March 31, 2014

HATI HAMBA


Post ini didedikasikan untuk Yesus Kristus, yang mengajarkan bagaimana memiliki hati hamba kepada seorang Lucy, di tengah-tengah masa terkelam di hidupku. Thanks Jesus, karena Engkaulah Hamba Allah yang sejati, dan Kaulah Tuan yang sempurna.
      
Sebagian besar orang mungkin sudah tahu tentang tragedi yang kualami di awal tahun 2014 ini, ketika aku di-off-kan karena dianggap tidak mau menyelesaikan konflik dengan salah satu pemimpin menara doa. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan, kekecewaan, serta kebingungan dari berbagai pihak yang tahu kejadian sebenarnya. Tapi aku nggak mau membahas hal itu dengan detail, karena bagiku nggak ada untungnya menjelek-jelekkan orang-orang tertentu yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang bijaksana.
       
Justru ketika aku diperlakukan tidak adil, aku belajar menunggu keadilan yang akan Tuhan nyatakan. Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa Tuhan itu adil, jika aku belum mengalaminya. Mungkin kejadian ini Tuhan rancangkan supaya aku bener-bener ngalami en bisa menyatakan bahwa "Tuhan itu adil". Yang jelas, aku belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang hamba, bagaimana seorang hamba harus bersikap, bagaimana seorang hamba memandang kepada Tuannya, dan bagaimana seorang hamba "mematikan dagingnya" saat mengemban tugasnya demi menyenangkan Sang Tuan.
       
Arti kata "hamba" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah abdi atau budak belian. Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba merupakan seseorang yang memberikan dirinya untuk melayani orang lain (mengabdi kepada orang lain), seseorang yang tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri, serta seseorang yang mengesampingkan kepentingannya sendiri demi orang yang dilayani. Apakah kalian setuju dengan apa yang kukatakan?
       
Menjadi seorang hamba bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Jelas aja, siapa sih yang mau kehilangan hak atas hidupnya sendiri? Siapa yang mau mengesampingkan kepentingan (bahkan kebutuhan) demi memenuhi kebutuhan dan keinginan orang yang dilayani? Siapa yang hari-hari ini mau menjadi "begitu bodohnya" mengabdikan diri bagi orang lain, di jaman yang serba egois dan dipenuhi dengan berbagai tuntutan tak masuk akal dari sekeliling?
       
Puji Tuhan, Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang menuntut tanpa memberi teladan. Allah menuntut kita menjadi hamba-Nya, dengan terlebih dulu memberikan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna bagi setiap kita, yaitu seorang Anak Allah yang menghambakan diri pada kehendak Bapa-Nya. Mudah? Sama sekali nggak. Tapi, Yesus berhasil menjalankan kehambaan-Nya dengan penuh ketaatan sampai mati. Dikatakan "...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:6-8). Sebuah teladan yang bukan hanya membuat kita terharu, namun menginspirasi kita bahwa kehambaan bukanlah hal yang terlalu hina untuk kita lakukan, bahkan di jaman modern ini.
      
Hari-hari ini sulit banget menemukan orang yang mau menghambakan dirinya sedemikian setia, terutama ketika ada kesempatan terbuka lebar untuk memberontak dan mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Terutama ketika kita sudah melakukan yang terbaik (bukan hanya 100% tapi 110%), namun kita diperlakukan secara nggak layak atau dikorbankan lebih lagi. Istilahnya, kita sudah menundukkan diri dalam ketaatan akan tugas kita, tapi tengkuk kita "diinjak" oleh orang lain agar orang itu bisa semakin meninggikan dirinya.
      
Well, sama sekali bukan hal yang mudah untuk diterima. Keinginan untuk memberontak? Pasti ada. Kemarahan yang meluap-luap? Sudah pasti. Merasa dipecundangi, dimanfaatkan, dibodohi? Tentu saja. Namun, bagaimana SEHARUSNYA seorang hamba bertindak? Bukan pertanyaan yang ingin kita jawab.
       
Marah. Kecewa. Sakit hati. Kepahitan. Dendam. Mungkin semua perasaan itu berkecamuk di hati, bercampur jadi satu hingga menyesakkan dada. Namun jika kita mengingat bahwa hamba adalah orang yang telah dilucuti dari kehormatan dan hak yang seharusnya diperoleh, seharusnya kita tidak perlu emosi. Itulah yang selalu kuingatkan pada diriku saat aku mengalami hal menyakitkan tersebut.
      
Sekalipun yang memperlakukan nggak adil adalah sesama hamba (bukankah pemimpin rohani pun hamba di mata Tuhan?), sekalipun yang "menginjak-injak" hakku adalah hamba Tuhan yang senior yang seharusnya menjadi teladanku. Sekalipun yang mengambil keputusan untuk meng-off-kan aku secara tidak bijaksana adalah hamba yang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa.
       
Sempat terlintas pikiran untuk naik banding ke gembala gereja. Sempat terlintas pikiran untuk menceritakan semua kisah secara detail kepada pendeta senior. Sempat terlintas untuk membeberkan semua kebusukan pemimpin yang selalu memperlakukanku dengan semena-mena.
      
Hingga aku ingat, bahwa aku bukanlah hamba mereka. Hingga aku sadar bahwa aku mengabdi kepada Tuan yang sejati. Hingga aku tercelik bahwa aku telah memberikan diriku sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Untuk apa menuntut agar hakku diberikan? Aku sudah nggak punya hak apapun. Untuk apa menuntut agar diperlakukan dengan adil? Keadilan hanya ada pada Tuhan sendiri. Untuk apa menuntut diberi kesempatan untuk melayani lebih karena aku telah setia sekian lama? Kesempatan adalah pemberian dari Tuhan, bukan manusia yang menentukan.
      
Jadi, aku mengurungkan semua niatku. Aku belajar menekankan pada diriku bahwa aku adalah hamba-Nya, bukan hamba manusia. Aku berpikir, jika aku adalah hamba-Nya, sudah seharusnya aku memiliki hati seorang hamba, yaitu hati seperti Tuanku. Hati yang mau mengampuni (sekalipun aku masih bergumul dalam hal ini sampai sekarang), hati yang mau melupakan kesalahan orang lain, hati yang mengasihi sekalipun diperlakukan nggak adil.
       
Aku mau melayani Tuhan saja, tanpa menilai perbuatan manusia-manusia di sekelilingku. Aku mau mempersembahkan yang terbaik hanya ke Tuhan, sekalipun nggak pernah ada orang yang memperhitungkannya. Aku mau mengabdikan diriku kepada Kristus, walaupun sekitarku berlomba-lomba mengabdikan diri pada jabatan maupun kepercayaan pemimpin di atasnya.
       
Aku ingat dengan apa yang pernah kuperoleh bertahun-tahun lalu, yang kutulis di halaman depan Alkitabku.
7 HAK PELAYAN TUHAN YANG HARUS DISERAHKAN:
1. Hak untuk membela diri
2. Hak untuk diakui sebagai pribadi
3. Hak pemakaian waktu
4. Hak mempertahankan hidup
5. Hak membalas
6. Hak memiliki sesuatu
7. Hak dilayani
        
Hmmm, ketujuhnya bukanlah hak yang ingin diserahkan, oleh siapapun. Ketujuhnya adalah hal manusiawi yang selalu ingin kita tuntut. Ketujuhnya merupakan hal-hal yang kita anggap milik kita, sehingga sulit sekali rasanya ketika ada pihak-pihak yang melanggar batas-batas toleransi kita.
        
Mungkin tragedi yang kualami di awal tahun ini adalah ujian. Mungkin inilah ujian sebenarnya mengenai topik HATI SEORANG HAMBA. Dan aku berharap aku lulus dalam ujian itu.


Ku tak membawa apapun juga
saat kudatang ke dunia
Kutinggal semua pada akhirnya
saat kukembali ke Surga
Reff:
Inilah yang kupunya
hati sbagai hamba
Yang mau taat dan setia
pada-Mu Bapa
Kemanapun kubawa
hati yang menyembah
Dalam roh dan kebenaran
sampai slamanya
(Hati Sbagai Hamba)

2 comments:

Unknown said...

YUPP!!

Anita Bong said...

aku suka banget 7 hak yg harus diserahkan itu :) bener banget sih..hahahah~

Aku perlu belajar juga ^^