BAB I: MENGAPA MINTA MAAF
1. Di dunia yang sempurna, permintaan maaf tidaklah diperlukan. Tetapi karena dunia tidak sempurna, kita tidak dapat bertahan tanpanya. Hasrat akan rekonsiliasi seringkali lebih bermanfaat daripada hasrat akan keadilan. Semakin intim hubungan yang terjalin, semakin dalam kerinduan akan rekonsiliasi.
2. Orang Kristen diperintahkan untuk mengampuni orang lain dalam cara yang sama dengan Allah mengampuni kita. Bagaimana Allah mengampuni kita? Firman Tuhan berkata jika kita mengaku dosa kita, maka Allah akan mengampuni dosa kita (I Yohanes 1:9).
3. Pengampunan tanpa kata maaf seringkali diusahakan demi keuntungan si pemberi maaf dan bukan si pelaku kesalahan. Pengampunan semacam itu tidak membawa pada rekonsiliasi. Bila tidak ada kata maaf, orang Kristen didorong untuk melepaskan orang yang bersalah kepada Allah supaya dihakimi (Roma 12:19) dan menyerahkan kemarahannya kepada Allah lewat pengendalian diri.
4. Kunci menuju hubungan yang baik adalah mempelajari bahasa maaf orang lain dan bersedia mengucapkannya. Saat Anda berbicara dalam bahasa primer mereka, maka Anda membuat mereka lebih mudah untuk memaafkan Anda dengan tulus.
5. Pernyataan terkenal mengatakan "cinta berarti tidak perlu mengatakan kau menyesal". Tidak, justru sebaliknya. Cinta seringkali berarti mengatakan Anda menyesal, dan cinta sejati mengandung permintaan maaf yang dilakukan oleh orang yang bersalah dan pengampunan yang diberikan oleh orang yang terluka.
BAB II: BAHASA PERMINTAAN MAAF #1: MENGEKSPRESIKAN PENYESALAN "SAYA MENYESAL"
1. Mengekspresikan penyesalan adalah aspek emosional dari sebuah permintaan maaf. Penyesalan berfokus pada apa yang telah Anda perbuat atau yang telah gagal Anda perbuat dan bagaimana hal itu berpengaruh pada orang lain.
2. Bahasa tubuh kita harus sependapat dengan kata-kata yang kita ucapkan jika kita berharap orang yang kita lukai dapat merasakan ketulusan kita. Ini berlaku khususnya ketika dua orang saling bertentangan.
3. Sebuah kata maaf lebih berdampak apabila bersifat spesifik. Ketika kita spesifik, kita mengkomunikasikan kepada orang yang terluka bahwa kita benar-benar mengerti seberapa dalam kita telah menyakitinya.
4. Penyesalan yang tulus juga membutuhkan keutuhan. Tidak boleh diikuti dengan "tetapi...". Kapanpun kita menimpakan kesalahan pada orang lain secara verbal, kita tidak sedang meminta maaf, sebaliknya menyerang. Serangan tidak pernah menghasilkan pengampunan dan rekonsiliasi.
5. Sebuah ekspresi penyesalan yang tulus seharusnya tidak memanipulasi orang lain untuk berbuat sebaliknya (meminta maaf juga). Ketidaktulusan juga terjadi ketika kita berkata "aku menyesal" hanya untuk membuat orang lain berhenti memarahi kita.
BAB III: BAHASA PERMINTAAN MAAF #2: MENERIMA TANGGUNG JAWAB "SAYA MEMANG BERSALAH"
1. Permintaan maaf yang sederhana dapat membuat dunia menjadi berbeda-- tetapi permintaan maaf berarti menerima tanggung jawab atas tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh orang yang bersangkutan.
2. Mengapa sulit untuk berkata "aku salah"? Seringkali keengganan untuk mengakui perbuatan yang salah dikaitkan dengan harga diri kita. Mengakui kesalahan dianggap sebagai kelemahan.
3. Orang dewasa yang dewasa belajar untuk menerima tanggung jawab atas perilaku mereka, sementara orang dewasa yang tidak dewasa terus mengerjakan fantasi-fantasi kanak-kanak dan cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan mereka.
4. Pernikahan yang baik tidaklah bergantung pada kesempurnaan, melainkan pada kesediaan untuk mengakui kesalahan dan berusaha untuk memaafkan.
5. Kita semua melakukan kesalahan, tetapi satu-satunya kesalahan yang akan menghancurkanmu adalah kesalahan yang tak mau kau akui.
BAB IV: BAHASA PERMINTAAN MAAF #3: MEMBERI TEBUSAN "APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN UNTUK MEMPERBAIKINYA?"
1. Kesediaan melakukan sesuatu untuk menebus rasa sakit yang telah kusebabkan padamu merupakan bukti permintaan maaf yang sejati. Suatu suara di dalam diri kita berkata, "Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar kerugian atas apa yang telah kulakukan"
2. Penyetaraan adalah menebus kerugian yang diderita orang lain. Menawarkan penebusan berarti melakukan keadilan. Setiap luka atau kemarahan menyebabkan manusia kehilangan sesuatu. Mungkin orang tersebut kehilangan harga diri, penerimaan diri, atau keuntungan yang tak terlihat. Jadi, itu adalah tindakan kebaikan yang dilakukan si pelanggar terhadap si penderita untuk menebus kerugiannya.
3. Dalam lingkup keluarga dan hubungan yang dekat, hasrat kita terhadap penebusan hampir selalu didasarkan pada kebutuhan akan kasih. Setelah dilukai begitu dalam, kita membutuhkan kepastian bahwa orang yang melukai kita masih mengasihi kita.
4. Bagi beberapa orang, penebusan adalah bahasa maaf utama mereka. Bagi mereka, pernyataan "Tidak benar bagiku untuk memperlakukanmu seperti itu", harus diikuti dengan "Apa yang dapat kulakukan untuk menunjukkan padamu bahwa aku masih menyayangimu?"
5. Karena inti penebusan adalah meyakinkan pasangan atau anggota keluarga bahwa Anda mengasihi mereka dengan tulus, maka penting untuk mengekspresikan penebusan dalam bahasa kasih orang yang bersangkutan.
* Lima Bahasa Cinta:
A. Kata-kata peneguhan
Memakai kata-kata untuk meneguhkan orang lain dapat difokuskan pada kepribadian orang yang bersangkutan, perilaku, pakaian, prestasi, atau kecantikan. Hal yang penting adalah kata-kata itu mengkomunikasikan secara verbal kasih dan penghargaan Anda pada orang tersebut.
B. Tindakan pelayanan
Bahasa cinta ini didasarkan pada aksioma (pernyataan yang diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) lama, "tindakan berbicara lebih kuat daripada kata-kata". Bagi orang-orang ini, cinta didemonstrasikan lewat tindakan kebaikan yang pas.
C. Menerima hadiah
Hadiah tidak perlu mahal. Bukankah orang selalu berkata "yang penting perhatiannya"? Namun, bukan perhatian yang tinggal di benak kita, melainkan hadiahnyalah yang mengingatkan kita akan perhatian yang ditunjukkan orang lain.
D. Waktu yang berkualitas
Tidak diperlukan aktivitas-aktivitas besar atau proyek-proyek bersama; mungkin sekedar mengobrol saja. Bagi orang seperti ini, waktu yang berkualitas merupakan tebusan yang terbaik.
E. Sentuhan fisik
Bagi mereka, permintaan maaf tanpa sentuhan akan terlihat tidak tulus.
BAB V: BAHASA PERMINTAAN MAAF #4: DENGAN TULUS BERTOBAT "SAYA AKAN BERUSAHA UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA LAGI"
1. Kata pertobatan berarti "berbalik" atau "berubah pikiran". Dalam konteks permintaan maaf, itu berarti seseorang menyadari bahwa perilakunya yang sekarang ini bersifat merusak. Individu ini menyesali rasa sakit yang ia timbulkan pada orang lain, dan ia memilih mengubah perilakunya.
2. Semua pertobatan sejati dimulai di dalam hati. Kita tidak ingin melanjutkan perilaku ini, oleh karena itu kita memutuskan bahwa dengan pertolongan Allah, kita akan berubah. Keputusan untuk berubahlah yang mengindikasikan bahwa kita tidak akan lagi membuat alasan-alasan. Kita tidak menyepelekan perilaku kita, tetapi menerima tanggung jawab penuh atasnya.
3. Gagasan bahwa kita hanya perlu melakukan perubahan ketika kita melakukan sesuatu yang salah secara moral adalah suatu kesalahan. Dalam pernikahan yang sehat, kita sering melakukan perubahan-perubahan yang tidak ada kaitannya dengan moralitas, tetapi hal itu membangun pernikahan yang harmonis.
4. Bagaimana mengucapkan bahasa pertobatan? Dimulai dengan sebuah ekspresi niat untuk berubah, membangun sebuah rencana untuk mengimplementasikan perubahan, dan menerapkan rencana.
5. Bagaimana jika kita mengalami kegagalan? Kegagalan sering terjadi di sepanjang jalan meskipun kita telah berusaha dengan tulus. Kegagalan-kegagalan ini tidak perlu mengalahkan kita. Kebiasaan lama mati perlahan-lahan, tetapi kita akan berhasil jika kita terus mengerjakan perubahan-perubahan kita.
BAB VI: BAHASA PERMINTAAN MAAF #5: MEMOHON PENGAMPUNAN "MAUKAH ENGKAU MEMAAFKAN SAYA?"
1. Mengapa memohon pengampunan? Pertama, mengindikasikan kepada beberapa orang bahwa Anda ingin melihat hubungan dipulihkan sepenuhnya. Kedua, karena itu menunjukkan Anda menyadari bahwa Anda bersalah--Anda telah menyinggung orang lain, sengaja atau tidak sengaja. Ketiga, menunjukkan bahwa Anda bersedia meletakkan masa depan hubungan di tangan orang yang terluka.
2. Ketika pertengkaran terjadi, itu segera menciptakan rintangan emosional di antara dua orang. Sampai rintangan itu disingkirkan, hubungan tidak dapat dilanjutkan. Sebuah permintaan maaf adalah upaya untuk menyingkirkan rintangan itu.
3. Mengapa sulit meminta maaf? Pertama, takut kehilangan kendali. Meminta maaf berarti melepaskan kendali dan meletakkan masa depan hubungan di tangan orang lain. Kedua, takut ditolak. Ketika Anda mencari pengampunan, orang lain mungkin akan menjawab tidak-- yang berarti menolak permintaan Anda. Ketiga, takut gagal. Mengakui bahwa Anda salah terasa seolah-olah Anda telah gagal sebagai manusia, atau bahkan gagal dalam menjaga keyakinan-keyakinan moral Anda.
4. Jangan menuntut pengampunan. Ketika kita menuntut pengampunan, kita gagal memahami sifat dari pengampunan. Pengampunan pada intinya merupakan sebuah pilihan untuk menarik hukuman dan membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup kita kembali. Itu merupakan kerelaan untuk melupakan kesalahan sehingga kita dapat membangun kepercayaan kembali. Pengampunan harus selalu menjadi sesuatu yang diminta, bukan dituntut.
5. Mengapa sulit mengampuni? Pertama, mungkin si pemberi maaf dituntut untuk berhenti mencari keadilan. Orang ini berpikir bahwa pihak yang bersalah seharusnya "menderita" atau "tidak layak" menerima pengampunan. Kedua, mungkin si pemberi maaf perlu mengampuni konsekuensi-konsekuensi yang sifatnya berkepanjangan. Ketiga, mungkin si pemberi maaf memiliki kesulitan jika kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang besar dan dilakukan berulang-ulang.
BAB VII: MENEMUKAN BAHASA PERMINTAAN MAAF UTAMA ANDA
1. Sangatlah penting untuk menemukan apa yang menjadi bahasa permintaan maaf utama Anda dan orang-orang yang berarti dalam hidup Anda. Ini akan meningkatkan kemampuan Anda untuk secara efektif dapat memberikan maupun menerima permintaan maaf.
2. Suami dan istri biasanya tidak memiliki bahasa permintaan maaf utama yang sama. Akibatnya, permintaan maaf mereka sering mengalami penolakan, bukannya pengampunan. Sebagian menunjukkan bahwa bahasa permintaan maaf utama dari seseorang merupakan pilihan yang paling tidak difavoritkan oleh pasangannya.
3. Pertanyaan yang perlu diajukan untuk mengidentifikasi bahasa permintaan maaf: Pertama, apa yang aku harapkan untuk dilakukan atau dikatakan oleh orang itu? Kedua, apa yang paling menyakitkan dari situasi ini? Ketiga, bahasa apa yang paling penting saat aku meminta maaf?
4. Mungkin dua bahasa akan sama pentingnya bagi Anda; yang berarti keduanya berbicara dengan kuat tentang ketulusan orang lain. Jika Anda bilingual, itu tidak masalah; Anda akan mempermudah orang-orang yang meminta maaf kepada Anda.
5. Permintaan maaf yang tulus merupakan hadiah bagi orang yang terluka. Permintaan maaf dirancang untuk mengkomunikasikan kepedulian Anda terhadap hubungan Anda dengannya. Permintaan maaf merintis jalan menuju pengampunan yang sejati serta rekonsiliasi.
BAB VIII: MEMINTA MAAF ADALAH SEBUAH PILIHAN
1. Mengapa orang-orang tidak meminta maaf? Pertama, kadang mereka tidak menghargai hubungan yang terjalin. Mungkin mereka sering mengalami pertengkaran di masa lalu, dan begitu banyak kemarahan yang terkubur di bawah sadar. Kedua, karena mereka merasa perbuatan mereka benar, orang lain yang salah. Orang yang menolak untuk mengakui kebutuhan untuk meminta maaf akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan hubungan yang hancur.
2. Hati nurani yang tidak peka sering diikuti dengan harga diri yang rendah. Orang-orang yang memiliki harga diri yang rendah, yang suka menimpakan kesalahan, dan benci meminta maaf akan selalu membutuhkan konseling untuk mengatasi pola-pola pikir, perilaku, dan emosi-emosi yang sudah mengakar. Apa yang tidak diketahui oleh orang-orang ini adalah: meminta maaf akan meningkatkan harga diri seseorang.
3. Hubungan Anda tidak akan pernah mencapai potensinya sampai Anda belajar meminta maaf. Sebenarnya, Anda sangat melukai orang-orang yang penting dalam hidup Anda oleh karena ketidakbersediaan Anda untuk meminta maaf.
4. Bagaimana jika bahasa permintaan maaf orang lain tidak dapat kupahami secara alami? Memang benar beberapa orang akan menemukan lebih banyak kesulitan dalam mengucapkan bahasa permintaan maaf tertentu dibandingkan orang lain. Semua itu berkaitan dengan sejarah kita dan apa yang telah kita pelajari sebagai anak-anak maupun sebagai orang dewasa. Kabar baiknya adalah semua bahasa ini dapat dipelajari.
5. Bagaimana jika Anda cenderung untuk meminta maaf secara berlebihan? Pertama, beberapa orang sering meminta maaf karena mereka sering merasa bersalah atas kata-kata atau tindakan mereka yang telah melukai orang lain. Masalah utamanya adalah mereka kurang terampil dalam membina hubungan. Kedua, orang-orang yang memiliki harga diri rendah. Ketiga, mereka sangat tidak menyukai konflik dan ingin masalahnya segera terselesaikan sehingga semuanya "kembali normal". Mereka lebih suka mengakui kesalahan agar perdebatan dan konflik dapat diakhiri. Kedamaian dengan harga berapapun bukanlah jalan menuju hubungan yang otentik. Permintaan maaf perlu bersifat tulus.
THE FIVE LANGUAGES OF APOLOGY
Gary Chapman& Jennifer Thomas
THE FIVE LANGUAGES OF APOLOGY
Gary Chapman& Jennifer Thomas


