanggung jawab. Seseorang mungkin tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya teman; tetapi ia tidak pernah tidak punya orang yang dapat ia persalahkan.
2. Kita adalah ahli dalam menyamar. Mobil dipakai untuk status. Jeans dibeli untuk menciptakan citra. Cara berbicara diubah untuk menyembunyikan latar belakang. Nama-nama diganti. Derita diabaikan. Dan pada akhirnya pribadi yang sebenarnya, dilupakan.
3. Ia akan pulang, sebagai manusia yang telah berubah. Tidak menuntut apa yang menjadi haknya, tetapi bersedia menerima apa saja yang diberikan. "Berikan kepadaku" sudah diganti dengan "tolong aku", dan sikap menantang sudah diganti dengan sikap bertobat.
4. Kata-kata tidak perlu. Penyesalan telah terjadi, pengampunan telah diberikan. Anak itu sudah pulang. 
5. Ia merentangkan tangan-Nya selebar-lebarnya. Ia memaksakan tangan-Nya terbuka begitu lebar sehingga terasa sakit. Dan untuk membuktikan bahwa tangan itu tidak pernah akan terlipat dan tertutup, Ia membiarkan tangan itu dipaku dengan terbuka.

DUA BELAS: IKAN DAN AIR TERJUN
1. Sepanjang hidup saya, saya hidup dengan suara gemuruh itu dan tidak pernah mendengarnya. Bisa saja saya tidak mendengarnya lagi. Tetapi bagaimana orang bisa tidak mendengar kerinduan hatinya? Bagaimana orang dapat berpaling dari suatu penemuan? Bagaimana kita dapat dipuaskan hanya dengan hidup saja, kalau kita pernah hidup dengan tujuan?
2. Si ikan sudah berada di tempat yang ia inginkan. Ia ada dalam kehadiran bunyi gemuruh itu. Apa yang ia tidak dapat lakukan, dilakukan oleh sungai itu. Ia segera mengetahui bahwa ia selamanya ingat akan rahasia ini sebagai kenangan yang manis.

TIGA BELAS: HADIAH PADA SAAT TERAKHIR
1. Bagaimana dua orang dapat mendengar kata-kata yang sama dan melihat Juru Selamat yang sama, tapi yang satu melihat adanya harapan dan yang lain tidak melihat apa-apa kecuali dirinya sendiri?
2. "Kita telah mendapat apa yang sepantasnya kita dapat. Orang ini tidak membuat kesalahan". Kita bersalah dan Ia tidak bersalah. Kita cemar dan Ia murni. Kita bersalah dan Ia benar. Ia tidak disalibkan karena dosa-Nya. Ia disalibkan karena dosa-dosa kita. Ketika si penjahat memahami itu, pertanyaannya terasa lumrah. Ketika ia menatap mata dari harapannya yang terakhir, ia memohon hal yang sama yang akan dibuat setiap orang Kristen. "Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja".
3. Pada saat itu Yesus melakukan mujizat yang paling hebat dari salib, mujizat pengampunan. Penjahat yang berlumuran kejahatan diterima oleh Juru Selamat yang berlumuran darah. "Hari ini juga kamu akan berada bersama-sama Aku di dalam Firdaus". Ini adalah janji yang serius.
4. Hanya beberapa detik sebelumnya pencuri itu seperti pengemis yang meminta-minta di pintu gerbang istana sambil memutar-mutar topinya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah Sang Raja bersedia menyisihkan beberapa remah roti baginya. Tiba-tiba ia dipersilahkan masuk ke ruang penyimpanan makanan. Begitulah arti dari kasih karunia.

TEMPAT BERPAUT KE-3: KEMATIANKU BUKAN AKHIR
EMPAT BELAS: TUHAN VERSUS MAUT
1. Setiap nama ada nomornya dan cepat atau lambat setiap nomor akan dipanggil. Ia mengingatkan saya bahwa saya pun dalam proses meninggal selama saya hidup. Saya pun pada suatu ketika akan diukir namanya pada suatu batu granit. Suatu hari saya pun harua menghadapi maut. Oh ya, kira mencoba membukitkan bahwa ia salah. Kita jogging, kita diet, kita berlatih angkat besi, kita main golf. Kita mencoba melarikan diri, padahal kita tahu bahwa paling banyak yang dapat kita lakukan adalah penundaan waktu.
2.  Ia membuat Anda begitu takut mati, sehingga Anda tidak belajar untuk hidup. Sebab itu, jangan Anda menghadapinya seorang diri. Bacalah kata-kata ini dan camkanlah. "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging (yaitu Anda dan saya), maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka (yaitu Yesus), supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani (itu adalah kita) [Ibrani 2:14-16].

LIMA BELAS: KHAYALAN ATAU KENYATAAN?
1. Saat ibu itu lewat di depan Dia, Yesus menyapa dia, "Jangan menangis". Jangan menangis? Permintaan apa ini? Sebuah permintaan yang hanya Tuhan yang dapat mengajukannya. 
2. Bagaimana perasaan Anda pada saat-saat seperti itu? Apa yang akan Anda lakukan? Orang tak dikenal mengatakan kepadamu untuk tidak menangis ketika Anda memandang jenazah putramu. Seorang yang tidak mau berduka di tengah kesedihan, menantang iblis, lalu membuat Anda kaget sekali dengan sebuah teriakan ke dalam goa kematian. Tiba-tiba yang diambil telah dikembalikan. Yang dicuri sudah ditemukan kembali. Apa yang Anda anggap sudah hilang, dikembalikan.
3. Yesus memberi lebih dari anaknya kepada wanita itu. Ia memberinya sebuah rahasia--bisikan yang terdengar oleh kita. "Itu", kata-Nya sambil menunjuk usungan itu, "itu adalah khayalan". "Ini", Ia tertawa lebar sambil merangkul anak muda itu, "ini adalah kenyataan".

ENAM BELAS: SINAR MATA DARI KEKEKALAN
1. Kedamaian dimana seharusnya terdapat derita. Keyakinan di tengah krisis. Pengharapan yang menantang rasa putus asa. Itu yang diungkapkan sorotan mata itu. Sorotan mata yang mengetahui jawaban atas  pertanyaan yang menghantui setiap makhluk fana: "Apakah maut itu mempunyai kemenangan akhir?" Saya dapat bayangkan Yesus berkedip mata sambil menjawab "sama sekali tidak".

TUJUH BELAS: LAZARUS, KELUARLAH!
1. Hidup yang disia-siakan dengan berjalan kian kemari dalam sel buatan sendiri dari rasa takut. Memang mengejutkan, memang tragis, memang sayang. Dan juga sangat biasa terjadi. Mereka ingin hidup tetapi tidak bisa, karena mereka terhukum untuk melakukan apa yang mereka paling ingin hindari--mereka akan mati.
2. Yesus menangis. Ia menangis bukan untuk yang mati tetapi untuk yang hidup. Ia menangis bukan untuk dia yang berada dalam gua kematian tetapi untuk mereka yang ada dalam gua ketakutan. Ia menangis bagi mereka yang sekalipun hidup, sudah mati. Ia menangis untuk mereka yang sekalipun bebas, tetapi menjadi tawanan, narapidana yang terkurung oleh ketakutannya akan maut.
3. Batu tidak pernah menjadi penghalang bagi Allah. "Lazarus, keluarlah!" Hanya diperlukan satu kali panggilan. Lazarus mendengar nama dipanggil. Ia membuka matanya di dalam kain kafannya. Tangan-tangan yang terbungkus kain diangkat. Lutut diangkat, kaki berpijak di tanah, dan orang mati itu keluar.

DELAPAN BELAS: PERAYAAN
1. "Mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?" Tetapi Ia tidak membiarkan Maria kebingungan lama-lama, hanya cukup lama untuk mengingatkan kepada kita bahwa Ia suka mengejutkan kita. Ia menunggu sampai kita putus asa dan tidak mengandalkan lagi kekuatan manusia, lalu Ia campur tangan dengan kuasa surgawi. Allah menunggu sampai kita mengaku kalah, kemudian--kejutan!
2. Apakah sudah lama Anda tidak memberi kesempatan kepada Allah untuk memberi kejutan kepadamu? Mudah sekali untuk mencapai tingkat saat kita merasa sudah dapat memahami Tuhan. Saya ingatkan bahwa Allah bekerja paling baik kalau kehidupan kita mencapai titik paling rendah. Orang tahu bahwa Allah pernah merencanakan perayaan di kuburan. Bersiap-siaplah, barangkali Anda akan mendapat kejutan.
3. Allah muncul di tempat-tempat yang paling aneh. Melakukan hal-hal yang paling aneh. Menampilkan senyuman dimana tadi hanya kelihatan kening yang berkerut. Menempatkan cahaya di mata, dimana tadi hanya ada air mata. Menggantung bintang cerah di langit yang gelap. Melukiskan pelangi di tengah awan mengguntur. Memanggil nama orang di pekuburan.
4. "Maria", kata-Nya dengan lembut, "kejutan!" Maria sangat terkejut. Tidak setiap hari nama orang dipanggil oleh mulut yang kekal. Tetapi ketika hal itu terjadi, ia langsung mengenal suara itu. Dan ketika ia mengenalnya, responnya tepat sekali, ia menyembah-Nya. 

SEMBILAN BELAS: TATAPAN TERAKHIR
1. Yesus mengangkat kepala-Nya. Ia tidak marah. Ia tidak resah. Mata-Nya memandang dengan ketenangan yang ajaib dari wajah yang penuh darah. Ia memandang kepada mereka yang mengenal-Nya--sengaja memandang mereka satu demi satu seolah-olah Ia ada pesan bagi mereka masing-masing.
2. "Tidak apa-apa", pesan mata Tuhan. "Saya sudah mengalami badai dan semua masih baik-baik saja".
3. Kalau bukan prajurit itu yang mengatakannya, tentu prajurit lain akan menyatakannya. Orang asing tak dikenal kebagian untuk menyatakan apa yang diketahui oleh semuanya. "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah".
4. Apa arti dari enam jam itu? Mereka mengklaim menjadi pintu dalam waktu dan melalui pintu itu kekekalan memasuki gua manusia yang paling gelap. Mereka menandakan saat-saat ketika Sang Navigator turun ke dalam air yang paling dalam untuk meninggalkan tempat-tempat berpaut bagi pengikut-pengikutnya. Apa artinya Jumat itu? Bagi kehidupan yang menjadi suram karena kegagalan, Jumat itu berarti pengampunan. Bagi hati yang terluka karena kesia-siaan, Jumat itu berarti tujuan. Dan bagi jiwa yang melihat ke dalam terowongan kematian, Jumat itu berarti kelepasan. Enam jam. Suatu Jumat. Apa yang Anda lakukan dengan enam jam di Jumat itu? 


SIX HOURS ONE FRIDAY
MAX LUCADO



May 9, 2012

JALAN DUA MIL


“Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:41).
            
Ayat di atas merupakan ayat yang sangat simple, namun memiliki makna yang sangat dalam. Kita cenderung melakukan sesuatu kurang atau sama dengan yang orang lain minta dari kita, namun Yesus mengajarkan kepada kita untuk melakukan lebih daripada yang orang tuntut atau paksa dari kita. Bahkan Yesus menyuruh kita untuk melakukan dua kali lebih daripada yang orang tuntut dari kita. Waow! Standar Tuhan jauh lebih tinggi daripada standar yang kita punya. Ibaratnya, dunia ini berkata “Do your best”, tapi Tuhan berkata “Do more than your best”.
            
Dalam hal apakah kita harus melakukan “berjalan dua mil” ini? Dalam segala hal di seluruh aspek hidup kita tentunya. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam studi, dalam pelayanan, dalam hubungan dengan orang lain, terutama dengan rekan-rekan kita seiman. Namun, jangan “berjalan dua mil” dengan menggerutu, mengomel, atau terpaksa. Lakukan semuanya dengan penuh sukacita, seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan, bukan untuk manusia (Kolose 3:23).
            
Jika dalam dunia sekuler (pekerjaan atau studi) saja kita bisa berusaha sedemikian rupa untuk menyenangkan atasan kita atau untuk memperoleh nilai yang baik, sudah seharusnya kita melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk Tuhan kita. Kalau kita melayani atasan kita yang manusia dengan begitu rupa, sudah selayaknya kita melayani Raja di atas segala raja dengan usaha yang lebih ekstra lagi. Apa yang Dia berikan kepada kita, jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita berikan kepada-Nya. Dia telah menebus kita dari dosa dengan darah-Nya sendiri (I Petrus 1:18-19). Oleh karena itu, jangan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan.
            
Terutama jika kita adalah pelayan Tuhan (orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja), sudah seharusnya kita melakukan yang lebih baik lagi dibanding dengan yang kita lakukan di dunia sekuler. Persiapkan dirimu dengan amat baik sebelum kamu melayani Tuhan dan sesamamu. Bersekutu dengan Tuhan lebih dalam lagi. Cari waktu-waktu khusus untuk semakin mengenal Tuhan. Baca Alkitab lebih banyak lagi. Lakukan semua hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan.
            
Dalam Kerajaan Sorga, jangan pernah memberi “pas-pasan” atau yang minimal. Sebagai anak-anak yang telah dibeli-Nya dengan nyawa-Nya sendiri, kita harus mengubah mindset kita dari yang biasa-biasa atau pas-pasan menjadi lebih dari yang biasa. Berikan yang terbaik, bahkan lebih dari yang terbaik dari hidupmu untuk Tuhan. Maka kita akan melihat kemuliaan-Nya semakin dinyatakan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh memberikan yang terbaik bagi Dia.

May 4, 2012

WHEN I SAY "I AM A CHRISTIAN"


When I say “I am a Christian”
I’m not shouting “I’m clean living”
I‘m whispering “I was lost, now I’m found and forgiven”
When I say “I am a Christian”
I don’t speak of this with pride
I’m confessing that I stumble and need Christ to be my guide
When I say “I am a Christian”
I’m not trying to be strong
I’m professing that I’m weak and need His strength to carry on
When I say “I am a Christian”
I’m not bragging of success
I’m admitting have failed and need God to clean my mess
When I say “I am a Christian”
I’m not claiming to be perfect, my flaws are far too visible
But, God believes I am worth it
When I say “I am a Christian”
I still feel the sting of pain
I have my share of heartaches
So I call upon His name
When I say “I am a Christian”
I’m not holier than thou, I’m just a simple sinner who received God’s good grace, somehow!

-Carol Wimmer-