March 31, 2014

BITTER OR BETTER


      "Kalo kamu nggak cocok sama saya, berarti kamu nggak tunduk sama saya. Berarti percuma selama ini kamu melayani disini. Kamu boleh keluar dari sini."
       "Aku ngerti maksudmu Luc, tapi aku butuh pemimpin yang cowok di menara ini. Aku nggak bisa mimpin menara ini sendirian"
       "Kamu di-off-in gara-gara kamu sering bolos menara atau karena konflik sama pemimpin yang cowok, Luc?"
       "Sudahlah, terima aja. Toh kamu nggak bisa ngapa-ngapain kalo udah di-off gini. Kalo nggak ada kesepakatan, out aja. Toh doa butuh kesepakatan".
       "Maukah kamu memberi mereka kesempatan sekali lagi untuk menjadi pemimpin yang baik? Maukah kamu lakukan hal itu bukan karena takut sama mereka, tapi karena kamu mengasihi Tuhan?"

Sewaktu keputusan untuk off dikeluarkan, jujur aja, aku sempet saket hati. Bahkan sempet jadi pahit hati sama pemimpin yang cowok. Apa-apaan sih, ak negur untuk kebaikan kok malah jadi kayak begini? Dia ngomong kayak apa sih ke pemimpin di atasnya? Dia ngomong dengan cara apa sampe-sampe keluar keputusan untuk meng-off-kan aku, tanpa ada usaha untuk mendamaikan dari departemen doa?

Aku sempet dongkol, bahkan mungkin ada perasaan nyesel karena ngomongin kebenaran. Aku mikir, mungkin lebih baik diem aja sekalipun diperlakukan nggak adil. Mungkin, sekalipun aku tau mana yang bener en mana yang salah, lebih baik pura-pura nggak tau. Mungkin, lebih baik biarin aja walopun aku tau betapa nggak benernya kepemimpinan seorang pemimpin. Mungkin, lebih baik aku diam aja ngeliat orang-orang yang nggak setia en nggak berkomitmen dikasi kesempatan melayani en memimpin, sementara orang-orang yang setia selalu diremehkan en nggak pernah digubris. Mungkin, lebih baik aku tutup mata ngeliat fulltimer doa selalu sharing "aku, aku, dan aku" tanpa pernah memuliakan nama Yesus dalam hidupnya.
       
Mungkin...mungkin...dan mungkin. Tapi. semua sudah telanjur, semua sudah terjadi. Sampai di satu titik, aku muak. Muak dengan ketidakadilan yang harus kuterima. Muak dengan pandangan menghakimi dari para fulltimer yang hanya mendengar dari satu pihak. Muak dengan sikap sinis dari pemimpin yang cowok, yang merasa menang. Muak dengan keputusan sepihak untuk meng-off-kan diriku padahal ketua departemen doa nggak pernah tau kasus sebenarnya dari sisiku. Aku sudah kenyang dengan sikap pilih kasih para pemimpin, kenyang dengan pandangan meremehkan dari para fulltimer doa, kenyang dengan asumsi-asumsi ngawur dari rekan-rekan satu tim.
    
Bagiku, kebenaran adalah kebenaran. Perlu ada orang yang menegakkan kebenaran ketika segala sesuatu telah jauh menyimpang dari kehendak Tuhan. Butuh seseorang untuk menyadarkan agar orang-orang kembali ke hati Tuhan, bukan sibuk dengan agenda pribadi mereka agar nama mereka semakin berkibar. Sekalipun konsekuensi yang harus aku terima begitu menyakitkan. Bagiku, kebenaran tetaplah kebenaran yang perlu kutegakkan. Sekalipun akhirnya aku di-off-kan.
        
Sampai di satu titik, aku menyadari bahwa diriku kepahitan. Bahkan aku berusaha menyangkali bahwa aku marah, kecewa, dan kepahitan. Aku selalu bilang ke setiap orang "I'm fine, I can handle it myself". Tapi di dalam hatiku, aku tau bahwa hatiku perlahan-lahan menjadi tawar. Begitu tawar hingga aku memutuskan untuk keluar dari departemen doa. Begitu tawar hingga aku nggak pengen masuk dalam dunia pelayanan. Begitu tawar hingga aku mengasingkan diri dari tim menara doa. Begitu tawar hingga air mata membanjiri bantalku beberapa malam. Begitu tawar hingga aku nggak kuat lagi untuk menangis.
       
Aku nggak butuh belas kasihan. Nggak butuh dinasehati dengan jutaan kalimat sok tau dari orang-orang yang merasa lebih senior. Nggak perlu dipeluk erat seperti anak kecil. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan hatiku. Aku hanya butuh waktu untuk berduka. Aku hanya butuh waktu dengan Tuhan. Itu saja.
            "Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari" (Pengkotbah 3:4).
       
Sampai di satu titik, aku nggak kuat lagi. Aku berdoa en nanya ke Tuhan, "kenapa Ia mengijinkan aku diperlakukan sedemikian nggak adil? Kenapa Dia diam saja saat pemimpinku menjelek-jelekkan aku di depan ketua departemen? Kenapa Dia seolah tak membela saat para fulltimer memandangku dengan tatapan menghakimi?" Aku sadar itu pertanyaan kekanak-kanakan. Aku tau kalo nggak seharusnya aku nanya kayak gitu. Aku paham bahwa Dia sedang merancangkan sesuatu yang lebih besar untukku ke depan. Tapi aku butuh jawaban, rencana apa yang Dia sedang goreskan saat ini. Aku nggak hanya butuh tau bahwa Dia punya rencana, tapi aku butuh tau APA rencana-Nya.
       
Dan jawaban-Nya selalu mengejutkanku. Dia menjelaskan, bahwa ada 4 level dalam pengenalan akan Dia.  Level pertama, adalah level anak. Dimana kita akan mengenal Tuhan sebagai Bapa yang baik, Bapa yang menjawab doa, Bapa yang mengerti dan memenuhi setiap kebutuhan kita. Dimana kita belajar betapa luar biasanya kasih-Nya kepada kita, dimana kita nggak perlu khawatir dengan seluruh hidup kita. Level kedua, adalah level hamba. Dimana kita perlu belajar menundukkan diri di bawah otoritas-Nya, sekalipun kita nggak paham, sekalipun kita merasa sakit. Dimana kita perlu menaati setiap kehendak-Nya karena Dia adalah tuan atas hidup kita. Di level ketiga, adalah level sahabat. Yohanes 15:15 mengatakan: "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku". Dimana kita belajar untuk mengerti dengan apa yang Tuhan lakukan di hidup kita, dimana kita belajar bahwa sebagai sahabat, Tuhan akan berbagi rencana-Nya dalam hidup kita. Dimana kita belajar, bahwa kita tidak hanya menjalani kehidupan kita tanpa mengetahui apa maksud-Nya, namun Dia berbagi isi hati-Nya kepada kita. Dan di level keempat, yaitu level mempelai. Dimana hati-Nya dan hati kita menjadi satu, dimana kehendak-Nya dan kehendak kita selaras, dimana pikiran-Nya menjadi pikiran kita.
      
Tuhan berkata bahwa ini adalah kenaikan level dalam pengenalanku akan pribadi-Nya. Sekalipun cara-Nya di luar akal manusia. Inilah cara-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia mau aku mengenal hati-Nya, pikiran-Nya, kehendak-Nya. Bukan dengan cara manusia, bukan dengan pertimbangan manusia, bukan dengan promosi yang datang dari manusia. Penurunan yang dari Tuhan akan membawaku naik ke tempat yang jauh lebih tinggi, lebih daripada yang bisa manusia rancangkan atasku.
      
Aku paham. Aku nggak bisa mengontrol segala sesuatu yang terjadi di sekitarku, aku nggak bisa menduga respon sesamaku, aku nggak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di depan. Tapi asalkan aku hidup benar di hadapan-Nya, Dia yang akan membawaku ke level yang lebih dalam untuk mengenal Dia. Sekalipun hal ini menyakitkan secara daging, aku tau bahwa ada kemuliaan besar yang menanti di depanku.
       
Jika peremukkan hati adalah satu-satunya jalan agar aku bisa masuk ke level yang lebih dalam untuk mengenal Kristus, aku mau hatiku diremukkan hingga tak berbentuk lagi. Jika kehancuran hati adalah satu-satunya cara agar aku mengerti tujuan-tujuan-Nya yang mulia dalam hidupku, aku bersedia hatiku dihancurkan hingga tiap kepingnya tak dapat disatukan lagi. Jika memang semua rasa sakit, penghakiman, dan penderitaan adalah jalan yang harus kutempuh untuk mencapai rencana-Nya yang lebih mulia, aku nggak akan protes maupun mengasihani diriku.
       GOD'S PURPOSE IS ALWAYS GREATER THAN THE PAIN WE GO THROUGH, BUT WE DON'T USUALLY UNDERSTAND IT DURING PAIN. CLARITY COMES LATER...


I thought I did what's right
I thought I had the answers
I thought I chose the surest road
But that road brought me here

So I put up a fight
And told You how to help me
Now just when I have given up
The truth is coming clear

Reff:
You know better than I
You know the way
I've let go the need to know why
For you know better than I

If this has been a test
I cannot see the reason
But maybe knowing I don't know
Is part of getting through

I've tried to do what's best
And faith has made it easy
To see the best thing I can do
Is put my trust in You

Reff:
For You know better than I
You know the way
I've let go the need to know why
For You know better than I

I saw one cloud and thought it was a sky
I saw a bird and thought that I could follow
But it was You who taught that bird to fly
If I let You reach me will You teach me

Reff:
For You know better than I
You know the way
I've let go the need to know why
I'll take what answers You supply
You know better than I



NB: Di akhir Februari, memang aku memutuskan untuk keluar dari pelayanan. Kenapa harus keluar? Karena aku udah nggak pengen berada di tempat yang bikin aku nggak nyaman dengan segala hal yang menyimpang, en kesibukanku dalam bekerja nggak memungkinkan untuk aku melayani di hari Jumat.  Tapi hal itu nggak berarti aku keluar dari rencana Tuhan. Aku tau bahwa Tuhan sedang mengarahkanku ke hal-hal yang jauh lebih besar. Untuk belajar terbang, dibutuhkan tempat yang tinggi dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Yang jelas, aku memastikan bahwa hatiku berpaut pada Tuhan, bahwa aku akan terus berjalan selaras dengan kehendak-Nya.
Eniwe, nggak perlu takut masuk ke dalam sebuah pelayanan jika Tuhan memang yang memanggil. Kisah kelamku ini hanya satu di antara kisah manis yang pernah kulewati selama aku melayani Tuhan. Nggak semua pemimpin di menara doa seperti yang aku temui ini. Pemimpin yang baik en bener-bener berfokus sama Tuhan tuh masih ada, tapi emang bener-bener langka en patut diacungi jempol.





HATI HAMBA


Post ini didedikasikan untuk Yesus Kristus, yang mengajarkan bagaimana memiliki hati hamba kepada seorang Lucy, di tengah-tengah masa terkelam di hidupku. Thanks Jesus, karena Engkaulah Hamba Allah yang sejati, dan Kaulah Tuan yang sempurna.
      
Sebagian besar orang mungkin sudah tahu tentang tragedi yang kualami di awal tahun 2014 ini, ketika aku di-off-kan karena dianggap tidak mau menyelesaikan konflik dengan salah satu pemimpin menara doa. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan, kekecewaan, serta kebingungan dari berbagai pihak yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi aku nggak mau membahas hal itu dengan detail, karena bagiku nggak ada untungnya menjelek-jelekkan orang-orang tertentu yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang bijaksana.
       
Justru ketika aku diperlakukan tidak adil, aku belajar menunggu keadilan yang akan Tuhan nyatakan. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa Tuhan itu adil, jika aku belum mengalaminya. Mungkin kejadian ini Tuhan rancangkan supaya aku bener-bener ngalami en bisa menyatakan bahwa "Tuhan itu adil". Yang jelas, aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang hamba, bagaimana seorang hamba harus bersikap, bagaimana seorang hamba memandang kepada Tuannya, dan bagaimana seorang hamba "mematikan dagingnya" saat mengemban tugasnya demi menyenangkan Sang Tuan.
       
Arti kata "hamba" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah abdi atau budak belian. Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba merupakan seseorang yang memberikan dirinya untuk melayani orang lain (mengabdi kepada orang lain), seseorang yang tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri, serta seseorang yang mengesampingkan kepentingannya sendiri demi orang yang dilayani. Apakah kalian setuju dengan apa yang kukatakan?
       
Menjadi seorang hamba bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Jelas aja, siapa sih yang mau kehilangan hak atas hidupnya sendiri? Siapa yang mau mengesampingkan kepentingan (bahkan kebutuhan) demi memenuhi kebutuhan dan keinginan orang yang dilayani? Siapa yang hari-hari ini mau menjadi "begitu bodohnya" mengabdikan diri bagi orang lain, di jaman yang serba egois dan dipenuhi dengan berbagai tuntutan tak masuk akal dari sekeliling?
       
Puji Tuhan, Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang menuntut tanpa memberi teladan. Allah menuntut kita menjadi hamba-Nya, dengan terlebih dulu memberikan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna bagi setiap kita, yaitu seorang Anak Allah yang menghambakan diri pada kehendak Bapa-Nya. Mudah? Sama sekali nggak. Tapi, Yesus berhasil menjalankan kehambaan-Nya dengan penuh ketaatan sampai mati. Dikatakan "...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:6-8). Sebuah teladan yang bukan hanya membuat kita terharu, namun menginspirasi kita bahwa kehambaan bukanlah hal yang terlalu hina untuk kita lakukan, bahkan di jaman modern ini.
      
Hari-hari ini sulit banget menemukan orang yang mau menghambakan dirinya sedemikian setia, terutama ketika ada kesempatan terbuka lebar untuk memberontak dan mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Terutama ketika kita sudah melakukan yang terbaik (bukan hanya 100% tapi 110%), namun kita diperlakukan secara nggak layak atau dikorbankan lebih lagi. Istilahnya, kita sudah menundukkan diri dalam ketaatan akan tugas kita, tapi tengkuk kita "diinjak" oleh orang lain agar orang itu bisa semakin meninggikan dirinya.
      
Well, sama sekali bukan hal yang mudah untuk diterima. Keinginan untuk memberontak? Pasti ada. Kemarahan yang meluap-luap? Sudah pasti. Merasa dipecundangi, dimanfaatkan, dibodohi? Tentu saja. Namun, bagaimana SEHARUSNYA seorang hamba bertindak? Bukan pertanyaan yang ingin kita jawab.
       
Marah. Kecewa. Sakit hati. Kepahitan. Dendam. Mungkin semua perasaan itu berkecamuk di hati, bercampur jadi satu hingga menyesakkan dada. Namun jika kita mengingat bahwa hamba adalah orang yang telah dilucuti dari kehormatan dan hak yang seharusnya diperoleh, seharusnya kita tidak perlu emosi. Itulah yang selalu kuingatkan pada diriku saat aku mengalami hal menyakitkan tersebut.
      
Sekalipun yang memperlakukan nggak adil adalah sesama hamba (bukankah pemimpin rohani pun hamba di mata Tuhan?), sekalipun yang "menginjak-injak" hakku adalah hamba Tuhan yang senior yang seharusnya menjadi teladanku. Sekalipun yang mengambil keputusan untuk meng-off-kan aku secara tidak bijaksana adalah hamba yang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa.
       
Sempat terlintas pikiran untuk naik banding ke gembala gereja. Sempat terlintas pikiran untuk menceritakan semua kisah secara detail kepada pendeta senior. Sempat terlintas untuk membeberkan semua kebusukan pemimpin yang selalu memperlakukanku dengan semena-mena.
      
Hingga aku ingat, bahwa aku bukanlah hamba mereka. Hingga aku sadar bahwa aku mengabdi kepada Tuan yang sejati. Hingga aku tercelik bahwa aku telah memberikan diriku sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Untuk apa menuntut agar hakku diberikan? Aku sudah nggak punya hak apapun. Untuk apa menuntut agar diperlakukan dengan adil? Keadilan hanya ada pada Tuhan sendiri. Untuk apa menuntut diberi kesempatan untuk melayani lebih karena aku telah setia sekian lama? Kesempatan adalah pemberian dari Tuhan, bukan manusia yang menentukan.
      
Jadi, aku mengurungkan semua niatku. Aku belajar menekankan pada diriku bahwa aku adalah hamba-Nya, bukan hamba manusia. Aku berpikir, jika aku adalah hamba-Nya, sudah seharusnya aku memiliki hati seorang hamba, yaitu hati seperti Tuanku. Hati yang mau mengampuni (sekalipun aku masih bergumul dalam hal ini sampai sekarang), hati yang mau melupakan kesalahan orang lain, hati yang mengasihi sekalipun diperlakukan nggak adil.
       
Aku mau melayani Tuhan saja, tanpa menilai perbuatan manusia-manusia di sekelilingku. Aku mau mempersembahkan yang terbaik hanya ke Tuhan, sekalipun nggak pernah ada orang yang memperhitungkannya. Aku mau mengabdikan diriku kepada Kristus, walaupun sekitarku berlomba-lomba mengabdikan diri pada jabatan maupun kepercayaan pemimpin di atasnya.
       
Aku ingat dengan apa yang pernah kuperoleh bertahun-tahun lalu, yang kutulis di halaman depan Alkitabku.
7 HAK PELAYAN TUHAN YANG HARUS DISERAHKAN:
1. Hak untuk membela diri
2. Hak untuk diakui sebagai pribadi
3. Hak pemakaian waktu
4. Hak mempertahankan hidup
5. Hak membalas
6. Hak memiliki sesuatu
7. Hak dilayani
        
Hmmm, ketujuhnya bukanlah hak yang ingin diserahkan, oleh siapapun. Ketujuhnya adalah hal manusiawi yang selalu ingin kita tuntut. Ketujuhnya merupakan hal-hal yang kita anggap milik kita, sehingga sulit sekali rasanya ketika ada pihak-pihak yang melanggar batas-batas toleransi kita.
        
Mungkin tragedi yang kualami di awal tahun ini adalah ujian. Mungkin inilah ujian sebenarnya mengenai topik HATI SEORANG HAMBA. Dan aku berharap aku lulus dalam ujian itu.


Ku tak membawa apapun juga
saat kudatang ke dunia
Kutinggal semua pada akhirnya
saat kukembali ke Surga
Reff:
Inilah yang kupunya
hati sbagai hamba
Yang mau taat dan setia
pada-Mu Bapa
Kemanapun kubawa
hati yang menyembah
Dalam roh dan kebenaran
sampai slamanya
(Hati Sbagai Hamba)

RAHASIA JALAN YANG DILURUSKAN (DAG HEWARD-MILLS)


 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5, 6)

       
Tuhan menuntun kita melalui jalan yang diluruskan. Janji Tuhan di dalam bagian Firman Tuhan ini bukanlah Tuhan akan mengarahkan Anda! Tuhan berjanji bahwa Ia akan meluruskan jalan Anda. Apa bedanya antara Tuhan meluruskan Anda dan Tuhan meluruskan jalan Anda? Ketika Tuhan meluruskan Anda, Ia berbicara dan memberitahu Anda apa yang harus Anda lakukan. Kemudian terserah Anda apakah Anda mau melakukan hal yang benar dan menaati suara-Nya. Namun demikian, ketika Tuhan meluruskan jalan Anda, Anda tidak perlu melakukan apapun juga. Jalan Andalah yang harus menaati peraturan.
    
Tugas Anda adalah percaya kepada Tuhan sehingga Ia mengatur keadaan sedemikian rupa sehingga Anda secara alami mengalir masuk ke dalam kehendak-Nya. Inilah yang akan terjadi ketika Anda berdoa, “Kehendak-Mu jadilah”. Yesus berdoa “Kehendak-Mu jadilah” selama tiga jam di taman Getsemani. Setelah mendapat jawaban dari doa itu, Yesus tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Ia hanya membiarkan segala sesuatu terjadi secara alami.

Tuhan mengabaikan Anda dan berbicara kepada jalan-jalan Anda
Suatu kali saya sedang berjalan di sebuah bandara internasional yang sangat besar. Anda yang sering melakukan perjalanan tahu bahwa bandara-bandara modern adalah gedung-gedung yang besar sekali dan seringkali memiliki terowongan-terowongan dan koridor-koridor yang rumit. Itu adalah pertama kalinya saya berada di bandara itu. Saya sering bepergian, oleh sebab itu saya tahu jalan-jalan di bandara-bandara besar. Namun demikian, pada saat itu, saya tidak tahu jalannya. Ketika saya turun dari pesawat, saya hanya berjalan saja. Ketika saya berjalan di bandara itu, Tuhan memberikan saya suatu pewahyuan.
       
Satu menit pun saya tidak tersesat! Saya berjalan dengan penuh keyakinan melalui labirin koridor-koridor bandara dan tiba di tempat yang tepat untuk mengambil koper saya. Percayakah Anda bahwa tidak seorangpun memberi tahu saya ke mana saya harus berjalan atau apa yang harus saya lakukan, tetapi saya hanya terus berjalan?

Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak tersesat di bandara itu karena pemerintah telah mengatur koridor-koridor dan terowongan-terowongan sedemikian rupa sehingga saya hanya bisa berjalan satu arah dan tiba di suatu tempat tertentu.

Ketika saya berjalan melewati bandara itu, saya menyadari bahwa banyak pintu tertutup. Jalan masuk ke banyak bagian dari bandara itu tertutup bagi saya. Ada banyak tanda di mana-mana yang menunjukkan ke mana penumpang yang baru tiba harus berjalan.

Seringkali seperti itulah Tuhan akan menuntun Anda jika Anda mau mengambil waktu untuk berdoa agar kehendak-Nya jadi dalam hidup Anda. Maka Anda dapat berjalan dengan keyakinan. Anda mungkin tidak tahu apa yang tepatnya harus Anda lakukan, tetapi ketika Anda terus berdoa agar kehendak-Nya terjadi, Ia akan meluruskan jalan Anda. Tuhan akan menutup pintu-pintu tertentu dan memungkinkan bagi Anda untuk berjalan pada jalan-jalan tertentu.

Ia akan memastikan bahwa Anda hanya akan mengalir dalam suatu arah tertentu. Dia akan memastikan bahwa Anda hanya bertemu dengan orang-orang tertentu.

Seringkali saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya bukanlah superman. Saya tidak dapat berpura-pura mengetahui pikiran Tuhan setiap waktu. Tidak seorang pun tahu kehendak Tuhan. Bahkan Yesus berdoa agar kehendak Bapa terjadi. Saya menghabiskan berjam-jam untuk berdoa agar kehendak Tuhan terjadi dalam kehidupan saya. Saya yakin bahwa setiap orang Kristen yang serius seharusnya melakukan hal itu!

Jika Anda telah mempercayakan jalan Anda kepada Tuhan, sebagaimana dikatakan di dalam Amsal 3:5 dan 6, Tuhan berjanji akan meluruskan jalan-jalan kehidupan Anda.

Jangan lagi menangis karena pria itu tidak menikahi Anda. Jangan bersedih karena kesempatan itu tidak berhasil. Bukankah Anda berdoa agar kehendak Tuhan yang terjadi? Bukankah Anda sudah menyerahkan jalan-jalan Anda kepada-Nya? Tuhan sedang menjawab doa Anda saat ini! Ia sedang mengarahkan kehidupan Anda. Anda tidak perlu melihat suatu penglihatan. Terus saja berjalan dengan iman dan Anda akan menemukan diri Anda di dalam kehendak-Nya yang sempurna.


DAG HEWARD-MILLS
HOW YOU CAN BE IN THE PERFECT WILL OF GOD
BAB 19: RAHASIA JALAN YANG DILURUSKAN
Hlm 175-178

March 30, 2014

OFF

“… TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b).
           

Sejak konflik dengan ketua menara terjadi, aku semakin merasa bahwa pelayanan doa bukanlah tempatku lagi. Bukan karena aku jengkel dengan pemimpin tersebut, tapi aku ngerasa kalo Tuhan arahkan aku ke bidang lain. Aku sudah bisa mengampuni, berdoa en memberkati orang itu. Puji Tuhan, semua bukan karena kuat gagahku, tapi karena Tuhan.
            
Sejenak aku berpikir bahwa ladang pelayananku yang baru adalah interpreter, tapi ketika aku nggak lolos interview, aku ngerasa kalo ada tempat lain yang Tuhan tunjukkan. Tapi waktu itu, aku belum tau pasti dimana. Singkat cerita, di akhir 2013, aku sempet tanya ke pemimpinku yang cewek, apa aku di-off dari pelayanan karena sering bolos. Dia bilang nggak.

Entah gimana, tiba-tiba awal tahun, pemimpin yang cewek itu kasi info ke aku kalo aku di-off-kan dari pelayanan karena dianggep bahwa aku nggak mau selesaiin masalahku dengan pemimpin yang cowok. Jujur, aku marah berat. Aku bisa terima kalo alasan aku di-off-kan dari pelayanan adalah karena aku sering bolos. Tapi ini karena konflik yang dianggap belum selesai? Padahal pemimpin yang cowok sama sekali nggak ada inisiatif untuk nyelesaiin. Yang berkali-kali ngehubungi aku untuk menyelesaikan masalah adalah pemimpin yang cewek. En aku belajar untuk nggak jelek-jelekkin pemimpin yang cowok itu ke siapa-siapa. Aku nggak cerita detail ke orang tentang hal itu. En herannya ketua departemen langsung ambil keputusan untuk meng-off-kan aku dari pelayanan tanpa berusaha untuk tau duduk permasalahannya, dia cuma denger sepihak dari sisi pemimpin cowok, tapi nggak kroscek dari sisiku. Sungguh suatu keputusan yang nggak bijaksana, mengingat posisinya adalah ketua departemen!
    
Mungkin orang lain emang nggak perlu tau, en aku anggep ini adalah pendisiplinan dari Tuhan. En saat itulah aku ngerti kenapa Tuhan ingatkan perkataan Ayub: “… TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Kalopun pelayanan ini “diambil” dari hidupku, aku rela. Kalo aku salah, aku bersedia untuk diajar sama Tuhan. Kalo aku benar, aku yakin Dia akan bangkit membelaku. “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” 
      
Jauh sebelum ada masalah maupun konflik, aku udah berkali-kali berdoa sama Tuhan, aku ngerasa kalo ada bidang lain yang harus aku masuki. Tapi karena aku belum dapet konfirmasi yang jelas tentang bidang apa yang harus kumasuki, aku tetep stay di pelayanan doa. Waktu ada info kal aku di-off-kan, sempet secara kedagingan aku bilang dalam hati, “Emangnya aku cuma bakal dipakai Tuhan di satu bidang apa? Aku yakin kalo aku masuk ke bidang lain pun, Tuhan bisa pakai aku lebih besar”. Tapi aku tau kalo aku masuk ke sebuah pelayanan baru dengan kondisi hati yang kayak gitu, Tuhan pun nggak berkenan.
   
Berminggu-minggu aku membereskan hatiku di hadapan Tuhan. Hal itu nggak mudah banget dilakukan. Aku inget masa-masa 8 tahun aku melayani di pelayanan doa, aku inget setiap hal yang Tuhan percayakan ke aku, aku inget disinilah Tuhan membentukku sedemikian rupa. Aku sadar bahwa 8 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bukannya aku nggak siap untuk memulai di tempat baru, tapi aku sudah merasa ini adalah zona nyamanku.
            
Sampai di suatu hari di awal Januari, waktu aku berdoa dengan hancur hati di hadapan Tuhan mengenai masalah peng-off-anku, Tuhan membukakan sesuatu. Aku nanya ke Tuhan, “Kenapa Tuhan ijinkan aku di-off dari pelayanan dengan alasan yang nggak masuk akal? Kenapa pemimpin yang di atasnya lagi nggak mau kroscek ato berusaha mendamaikan, tapi malah ambil keputusan berdasarkan cerita dari satu pihak?” Tiba-tiba Tuhan bilang: “Luc, kalo kamu nggak diginiin, kamu nggak akan bisa ngelihat pintu lain yang Kubukakan buat kamu”. PINTU LAIN? Aku bener-bener nggak paham dengan yang Tuhan maksud “pintu lain” itu. Mungkinkah itu sebuah kesempatan baru untuk melayani di bidang lain? Mungkinkah Tuhan bukakan pintu yang selama ini tertutup bagiku? Sempet juga Tuhan bukakan hatiku yang sebenernya, yaitu bahwa aku takut dengan “status baru” sebagai ex-pendoa. Mungkin dalam hatiku, aku ngerasa malu kalo orang nanya, “Gimana pelayanan doamu?” en aku jawab: “Aku udah out dari pendoa”. Ternyata aku nggak memahami hatiku yang sebenernya, hanya Tuhan yang tahu isi hatiku yang terdalam.

Dan berhari-hari setelah perkataan Tuhan itu, aku baca tentang “Bagaimana mengenali sebuah pintu”, bahkan aku dapet pengertian tentang bidang mana yang Tuhan mau untuk aku melayani. Tapi aku masih belum yakin 100%, aku masih bergumul tentang hal itu en mendoakannya terus menerus, sebelum aku mengundurkan diri dari pelayanan doa. Aku nggak mau keluar ataupun masuk ke sebuah pelayanan hanya karena emosi sesaat. Dan aku teringat akan sebuah ayat:
“Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah” (Yesaya 30:1).
   

Aku belajar menyerahkan semua perasaan  kekecewaan, pergumulan tentang masa depan, pengharapan, dan semua hal, ke dalam tangan Tuhan. Sekalipun hal ini merupakan keputusan manusia, aku percaya kalo Tuhan ikut campur tangan. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8: 28).
           
Saat masa-masa menyakitkan ini harus kuhadapi, Tuhan menghibur aku dengan banyak hal. Tiba-tiba temen baikku BBM aku en bilang, “Kalo kamu di-off ya sudah, terima aja, toh kamu nggak ada pilihan lain. Yusuf pun nggak salah, tapi dia masuk penjara kan?” Perkataannya itu bikin aku bangkit dari keterpurukan en mulai ngeliat akan adanya pengharapan setelah masalah yang Tuhan ijinkan. Berhari-hari setelah itu, Tuhan ingatkan tentang Paulus en Barnabas, dimana mereka pernah konflik mengenai Yohanes en karena konfliknya nggak ada kesepakatan, mereka berpisah. Namun dari perpisahan mereka, yang secara manusia itu buruk, Tuhan pakai mereka menjangkau lebih banyak jiwa di bangsa-bangsa lain. Aku belajar bahwa ketika kita ada di dalam rencana Tuhan, semua hal yang buruk pun bisa berubah menjadi suatu kebaikan bagi Kerajaan-Nya.
            
Sempet juga, waktu ibadah, Tuhan kasi aku sebuah perkataan yang menguatkan dari sang pengkotbah, yang intinya kayak gini; “Di jaman sekarang, banyak ketidakadilan terjadi. Kalo hal itu terjadi padamu, kamu mau ngapain? Naik banding? Justru sekarang ini, orang-orang yang naik banding malah dimasukkin ke penjara. Sudahlah, kalo kamu benar, diam saja, Tuhan yang nanti akan membelamu”. Perkataan itu nancep banget di hatiku, soalnya aku sempet mau ngomong sama pemimpin yang di atasnya pemimpin yang konflik sama aku. Aku jadi berpikir, ya sudahlah, mau cari keadilan dari manusia juga percuma. Lebih baik diam saja en menantikan pertolongan dari Tuhan, karena hanya Dia yang benar-benar adil. Mungkin masalah ini hanya proses untuk sebuah kenaikan level. Mungkin setelah aku lulus dari ujian ini, Tuhan akan percayakan hal yang lebih besar lagi. Aku belajar beriman, sekalipun keadaanku buruk. Aku belajar untuk nggak mengeluh ato mengasihani diri sendiri, sekalipun aku diperlakukan nggak adil. Aku belajar nggak kecewa, karena aku percaya bahwa Tuhan memegang kendali atas semuanya.
          
En Tuhan mengajarkan aku suatu hal yang sangat berharga, bahwa menjadi seorang pendoa bukanlah berbicara tentang sebuah jabatan, bukan sebuah pelayanan, tapi sebuah sikap hati. Selama 8 tahun aku menjadi pendoa, Tuhan melatihku untuk berdoa dimanapun aku berada, untuk siapapun yang aku jumpai, bahkan untuk orang-orang yang aku nggak kenal. En karena udah terlatih seperti itu selama 8 tahun, aku terbiasa untuk berdoa en mencari Tuhan, sekalipun nggak ada event, nggak ada program, nggak ada perintah dari pemimpin. Hal itu berjalan begitu normalnya bagi hidupku. Tuhan menyatakan kepadaku, bahwa roh yang berdoa itu sudah menjadi DNA-ku, udah melekat dalam jiwa en hidupku. Itulah yang Tuhan mau bentuk dalam hidupku. Itulah alasan mengapa Tuhan ijinkan aku memulai pelayananku sebagai pendoa. Karena roh yang doa adalah dasar dari segala sesuatu. Dimanapun aku akan ditempatkan nantinya, doalah yang akan tetap membuatku on His track, doalah yang akan membuat kau tetap memahami isi hati-Nya.
           
Sekalipun aku di-off-kan, aku tahu bahwa Tuhan turut berperkara dalam hal ini. Karena nggak ada satu hal pun di dalam hidup ini yang terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan, tanpa ijin Tuhan. Justru ketika aku di-off-kan dari pelayanan, aku mau “menenggelamkan diriku” dalam pengenalan akan kehendak-Nya lebih dalam lagi, aku mau semakin giat mencari Tuhan. Bahkan aku punya komitmen yang baru, yaitu di tahun 2014 ini, aku akan naik ke bukit doa untuk berdoa en mencari kehendak-Nya setiap bulan, nggak peduli ada orang yang nemeni atau nggak. I need more intimacy with God.



Di telapak tangan-Mu tertulis namaku
Di dalam genggaman-Mu seluruh hidupku
Sungguh bangga kupunya Bapa seperti-Mu
Yang tak pernah melupakanku
Di tengah badai hidup, Kau menemaniku
Di atas gunung batu, Kau bawa diriku
Sungguh bangga kupunya Bapa seperti-Mu
Yang tak pernah meninggalkanku
Reff: 
Kunyatakan Engkau, Tuhan di hidupku
Tuhan di setiap ucapan dan perbuatanku
Kunyatakan Engkau, Tuhan di hidupku
Tuhan yang slalu kusembah di setiap nafasku
("Tuhan di Hidupku)