"Kalo kamu nggak cocok sama saya,
berarti kamu nggak tunduk sama saya. Berarti percuma selama ini kamu melayani
disini. Kamu boleh keluar dari sini."
"Aku ngerti maksudmu Luc, tapi aku
butuh pemimpin yang cowok di menara ini. Aku nggak bisa mimpin menara ini
sendirian"
"Kamu di-off-in gara-gara kamu
sering bolos menara atau karena konflik sama pemimpin yang cowok, Luc?"
"Sudahlah, terima aja. Toh kamu
nggak bisa ngapa-ngapain kalo udah di-off gini. Kalo nggak ada kesepakatan, out
aja. Toh doa butuh kesepakatan".
"Maukah kamu memberi mereka
kesempatan sekali lagi untuk menjadi pemimpin yang baik? Maukah kamu lakukan
hal itu bukan karena takut sama mereka, tapi karena kamu mengasihi Tuhan?"
Sewaktu keputusan untuk off dikeluarkan,
jujur aja, aku sempet saket hati. Bahkan sempet jadi pahit hati sama pemimpin
yang cowok. Apa-apaan sih, ak negur untuk kebaikan kok malah jadi kayak begini?
Dia ngomong kayak apa sih ke pemimpin di atasnya? Dia ngomong dengan cara apa
sampe-sampe keluar keputusan untuk meng-off-kan aku, tanpa ada usaha untuk
mendamaikan dari departemen doa?
Aku sempet dongkol, bahkan mungkin ada perasaan nyesel karena ngomongin kebenaran. Aku mikir, mungkin lebih baik diem aja sekalipun diperlakukan nggak adil. Mungkin, sekalipun aku tau mana yang bener en mana yang salah, lebih baik pura-pura nggak tau. Mungkin, lebih baik biarin aja walopun aku tau betapa nggak benernya kepemimpinan seorang pemimpin. Mungkin, lebih baik aku diam aja ngeliat orang-orang yang nggak setia en nggak berkomitmen dikasi kesempatan melayani en memimpin, sementara orang-orang yang setia selalu diremehkan en nggak pernah digubris. Mungkin, lebih baik aku tutup mata ngeliat fulltimer doa selalu sharing "aku, aku, dan aku" tanpa pernah memuliakan nama Yesus dalam hidupnya.
Aku sempet dongkol, bahkan mungkin ada perasaan nyesel karena ngomongin kebenaran. Aku mikir, mungkin lebih baik diem aja sekalipun diperlakukan nggak adil. Mungkin, sekalipun aku tau mana yang bener en mana yang salah, lebih baik pura-pura nggak tau. Mungkin, lebih baik biarin aja walopun aku tau betapa nggak benernya kepemimpinan seorang pemimpin. Mungkin, lebih baik aku diam aja ngeliat orang-orang yang nggak setia en nggak berkomitmen dikasi kesempatan melayani en memimpin, sementara orang-orang yang setia selalu diremehkan en nggak pernah digubris. Mungkin, lebih baik aku tutup mata ngeliat fulltimer doa selalu sharing "aku, aku, dan aku" tanpa pernah memuliakan nama Yesus dalam hidupnya.
Mungkin...mungkin...dan mungkin. Tapi. semua sudah telanjur, semua sudah terjadi. Sampai di satu titik, aku muak. Muak dengan ketidakadilan yang harus kuterima. Muak dengan pandangan menghakimi dari para fulltimer yang hanya mendengar dari satu pihak. Muak dengan sikap sinis dari pemimpin yang cowok, yang merasa menang. Muak dengan keputusan sepihak untuk meng-off-kan diriku padahal ketua departemen doa nggak pernah tau kasus sebenarnya dari sisiku. Aku sudah kenyang dengan sikap pilih kasih para pemimpin, kenyang dengan pandangan meremehkan dari para fulltimer doa, kenyang dengan asumsi-asumsi ngawur dari rekan-rekan satu tim.
Bagiku, kebenaran adalah kebenaran. Perlu ada orang yang menegakkan kebenaran ketika segala sesuatu telah jauh menyimpang dari kehendak Tuhan. Butuh seseorang untuk menyadarkan agar orang-orang kembali ke hati Tuhan, bukan sibuk dengan agenda pribadi mereka agar nama mereka semakin berkibar. Sekalipun konsekuensi yang harus aku terima begitu menyakitkan. Bagiku, kebenaran tetaplah kebenaran yang perlu kutegakkan. Sekalipun akhirnya aku di-off-kan.
Sampai di satu titik, aku menyadari bahwa diriku kepahitan. Bahkan aku berusaha menyangkali bahwa aku marah, kecewa, dan kepahitan. Aku selalu bilang ke setiap orang "I'm fine, I can handle it myself". Tapi di dalam hatiku, aku tau bahwa hatiku perlahan-lahan menjadi tawar. Begitu tawar hingga aku memutuskan untuk keluar dari departemen doa. Begitu tawar hingga aku nggak pengen masuk dalam dunia pelayanan. Begitu tawar hingga aku mengasingkan diri dari tim menara doa. Begitu tawar hingga air mata membanjiri bantalku beberapa malam. Begitu tawar hingga aku nggak kuat lagi untuk menangis.
Aku nggak butuh belas kasihan. Nggak butuh dinasehati dengan jutaan kalimat sok tau dari orang-orang yang merasa lebih senior. Nggak perlu dipeluk erat seperti anak kecil. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan hatiku. Aku hanya butuh waktu untuk berduka. Aku hanya butuh waktu dengan Tuhan. Itu saja.
"Ada waktu untuk menangis, ada
waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari"
(Pengkotbah 3:4).
Sampai di satu titik, aku nggak kuat lagi. Aku berdoa en nanya ke Tuhan, "kenapa Ia mengijinkan aku diperlakukan sedemikian nggak adil? Kenapa Dia diam saja saat pemimpinku menjelek-jelekkan aku di depan ketua departemen? Kenapa Dia seolah tak membela saat para fulltimer memandangku dengan tatapan menghakimi?" Aku sadar itu pertanyaan kekanak-kanakan. Aku tau kalo nggak seharusnya aku nanya kayak gitu. Aku paham bahwa Dia sedang merancangkan sesuatu yang lebih besar untukku ke depan. Tapi aku butuh jawaban, rencana apa yang Dia sedang goreskan saat ini. Aku nggak hanya butuh tau bahwa Dia punya rencana, tapi aku butuh tau APA rencana-Nya.
Dan jawaban-Nya selalu mengejutkanku. Dia menjelaskan, bahwa ada 4 level dalam pengenalan akan Dia. Level pertama, adalah level anak. Dimana kita akan mengenal Tuhan sebagai Bapa yang baik, Bapa yang menjawab doa, Bapa yang mengerti dan memenuhi setiap kebutuhan kita. Dimana kita belajar betapa luar biasanya kasih-Nya kepada kita, dimana kita nggak perlu khawatir dengan seluruh hidup kita. Level kedua, adalah level hamba. Dimana kita perlu belajar menundukkan diri di bawah otoritas-Nya, sekalipun kita nggak paham, sekalipun kita merasa sakit. Dimana kita perlu menaati setiap kehendak-Nya karena Dia adalah tuan atas hidup kita. Di level ketiga, adalah level sahabat. Yohanes 15:15 mengatakan: "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku". Dimana kita belajar untuk mengerti dengan apa yang Tuhan lakukan di hidup kita, dimana kita belajar bahwa sebagai sahabat, Tuhan akan berbagi rencana-Nya dalam hidup kita. Dimana kita belajar, bahwa kita tidak hanya menjalani kehidupan kita tanpa mengetahui apa maksud-Nya, namun Dia berbagi isi hati-Nya kepada kita. Dan di level keempat, yaitu level mempelai. Dimana hati-Nya dan hati kita menjadi satu, dimana kehendak-Nya dan kehendak kita selaras, dimana pikiran-Nya menjadi pikiran kita.
Tuhan berkata bahwa ini adalah kenaikan level dalam pengenalanku akan pribadi-Nya. Sekalipun cara-Nya di luar akal manusia. Inilah cara-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia mau aku mengenal hati-Nya, pikiran-Nya, kehendak-Nya. Bukan dengan cara manusia, bukan dengan pertimbangan manusia, bukan dengan promosi yang datang dari manusia. Penurunan yang dari Tuhan akan membawaku naik ke tempat yang jauh lebih tinggi, lebih daripada yang bisa manusia rancangkan atasku.
Aku paham. Aku nggak bisa mengontrol segala sesuatu yang terjadi di sekitarku, aku nggak bisa menduga respon sesamaku, aku nggak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di depan. Tapi asalkan aku hidup benar di hadapan-Nya, Dia yang akan membawaku ke level yang lebih dalam untuk mengenal Dia. Sekalipun hal ini menyakitkan secara daging, aku tau bahwa ada kemuliaan besar yang menanti di depanku.
Jika peremukkan hati adalah satu-satunya jalan agar aku bisa masuk ke level yang lebih dalam untuk mengenal Kristus, aku mau hatiku diremukkan hingga tak berbentuk lagi. Jika kehancuran hati adalah satu-satunya cara agar aku mengerti tujuan-tujuan-Nya yang mulia dalam hidupku, aku bersedia hatiku dihancurkan hingga tiap kepingnya tak dapat disatukan lagi. Jika memang semua rasa sakit, penghakiman, dan penderitaan adalah jalan yang harus kutempuh untuk mencapai rencana-Nya yang lebih mulia, aku nggak akan protes maupun mengasihani diriku.
GOD'S PURPOSE IS ALWAYS GREATER THAN THE
PAIN WE GO THROUGH, BUT WE DON'T USUALLY UNDERSTAND IT DURING PAIN. CLARITY
COMES LATER...
I
thought I did what's right
I
thought I had the answers
I
thought I chose the surest road
But that
road brought me here
So I put
up a fight
And told
You how to help me
Now just
when I have given up
The
truth is coming clear
Reff:
You know
better than I
You know
the way
I've let
go the need to know why
For you
know better than I
If this
has been a test
I cannot
see the reason
But
maybe knowing I don't know
Is part
of getting through
I've
tried to do what's best
And
faith has made it easy
To see the
best thing I can do
Is put
my trust in You
Reff:
For You
know better than I
You know
the way
I've let
go the need to know why
For You
know better than I
I saw
one cloud and thought it was a sky
I saw a
bird and thought that I could follow
But it
was You who taught that bird to fly
If I let
You reach me will You teach me
Reff:
For You
know better than I
You know
the way
I've let
go the need to know why
I'll
take what answers You supply
You know
better than I
NB: Di
akhir Februari, memang aku memutuskan untuk keluar dari pelayanan. Kenapa harus
keluar? Karena aku udah nggak pengen berada di tempat yang bikin aku nggak
nyaman dengan segala hal yang menyimpang, en kesibukanku dalam bekerja nggak
memungkinkan untuk aku melayani di hari Jumat. Tapi hal itu nggak berarti aku keluar dari
rencana Tuhan. Aku tau bahwa Tuhan sedang mengarahkanku ke hal-hal yang jauh
lebih besar. Untuk belajar terbang, dibutuhkan tempat yang tinggi dan
keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Yang jelas, aku memastikan
bahwa hatiku berpaut pada Tuhan, bahwa aku akan terus berjalan selaras dengan
kehendak-Nya.
Eniwe,
nggak perlu takut masuk ke dalam sebuah pelayanan jika Tuhan memang yang memanggil.
Kisah kelamku ini hanya satu di antara kisah manis yang pernah kulewati selama
aku melayani Tuhan. Nggak semua pemimpin di menara doa seperti yang aku temui
ini. Pemimpin yang baik en bener-bener berfokus sama Tuhan tuh masih ada, tapi emang
bener-bener langka en patut diacungi jempol.