Dalam kitab Matius pasal yang ke-25,
ada sebuah perikop yang mengisahkan tentang penghakiman terakhir. Penghakiman
terakhir itu dilakukan oleh raja segala raja (Yesus) terhadap setiap orang yang
pernah hidup di muka bumi ini. Setiap orang akan dihakimi berdasarkan perbuatan
yang dilakukannya, entah baik, entah jahat. Ngeri banget yah? Namun, di perikop
itu, terkandung isi hati Tuhan buat kita en sesama kita loh. Coba kita cermati
yuk.
“Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang
di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah
Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku
lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika
Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi
Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara,
kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya:
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan,
atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau
sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami
memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam
penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
(Matius 25: 34-40).
Di perikop ini, Tuhan memberi upah
kepada setiap orang yang berbuat baik en menolong orang-orang yang “terbuang”
dari antara masyarakat, yaitu orang-orang yang seringkali “tidak masuk hitungan”
di mata manusia. Dimana orang-orang yang disebut sebagai orang-orang benar itu,
memberikan apa yang mereka miliki untuk orang-orang yang “hina dan tak
terpandang” itu. Entah mereka memberi makanan, pakaian, waktu, tenaga, uang,
perhatian, en kasih mereka bagi orang-orang yang membutuhkan.
Sadarkah kita, bahwa ketika kita diberkati oleh Tuhan, berkat itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita? Berkat yang Tuhan berikan dalam hidup kita, merupakan titipan Tuhan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Memang, berkat itu boleh kita nikmati untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, namun kita tidak boleh menjadi orang yang egois serta lupa kepada orang lain yang membutuhkan. Kita harus mengerti isi hati Tuhan bagi sesama kita, dimana Tuhan mengajarkan kita untuk memberi dan membagikan berkat yang kita miliki, kepada orang lain.
Berdoa bagi mereka yang kekurangan, anak-anak jalanan, para pengemis, atau mereka yang tunawisma, tidaklah cukup. Kita perlu bertindak. Kita perlu menyisihkan sumber daya yang kita miliki untuk diberikan bagi mereka yang kekurangan. Ingatkah kita, bahwa Tuhan mengasihi kita ketika kita masih berdosa en nggak layak untuk diperhatikan? Jika kita telah menerima kasih yang sedemikian besar dari Bapa kita di Sorga, sudah selayaknyalah kita melakukan hal yang sama bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Sadarkah kita, bahwa ketika kita diberkati oleh Tuhan, berkat itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita? Berkat yang Tuhan berikan dalam hidup kita, merupakan titipan Tuhan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Memang, berkat itu boleh kita nikmati untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, namun kita tidak boleh menjadi orang yang egois serta lupa kepada orang lain yang membutuhkan. Kita harus mengerti isi hati Tuhan bagi sesama kita, dimana Tuhan mengajarkan kita untuk memberi dan membagikan berkat yang kita miliki, kepada orang lain.
Berdoa bagi mereka yang kekurangan, anak-anak jalanan, para pengemis, atau mereka yang tunawisma, tidaklah cukup. Kita perlu bertindak. Kita perlu menyisihkan sumber daya yang kita miliki untuk diberikan bagi mereka yang kekurangan. Ingatkah kita, bahwa Tuhan mengasihi kita ketika kita masih berdosa en nggak layak untuk diperhatikan? Jika kita telah menerima kasih yang sedemikian besar dari Bapa kita di Sorga, sudah selayaknyalah kita melakukan hal yang sama bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
No comments:
Post a Comment