BAB 7: BAGAIMANA YESUS MENYELAMATKAN GREGG EUGENE HARRIS
("Bagaimana karya keselamatan yang diselesaikan di luar kota Yerusalem memberikan hidup yang baru bagi seorang anak muda di pantai California?")
1. Anugerah Allah, seperti yang dikatakan Jerry Bridges, adalah "kebaikan Tuhan yang ditunjukkan kepada orang yang tidak layak". Keselamatan bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan atau beli. Efesus 2:8-9 mengatakan, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri".
2. Tulang yang mati menjadi pasukan yang kuat dalam kisah Yehezkiel, itulah gambaran keselamatan yang dari Allah. "Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2:9). Keselamatan adalah kuasa supernatural Allah dalam jiwa manusia. Hanya Dia yang bisa memberikannya. Cara pandang keselamatan seperti ini membuat kita rendah hati.
3. Yesus mengatakan supaya seseorang diselamatkan dan jadi bagian dari Kerajaan-Nya, orang itu harus "dilahirkan kembali" (Yohanes 3:3). Kelahiran baru yang Yesus jelaskan disebut regenerasi. John Frame menulis regenerasi adalah "tindakan dari Allah yang berdaulat, yang memulai kehidupan rohani yang baru dalam kita". Dengan regenerasi, Tuhan memberi seseorang sifat baru, hati baru, dan kehidupan rohani baru.
4. Bertobat berarti berbalik dari sesuatu, menolaknya. Pertobatan yang sejati melibatkan suatu perasaan berdukacita karena melakukan dosa dan sudah menyakiti hati Tuhan. Tapi dukacita ini bukanlah dukacita tanpa harapan. Dukacita ini membuat kita berbalik dan percaya bahwa Yesus bisa mengampuni dosa kita dan dengan kematian-Nya menghapus rasa bersalah kita.
5. Iman dan pertobatan tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang bertobat, mereka tidak hanya sekedar berbalik dari dosa dan kelakuan buruk mereka; mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan ketuhanan-Nya. Mereka percaya kematian-Nya untuk menebus dosa mereka. Mereka percaya kalau Dia bisa menyelamatkan. Mereka berbalik kepada-Nya sebagai Raja dan mereka berbalik dari dosa serta pemerintahan dirinya sendiri.
6. Kita bisa dengan mudah salah berpikir karena kita diperintahkan untuk mempunyai iman. Tapi iman bukan dasar keselamatan kita. Keselamatan hanya bisa didapat oleh anugerah saja (lihat Efesus 2:8-10). Iman adalah saluran anugerah Allah. Jerry Bridges mengatakan, "iman adalah tangan yang menerima anugerah Allah dan Tuhan melalui Roh-Nya membuka tangan kita untuk menerima anugerah-Nya".
7. Aspek penting dari karya keselamatan Allah ini disebut pembenaran dan pengangkatan. Pembenaran memberi kita status baru. Pengangkatan memberi kita keluarga dan ayah yang baru. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa semua orang yang menerima Yesus, semua yang percaya kepada nama-Nya, "diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah". Roma 8:15-16 menggambarkan Roh Kudus sebagai "Roh yang menjadikan kamu Anak Allah", yang memampukan kita memanggil Allah sebagai Abba--istilah Ibrani yang menggambarkan keintiman dengan memanggil ayah kita papa. Ini adalah kombinasi dari keintiman dan rasa hormat.
BAB 8: TELAH DIUBAH, SEDANG DIUBAH, AKAN DIUBAH
("Pengudusan adalah kerja keras. Tapi itu kerja yang baik--hak istimewa mereka yang telah ditebus")
1. Hanya Injil Yesus Kristus yang menawarkan pengharapan riil bagi perubahan yang radikal dan kekal, karena hanya melalui iman di dalam Yesus hakikat seseorang bisa diubah. 2 Korintus 5:17 berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang".
2. Pengudusan tidak berakhir dengan pemutusan dramatis yang kita lakukan terhadap dosa saat kita pertama kali percaya--itu berlangsung seumur hidup kita. Semua itu berlangsung secara progresif, dan juga melibatkan upaya kita. Allah tidak membiarkan kita sendirian, Ia memberi kita Roh-Nya dan memampukan kita oleh Roh-Nya. Kekudusan bukanlah sesuatu yang opsional bagi orang percaya. Ibrani 12:14 berkata, "Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan".
3. Mengapa proses perubahan itu begitu sulit? Mengapa orang Kristen masih mesti bergumul dengan dosa? Analogi ini tidak sempurna, tapi kita bisa diandaikan seperti tahanan perang yang telah dibebaskan dari kurungan tapi masih ada di wilayah musuh. Kita memang telah diselamatkan--kita tidak lagi terkurung, tapi perang belum berakhir. Kita masih menunggu komandan kita untuk kembali dan menaklukkan musuh sepenuhnya. Dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, iblis, dan hati kita yang masih melantur kemana-mana itu masih mengancam kita. Justru melebihi sebelumnya, kita mesti berjaga-jaga.
4. Realitas yang sudah terjadi dan belum terjadi dari keselamatan ini menolong kita menempatkan semuanya pada perspektif yang tepat. Pertama, Allah telah mengubah kita. Saat kita percaya, kita diberi hidup baru, hasrat yang baru, dan identitas yang baru sebagai anak-anak Allah (Efesus 2:4-5, Yohanes 1:12). Kedua, saat kita menjalani kehidupan Kristen, kita tetap diubah. Saat kita bekerja sama dengan Roh Allah, berbalik menjauhi dosa, dan belajar menaati Firman Allah, kita sedang dijadikan serupa dengan gambar Allah dan dijadikan kudus (Kolose 3:8-10). Ketiga, orang Kristen menantikan kedatangan Yesus supaya bisa diubah sepenuhnya dan selamanya. Pada saat itulah kita dijadikan seperti Kristus dengan tubuh kemuliaan yang bebas dari dosa dan segala dampak yang merusaknya.
5. Walaupun seorang Kristen tidak lebih dibenarkan dari orang Kristen lainnya, sebagian orang Kristen lebih menyerupai Yesus. Mereka yang mendengarkan Firman Allah dan berusaha menaatinya di dalam kuasa Roh akan lebih menjadi seperti Dia. Mereka yang secara aktif mematikan dosa dan mengenakan perilaku Sang Juruselamat akan bertumbuh di dalam kekudusan. Mereka yang memberi perhatian kepada persekutuan dengan Allah melalui doa dan pembelajaran Firman-Nya akan lebih menyerupai Yesus Kristus. Filipi 2:12-13 mendesak kita, "kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya".
6. Mengakui dosa dan kesalahan kita memang menyengat keangkuhan kita, tapi jika kita tidak jujur untuk menyebut dosa apa adanya, kita tidak akan pernah menerima kuasa yang Allah sediakan untuk mengatasinya. 1 Yohanes 1:8-10 berkata, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita".
7. Pertumbuhan mesti didefinisikan dengan cara menjadi seperti Yesus. Hal itu mesti berakar di dalam hubungan kita dengan-Nya dan dibangun di atas keyakinan yang riil dan berakar pada Alkitab. Menjadi serupa dengan Yesus tidak terbatas pada hanya tidak melakukan yang salah. Keserupaan iru berkaitan dengan "melakukan" yang benar secara aktif. Keserupaan itu terkait dengan mengejar ketaatan. Roma 13:14 memerintahkan kita untuk menghindari daging, tapi hal itu diawali dengan "kenakanlah Tuhan Yesus Kristus".
8. Bagaimana kita menyapa Allah mengungkapkan bagaimana kita berpikir tentang Dia. Dan apa yang kita pikirkan tentang Dia membentuk cara kita berhubungan dengan-Nya. Bagaimana kita berhubungan dengan-Nya menentukan bagaimana kita menafsirkan karya-Nya di dalam diri kita serta maksud-Nya bagi kita.
9. Kekudusan bukanlah sekadar daftar aturan. Kekudusan berarti meniru Bapa saya (I Petrus 1:15-16). Ia penuh kasih, baik, suci, jujur, sabar, dan lembut. Dan karena saya adalah anak-Nya, saya ingin menjadi seperti-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Saya ingin bertumbuh di dalam penghormatan, pengenalan, dan apapun yang mendatangkan berkat bagi hati Bapa saya.
10. Pengudusan berarti kerja keras. Tapi itu adalah kerja yang baik. Kerja itu dimungkinkan oleh Roh Kudus. Kerja itu merupakan hak istimewa umat yang telah ditebus. Bekerja untuk menjadi seperti Bapa mereka merupakan kemuliaan besar anak-anak yang diangkat oleh Allah.
"Kalau gereja adalah pusat dari rencana Tuhan, seperti terlihat dalam sejarah dan Injil, gereja juga harusnya menjadi pusat dari hidup kita" (John Stott).
Menjadi orang Kristen berarti kita menjadi milik Tuhan dan milik satu sama lain, dan bersama-sama memenuhi tujuan Allah di bumi.
"Ada perbedaan antara memisahkan diri dan menguduskan diri. Isunya bukan peraturan yang memisahkan kita, tapi hati yang diserahkan" (John Piper)
"Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita" (II Timotius 1:13-14)
"Teologi yang rendah hati adalah teologi yang menundukkan diri kepada kebenaran Firman Allah" (Mark Denver)
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9)
