November 20, 2016

THE FIVE LANGUAGES OF APOLOGY PART I (GARY CHAPMAN& JENNIFER THOMAS)

BAB I: MENGAPA MINTA MAAF
1. Di dunia yang sempurna, permintaan maaf tidaklah diperlukan. Tetapi karena dunia tidak sempurna, kita tidak dapat bertahan tanpanya. Hasrat akan rekonsiliasi seringkali lebih bermanfaat daripada hasrat akan keadilan. Semakin intim hubungan yang terjalin, semakin dalam kerinduan akan rekonsiliasi.
2. Orang Kristen diperintahkan untuk mengampuni orang lain dalam cara yang sama dengan Allah mengampuni kita. Bagaimana Allah mengampuni kita? Firman Tuhan berkata jika kita mengaku dosa kita, maka Allah akan mengampuni dosa kita (I Yohanes 1:9).
3. Pengampunan tanpa kata maaf seringkali diusahakan demi keuntungan si pemberi maaf dan bukan si pelaku kesalahan. Pengampunan semacam itu tidak membawa pada rekonsiliasi. Bila tidak ada kata maaf, orang Kristen didorong untuk melepaskan orang yang bersalah kepada Allah supaya dihakimi (Roma 12:19) dan menyerahkan kemarahannya kepada Allah lewat pengendalian diri.
4. Kunci menuju hubungan yang baik adalah mempelajari bahasa maaf orang lain dan bersedia mengucapkannya. Saat Anda berbicara dalam bahasa primer mereka, maka Anda membuat mereka lebih mudah untuk memaafkan Anda dengan tulus.
5. Pernyataan terkenal mengatakan "cinta berarti tidak perlu mengatakan kau menyesal". Tidak, justru sebaliknya. Cinta seringkali berarti mengatakan Anda menyesal, dan cinta sejati mengandung permintaan maaf yang dilakukan oleh orang yang bersalah dan pengampunan yang diberikan oleh orang yang terluka.


BAB II: BAHASA PERMINTAAN MAAF #1: MENGEKSPRESIKAN PENYESALAN "SAYA MENYESAL"
1. Mengekspresikan penyesalan adalah aspek emosional dari sebuah permintaan maaf. Penyesalan berfokus pada apa yang telah Anda perbuat atau yang telah gagal Anda perbuat dan bagaimana hal itu berpengaruh pada orang lain.
2. Bahasa tubuh kita harus sependapat dengan kata-kata yang kita ucapkan jika kita berharap orang yang kita lukai dapat merasakan ketulusan kita. Ini berlaku khususnya ketika dua orang saling bertentangan.
3. Sebuah kata maaf lebih berdampak apabila bersifat spesifik. Ketika kita spesifik, kita mengkomunikasikan kepada orang yang terluka bahwa kita benar-benar mengerti seberapa dalam kita telah menyakitinya.
4. Penyesalan yang tulus juga membutuhkan keutuhan. Tidak boleh diikuti dengan "tetapi...". Kapanpun kita menimpakan kesalahan pada orang lain secara verbal, kita tidak sedang meminta maaf, sebaliknya menyerang. Serangan tidak pernah menghasilkan pengampunan dan rekonsiliasi.
5. Sebuah ekspresi penyesalan yang tulus seharusnya tidak memanipulasi orang lain untuk berbuat sebaliknya (meminta maaf juga). Ketidaktulusan juga terjadi ketika kita berkata "aku menyesal" hanya untuk membuat orang lain berhenti memarahi kita.


BAB III: BAHASA PERMINTAAN MAAF #2: MENERIMA TANGGUNG JAWAB "SAYA MEMANG BERSALAH"
1. Permintaan maaf yang sederhana dapat membuat dunia menjadi berbeda-- tetapi permintaan maaf berarti menerima tanggung jawab atas tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh orang yang bersangkutan.
2. Mengapa sulit untuk berkata "aku salah"? Seringkali keengganan untuk mengakui perbuatan yang salah dikaitkan dengan harga diri kita. Mengakui kesalahan dianggap sebagai kelemahan.
3. Orang dewasa yang dewasa belajar untuk menerima tanggung jawab atas perilaku mereka, sementara orang dewasa yang tidak dewasa terus mengerjakan fantasi-fantasi kanak-kanak dan cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan mereka.
4. Pernikahan yang baik tidaklah bergantung pada kesempurnaan, melainkan pada kesediaan untuk mengakui kesalahan dan berusaha untuk memaafkan.
5. Kita semua melakukan kesalahan, tetapi satu-satunya kesalahan yang akan menghancurkanmu adalah kesalahan yang tak mau kau akui.


BAB IV: BAHASA PERMINTAAN MAAF #3: MEMBERI TEBUSAN "APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN UNTUK MEMPERBAIKINYA?"
1. Kesediaan melakukan sesuatu untuk menebus rasa sakit yang telah kusebabkan padamu merupakan bukti permintaan maaf yang sejati. Suatu suara di dalam diri kita berkata, "Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar kerugian atas apa yang telah kulakukan" 
2. Penyetaraan adalah menebus kerugian yang diderita orang lain. Menawarkan penebusan berarti melakukan keadilan. Setiap luka atau kemarahan menyebabkan manusia kehilangan sesuatu. Mungkin orang tersebut kehilangan harga diri, penerimaan diri, atau keuntungan yang tak terlihat. Jadi, itu adalah tindakan kebaikan yang dilakukan si pelanggar terhadap si penderita untuk menebus kerugiannya.
3. Dalam lingkup keluarga dan hubungan yang dekat, hasrat kita terhadap penebusan hampir selalu didasarkan pada kebutuhan akan kasih. Setelah dilukai begitu dalam, kita membutuhkan kepastian bahwa orang yang melukai kita masih mengasihi kita.
4. Bagi beberapa orang, penebusan adalah bahasa maaf utama mereka. Bagi mereka, pernyataan "Tidak benar bagiku untuk memperlakukanmu seperti itu", harus diikuti dengan "Apa yang dapat kulakukan untuk menunjukkan padamu bahwa aku masih menyayangimu?"
5. Karena inti penebusan adalah meyakinkan pasangan atau anggota keluarga bahwa Anda mengasihi mereka dengan tulus, maka penting untuk mengekspresikan penebusan dalam bahasa kasih orang yang bersangkutan.
* Lima Bahasa Cinta:
A. Kata-kata peneguhan
Memakai kata-kata untuk meneguhkan orang lain dapat difokuskan pada kepribadian orang yang bersangkutan, perilaku, pakaian, prestasi, atau kecantikan. Hal yang penting adalah kata-kata itu mengkomunikasikan secara verbal kasih dan penghargaan Anda pada orang tersebut.
B. Tindakan pelayanan
Bahasa cinta ini didasarkan pada aksioma (pernyataan yang diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) lama, "tindakan berbicara lebih kuat daripada kata-kata". Bagi orang-orang ini, cinta didemonstrasikan lewat tindakan kebaikan yang pas.
C. Menerima hadiah
Hadiah tidak perlu mahal. Bukankah orang selalu berkata "yang penting perhatiannya"? Namun, bukan perhatian yang tinggal di benak kita, melainkan hadiahnyalah yang mengingatkan kita akan perhatian yang ditunjukkan orang lain.
D. Waktu yang berkualitas
Tidak diperlukan aktivitas-aktivitas besar atau proyek-proyek bersama; mungkin sekedar mengobrol saja. Bagi orang seperti ini, waktu yang berkualitas merupakan tebusan yang terbaik.
E. Sentuhan fisik
Bagi mereka, permintaan maaf tanpa sentuhan akan terlihat tidak tulus.


BAB V: BAHASA PERMINTAAN MAAF #4: DENGAN TULUS BERTOBAT "SAYA AKAN BERUSAHA UNTUK TIDAK MELAKUKANNYA LAGI"
1. Kata pertobatan berarti "berbalik" atau "berubah pikiran". Dalam konteks permintaan maaf, itu berarti seseorang menyadari bahwa perilakunya yang sekarang ini bersifat merusak. Individu ini menyesali rasa sakit yang ia timbulkan pada orang lain, dan ia memilih mengubah perilakunya.
2. Semua pertobatan sejati dimulai di dalam hati. Kita tidak ingin melanjutkan perilaku ini, oleh karena itu kita memutuskan bahwa dengan pertolongan Allah, kita akan berubah. Keputusan untuk berubahlah yang mengindikasikan bahwa kita tidak akan lagi membuat alasan-alasan. Kita tidak menyepelekan perilaku kita, tetapi menerima tanggung jawab penuh atasnya.
3. Gagasan bahwa kita hanya perlu melakukan perubahan ketika kita melakukan sesuatu yang salah secara moral adalah suatu kesalahan. Dalam pernikahan yang sehat, kita sering melakukan perubahan-perubahan yang tidak ada kaitannya dengan moralitas, tetapi hal itu membangun pernikahan yang harmonis.
4. Bagaimana mengucapkan bahasa pertobatan? Dimulai dengan sebuah ekspresi niat untuk berubah, membangun sebuah rencana untuk mengimplementasikan perubahan, dan menerapkan rencana.
5. Bagaimana jika kita mengalami kegagalan? Kegagalan sering terjadi di sepanjang jalan meskipun kita telah berusaha dengan tulus. Kegagalan-kegagalan ini tidak perlu mengalahkan kita. Kebiasaan lama mati perlahan-lahan, tetapi kita akan berhasil jika kita terus mengerjakan perubahan-perubahan kita.


BAB VI: BAHASA PERMINTAAN MAAF #5: MEMOHON PENGAMPUNAN "MAUKAH ENGKAU MEMAAFKAN SAYA?"
1. Mengapa memohon pengampunan? Pertama, mengindikasikan kepada beberapa orang bahwa Anda ingin melihat hubungan dipulihkan sepenuhnya. Kedua, karena itu menunjukkan Anda menyadari bahwa Anda bersalah--Anda telah menyinggung orang lain, sengaja atau tidak sengaja. Ketiga, menunjukkan bahwa Anda bersedia meletakkan masa depan hubungan di tangan orang yang terluka.
2. Ketika pertengkaran terjadi, itu segera menciptakan rintangan emosional di antara dua orang. Sampai rintangan itu disingkirkan, hubungan tidak dapat dilanjutkan. Sebuah permintaan maaf adalah upaya untuk menyingkirkan rintangan itu.
3. Mengapa sulit meminta maaf? Pertama, takut kehilangan kendali. Meminta maaf berarti melepaskan kendali dan meletakkan masa depan hubungan di tangan orang lain. Kedua, takut ditolak. Ketika Anda mencari pengampunan, orang lain mungkin akan menjawab tidak-- yang berarti menolak permintaan Anda. Ketiga, takut gagal. Mengakui bahwa Anda salah terasa seolah-olah Anda telah gagal sebagai manusia, atau bahkan gagal dalam menjaga keyakinan-keyakinan moral Anda.
4. Jangan menuntut pengampunan. Ketika kita menuntut pengampunan, kita gagal memahami sifat dari pengampunan. Pengampunan pada intinya merupakan sebuah pilihan untuk menarik hukuman dan membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup kita kembali. Itu merupakan kerelaan untuk melupakan kesalahan sehingga kita dapat membangun kepercayaan kembali. Pengampunan harus selalu menjadi sesuatu yang diminta, bukan dituntut.
5. Mengapa sulit mengampuni? Pertama, mungkin si pemberi maaf dituntut untuk berhenti mencari keadilan. Orang ini berpikir bahwa pihak yang bersalah seharusnya "menderita" atau "tidak layak" menerima pengampunan. Kedua, mungkin si pemberi maaf perlu mengampuni konsekuensi-konsekuensi yang sifatnya berkepanjangan. Ketiga, mungkin si pemberi maaf memiliki kesulitan jika kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang besar dan dilakukan berulang-ulang.


BAB VII: MENEMUKAN BAHASA PERMINTAAN MAAF UTAMA ANDA
1. Sangatlah penting untuk menemukan apa yang menjadi bahasa permintaan maaf utama Anda dan orang-orang yang berarti dalam hidup Anda. Ini akan meningkatkan kemampuan Anda untuk secara efektif dapat memberikan maupun menerima permintaan maaf.
2. Suami dan istri biasanya tidak memiliki bahasa permintaan maaf utama yang sama. Akibatnya, permintaan maaf mereka sering mengalami penolakan, bukannya pengampunan. Sebagian menunjukkan bahwa bahasa permintaan maaf utama dari seseorang merupakan pilihan yang paling tidak difavoritkan oleh pasangannya.
3. Pertanyaan yang perlu diajukan untuk mengidentifikasi bahasa permintaan maaf: Pertama, apa yang aku harapkan untuk dilakukan atau dikatakan oleh orang itu? Kedua, apa yang paling menyakitkan dari situasi ini? Ketiga, bahasa apa yang paling penting saat aku meminta maaf?
4. Mungkin dua bahasa akan sama pentingnya bagi Anda; yang berarti keduanya berbicara dengan kuat tentang ketulusan orang lain. Jika Anda bilingual, itu tidak masalah; Anda akan mempermudah orang-orang yang meminta maaf kepada Anda.
5. Permintaan maaf yang tulus merupakan hadiah bagi orang yang terluka. Permintaan maaf dirancang untuk mengkomunikasikan kepedulian Anda terhadap hubungan Anda dengannya. Permintaan maaf merintis jalan menuju pengampunan yang sejati serta rekonsiliasi.


BAB VIII: MEMINTA MAAF ADALAH SEBUAH PILIHAN
1. Mengapa orang-orang tidak meminta maaf? Pertama, kadang mereka tidak menghargai hubungan yang terjalin. Mungkin mereka sering mengalami pertengkaran di masa lalu, dan begitu banyak kemarahan yang terkubur di bawah sadar. Kedua, karena mereka merasa perbuatan mereka benar, orang lain yang salah. Orang yang menolak untuk mengakui kebutuhan untuk meminta maaf akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan hubungan yang hancur.
2. Hati nurani yang tidak peka sering diikuti dengan harga diri yang rendah. Orang-orang yang memiliki harga diri yang rendah, yang suka menimpakan kesalahan, dan benci meminta maaf akan selalu membutuhkan konseling untuk mengatasi pola-pola pikir, perilaku, dan emosi-emosi yang sudah mengakar. Apa yang tidak diketahui oleh orang-orang ini adalah: meminta maaf akan meningkatkan harga diri seseorang.
3. Hubungan Anda tidak akan pernah mencapai potensinya sampai Anda belajar meminta maaf. Sebenarnya, Anda sangat melukai orang-orang yang penting dalam hidup Anda oleh karena ketidakbersediaan Anda untuk meminta maaf.
4. Bagaimana jika bahasa permintaan maaf orang lain tidak dapat kupahami secara alami? Memang benar beberapa orang akan menemukan lebih banyak kesulitan dalam mengucapkan bahasa permintaan maaf tertentu dibandingkan orang lain. Semua itu berkaitan dengan sejarah kita dan apa yang telah kita pelajari sebagai anak-anak maupun sebagai orang dewasa. Kabar baiknya adalah semua bahasa ini dapat dipelajari.
5. Bagaimana jika Anda cenderung untuk meminta maaf secara berlebihan? Pertama, beberapa orang sering meminta maaf karena mereka sering merasa bersalah atas kata-kata atau tindakan mereka yang telah melukai orang lain. Masalah utamanya adalah mereka kurang terampil dalam membina hubungan. Kedua, orang-orang yang memiliki harga diri rendah. Ketiga, mereka sangat tidak menyukai konflik dan ingin masalahnya segera terselesaikan sehingga semuanya "kembali normal". Mereka lebih suka mengakui kesalahan agar perdebatan dan konflik dapat diakhiri. Kedamaian dengan harga berapapun bukanlah jalan menuju hubungan yang otentik. Permintaan maaf perlu bersifat tulus.



THE FIVE LANGUAGES OF APOLOGY
Gary Chapman& Jennifer Thomas

November 15, 2016

HEART SURGERY

Beberapa hari lalu, aku ngalami sesuatu yang bikin Tuhan "mengoperasi" satu issue masa lalu yang masih bercokol di hatiku. Sebenernya, aku ngga pernah tau bahwa hal itu menimbulkan luka yang mendalam dan membentuk perilakuku selama ini. Yang aku tau, aku selalu ngga suka banget ama yang namanya ditraktir, berhutang, ato segala sesuatu yang menyangkut urusan duid.

Intinya kalo aku ada utang ama orang (misal urunan kado en belom sempet ketemu untuk bayar) tuh aku pasti ngga tenang. Meskipun orangnya bilang "ngga usa bayar toh cuma duid segitu", tetep aja aku berusaha bayar dengan cara apapun. Trus aku ngga suka ditraktir orang tanpa alasan, kecuali orang itu celebrate something seperti ulang tahun, dapet promosi, ato pindah rumah. Abis gitu, aku paling ngga suka ama orang yang mbulet untuk bayar utangnya ke aku, apalagi kalo ujungnya kabur tanpa alasan.

Beberapa waktu lalu, aku ngasi oleh-oleh ke satu temen lama, ngga ada maksud apa-apa sih. Tapi begitu dia terima oleh-oleh, dia nanya nomer rekeningku en bilang mau transfer duid. Langsung aku tersinggung berat. Lu kira gue gojek apa? Gue kaga butuh duid lu kali. Gue ngasi oleh-oleh karena nganggep lu temen. En aku jadi makin sensi karena orang itu akhirnya ngajak aku pergi buat makan bareng, seolah-olah mau "bayar utang". That's so awful!

Abis gitu, barusan ini ada temen yang bday en maksa-maksa mau nraktir makan. Pada dasarnya, aku ngga demen dipaksa, makin dipaksa aku tuh makin ngga mau lah ya. Belom lagi waktu itu aku lagi stress ama kerjaan kantor en sakit gigi, ditambah lagi hampir tiap hari dia chat en nanya, "Luc, kapan gigimu sembuh? Kapan kamu isa diajak makan bareng?" Itu bikin aku murka dah. Gue ngga butuh lu traktir, lagian ngga bisa makan tauk. Ngga ada pertanyaan laen apa, nyebelin banget.

Sekitar 2 minggu aku nolak ajakannya dengan berbagai alasan karena bosen njawab hal yang sama. En akhirnya kami malah debat en tengkar. Aslinya konyol sih tengkar cuma karena masalah sepele. Abis gitu aku pengen tau dari sisinya dia tuh gimana, eh dia ngomong hal-hal yang ngejudge aku en aku tersinggung pollll. Nah di saat kayak gitu, dia pikir uda keluarin uneg-uneg berarti uda beres. Tapi bagiku malah menimbulkan luka baru. Abis ngeluarin uneg-uneg, dia dengan entengnya ngajak aku pergi. Jelas aku marah besar lah ya, uda nyinggung orang dengan kata-katanya, ngga minta maaf, kok enak banget ngajak aku pergi seolah-olah ngga ada apa-apa. Akhirnya hubungan kami malah rusak karena aku juga sempet ngomong ngga enak. Dia bilang ngga akan ngajak aku keluar lagi, seolah-olah ngga mau bertemen lagi. Fiuhhh...

Nah pas begitu, aku baca buku "The Five Languages of Apology" en ada kalimat yang intinya bilang kalo banyak orang yang belom beres ama issue masa lalunya, jadi kalo hal itu diungkit, bakal bikin orang itu meledak padahal buat orang laen tuh biasa aja. Misal, orang yang papanya tuh kurang perhatiin dia pas kecil, nah orang ini pas uda nikah pasti bakal berusaha jadi papa yang baik buat anaknya. Kalo ada orang yang bilang dia kurang perhatiin anaknya ato musti sediain waktu lebih buat maen ama anaknya, orang ini bisa tersinggung beneran.

Waktu itu, Roh Kudus bukakan issue tentang masa laluku yang sering direndahkan ama big family. Aku kan yang paling kecil di antara para sepupu, tiap pergi bareng big family, kadang ada omongan "Wes kamu kubayari, kamu mana ada duid". Ternyata hal itu membekas di hatiku en melukai harga diriku sedemikian rupa. Makanya akhirnya aku sensi banget kalo nyangkut soal duid ato ditraktir. Disitu Roh Kudus pulihkan hati en harga diriku. Aku nangis en melepaskan pengampunan, aku mau issue ini dibereskan di idupku.

Trus malemnya pas di gereja, aku ditabok berkali-kali ama kotbahnya pak Sukirno. Intinya bahwa cowok en cewek itu beda pola pikirnya (salah satu faktor yang bikin aku tengkar ama temenku), trus soal relationship tuh lebih penting daripada hal yang kita ributin, soal cowok tuh ngga bisa nebak-nebak maksud kita sementara cewek tuh kadang kalo ngomong ngga to the point. En beberapa hal laen yang krusial sehingga ngga aku tulis disini.

Setelah itu, aku minta maaf ke temenku yang maksa nraktir. Tanggepannya singkat en dingin, padahal aslinya aku mau jelasin panjang lebar tentang issue ini, tapi kayaknya useless, dia mana mau ngerti. Beberapa hari kemudian, aku kontak dia lagi, merendahkan diri, ngajak dia pergi trus bilang mau nraktir dia, dia nolak en bilang ngga perlu. Aku bilang pengen selesaiin masalah, dia bilang uda selese. Ya udah lah kalo emang harus berakhir kayak gini. Ngga semua hal harus aku jelasin ke orang laen, ngga semua orang perlu ngerti apa yang terjadi di idupku, ngga semua hal perlu diklarifikasi. Mungkin emang ini jalan terbaik.

Aku bersyukur karena Roh Kudus bereskan satu bagian di hatiku, yang selama ini aku sendiri pun ngga pernah tau. Sekalipun sakit, hal itu perlu buat diberesin. En aku berdoa supaya Roh Kudus berkenan "mengoperasi" bagian-bagian hatiku yang laen, yang mungkin masih menyimpan issue masa lalu. Jadikan aku orang yang berkenan di hati-Mu, Bapa.

November 3, 2016

AYO HIDUP SEHAT

"Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita" (1 Tesalonika 5:23)


Bersyukur banged Tuhan pertemukan ama cewek luar biasa bernama Steph Muharto. Punya temen yang isa diajak have fun tuh gampang, punya temen yang bisa support dalam kerohanian tuh anugerah, tapi punya temen yang support dalam pola idup sehat tuh sebuah kesempatan langka! Impianku untuk punya pola idup sehat bukan lagi sejauh angan, tapi jadi kenyataan. Seperti yang pernah aku share, aku mulai rajin olahraga en efeknya terasa banged: badan ngga gampang capek, ngga gampang sakit sekalipun cuaca ngga menentu, body lebih shape (bye-bye lemak berlebih yang bercokol di lengan, paha, en betis).

Awal-awal emang aku fokus di angka timbangan, soalnya kapan ari kan beratku naek abis libur Lebaran, sampe baju en celanaku sempit semua. Abis gitu, pasang kawat gigi, uda masa bodoh ama angka timbangan. Karena akhirnya aku paham bahwa idup sehat tuh bukan soal berat badan, bukan bisa turun berapa kilo, en bukan soal bentuk badan uda kayak gitar Spanyol ato kaga. Tapi soal menjaga tubuh ini karena Tuhan uda menebusnya dengan harga yang mahal. Jadi, uda kewajiban kita untuk memuliakan Dia melalui tubuh.

Abis pasang braces dsb-nya, mau ngga mau pola makanku berubah. Soalnya emang susa makan sih, tapi Tuhan pake cara itu buat menetralisir keinginan dagingku akan makanan enak yang ngga sehat. Tapi akhirnya aku enjoy makan sayur, buah, en makanan berkuah karena selaen gampang dikunyah, juga punya dampak positif buat tubuh. Emang bener kalo keinginan daging tuh kuat, kadang emang perlu "dipaksa" sehingga akhirnya lebih memilih makanan yang bener-bener bermanfaat buat tubuh.

Pas bulan pertama, aku rajin banget olahraga (belom pasang braces dsb sih). Berat badanku sukses turun 3 kilo, rasanya hepi banged. Bulan Agustus, sempet naek sekilo karena mikir bentar lagi ngga bisa makan dengan nikmat kalo uda pasang braces, jadi agak rakus wekeke. Trus agak kendor olahraganya karena mulai pasang braces en sariawan gantian. Jadinya turun setengah kilo doank. September turun 1,5 kilo di tengah penderitaan cabut 4 gigi. Di bulan Oktober uda pasang kawat en beneran susa makan sampe lemes, jadi olahraganya juga ngga segiat Juli. Turun sekilo tapi beneran kurus ngenes, wakakaka.

Tapi ya aku beneran ngerasain dampak positifnya sih, badanku lebih seger. Banyak orang bilang badanku lebih bagus yang sekarang karena lebih proporsional en pipi lebih tirus. All glory to God! Dengan berjalannya waktu, berat badan ngga terlalu banyak turunnya tapi lemaknya diubah ke massa otot, jadi badan lebih padat. Lenganku mulai ada otot kecilnya en itu membanggakan sekaleee xD

Buat aku, perjalanan untuk idup sehat masih panjaaanggg. Apalagi buat bikin badan in shape, butuh bayar harga ekstra. Kapan ari direkomendasiin buat nyoba zumba, aku ngga isa ngikutin karena terlalu cepet en ada unsur dance-nya. Areobic en yoga juga kaga menarik buatku. Beberapa temen nyuru aku ikut fitness, lah akunya ngga demen begituan. Akhirnya olahraga sendiri di rumah, en bersyukurnya Tuhan kasi temen-temen yang juga kepengen kurus en bentuk badan. Jadi ya bikin semacem "taruhan" gitu buat memacu semangat. Trus kemaren aku iseng nyari video body combat di youtube, abis gitu nemu cardio kickboxing. Semalem nyobain en saia jatuh cinta pada pandangan pertama. Aaahhh, kickboxing ini keren pisan euy!

Intinya, mau sehebat apapun kerohanian kita, sebaik apapun kondisi psikologis kita, kita ngga akan bisa menjalani idup dengan maksimal kalo tubuh kita sakit-sakitan. Menjaga roh kita menyala-nyala tuh sangat penting, menjaga jiwa kita tetep sehat juga penting, tapi jangan abaikan "wadah"-nya alias tubuh. Karena tubuhlah yang menopang jiwa en rohmu. So, temukan jenis pola idup sehat yang cocok denganmu en jalani itu dengan penuh sukacita.

November 2, 2016

A MAN IN GOD'S MIND





Aku setuju banged dengan yang disampein ama Myles Munroe di video itu. Seorang pria tuh harus bisa ngerti apa yang Tuhan kehendaki di idupnya, sebelom dia berpikir bahwa dia butuh seorang wanita untuk mendampinginya. Harus diproses en dibentuk secara karakter, tau hal apa yang harus dilakukannya sebagai "kepala".

Makin lama aku menyadari bahwa jodoh tuh inisiatif Tuhan. Dia yang punya rencana, Dia yang mempertemukan, Dia yang bikin kisah cinta. Sebagai manusia, kitanya cuma kudu be the right one aja, tanpa perlu galau, agresif, atopun tebar pesona kanan kiri. Umur tuh cuma angka, ngga usa kepatok ama umur kalo kamu tau bahwa kamu belom jadi the right one, belom bisa tanggung jawab ama dirimu sendiri, belom bisa atur keuangan dengan baik, belom bisa mencintai Tuhan dengan segenap hati dalam situasi terburuk, belom isa hormati otoritas yang Tuhan taroh di idupmu.

Yang namanya pernikahan tuh ngga bisa cuma berdasarkan modal suka sama suka, uda umur, ngerasa butuh pasangan, ato tuntutan ortu. Banyak aspek yang perlu ditelaah: kedewasaan rohani, kematangan karakter, kemauan untuk saling memahami en mengalah, komitmen untuk menjaga perasaan pasangannya, kesabaran, hati yang mau mengampuni, kebijaksanaan dalam hal finansial, hikmat untuk mengatur prioritas, dsb. Makin lama nih daftar makin panjang deh, hehehe.

Jujur aja, sebenernya pas ngeliat temen-temen seumuran pada uda merid bahkan punya anak tuh kadang ya bikin kepengen. Tapi kepengen pun ngga berarti aku siap secara mental untuk melangkah kesana. Mama sih bilangnya aku masih banyak maunya, masih pengen kembangin diri, masih pengen menjelajah dunia, masih pengen belajar banyak hal dari berbagai macam kehidupan. Emang bener sih, tapi ya pikirku mumpung masih muda, tanggung jawab belom banyak, ya ayok explore segala sesuatu semaksimal mungkin.

Ditambah lagi fakta beberapa kali kenalan ama cowok yang nyatanya ngga kompeten dalam segala hal. Secara kerohanian, karakter, pengalaman, finansial, en kedewasaan masih di bawah standar. Aku ngga nyari yang muluk-muluk sih ya. Tapi aku ngga demen ama cowok kuper bin minder yang idupnya stagnasi en plonga plongo kalo diajak ngomong banyak topik. Aku suka cowok smart yang bisa nempatin diri, kembangin talentanya, en bisa nyambung ngomongin apapun, dari soal kerjaan, travelling, kehidupan sosial, kerohanian, kesehatan, sampe politik. Kriteria yang kayaknya gampang, tapi syusa bingits nemu orangnya, fiuhhh *tiup poni* 

Kalo dipikir-pikir, jodoh tuh ngga selalu orang yang mirip ato klop ama kita, isa handle kita sampe kondisi terburuk sekalipun, ato orang yang cocok banget ama kita. Tapi orang yang mungkin bertolak belakang ama kita, namun bisa saling menyesuaikan diri en saling memperlengkapi satu sama lain. Ngga mudah sih menemukan orang yang bisa kerjasama step by step dalam setiap perjalanan kehidupan.


Aku sempet belajar sesuatu pas nonton film Mandarin. Prinsipnya tuh pernikahan butuh 2 orang yang mau saling memahami, saling mengalah, en saling memberi waktu satu sama lain. Kalo yang 1 vokal alias bawel, yang 1 musti diem, kalo ngga gitu ya ribut mulu. Trus belajar juga soal hati yang mau mengampuni, karena hal ini penting banged. Ngga bisa kita idup bareng sama seseorang tapi kita inget terus kesalahan dia. Trus belajar juga soal diem tuh ngga selalu nyelesaiin masalah, kadang kita perlu berani untuk konfrontasi bukan untuk saling melukai, tapi supaya tau kemauan masing-masing pihak en cari jalan keluar.

Sedihnya, sempet denger cerita memilukan dari temen yang merid taon lalu en sedang hamil gede, ngga tau gimana intinya dia baru menemukan kalo dia menikah dengan orang yang salah en kemungkinan besar pernikahannya ngga bisa dipertahankan. Serem banged dengernya tapi jadi bersyukur pol karena aku masih single. Tapi ya aku ngga mau jadiin kisah-kisah buruk di sekelilingku sebagai suatu intimidasi yang bikin aku takut ama yang namanya relationship. Ngga semua berakhir tragis, tapi yang namanya kebahagiaan adalah sesuatu yang perlu diusahakan dua belah pihak. Butuh komitmen, kerelaan untuk "mematikan diri", kemauan untuk saling mengalah en saling menerima kekurangan, serta kedewasaan karakter. Ya namanya juga 2 orang dari background yang berbeda, ngga mungkin bisa cocok 100%.

Sampai hari ini aku tetep bergaul ama banyak orang, ngga menutup diri dari persahabatan ama lawan jenis, en tetep berjuang untuk menjadi the right one. Aku ngga mau biarkan omongan orang bikin aku terintimidasi, ngga mau biarkan diriku dikejar umur, ngga mau iri hati ama temen-temen yang uda merid. Aku tau kalo saat ini aku sedang ada di dalam rencana yang Tuhan mau bagiku. Apalagi beberapa waktu lalu Tuhan singkapkan, cowok kayak apa yang menurut Dia tuh pantas buat dapetin hatiku. Duh, melting banged pas dikasi tau begitu (rahasia, ngga akan aku share disini :p). Tuhan tuh sediain lebiiiihhhh dari yang kupikirkan. Entah dia sekarang ada dimana, aku ngga akan ganggu dia. Aku mau serahkan dia ke dalam tangan Tuhan supaya dia mengerjakan apa yang Tuhan mau di idupnya. Ntar kalo waktu-Nya tiba, pasti kami dipertemukan. Abis gitu ngga sengaja nemu tulisan pastor Jaeson Ma di SINI. Coba baca deh, bagus banged.


Intinya post ini apaan sih? Aku juga bingung kok nulisnya ngelantur, wkwkwkwk. Ya intinya a man in God's mind itu beneran ada buat aku, cuma ngga tau posisinya dia dimana (asal jangan di sisi cewek laen, plis). Abis gitu, ya kebenaran bahwa tuh cowok uda Tuhan sediain buat aku yang bikin aku damai sejahtera gitu lah ya. Aku percaya banged ama Bapaku kalo Dia pasti kasi yang terbaik di waktu yang tepat. Amen!