October 26, 2013

SILENCE


Hari-hari di bulan pertama kerja di kantor baru, aku masih belum ngerti apa yang jadi kehendak Tuhan bagiku di kantor ini. Aku terus berdoa, berdoa, en berdoa. En tetep aja nggak mudeng, apa sih visi yang Tuhan kasi buatku di kantor ini. Apa sih yang harus kulakuin supaya Kristus jadi nyata melalui hidupku.

Waktu itu masih masa-masa penyesuaian di kantor baru en aku capek banget secara fisik karena kerjaan di kantor baru ini banyak banget (sekalipun seniorku bantuin aku). Jadi waktu-waktu itu aku selalu tepar pas nyampe rumah, belum lagi kalo malemnya masih harus les mandarin. Hidup berasa kayak robot yang cuma gitu-gitu aja aktivitasnya. Fiuhhh.

Aku sempet juga nggak punya waktu untuk anak-anak rohaniku karena kecapekan. Trus ada seorang anggota CG yang protes ke aku, karena beberapa kali aku nggak bisa dateng pemasa karena aku pergi sama temen-temen untuk refreshing, trus sempet juga ada acara pernikahan temen. Dia bilang kalo aku harusnya bisa lakuin lebih, nggak cuma kayak gini doank. Aku tau aku bisa lakuin lebih, tapi aku tau batas kekuatanku, en aku tau batas-batas yang Tuhan tentuin untukku (karena aku bukan ketua CG).

Pas itu aku sempet baca sebuah tulisan en nemuin kata-kata yang menguatkan aku:
“Masalahnya bukan melakukan lebih banyak, melainkan ketaatan total. Berikanlah kepada Tuhan alasan untuk memberkati Anda! Patuhilah Dia sepenuhnya!” (Tommy Tenney, An Ultimate Comeback).
Aku baru nemuin apa yang harus kulakukan ketika aku baca Yohanes 15: 1-8 untuk persiapan SM (Saling Membangun) di pemasa. Jadi intinya, Tuhan pengen aku dieeemmmm aja di kantor ini (bukan berbuat banyak hal, tapi diam en membiarkan karakter Kristus yang nampak melalui kehidupanku). Biar orang lain ngeliat gimana sih anak Tuhan itu, gimana sih orang Kristen yang radikal itu. En hal itu nggak gampang buat diriku yang kolerik akut ini. Hahahaha. 

En inilah yang kupelajari:
Yohanes 15:1 --> Tuhanlah pokok kehidupanku, en Bapalah yang memiliki segala sesuatunya, dimana kita harus bertanggung jawab kepada Bapa, Sang Pengusaha.
Yohanes 15:2 --> Masa-masa yang sulit yang kualami di kantor, nggak berarti Dia meninggalkanku. Tapi inilah saat dimana Ia membersihkan hidupku dari hal-hal yang nggak berkenan kepada-Nya, supaya aku lebih banyak berbuah bagi-Nya.
Yohanes 15:3 --> Firman Tuhanlah yang membersihkan kita. Setiap kali kita membaca Firman-Nya, ada hal-hal yang Roh Kudus koreksi, ada hal-hal yang Roh Kudus tegur, serta ada hal-hal yang Roh Kudus singkapkan.
Yohanes 15:4; “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” --> I can do nothing without Christ. Inilah pelajaran berharga yang harus meresap dalam jiwaku, bahwa semua hal yang pernah kucapai di belakang, bukan karena aku hebat, tapi hanya karena Tuhan.
Yohanes 15:5 --> bagian kita adalah TINGGAL dan MELEKAT dengan Tuhan. Sebuah ranting nggak perlu berusaha untuk memperoleh nutrisi makanan, nggak perlu berusaha untuk bertumbuh. Bagiannya adalah tetap tinggal pada pokok sebuah pohon. Ranting hanya bertugas untuk menerima, menyerap, dan tetap melekat pada pohonnya.
Demikian juga dengan hidupku saat ini. Tuhan nggak pengen aku melakukan banyak hal. Dia mau aku diam en menerima apa yang Dia kerjakan dalam hidupku. Dari situlah, maka hidupku akan menghasilkan buah. Diperlukan sebuah kesetiaan untuk tetap melekat sama Tuhan, terutama saat aku nggak ngerti apa-apa.
Yohanes 15:6 --> Jikalau aku mulai nggak setia sama Tuhan atau mulai meninggalkan-Nya, maka hidupku nggak akan berguna lagi. Maka aku akan dicampakkan en menjadi kering. Aku butuh Tuhan.
Yohanes 15:7 --> Kalo kita melekat sama Tuhan, apapun yang jadi permintaan kita, keinginan kita akan diselaraskan dengan apa yang jadi kehendak Tuhan, sehingga ketika kita memintanya, maka hal itu akan dikabulkan.
Yohanes 15:8 --> Ketika hidup kita menghasilkan banyak buah, maka Bapa akan dipermuliakan. Setiap proses yang terjadi dalam kehidupan kita, mungkin nggak ada seorangpun yang perlu tau, itu merupakan rahasia antara kita dengan Tuhan. Namun setiap kali kita selesai diproses, buah-buahnya dapat terlihat en dinikmati (memberkati) banyak orang, sehingga Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita. Tapi jangan sampai kita menghasilkan buah yang pahit atau tawar. Setiap proses yang kita alami, seharusnya menghasilkan buah yang matang dan manis dalam hidup kita :D

Sekedar sharing:
Di halaman depan rumahku ada sebuah pohon mangga. Mama nanam pohon itu pas adekku masih bayi (sekarang dia berumur 20 tahun). Karena tanah di halaman cuma sedikit en jarang dipupuk, maka pohon mangga itu nggak berbuah. Bertahun-tahun pohon itu nangkring di depan rumah, malahan bikin kotor pas daun-daunnya berguguran. Berkali-kali aku bilang ke mama supaya tuh pohon ditebang aja, karena waktu itu sempet banyak semut merahnya en capek banget nyapu daun-daun yang rontok, tanpa pernah nikmati buahnya. Tapi mama nggak mau, katanya biarin deh supaya nyejukkin rumah.
Sekitar 1 atau 2 tahun lalu, mama sempet denger kotbah yang bilang bahwa ada kuasa dalam perkataan kita. Jika kita memperkatakan kehidupan untuk sesuatu yang mati, hal itu bisa hidup. En anehnya, mama praktek ke si pohon mangga. Tuh pohon didoain, diperkatakan yang baik-baik. Aku mikir, mama ada-ada aja deh.
Ternyata apa yang mama lakuin tuh menghasilkan suatu perubahan. Doa emang bener-bener punya kuasa yang dahsyat, bahkan atas sebuah pohon :P Mulai tahun lalu, tuh pohon berbuah. Buahnya banyak banget, sekali berbuah bisa sampai 100-an. Tapi buahnya harus cepetan dipanen sebelum diambil maling, jadi masih mangga muda gitu. Puji Tuhan!
Tapi tahun lalu, pohon itu nghasilin buah yang kecuuutt minta ampun en buahnya nggak enak. Jadi waktu kami bagi-bagi buahnya ke sodara-sodara, mereka protes. Hahaha. Tapi hal itu nggak bikin mama putus asa. En aku pun mulai ikutan berdoa buat tuh pohon, supaya buahnya enak en manis (sekalipun doaku nggak segencar doanya mama :p)
En tahun ini, pohon itu berbuah lagi en ngehasilin buah yang lumayan enak. Orang-orang yang kami bagiin buahnya, seneng en sering minta lagi. Hal ini keliatannya simple en nggak bermakna. Tapi aku belajar dari pohon mangga itu. Ketika pohon itu nggak berbuah, dia hanya bisa menyejukkan rumahku dengan kerindangan ranting-rantingnya. Tapi waktu dia berbuah banyak en manis, dia bisa menjadi berkat buat setiap orang yang memakannya.
Ajar aku untuk nggak sekedar jadi orang Kristen yang baik, Tuhan. Tapi aku mau jadi orang Kristen yang berbuah lebat en manis, supaya aku membawa dampak bagi setiap orang yang kutemui. Amin.


Oct 19, 2013

October 10, 2013

FORGIVE, FORGIVE, FORGIVE

Seminggu terakhir adalah hari-hari yang berat buat aku. Kenapa aku katakan berat? Karena aku harus menghadapi beberapa kejadian yang bikin aku sakit ati, kecewa, en  sempet pahit hati. Jumat lalu (20 September 2013) ada 2 kejadian yang bikin hari itu menjadi a tragedy Friday. Aku nggak akan cerita secara detail karena terlalu panjang :P


KEJADIAN PERTAMA
Di hari itu, rencananya aku mengajukan resign ke boss. Aku udah berdoa berminggu-minggu untuk hal ini en ngerasa damai sejahtera. Aku tau bahwa aku udah finishing well semua misi yang Tuhan suruhkan: kenalkan boss ke sebuah connect group (walopun dia belum sempet dateng trus karena sibuk), aku menemukan beberapa kesalahan pada sistem komputerisasi perusahaan, en aku jadi berkat buat rekan-rekan kerja yang belum kenal Tuhan.     

Hari itu, aku tau kalo boss lagi nggak enak hati. Secara manusia, itu bukanlah waktu yang tepat untk ngajuin resign. Aku berdoa, berdoa, en berdoa. Tuhan kasi aku tanda bahwa inilah waktuku untuk ngomong. En seperti biasa, aku ngomong dengan amat jujur (karena aku tau bahwa Tuhan ingin aku nyadarin bossku akan kebenaran) bahwa aku nggak cocok dengan perusahaan ini karena perusahaan ini nggak jujur dalam pelaporan pajak. Aku tau bahwa banyak banget perusahaan yang melakukan hal itu, tapi bagiku hal itu tetep nggak bener. Si boss rada ngamuk dengan kejujuranku, en I don’t care. Aku bilang kalo itu nggak seharusnya dilakukan. Dia ambil keputusan bahwa aku baru boleh resign 1 bulan lagi, karena dia mau nyari orang untuk nggantiin aku. Aku bilang nggak bisa karena aku udah deal dengan perusahaan lain en akan mulai kerja 1 Oktober. Si boss nggak mau tahu en minta aku nunggu 1 bulan, lalu dia pergi.      

Aku langsung galau. Gimana nih? Rekan kerjaku sempet kasi 2 saran, yaitu untuk ngabarin perusahaan baru untuk mundurin tanggal masukku atau untuk keluar aja dari perusahaan ini tanpa seijin boss. Aku bilang kalo aku mau keluar dengan cara baik-baik. Tapi aku juga nggak bisa nunggu 1 bulan, karena aku udah tandatangan kontrak dengan perusahaan baru. Akhirnya aku berdoa di jam makan siang, lalu BBMan sama mami rohaniku, en telpon mamaku. Anehnya, di saat galau kayak gitu, damai sejahtera yang sempurna turun atasku. En Tuhan kasi aku surprise, tiba-tiba boss sms en acc pengajuan resign-ku. Puji Tuhan!

Tapi sejujurnya, aku rada sakit hati sama sms si boss, karena walopun kata-katanya diperhalus, tapi sebenernya cukup kasar. Dia bilang kalo mulai besok aku nggak wajib untuk dateng ke kantor ini lagi. Aku ngerasa diusir. WHAT? Sebulan penuh aku do my very best dengan ketaatan sama Tuhan, sebulan penuh aku nabur doa buat pertobatan orang-orang yang ada di kantor ini, sebulan penuh aku kerja mati-matian, ujungnya cuma kayak gini? Hikss.

KEJADIAN KEDUA
Malemnya, aku ke menara doa. Tiba-tiba pemimpin yang cowok nanya ke aku, apa ada hal yang perlu aku omongkan ke dia (karena aku sempet ngajuin complain ke pemimpinku yang cewek tentang pemimpin yang cowok ini). Aku bilang kalo itu udah nggak penting lagi, karena sejujurnya selama ini aku diem aja soalnya aku tau orang ini nggak mau terima saran maupun kritik.       

Tapi dia maksa en aku bilang keberatan-keberatan yang ada di hatiku tentang kepemimpinannya yang semaunya sendiri. Dia langsung nanggepi dengan kata-kata: “Berarti selama ini kamu percuma ngelayani di tempat ini, Luc. Kalo kamu nggak cocok sama saya, berarti kamu nggak tunduk sama saya, kamu boleh kok keluar dari menara ini”. Whoa, respon macam apa pula itu. Aku jawab: “Sebenernya udah lama aku pengen keluar dari menara ini ko, tapi tiap kali aku doa, Tuhan selalu bilang kalo Dia masih mau aku ada di sini. Gimana aku bisa tunduk kalo pemimpinnya aja nggak kasi teladan yang baik? En pemimpin macem apa yang segampang itu nyuruh aku keluar dari tempat ini tanpa berusaha selesaiin masalah?” Dia tetep ngeyel en nggak ngerasa dia salah.         

Trus aku dihakimi dengan sangat keras. Dibilang kepahitan lah, dibilang aku bawa atmosfer nggak enak ke menara ini dengan sikapku lah, dia bilang kalo semua orang nggak ada masalah dengan kepemimpinan dia lah, dia bilang kalo semua hal yang aku bilang tuh cuma perasaanku doank en aku perlu untuk beresin hatiku. Semua hal yang dia bilang SALAH BESAR. Aku tau kalo aku perlu beresin hatiku, tapi pliss deh nggak usah menghakimi orang. Groar...          

Dia tau nggak sih, bahwa konflik en ketidakcocokan tuh hal yang biasa terjadi? Dia ngerti nggak sih tugas seorang pemimpin tuh sebenernya gimana? Dia paham hati Tuhan nggak sih bahwa Dia peduli dengan perasaan setiap manusia, tanpa perlu menghakimi? Dia ngerti nggak sih di tim menara ini uda berapa banyak orang yang mulai ngilang karena modelannya dia yang semaunya sendiri.         
Dari 2 kejadian itu, aku dongkol banget. Sakit hati karena diperlakukan dengan begitu kerasnya. Mangkel abis karena diusir en dihakimi. Kecewa dengan respon orang yang nggak isa menerima teguran. Tapi aku tau kalo itu bagianku untuk ngomong apa yang bener, sekalipun nggak diterima.

En aku belajar untuk MENGAMPUNI. Aku tau bahwa mereka adalah manusia yang nggak sempurna. Aku ngerti bahwa posisi mereka di “atasku” sehingga mereka ngerasa bener en pengen menang sendiri. Aku tau kalo mereka bukanlah orang-orang yang biasa dikritik, mereka terlalu sering dipuji orang, sekalipun pujian-pujian itu hanyalah pujian palsu.       

Mata pelajaran yang paling sulit dalam kekristenan adalah mengampuni. En aku benci banget sama hal ini, tapi aku tau bahwa aku membutuhkannya. Aku tau bahwa hatiku perlu dihancurkan sekali lagi, supaya aku nggak menjadi seperti mereka ketika aku berada di posisi puncak. Aku tau bahwa aku butuh kasih karunia-Nya sekali lagi untuk memberiku kekuatan untuk mengampuni. Sekalipun sakit.       

Berhari-hari aku berdoa untuk hal ini, agar hatiku mau mengampuni mereka. Aku berdoa menyerahkan setiap kepingan hatiku yang diremukkan oleh kata-kata kasar mereka, ke dalam tangan Tuhan. Aku tau bahwa nggak ada seorang manusia pun yang bisa menolongku dalam hal ini, aku butuh Roh Kudus.         

En Tuhan kasi aku sebuah pewahyuan yang membuatku mampu mengampuni mereka: "Mereka bukanlah orang-orang terpenting dalam hidupmu, jadi kamu nggak perlu masukkan ke hati setiap perkataan mereka. Yang penting kamu udah ngomong apa yang benar, itu sudah cukup. Respon mereka adalah urusan mereka dengan-Ku. Aku tau apa yang kamu kerjakan, Aku melihat dan memperhitungkannya, Luc".

Sampai saat ini, aku belum paham apakah maksud Tuhan dengan mengijinkan tragedi ini terjadi. Mungkin ini memang ujian agar aku belajar untuk lebih lagi tunduk pada otoritas Tuhan, sekalipun hatiku disakiti oleh pemimpin yang berada di atasku. Mungkin ini adalah sebuah latihan untuk memperkuat ketahanan hatiku akan konflik. Satu hal yang aku tahu dan percaya, bahwa ketika aku menaruh setiap hal ke dalam tangan Tuhan, maka Dia sangup membuat a tragedy turns out for good.

“Berkatilah siapa yang menganiaya (menyakiti) kamu, BERKATILAH DAN JANGAN MENGUTUK” (Roma 12:14).

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, AMPUNILAH DAHULU sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu).


Kau menanggung kutuk dosaku, betapapun besarnya itu
Sehingga Bapa di surga memalingkan wajah dari-Mu

Kau lunasi hutang dosaku, betapapun mahalnya itu
Tak pernah sekali jua Kau mengungkit lagi masa lalu

Reff: 
Mengampuni dan melupakanItulah yang Engkau ajarkan supaya
Ku kan mengampuni
Mengampuni dan melupakan
Itulah yang Engkau lakukan supaya
Ku kan mengampuni dan melupakan
(Mengampuni dan Melupakan, Jonathan Prawira)

Sept 30, 2013