Mungkin Anda telah mendengar kata-kata bijak kuno yang jenaka ini: Penginjil murni yang ditinggal sendiri akan membangun gereja yang besar tetapi dangkal, gereja yang luas tetapi kedalaman akan perkara-perkara Tuhan hanya seinci. Gembala yang murni berdiri sendiri akan menghasilkan gereja dengan orang-orang yang memiliki hubungan mendalam, tetapi tidak mempunyai cukup visi untuk menemukan jalan untuk keluar. Rasul yang murni berdiri sendiri akan menghasilkan gereja yang kacau karena ia tidak pernah ada--ia selalu keluar menjalin hubungan "translokal". Seorang guru yang murni berdiri sendiri akan menjadikan gereja sebuah ruang kuliah. Dan nabi? Gereja yang dipimpin oleh nabi yang murni biasanya merupakan kelompok domba yang ditempa dengan baik.
KITA SALING MEMBUTUHKAN
Mungkin hal ini berlebihan, tetapi lebih benar dari yang mungkin kita ingin akui. Kenyataannya bahwa karunia-karunia kita, bahkan untuk kepemimpinan tidak pernah dimaksudkan untuk berfungsi sendirian. Kita saling memerlukan satu sama lain. Kita memerlukan tim yang merupakan pelayanan lima jawatan yang membuat Tubuh Kristus seimbang dan kuat.
Dengan kata lain, setiap kita memiliki tujuan, tetapi tujuan kita tercapai dengan adanya hubungan satu dengan yang lain. Tidak ada di antara kita diberikan semua perlengkapan yang kita perlukan untuk mencapai tujuan kita. Kita sangat kurang menyatakan Yesus kepada dunia yang sekarat! Kita membutuhkan orang di sekeliling kita dengan peralatan dan kemampuan yang berbeda, tetapi tujuan tersebut digenapi dalam suatu penataan korporat atau kerja sama.
Ada banyak aplikasi atau penerapan yang dapat kita buat mengenai kebenaran ini, tetapi salah satu yang paling ditekankan untuk masa sekarang adalah hubungan antara gembala dan nabi. Sementara Tuhan sedang memperbaharui pelayanan profetik yang penuh kuasa kepada gereja, Ia juga sedang mengajar kita untuk merangkai profetik ke dalam ekspresi korporat dari pelayanan lima jawatan, untuk menambatkan profetik kepada karunia-karunia tambahan yang membuat seorang nabi berhasil. Tidak ada pelayanan yang lebih penting bagi kesuksesan ini dibandingkan dengan gembala. Oleh sebab itu, mari kita pertimbangkan beberapa kunci untuk menggembalakan orang profetik secara efektif.
JALAN NABI
Sebelum kita melakukan hal ini, mari kita pikirkan tentang siapa sebenarnya orang-orang profetik ini, walaupun kita mungkin telah menganggap mereka semua sama untuk mendapatkan gambaran tentang mereka.
Orang yang dipanggil ke dalam pelayanan profetik kelihatannya dilahirkan dengan tingkat sensitivitas rohani yang lain dari yang lain. Mereka mungkin artistik dalam sifat atau mungkin secara harafiah, atau mungkin mereka telah menjumpai bahwa karunia penglihatan mereka membuat mereka menjadi pemimpin di antara sahabat-sahabat mereka. Hampir pasti mereka tidak cocok, memiliki jiwa yang sensitif yang secara mendalam merasakan kehancuran dunia secara mendalam. Bahkan jika mereka dihormati, mereka jarang bermasyarakat seperti layaknya bagian dari masyarakat tersebut. Mereka sering tidak dimengerti oleh orang tua dan dibuat merasa seperti "kambing hitam". Karunia rohani mereka pada keadaan yang belum ditebus membuat mereka sangat sadar akan realitas yang tidak terlihat, tetapi tanpa bertambatkan kepada kebenaran sehingga beberapa di antara mereka berbelok ke okultisme dan hal yang berbau mistik palsu. Semua ini sekedar gambaran negatif dari panggilan mereka, hasil cetak dari tujuan ilahi dalam mereka yang belum ditebus.
Ketika orang-orang yang memiliki karunia profetik ini datang kepada Yesus, biasanya mereka datang dengan gairah yang tak tertahankan. Mereka telah menemukan, seperti kita semua, jawaban atas tangis jiwa mereka. Mereka lapar. Mereka makan firman Tuhan dengan lahap dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya ke dalam penyembahan yang murni. Arus kebenaran dan kasih bersatu di dalam diri mereka dan sering mereka sangat murah hati. Biasanya mereka takjub dengan tanda dan mujizat dan bersuka ria di dalam kuasa Tuhan.
MENGENAL MINAT TUHAN
Pada waktunya mereka mulai merasakan hasil cetak dari panggilan mereka yang unik. Mereka mengembangkan perasaan yang tajam akan hadirat Tuhan dan tahu ketika Ia ingin berbicara kepada umat-Nya. Ia merasakan minat-Nya dan beban hati-Nya, bahkan sebelum mereka mengetahui dengan tepat apa yang sedang mereka rasakan. Sungguh indah, tetapi juga membingungkan mereka karena mereka sering merasa didesak antara hal yang Tuhan ingin lakukan dan rutinitas keagamaan yang sedang terjadi di seputar mereka. Tendensi mereka untuk berpikir dalam hal hitam dan putih membuat mereka tidak sabar terhadap kompromi dan sesuatu yang tidak pasti. Mereka tidak dapat mengerti mengapa orang lain tidak melihat hal-hal sejelas yang mereka lihat.
Situasi bertambah buruk. Karunia profetik sering hadir dengan bakat yang dramatis, volume, air mata, dan semarak. Ini menimbulkan kritik dan tuduhan kesombongan. Para nabi yang sering kali kurang memiliki karakter untuk mempertahankan bobot urapan, membuat kesalahan. Mereka dapat menjadi kritis, menuruti kata hati dan bersikap sombong. Lagi pula, menggembalakan dan mengajar merupakan karunia-karunia yang cukup umum. Tetapi nabi? Ia "dapat membaca surat Anda", mengatakan misteri jiwa Anda yang gelap, dan mengungkap takdir "profetik" Anda. Siapa yang perlu hal lain lagi?
Maka kalau tidak mengidolakan, jemaat akan mencurigai orang-orang profetik, mempergunakan atau menolak mereka. Mereka berantakan, bukan saja pelayanan, tetapi juga kehidupan mereka. Kebenarannya adalah bahwa guru dapat mengajar apa saja terlepas apakah mereka telah menjalaninya atau tidak. Tetapi nabi biasanya harus menjalani apa yang mereka sampaikan. Kehidupan mereka merupakan obyek pelajaran dalam pewahyuan dan ini dapat merupakan pengalaman yang menggetarkan.
TAJAM DENGAN PENGLIHATAN ROHANI, TETAPI BUTA SEPERTI KELELAWAR
Ini merupakan gambaran dari orang-orang yang memiliki karunia profetik. Berani dan aman. Akurat dan tidak tepat sasaran. Memiliki bakat melihat perkara-perkara misteri spiritual dan buta seperti kelelawar ketika tiba pada realitas alami. Orang-orang profetik dapat menyampaikan perkataan profetik kepada individu lain tentang segala sesuatu yang telah atau yang akan mereka lakukan, tetapi mereka tidak dapat mendengar suara Tuhan untuk hal yang paling sederhana tentang kehidupan mereka sendiri!
Orang-orang profetik datang ke gereja Anda! Nyatanya, mereka mungkin telah ada di jemaat Anda! Jadi apa yang harus Anda lakukan? Belajarlah menggembalakan mereka seperti yang telah Paulus ajarkan di dalam 2 Korintus 10:8 dan 13:10, bahwa otoritas seorang pemimpin Kristen adalah untuk membangun orang menjadi pribadi sebagaimana panggilan Tuhan terhadap mereka, dan bukan menghancurkan mereka. Belajarlah bahwa urapan yang Anda miliki merupakan aliran kasih karunia dan penglihatan untuk menolong orang dengan setiap jenis karunia memenuhi tujuan ilahi mereka. Kemudian Anda mendapatkan kembali panggilan Anda untuk membawa Tubuh Kristus menjadi dewasa dan menerima kebenaran bahwa Anda tidak dapat menyelesaikannya tanpa pelayanan profetik. Ingatlah bahwa menggembalakan adalah seperti menjaga sebuah kebun, menjauhkan perusak, mencabut rumput liar, memberi makan yang sedang bertumbuh, menyirami dengan baik, dan tidak mengharapkan buah masak dalam semalam. Pada akhirnya Anda menyambut kebenaran yang membawa kepada kerendahan hati bahwa Anda tidak dapat menyediakan segala sesuatu yang diperlukan jemaat Anda. Anda memerlukan orang-orang profetik.
MENGGEMBALAKAN NABI
Ada banyak tugas dalam menggembalakan orang-orang profetik yang juga berlaku umum dalam menggembalakan siapa pun. Namun, untuk tujuan kita dalam konteks ini, mari kita berfokus kepada dua tugas yang sangat penting ketika menggembalakan nabi.
Pertama berkaitan dengan hati yang terluka. Dengan menceritakan jalan yang harus ditempuh oleh kebanyakan nabi, baik sebagai orang Kristen atau sebelumnya, biasanya ada kebutuhan eksepsional untuk menyelesaikan masalah luka dan kepahitan. Jika hal ini tidak disampaikan, kelihatannya nabi tersebut akan mengendap pada kondisi hati yang terisolasi, kritis dan keras yang dapat memadamkan api profetik. Namun, jika masalah ini berhasil dikemukakan dengan baik, akan ada kasih dan kepenuhan yang lebih besar, serta aliran perkataan profetik yang lebih jelas dari sebelumnya.
MENYEMBUHKAN KEPAHITAN
Kebanyakan nabi, seperti kebanyakan orang Kristen, pada satu atau lain waktu telah diserang. Dalam Perjanjian Baru, perkataan "offended (diserang)" berasal dari kata Yunani scandalon. Kata ini dipergunakan dalam zaman kuno untuk menggambarkan bagian dari suatu jerat tempat umpan diletakkan. Gambaran ini menolong kita untuk mengerti bahwa ketika kita diserang, kita telah mengambil umpan perangkap yang telah ditaruh untuk kita. Lalu siapa yang menaruh jerat itu? Paulus berkata kepada Timotius di dalam 2 Timotius 2:24-26 bahwa orang-orang yang diserang telah ditawan oleh si jahat untuk melakukan kehendaknya. Jadi, jerat serangan disusun bagi kita oleh setan yang ingin mendominasi kehidupan kita. Salah satu cara untuk mendominasi kita adalah dengan kepahitan yang menyerang masuk ke dalam jiwa kita.
Adalah menarik bahwa kepahitan ditulis di dalam Alkitab sebagai racun yang tajam dan pedas. Ia seperti empedu yang pahit. Itu sebabnya mengapa menghindari serangan dan sifat menyerang merupakan hal yang penting. Jerat-jerat serangan ini memasukkan empedu kepahitan ke dalam mereka yang ditawannya dan membiarkan mereka dalam noda dan cemar.
Ini berarti kepahitan mencemarkan baik roh seseorang dan "aliran" yang menyalurkan karunia-karunia orang tersebut. Pernahkah Anda mendengar seseorang yang menyampaikan perkataan yang benar yang membuat Anda gelisah oleh karena sesuatu yang Anda rasakan keluar dari roh mereka? Hal ini terjadi karena ketika roh seseorang dinodai, segala sesuatu yang mengalir dari roh mereka dinodai. Nabi khususnya rentan terhadap masalah ini, karena jalan sukar yang biasanya mereka harus lalui dan arena urapan yang ada di dalam mereka sering sangat kuat. Kuasa urapan sering dapat memperkuat apa yang ada di dalam hati mereka, membuat hati pahit, pengalaman yang tidak enak bagi semua orang yang mendengarnya.
Gembala harus menolong nabi melihat pekerjaan destruktif yang dihasilkan oleh kepahitan di dalam kehidupan mereka. Apakah nabi benar-benar sangat sukar dikendalikan? Apakah ada sifat kritis dalam pengajarannya atau perilaku menghakimi dalam nubuat-nubuat yang mereka sampaikan? Apakah nabi seperti anjing kecil yang terluka ketika berhubungan dengan orang lain, melarikan diri paling tidak dari serangan? Kesemuanya ini dapat menjadi pertanda dari hati yang pahit yang dapat berakhir dengan diskualifikasi pelayanan. Ingat bahwa di dalam Kisah Rasul 8:20-23, Petrus berkata kepada Simon bahwa ia tidak mengambil bagian dalam pelayanan Roh karena hatinya penuh dengan kepahitan. Kepahitan sangat berbahaya dan harus dibersihkan melalui pertobatan, pengampunan, yang disucikan oleh perkataan dan kasih dari Tubuh Kristus yang menyembuhkan.
KESEIMBANGAN ALKITABIAH
Area kedua yang harus difokuskan oleh gembala dalam mengayomi nabi adalah dalam area keseimbangan Alkitabiah. Karunia-karunia profetik sering sangat kuat dan indah sehingga mudah bagi nabi untuk mengembangkan karunia terpisah dari kebenaran dan doktrin Alkitab. Ini akan melemahkan karunia yang ada padanya dan membiarkan nabi membuat kesalahan doktrinal yang didasarkan kepada pewahyuan yang tidak diuji oleh kebenaran Alkitab yang murni. Banyak bidat berbahaya telah muncul oleh karena terputusnya hubungan antara nabi dengan Alkitab.
Penting bagi nabi dan pengikutnya untuk mengerti bahwa firman dan Roh selalu sejalan. Tidak menjadi Alkitabiah supaya dapat berjalan di dalam roh merupakan kesalahan serius. Keduanya harus menyatu dan gembala harus menolong nabi melihat kebutuhan ini dan membuka kehidupan nabi kepada kebenaran dan teologi Alkitab yang mendalam. Jika kita mengerti bahwa nubuat tidak hanya meramal (memberitahukan perkara-perkara yang akan datang) tetapi juga forthtelling (menyampaikan kebenaran Tuhan), maka kebutuhan akan keseimbangan Alkitabiah semakin jelas.
MENGGEMBALAKAN PESAN PROFETIK
Kebanyakan orang yang berada di seputar pelayanan profetik mempunyai lebih dari satu cerita seram tentang perkataan profetik yang menuntun orang kepada perbuatan ekstrem. Bagi beberapa orang, cerita-cerita seperti itu menjadi dasar untuk menghindari orang-orang profetik dan mempersalahkan nabi. Kebenarannya adalah bahwa biasanya bukan nabi yang harus dipersalahkan. Kesalahan terletak pada ketidakdewasaan kita dalam mengetahui bagaimana harus menilai nubuat atau perkataan profetik. Paulus menyatakan kepada kita di dalam 1 Tesalonika 5:19 untuk tidak menganggap rendah nubuat tetapi mengujinya dan berpegang kepada yang baik. Bagi seorang gembala yang menyambut pelayanan profetik di dalam gereja, penting untuk mengetahui bagaimana menilai nubuat dan melatih yang lain untuk melakukan hal yang sama, agar dapat mendengar perkataan Tuhan dan menghindari bencana.
Mari kita pertimbangkan contoh Paulus. Dalam Kisah Rasul 20:22 Paulus berkata bahwa ia dipaksa oleh Roh Kudus untuk pergi ke Yerusalem. Ia telah mendengarnya dari Tuhan dan kemudian berangkat. Tetapi di tengah perjalanan, Paulus melanjutkan ke Tirus dan murid-murid yang di sana "melalui Roh" memaksa Paulus untuk tidak pergi ke sana (Kis 21:4). Jelas, perkataan karunia Roh Kudus ini, termasuk nubuat. Tetapi Paulus melanjutkan perjalanannya, sebab ayat berikutnya berkata, "Tetapi setelah lewat waktunya, kami berangkat meneruskan perjalanan kami".
Tidak lama kemudian Paulus dan timnya berjumpa dengan Agabus, yang mengikat tangannya dengan ikat pinggang Paulus seraya berkata, "Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain". Bahkan anggota tim Paulus dengan menangis mendesak Paulus untuk kembali, tetapi Paulus maju terus. Kemudian, di pasal 23, Yesus berkata bahwa kehadiran Paulus di Yerusalem tentu saja merupakan kehendak Allah: "Kuatkan hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma" (Kis 23:11).
Jelas, Tuhan memimpin Paulus untuk pergi ke Yerusalem. Jelas bahwa Paulus menerima dua contoh masukan profetik yang kelihatannya mendesak dia untuk tidak pergi ke Yerusalem. Paulus harus menilai perkataan ini, untuk mengujinya dengan hal yang ia ketahui. Perkataan dari murid-muridnya di Tirus yang ia nilai salah, mungkin lebih dimotivasi oleh belas kasihan manusia, bukan oleh Roh Kudus. Sementara itu tindakan profetik Agabus, harus diinterpretasikan secara benar. Agabus tidak pernah berkata, "Jangan pergi". Ia sekedar memberitahu apa yang akan terjadi jika Paulus pergi. Paulus menerjemahkannya dengan benar, sebagai instruksi bukan permohonan untuk tidak pergi, dan ia pergi memenuhi kehendak Tuhan.
MELIHAT MELALUI KACA DALAM KEGELAPAN
Ini merupakan pengajaran kritis bagi kita. Jelas mereka yang menerima nubuat harus mengetahui pelajaran ini. Namun penting juga bagi para nabi untuk menerima dengan rendah hati kebenaran yang mereka lihat melalui sebuah kaca di dalam kegelapan, bahwa mereka mengetahui hanya sebagian. Dengan kata lain, mereka dapat melakukan kesalahan. Nabi yang dewasa mendesak setiap orang yang menerima nubuat, untuk menilai, menguji, dan membandingkannya dengan Alkitab segala sesuatu yang mereka sampaikan. Mereka tidak tersinggung ketika orang berhati-hati, ketika mereka memandang nubuat dengan benar sebagai panggilan untuk berdoa sebelum bertindak. Sikap seperti itu akan membuat pelayanan menjadi lebih sehat, mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, dan hal ini akan membuktikan tingkat karakter yang akan membuat Tuhan mempercayakan nabi dengan kuasa dan ketepatan yang lebih besar.
MENGGEMBALAKAN TIM PROFETIK
Salah satu kebenaran yang paling penting bagi gembala untuk menanamkan di dalam hati seorang nabi adalah bahwa nabi merupakan bagian dari tim yang diperlengkapi. Hal ini mengandung dua elemen. Pertama, tugas utama seorang nabi menurut visi Efesus pasal empat adalah memperlengkapi orang-orang kudus. Setiap nabi yang dewasa mengerti hal ini dan sangat ingin membangkitkan nabi-nabi dan mendewasakan Tubuh Kristus sebesar keinginannya untuk bernubuat. Tetapi juga penting bagi nabi untuk mengerti bahwa ia merupakan bagian dari suatu tim yang diperlengkapi, yang ditempatkan oleh Tuhan dengan anggota lainnya dari kepemimpinan lima jawatan untuk melayani Tubuh Kristus.
Ini adalah kebenaran penting bagi nabi. Dibandingkan dengan karunia-karunia lain, nabi lebih memiliki tendensi untuk menyendiri. Hal ini sering disebabkan oleh luka yang telah kita diskusikan di muka. Sebagaimana penuh kuasanya karunia yang mungkin ada pada mereka, mereka tidak akan pernah memenuhi panggilan Tuhan dan berpengaruh penuh sesuai dengan panggilan mereka kecuali mereka belajar untuk bekerja sama dalam satu tim dengan karunia kepemimpinan lainnya. Gembala yang bijaksana akan menolong nabi mengerti dinamika ini dan merawat "kemampuan untuk dapat ditempa dalam satu tim" di dalam jiwa mereka.
Karena pelayanan profetik sangat dramatis, ada juga tendensi di dalam Tubuh Kristus untuk meninggikannya melebihi pelayan-pelayan lain menurut Efesus pasal empat. Karena alasan tertentu, hal ini merupakan kesalahan kristis. Pertama, setiap pelayanan dari kelima jawatan tersebut membawa kebenaran dan kuasa yang diperlukan oleh gereja yang tanpa hal ini akan timbul ketidakseimbangan dan kelemahan. Tetapi juga benar bahwa ada elemen profetik pada semua pelayanan lainnya yang terdapat di dalam Efesus pasal empat. Pelayanan penggembalaan akan sangat sulit tanpa masukan profetik. Pelayanan apostolik jelas tidak mungkin tanpa hal itu.
Nabi mempunyai peran dalam memberi dorongan atas elemen profetik dari semua karunia dan juga menerima cetakan dari karunia-karunia tersebut di dalam pelayanan mereka sendiri. Kesemua hal inilah yang dapat dilakukan oleh gembala yang bijaksana untuk merawat dan memberi dorongan. Hal ini lebih merupakan penyambutan pelayanan profetik pada tempatnya, bukan mengidolakan profetik dan memecah belah Tubuh Kristus.
MIMPI MENJADI KENYATAAN
Selama bertahun-tahun orang-orang percaya mempunyai mimpi, yaitu kemungkinan munculnya nabi-nabi yang penuh kuasa di dalam gereja. Ini telah terjadi dan sekarang mimpi yang lebih besar sedang dalam proses menjadi kenyataan. Tuhan menganugerahkan bukan saja nabi individu, tetapi sekumpulan orang profetik. Ini terjadi secara luas karena pelayanan para gembala yang bijaksana, yaitu gembala yang tidak hanya menyambut profetik, tetapi memeliharanya dengan baik, dengan tangan yang kokoh dan penuh kasih, dan kebenaran Alkitab. Pekerjaan gembala yang seperti itulah yang menjadi salah satu alasan terbesar akan adanya harapan bahwa gereja yang benar-benar profetik akan muncul dalam generasi ini.
STEPHEN L. MANSFIELD
Gembala dan Nabi
Protokol bagi Gereja yang Sehat
Bab 3: MENGGEMBALAKAN ORANG-ORANG PROFETIK
Hlm 33-45