Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Manusia paling berhikmat yang pernah hidup alias Salomo menuliskan kata-kata di atas untuk kita. Mungkin beberapa peristiwa relevan bahkan sangat akrab dalam idup kita (misal waktu untuk menangis, waktu untuk membenci [ato lebih tepatnya dibenci tanpa alasan?], waktu untuk membiarkan rugi [ato dirugikan?]). Mungkin sebagian dari kita ngerasa kalo cuma sisi buruklah yang kerap mendatangi kehidupannya, sedangkan sisi baik seolah-olah kabur entah kemana.
Seringkali kehidupan yang kita jalani ngga mudah, musim-musim yang disebutkan oleh Salomo ngga sebegitu indahnya berganti dalam idup. Kalian ngerasa ngga sih kalo sometimes masa-masa buruk stay longer than the good one? Pepatah bilang kalo roda tuh terus berputar, tapi kok idup gue isinya jelekkkk mulu? Ada ngga yang ngedumel kayak gitu?
Keadaan bole aja menghimpit kita, kondisi ekonomi menurun, kesehatan terganggu, ato masalah bole datang bertubi-tubi. Tapi apapun yang kita alami, respon hati kita sangatlah menentukan apakah kita bakalan stay longer in that circumstances ato ngga. Kalo kita ngedumel, ngeluh, bersungut-sungut, ato marah-marah, ngga heran kalo keadaan kita ngga makin membaik. Tapi kalo kita memilih untuk tetep bersyukur, tetep percaya ama janji Tuhan sekalipun faktanya terus memburuk, aku yakin bahwa Tuhan bakal perhitungin iman kita. So, pilihan ada di tangan kita. Kita emang ngga berkuasa untuk nentuin apa yang akan terjadi dalam hidup, tapi kita berkuasa untuk control our respond in every situation.
Sebulan terakhir ini, aku ngalami yang namanya musim-musim baik. Aku beneran ngalami yang namanya kedatangan hal baik bertubi-tubi dalam hidup, setelah masa buruk terlewati selama beberapa bulan terakhir di kantor lama, struggling nyari kerjaan baru, dsb. En aku menyaksikan kalo Tuhan tuh berkuasa atas segala sesuatu. Sampe aku ngerti yang namanya "He turns my sorrow into dancing" tuh kayak apa. Di tempat kerja baru, aku ngalami banyak berkat Tuhan, banyak kemudahan en berkat melimpah. Aku tau dengan jelas bahwa semua ini jadi harvest time buat hidupku, semua hal baik yang aku tabur selama ini, menghasilkan sesuatu yang bisa aku tuai dengan sukacita.
So, apapun keadaanmu hari ini, percayalah bahwa Tuhan mampu mengubahkan setiap musim dalam hidupmu menjadi sesuatu yang indah. Jangan pesimis, jangan menyerah, jangan pernah takut. Tuhan mampu mengubahkan hari yang penuh tangisan menjadi sorak sorai. In every season, He is faithful. Amen.
