“… TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b).
Sejak konflik dengan ketua menara terjadi, aku semakin merasa bahwa pelayanan doa bukanlah tempatku lagi. Bukan karena aku jengkel dengan pemimpin tersebut, tapi aku ngerasa kalo Tuhan arahkan aku ke bidang lain. Aku sudah bisa mengampuni, berdoa en memberkati orang itu. Puji Tuhan, semua bukan karena kuat gagahku, tapi karena Tuhan.
Sejenak aku berpikir bahwa ladang pelayananku yang baru adalah interpreter, tapi ketika aku nggak lolos interview, aku ngerasa kalo ada tempat lain yang Tuhan tunjukkan. Tapi waktu itu, aku belum tau pasti dimana. Singkat cerita, di akhir 2013, aku sempet tanya ke pemimpinku yang cewek, apa aku di-off dari pelayanan karena sering bolos. Dia bilang nggak.
Entah gimana, tiba-tiba awal tahun, pemimpin yang cewek itu kasi info ke aku kalo aku di-off-kan dari pelayanan karena dianggep bahwa aku nggak mau selesaiin masalahku dengan pemimpin yang cowok. Jujur, aku marah berat. Aku bisa terima kalo alasan aku di-off-kan dari pelayanan adalah karena aku sering bolos. Tapi ini karena konflik yang dianggap belum selesai? Padahal pemimpin yang cowok sama sekali nggak ada inisiatif untuk nyelesaiin. Yang berkali-kali ngehubungi aku untuk menyelesaikan masalah adalah pemimpin yang cewek. En aku belajar untuk nggak jelek-jelekkin pemimpin yang cowok itu ke siapa-siapa. Aku nggak cerita detail ke orang tentang hal itu. En herannya ketua departemen langsung ambil keputusan untuk meng-off-kan aku dari pelayanan tanpa berusaha untuk tau duduk permasalahannya, dia cuma denger sepihak dari sisi pemimpin cowok, tapi nggak kroscek dari sisiku. Sungguh suatu keputusan yang nggak bijaksana, mengingat posisinya adalah ketua departemen!
Mungkin orang lain emang nggak perlu tau, en aku anggep ini adalah pendisiplinan dari Tuhan. En saat itulah aku ngerti kenapa Tuhan ingatkan perkataan Ayub: “… TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Kalopun pelayanan ini “diambil” dari hidupku, aku rela. Kalo aku salah, aku bersedia untuk diajar sama Tuhan. Kalo aku benar, aku yakin Dia akan bangkit membelaku. “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”
Jauh sebelum ada masalah maupun konflik, aku udah berkali-kali berdoa sama Tuhan, aku ngerasa kalo ada bidang lain yang harus aku masuki. Tapi karena aku belum dapet konfirmasi yang jelas tentang bidang apa yang harus kumasuki, aku tetep stay di pelayanan doa. Waktu ada info kal aku di-off-kan, sempet secara kedagingan aku bilang dalam hati, “Emangnya aku cuma bakal dipakai Tuhan di satu bidang apa? Aku yakin kalo aku masuk ke bidang lain pun, Tuhan bisa pakai aku lebih besar”. Tapi aku tau kalo aku masuk ke sebuah pelayanan baru dengan kondisi hati yang kayak gitu, Tuhan pun nggak berkenan.
Berminggu-minggu aku membereskan hatiku di hadapan Tuhan. Hal itu nggak mudah banget dilakukan. Aku inget masa-masa 8 tahun aku melayani di pelayanan doa, aku inget setiap hal yang Tuhan percayakan ke aku, aku inget disinilah Tuhan membentukku sedemikian rupa. Aku sadar bahwa 8 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bukannya aku nggak siap untuk memulai di tempat baru, tapi aku sudah merasa ini adalah zona nyamanku.
Sampai di suatu hari di awal Januari, waktu aku berdoa dengan hancur hati di hadapan Tuhan mengenai masalah peng-off-anku, Tuhan membukakan sesuatu. Aku nanya ke Tuhan, “Kenapa Tuhan ijinkan aku di-off dari pelayanan dengan alasan yang nggak masuk akal? Kenapa pemimpin yang di atasnya lagi nggak mau kroscek ato berusaha mendamaikan, tapi malah ambil keputusan berdasarkan cerita dari satu pihak?” Tiba-tiba Tuhan bilang: “Luc, kalo kamu nggak diginiin, kamu nggak akan bisa ngelihat pintu lain yang Kubukakan buat kamu”. PINTU LAIN? Aku bener-bener nggak paham dengan yang Tuhan maksud “pintu lain” itu. Mungkinkah itu sebuah kesempatan baru untuk melayani di bidang lain? Mungkinkah Tuhan bukakan pintu yang selama ini tertutup bagiku? Sempet juga Tuhan bukakan hatiku yang sebenernya, yaitu bahwa aku takut dengan “status baru” sebagai ex-pendoa. Mungkin dalam hatiku, aku ngerasa malu kalo orang nanya, “Gimana pelayanan doamu?” en aku jawab: “Aku udah out dari pendoa”. Ternyata aku nggak memahami hatiku yang sebenernya, hanya Tuhan yang tahu isi hatiku yang terdalam.
Dan berhari-hari setelah perkataan Tuhan itu, aku baca tentang “Bagaimana mengenali sebuah pintu”, bahkan aku dapet pengertian tentang bidang mana yang Tuhan mau untuk aku melayani. Tapi aku masih belum yakin 100%, aku masih bergumul tentang hal itu en mendoakannya terus menerus, sebelum aku mengundurkan diri dari pelayanan doa. Aku nggak mau keluar ataupun masuk ke sebuah pelayanan hanya karena emosi sesaat. Dan aku teringat akan sebuah ayat:
“Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah” (Yesaya 30:1).
Aku belajar menyerahkan semua perasaan kekecewaan, pergumulan tentang masa depan, pengharapan, dan semua hal, ke dalam tangan Tuhan. Sekalipun hal ini merupakan keputusan manusia, aku percaya kalo Tuhan ikut campur tangan. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8: 28).
Saat masa-masa menyakitkan ini harus kuhadapi, Tuhan menghibur aku dengan banyak hal. Tiba-tiba temen baikku BBM aku en bilang, “Kalo kamu di-off ya sudah, terima aja, toh kamu nggak ada pilihan lain. Yusuf pun nggak salah, tapi dia masuk penjara kan?” Perkataannya itu bikin aku bangkit dari keterpurukan en mulai ngeliat akan adanya pengharapan setelah masalah yang Tuhan ijinkan. Berhari-hari setelah itu, Tuhan ingatkan tentang Paulus en Barnabas, dimana mereka pernah konflik mengenai Yohanes en karena konfliknya nggak ada kesepakatan, mereka berpisah. Namun dari perpisahan mereka, yang secara manusia itu buruk, Tuhan pakai mereka menjangkau lebih banyak jiwa di bangsa-bangsa lain. Aku belajar bahwa ketika kita ada di dalam rencana Tuhan, semua hal yang buruk pun bisa berubah menjadi suatu kebaikan bagi Kerajaan-Nya.
Sempet juga, waktu ibadah, Tuhan kasi aku sebuah perkataan yang menguatkan dari sang pengkotbah, yang intinya kayak gini; “Di jaman sekarang, banyak ketidakadilan terjadi. Kalo hal itu terjadi padamu, kamu mau ngapain? Naik banding? Justru sekarang ini, orang-orang yang naik banding malah dimasukkin ke penjara. Sudahlah, kalo kamu benar, diam saja, Tuhan yang nanti akan membelamu”. Perkataan itu nancep banget di hatiku, soalnya aku sempet mau ngomong sama pemimpin yang di atasnya pemimpin yang konflik sama aku. Aku jadi berpikir, ya sudahlah, mau cari keadilan dari manusia juga percuma. Lebih baik diam saja en menantikan pertolongan dari Tuhan, karena hanya Dia yang benar-benar adil. Mungkin masalah ini hanya proses untuk sebuah kenaikan level. Mungkin setelah aku lulus dari ujian ini, Tuhan akan percayakan hal yang lebih besar lagi. Aku belajar beriman, sekalipun keadaanku buruk. Aku belajar untuk nggak mengeluh ato mengasihani diri sendiri, sekalipun aku diperlakukan nggak adil. Aku belajar nggak kecewa, karena aku percaya bahwa Tuhan memegang kendali atas semuanya.
En Tuhan mengajarkan aku suatu hal yang sangat berharga, bahwa menjadi seorang pendoa bukanlah berbicara tentang sebuah jabatan, bukan sebuah pelayanan, tapi sebuah sikap hati. Selama 8 tahun aku menjadi pendoa, Tuhan melatihku untuk berdoa dimanapun aku berada, untuk siapapun yang aku jumpai, bahkan untuk orang-orang yang aku nggak kenal. En karena udah terlatih seperti itu selama 8 tahun, aku terbiasa untuk berdoa en mencari Tuhan, sekalipun nggak ada event, nggak ada program, nggak ada perintah dari pemimpin. Hal itu berjalan begitu normalnya bagi hidupku. Tuhan menyatakan kepadaku, bahwa roh yang berdoa itu sudah menjadi DNA-ku, udah melekat dalam jiwa en hidupku. Itulah yang Tuhan mau bentuk dalam hidupku. Itulah alasan mengapa Tuhan ijinkan aku memulai pelayananku sebagai pendoa. Karena roh yang doa adalah dasar dari segala sesuatu. Dimanapun aku akan ditempatkan nantinya, doalah yang akan tetap membuatku on His track, doalah yang akan membuat kau tetap memahami isi hati-Nya.
Sekalipun aku di-off-kan, aku tahu bahwa Tuhan turut berperkara dalam hal ini. Karena nggak ada satu hal pun di dalam hidup ini yang terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan, tanpa ijin Tuhan. Justru ketika aku di-off-kan dari pelayanan, aku mau “menenggelamkan diriku” dalam pengenalan akan kehendak-Nya lebih dalam lagi, aku mau semakin giat mencari Tuhan. Bahkan aku punya komitmen yang baru, yaitu di tahun 2014 ini, aku akan naik ke bukit doa untuk berdoa en mencari kehendak-Nya setiap bulan, nggak peduli ada orang yang nemeni atau nggak. I need more intimacy with God.
Di telapak tangan-Mu tertulis namaku
Di dalam genggaman-Mu seluruh hidupku
Sungguh bangga kupunya Bapa seperti-Mu
Yang tak pernah melupakanku
Di tengah badai hidup, Kau menemaniku
Di atas gunung batu, Kau bawa diriku
Sungguh bangga kupunya Bapa seperti-Mu
Yang tak pernah meninggalkanku
Reff:
Kunyatakan Engkau, Tuhan di hidupku
Tuhan di setiap ucapan dan perbuatanku
Kunyatakan Engkau, Tuhan di hidupku
Tuhan yang slalu kusembah di setiap nafasku
("Tuhan di Hidupku)
No comments:
Post a Comment