October 10, 2013

FORGIVE, FORGIVE, FORGIVE

Seminggu terakhir adalah hari-hari yang berat buat aku. Kenapa aku katakan berat? Karena aku harus menghadapi beberapa kejadian yang bikin aku sakit ati, kecewa, en  sempet pahit hati. Jumat lalu (20 September 2013) ada 2 kejadian yang bikin hari itu menjadi a tragedy Friday. Aku nggak akan cerita secara detail karena terlalu panjang :P


KEJADIAN PERTAMA
Di hari itu, rencananya aku mengajukan resign ke boss. Aku udah berdoa berminggu-minggu untuk hal ini en ngerasa damai sejahtera. Aku tau bahwa aku udah finishing well semua misi yang Tuhan suruhkan: kenalkan boss ke sebuah connect group (walopun dia belum sempet dateng trus karena sibuk), aku menemukan beberapa kesalahan pada sistem komputerisasi perusahaan, en aku jadi berkat buat rekan-rekan kerja yang belum kenal Tuhan.     

Hari itu, aku tau kalo boss lagi nggak enak hati. Secara manusia, itu bukanlah waktu yang tepat untk ngajuin resign. Aku berdoa, berdoa, en berdoa. Tuhan kasi aku tanda bahwa inilah waktuku untuk ngomong. En seperti biasa, aku ngomong dengan amat jujur (karena aku tau bahwa Tuhan ingin aku nyadarin bossku akan kebenaran) bahwa aku nggak cocok dengan perusahaan ini karena perusahaan ini nggak jujur dalam pelaporan pajak. Aku tau bahwa banyak banget perusahaan yang melakukan hal itu, tapi bagiku hal itu tetep nggak bener. Si boss rada ngamuk dengan kejujuranku, en I don’t care. Aku bilang kalo itu nggak seharusnya dilakukan. Dia ambil keputusan bahwa aku baru boleh resign 1 bulan lagi, karena dia mau nyari orang untuk nggantiin aku. Aku bilang nggak bisa karena aku udah deal dengan perusahaan lain en akan mulai kerja 1 Oktober. Si boss nggak mau tahu en minta aku nunggu 1 bulan, lalu dia pergi.      

Aku langsung galau. Gimana nih? Rekan kerjaku sempet kasi 2 saran, yaitu untuk ngabarin perusahaan baru untuk mundurin tanggal masukku atau untuk keluar aja dari perusahaan ini tanpa seijin boss. Aku bilang kalo aku mau keluar dengan cara baik-baik. Tapi aku juga nggak bisa nunggu 1 bulan, karena aku udah tandatangan kontrak dengan perusahaan baru. Akhirnya aku berdoa di jam makan siang, lalu BBMan sama mami rohaniku, en telpon mamaku. Anehnya, di saat galau kayak gitu, damai sejahtera yang sempurna turun atasku. En Tuhan kasi aku surprise, tiba-tiba boss sms en acc pengajuan resign-ku. Puji Tuhan!

Tapi sejujurnya, aku rada sakit hati sama sms si boss, karena walopun kata-katanya diperhalus, tapi sebenernya cukup kasar. Dia bilang kalo mulai besok aku nggak wajib untuk dateng ke kantor ini lagi. Aku ngerasa diusir. WHAT? Sebulan penuh aku do my very best dengan ketaatan sama Tuhan, sebulan penuh aku nabur doa buat pertobatan orang-orang yang ada di kantor ini, sebulan penuh aku kerja mati-matian, ujungnya cuma kayak gini? Hikss.

KEJADIAN KEDUA
Malemnya, aku ke menara doa. Tiba-tiba pemimpin yang cowok nanya ke aku, apa ada hal yang perlu aku omongkan ke dia (karena aku sempet ngajuin complain ke pemimpinku yang cewek tentang pemimpin yang cowok ini). Aku bilang kalo itu udah nggak penting lagi, karena sejujurnya selama ini aku diem aja soalnya aku tau orang ini nggak mau terima saran maupun kritik.       

Tapi dia maksa en aku bilang keberatan-keberatan yang ada di hatiku tentang kepemimpinannya yang semaunya sendiri. Dia langsung nanggepi dengan kata-kata: “Berarti selama ini kamu percuma ngelayani di tempat ini, Luc. Kalo kamu nggak cocok sama saya, berarti kamu nggak tunduk sama saya, kamu boleh kok keluar dari menara ini”. Whoa, respon macam apa pula itu. Aku jawab: “Sebenernya udah lama aku pengen keluar dari menara ini ko, tapi tiap kali aku doa, Tuhan selalu bilang kalo Dia masih mau aku ada di sini. Gimana aku bisa tunduk kalo pemimpinnya aja nggak kasi teladan yang baik? En pemimpin macem apa yang segampang itu nyuruh aku keluar dari tempat ini tanpa berusaha selesaiin masalah?” Dia tetep ngeyel en nggak ngerasa dia salah.         

Trus aku dihakimi dengan sangat keras. Dibilang kepahitan lah, dibilang aku bawa atmosfer nggak enak ke menara ini dengan sikapku lah, dia bilang kalo semua orang nggak ada masalah dengan kepemimpinan dia lah, dia bilang kalo semua hal yang aku bilang tuh cuma perasaanku doank en aku perlu untuk beresin hatiku. Semua hal yang dia bilang SALAH BESAR. Aku tau kalo aku perlu beresin hatiku, tapi pliss deh nggak usah menghakimi orang. Groar...          

Dia tau nggak sih, bahwa konflik en ketidakcocokan tuh hal yang biasa terjadi? Dia ngerti nggak sih tugas seorang pemimpin tuh sebenernya gimana? Dia paham hati Tuhan nggak sih bahwa Dia peduli dengan perasaan setiap manusia, tanpa perlu menghakimi? Dia ngerti nggak sih di tim menara ini uda berapa banyak orang yang mulai ngilang karena modelannya dia yang semaunya sendiri.         
Dari 2 kejadian itu, aku dongkol banget. Sakit hati karena diperlakukan dengan begitu kerasnya. Mangkel abis karena diusir en dihakimi. Kecewa dengan respon orang yang nggak isa menerima teguran. Tapi aku tau kalo itu bagianku untuk ngomong apa yang bener, sekalipun nggak diterima.

En aku belajar untuk MENGAMPUNI. Aku tau bahwa mereka adalah manusia yang nggak sempurna. Aku ngerti bahwa posisi mereka di “atasku” sehingga mereka ngerasa bener en pengen menang sendiri. Aku tau kalo mereka bukanlah orang-orang yang biasa dikritik, mereka terlalu sering dipuji orang, sekalipun pujian-pujian itu hanyalah pujian palsu.       

Mata pelajaran yang paling sulit dalam kekristenan adalah mengampuni. En aku benci banget sama hal ini, tapi aku tau bahwa aku membutuhkannya. Aku tau bahwa hatiku perlu dihancurkan sekali lagi, supaya aku nggak menjadi seperti mereka ketika aku berada di posisi puncak. Aku tau bahwa aku butuh kasih karunia-Nya sekali lagi untuk memberiku kekuatan untuk mengampuni. Sekalipun sakit.       

Berhari-hari aku berdoa untuk hal ini, agar hatiku mau mengampuni mereka. Aku berdoa menyerahkan setiap kepingan hatiku yang diremukkan oleh kata-kata kasar mereka, ke dalam tangan Tuhan. Aku tau bahwa nggak ada seorang manusia pun yang bisa menolongku dalam hal ini, aku butuh Roh Kudus.         

En Tuhan kasi aku sebuah pewahyuan yang membuatku mampu mengampuni mereka: "Mereka bukanlah orang-orang terpenting dalam hidupmu, jadi kamu nggak perlu masukkan ke hati setiap perkataan mereka. Yang penting kamu udah ngomong apa yang benar, itu sudah cukup. Respon mereka adalah urusan mereka dengan-Ku. Aku tau apa yang kamu kerjakan, Aku melihat dan memperhitungkannya, Luc".

Sampai saat ini, aku belum paham apakah maksud Tuhan dengan mengijinkan tragedi ini terjadi. Mungkin ini memang ujian agar aku belajar untuk lebih lagi tunduk pada otoritas Tuhan, sekalipun hatiku disakiti oleh pemimpin yang berada di atasku. Mungkin ini adalah sebuah latihan untuk memperkuat ketahanan hatiku akan konflik. Satu hal yang aku tahu dan percaya, bahwa ketika aku menaruh setiap hal ke dalam tangan Tuhan, maka Dia sangup membuat a tragedy turns out for good.

“Berkatilah siapa yang menganiaya (menyakiti) kamu, BERKATILAH DAN JANGAN MENGUTUK” (Roma 12:14).

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, AMPUNILAH DAHULU sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”. (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu).


Kau menanggung kutuk dosaku, betapapun besarnya itu
Sehingga Bapa di surga memalingkan wajah dari-Mu

Kau lunasi hutang dosaku, betapapun mahalnya itu
Tak pernah sekali jua Kau mengungkit lagi masa lalu

Reff: 
Mengampuni dan melupakanItulah yang Engkau ajarkan supaya
Ku kan mengampuni
Mengampuni dan melupakan
Itulah yang Engkau lakukan supaya
Ku kan mengampuni dan melupakan
(Mengampuni dan Melupakan, Jonathan Prawira)

Sept 30, 2013



           

No comments: