Blog ini dibuat sebagai jurnal dari apa yang dipelajari oleh penulis dalam kehidupan. Bagaimana penulis belajar dari setiap kesalahan dan kejadian dalam hidupnya, serta dituntun oleh Roh Kudus untuk semakin serupa dengan Penciptanya.
December 12, 2013
HOW TO GET PEACE
TANDA KEHIDUPAN
KEMURAHAN HATI
Jujur, waktu itu aku dongkol banget. Tuh orang kok bisa-bisanya ninggal kerjaannya kayak gitu. Uda dibantuin, kok sikapnya kayak gitu. Karena kejadian itu, aku mikir percuma yah aku repot-repot bantuin dia. Tau gitu aku nikmatin aja waktu-waktu santaiku kan. Duuuuhhhh >.<
选择有风险
F.R.I.E.N.D.S.H.I.P.
Persahabatan yang paling indah ditunjukkan oleh Daud dan Yonatan. Yonatan rela memberikan segala yang ia miliki kepada Daud, karena ia tahu bahwa bukan dirinya yang dipilih Tuhan menjadi raja, sekalipun ia adalah anak Saul. Bahkan Yonatan menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah, ketika Daud berada dalam ketakutan (I Samuel 23:16). Nggak heran apabila Daud masih menghargai persahabatan mereka sekalipun Yonatan telah meninggal dunia. Bahkan Daud masih memegang teguh perjanjian mereka dan menunjukkan kasih kepada keturunan Yonatan (II Samuel 9:1-7). Sungguh sebuah persahabatan yang luar biasa en sangat menginspirasi, dimana persahabatan mereka nggak lekang digerus waktu. Benarlah yang dikatakan oleh Amsal 17:7; “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”.
Dalam kehidupan ini, sahabat nggak selalu ada bersama-sama dengan kita, entah karena terpisahkan oleh kesibukan, jarak maupun waktu. Namun, sahabat adalah orang yang selalu dapat diandalkan saat kita berada dalam masa-masa sulit. Sahabat bukanlah orang yang hanya berbuat baik kepada kita, namun juga berani mengambil resiko untuk mengoreksi kita sekalipun hal itu menyakitkan hati kita. Seorang sahabat adalah orang terdekat yang menginginkan hal terbaik untuk hidup kita.
Dalam hidup ini, kita memiliki banyak teman, namun hanya beberapa sahabat. Persahabatan yang kuat adalah persahabatan yang telah diuji oleh badai masalah, diterpa oleh angin kesalahpahaman, serta dibanjiri oleh kasih yang tanpa syarat. Ada kalanya kita bertengkar dengan sahabat, salah mengerti dengan keputusan yang ia buat, berbeda pendapat tentang suatu hal. Namun, melalui semua itu, kita semakin mengenal kepribadian sahabat kita.
Jika hari ini kita memiliki sahabat, bersyukurlah kepada Tuhan, sekalipun ada sifat dari sahabat kita yang mungkin membuat kita jengkel, ada hal-hal kecil yang membuat kita kurang sreg, maupun hal-hal yang terkadang bikin kita sedih. Sadarilah bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan sahabat untuk menopang, mengoreksi, mendoakan, bahkan hanya untuk sekedar hangout bareng. Manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi, saling memberi, saling dibentuk secara karakter, serta saling mengampuni.
Timbulnya konflik dalam persahabatan adalah hal yang biasa terjadi. Amsal 27:17 mengatakan “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Hal ini berarti bahwa karakter kita bisa dipertajam melalui setiap konflik yang kita hadapi, dengan catatan respon hati kita benar. Dalam sebuah persahabatan, kita perlu berhati-hati dengan perkataan kita demi menjaga hati sahabat kita. Kita tahu bahwa lidah kita memiliki kuasa, dan perkataan yang keras sekalipun mengandung kebenaran mampu melukai hati seseorang, terutama jika kata-kata tersebut diucapkan oleh orang yang dekat dengan kita. Lebih baik menjaga lidah untuk tidak menyakiti daripada memulihkan luka yang pernah kita timbulkan.
Satu hal yang aku pelajari untuk membangun sebuah persahabatan yang kokoh adalah kita perlu melibatkan Tuhan dalam persahabatan kita, seperti yang dilakukan oleh Daud dan Yonatan. Salomo mengatakan; “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkotbah 4:12).
THE DREAM COMES TRUE
November 10, 2013
DUG DOWN DEEP PART 2 (JOSHUA HARRIS)
BAB 7: BAGAIMANA YESUS MENYELAMATKAN GREGG EUGENE HARRIS
("Bagaimana karya keselamatan yang diselesaikan di luar kota Yerusalem memberikan hidup yang baru bagi seorang anak muda di pantai California?")
1. Anugerah Allah, seperti yang dikatakan Jerry Bridges, adalah "kebaikan Tuhan yang ditunjukkan kepada orang yang tidak layak". Keselamatan bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan atau beli. Efesus 2:8-9 mengatakan, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri".
2. Tulang yang mati menjadi pasukan yang kuat dalam kisah Yehezkiel, itulah gambaran keselamatan yang dari Allah. "Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2:9). Keselamatan adalah kuasa supernatural Allah dalam jiwa manusia. Hanya Dia yang bisa memberikannya. Cara pandang keselamatan seperti ini membuat kita rendah hati.
3. Yesus mengatakan supaya seseorang diselamatkan dan jadi bagian dari Kerajaan-Nya, orang itu harus "dilahirkan kembali" (Yohanes 3:3). Kelahiran baru yang Yesus jelaskan disebut regenerasi. John Frame menulis regenerasi adalah "tindakan dari Allah yang berdaulat, yang memulai kehidupan rohani yang baru dalam kita". Dengan regenerasi, Tuhan memberi seseorang sifat baru, hati baru, dan kehidupan rohani baru.
4. Bertobat berarti berbalik dari sesuatu, menolaknya. Pertobatan yang sejati melibatkan suatu perasaan berdukacita karena melakukan dosa dan sudah menyakiti hati Tuhan. Tapi dukacita ini bukanlah dukacita tanpa harapan. Dukacita ini membuat kita berbalik dan percaya bahwa Yesus bisa mengampuni dosa kita dan dengan kematian-Nya menghapus rasa bersalah kita.
5. Iman dan pertobatan tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang bertobat, mereka tidak hanya sekedar berbalik dari dosa dan kelakuan buruk mereka; mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan ketuhanan-Nya. Mereka percaya kematian-Nya untuk menebus dosa mereka. Mereka percaya kalau Dia bisa menyelamatkan. Mereka berbalik kepada-Nya sebagai Raja dan mereka berbalik dari dosa serta pemerintahan dirinya sendiri.
6. Kita bisa dengan mudah salah berpikir karena kita diperintahkan untuk mempunyai iman. Tapi iman bukan dasar keselamatan kita. Keselamatan hanya bisa didapat oleh anugerah saja (lihat Efesus 2:8-10). Iman adalah saluran anugerah Allah. Jerry Bridges mengatakan, "iman adalah tangan yang menerima anugerah Allah dan Tuhan melalui Roh-Nya membuka tangan kita untuk menerima anugerah-Nya".
7. Aspek penting dari karya keselamatan Allah ini disebut pembenaran dan pengangkatan. Pembenaran memberi kita status baru. Pengangkatan memberi kita keluarga dan ayah yang baru. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa semua orang yang menerima Yesus, semua yang percaya kepada nama-Nya, "diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah". Roma 8:15-16 menggambarkan Roh Kudus sebagai "Roh yang menjadikan kamu Anak Allah", yang memampukan kita memanggil Allah sebagai Abba--istilah Ibrani yang menggambarkan keintiman dengan memanggil ayah kita papa. Ini adalah kombinasi dari keintiman dan rasa hormat.
BAB 8: TELAH DIUBAH, SEDANG DIUBAH, AKAN DIUBAH
("Pengudusan adalah kerja keras. Tapi itu kerja yang baik--hak istimewa mereka yang telah ditebus")
1. Hanya Injil Yesus Kristus yang menawarkan pengharapan riil bagi perubahan yang radikal dan kekal, karena hanya melalui iman di dalam Yesus hakikat seseorang bisa diubah. 2 Korintus 5:17 berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang".
2. Pengudusan tidak berakhir dengan pemutusan dramatis yang kita lakukan terhadap dosa saat kita pertama kali percaya--itu berlangsung seumur hidup kita. Semua itu berlangsung secara progresif, dan juga melibatkan upaya kita. Allah tidak membiarkan kita sendirian, Ia memberi kita Roh-Nya dan memampukan kita oleh Roh-Nya. Kekudusan bukanlah sesuatu yang opsional bagi orang percaya. Ibrani 12:14 berkata, "Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan".
3. Mengapa proses perubahan itu begitu sulit? Mengapa orang Kristen masih mesti bergumul dengan dosa? Analogi ini tidak sempurna, tapi kita bisa diandaikan seperti tahanan perang yang telah dibebaskan dari kurungan tapi masih ada di wilayah musuh. Kita memang telah diselamatkan--kita tidak lagi terkurung, tapi perang belum berakhir. Kita masih menunggu komandan kita untuk kembali dan menaklukkan musuh sepenuhnya. Dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, iblis, dan hati kita yang masih melantur kemana-mana itu masih mengancam kita. Justru melebihi sebelumnya, kita mesti berjaga-jaga.
4. Realitas yang sudah terjadi dan belum terjadi dari keselamatan ini menolong kita menempatkan semuanya pada perspektif yang tepat. Pertama, Allah telah mengubah kita. Saat kita percaya, kita diberi hidup baru, hasrat yang baru, dan identitas yang baru sebagai anak-anak Allah (Efesus 2:4-5, Yohanes 1:12). Kedua, saat kita menjalani kehidupan Kristen, kita tetap diubah. Saat kita bekerja sama dengan Roh Allah, berbalik menjauhi dosa, dan belajar menaati Firman Allah, kita sedang dijadikan serupa dengan gambar Allah dan dijadikan kudus (Kolose 3:8-10). Ketiga, orang Kristen menantikan kedatangan Yesus supaya bisa diubah sepenuhnya dan selamanya. Pada saat itulah kita dijadikan seperti Kristus dengan tubuh kemuliaan yang bebas dari dosa dan segala dampak yang merusaknya.
5. Walaupun seorang Kristen tidak lebih dibenarkan dari orang Kristen lainnya, sebagian orang Kristen lebih menyerupai Yesus. Mereka yang mendengarkan Firman Allah dan berusaha menaatinya di dalam kuasa Roh akan lebih menjadi seperti Dia. Mereka yang secara aktif mematikan dosa dan mengenakan perilaku Sang Juruselamat akan bertumbuh di dalam kekudusan. Mereka yang memberi perhatian kepada persekutuan dengan Allah melalui doa dan pembelajaran Firman-Nya akan lebih menyerupai Yesus Kristus. Filipi 2:12-13 mendesak kita, "kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya".
6. Mengakui dosa dan kesalahan kita memang menyengat keangkuhan kita, tapi jika kita tidak jujur untuk menyebut dosa apa adanya, kita tidak akan pernah menerima kuasa yang Allah sediakan untuk mengatasinya. 1 Yohanes 1:8-10 berkata, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita".
7. Pertumbuhan mesti didefinisikan dengan cara menjadi seperti Yesus. Hal itu mesti berakar di dalam hubungan kita dengan-Nya dan dibangun di atas keyakinan yang riil dan berakar pada Alkitab. Menjadi serupa dengan Yesus tidak terbatas pada hanya tidak melakukan yang salah. Keserupaan iru berkaitan dengan "melakukan" yang benar secara aktif. Keserupaan itu terkait dengan mengejar ketaatan. Roma 13:14 memerintahkan kita untuk menghindari daging, tapi hal itu diawali dengan "kenakanlah Tuhan Yesus Kristus".
8. Bagaimana kita menyapa Allah mengungkapkan bagaimana kita berpikir tentang Dia. Dan apa yang kita pikirkan tentang Dia membentuk cara kita berhubungan dengan-Nya. Bagaimana kita berhubungan dengan-Nya menentukan bagaimana kita menafsirkan karya-Nya di dalam diri kita serta maksud-Nya bagi kita.
9. Kekudusan bukanlah sekadar daftar aturan. Kekudusan berarti meniru Bapa saya (I Petrus 1:15-16). Ia penuh kasih, baik, suci, jujur, sabar, dan lembut. Dan karena saya adalah anak-Nya, saya ingin menjadi seperti-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Saya ingin bertumbuh di dalam penghormatan, pengenalan, dan apapun yang mendatangkan berkat bagi hati Bapa saya.
10. Pengudusan berarti kerja keras. Tapi itu adalah kerja yang baik. Kerja itu dimungkinkan oleh Roh Kudus. Kerja itu merupakan hak istimewa umat yang telah ditebus. Bekerja untuk menjadi seperti Bapa mereka merupakan kemuliaan besar anak-anak yang diangkat oleh Allah.
"Kalau gereja adalah pusat dari rencana Tuhan, seperti terlihat dalam sejarah dan Injil, gereja juga harusnya menjadi pusat dari hidup kita" (John Stott).
Menjadi orang Kristen berarti kita menjadi milik Tuhan dan milik satu sama lain, dan bersama-sama memenuhi tujuan Allah di bumi.
"Ada perbedaan antara memisahkan diri dan menguduskan diri. Isunya bukan peraturan yang memisahkan kita, tapi hati yang diserahkan" (John Piper)
"Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita" (II Timotius 1:13-14)
"Teologi yang rendah hati adalah teologi yang menundukkan diri kepada kebenaran Firman Allah" (Mark Denver)
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9)
DUG DOWN DEEP PART 1 (JOSHUA HARRIS)
BAB 1: RUMSPRINGA YANG SAYA ALAMI
("Kita semua teolog. Pertanyaannya adalah, apakah pengetahuan kita tentang Allah itu memang benar?")
1. Dalam bahasa Belanda dialek Pennsylvania, rumspringa secara harafiah berarti "berlari keliling-keliling". Kata itu berarti musim melakukan apapun dan segala yang Anda inginkan tanpa aturan apapun. Delapan puluh hingga 90 persen remaja Amish memutuskan untuk kembali ke gereja Amish setelah menjalani rumspringa. Saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya mereka kembali? Apakah mereka memang memilih Allah, atau sekadar memilih kehidupan yang aman dan sederhana?
2. Teologi adalah studi tentang Allah--siapa Dia dan bagaimana Ia berpikir dan bertindak. Teologi penting karena apa yang kita ketahui tentang Allah membentuk cara kita berpikir dan hidup. Apa yang Anda percayai tentang Allah--seperti apa Dia, apa yang Ia kehendaki dari Anda, dan apakah kelak Anda akan bertanggung jawab kepada-Nya--mempengaruhi segala bagian kehidupan Anda.
3. Yeremia 6:16 Beginilah firman TUHAN: "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!" Berjalan di jalan-jalan yang dahulu kala itu berarti berhubungan dengan Allah sebagaimana yang Ia kehendaki. Ini berarti menerima dan menaati pernyataan diri-Nya dengan penuh kerendahan hati dan kekaguman.
4. Ketika saya menonton film dokumenter tentang ritus rumspringa, hal yang menonjol bagi saya adalah para para remaja Amish memproses keputusan bergabung atau tidak dengan gereja Amish, kelihatannya tidak punya banyak kaitan dengan Allah. Mereka tidak mencari dalam Alkitab apakah ajaran gereja mereka tentang dunia, hati manusia, dan keselamatan memang benar. Mereka tidak bergulat dengan teologi. Keputusan tersebut lebih banyak berkaitan dengan soal memilih sebuah budaya dan gaya hidup. Dalam beberapa kasus tertentu, keputusan itu memberikan kepada mereka pekerjaan tetap, atau memungkinkan mereka menikahi orang yang mereka inginkan.
5. Hal-hal yang memang saya butuhkan, bahkan saya rindukan dalam hubungan saya dengan Allah, justru terbungkus dalam hal-hal yang dulu saya yakini tidak punya manfaat apa-apa. Saya tidak paham bahwa kata-kata yang terasa usang seperti teologi, doktrin, dan ortodoksi justru menjadi jalan kepada pengalaman misterius yang penuh kekaguman, yaitu sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus yang hidup.
BAB 2: DI MANA SAYA BELAJAR MENGGALI
("Di baliknya hadir pertanyaan yang lebih mendalam: pada dasar apa saya akan membangun kehidupan saya?")
1. Dalam perumpamaan orang yang membangun rumah di Lukas 6:46-49, orang bijak itu adalah orang yang datang kepada Yesus, mendengarkan kata-kata-Nya, lalu menerapkannya. Aktivitas ini--pendekatan penuh iman kepada Yesus, menerima kebenaran-Nya, lalu mengaplikasikan kebenaran itu--dikatakan Yesus sama seperti orang yang menggali dalam-dalam lalu membangunnya pada dasar yang kuat.
2. Yang paling sulit adalah menerapkan semuanya dalam perbuatan. Kebenaran menuntut tindakan. Datang kepada-Nya, menyebut Dia Tuhan, dan mengetahui firman-Nya tidak pernah cukup. Doktrin dan teologi dimaksudkan untuk diaplikasikan--bukan hanya untuk membentuk ulang sebuah pernyataan iman, tapi juga membentuk ulang berbagai keputusan praktis tentang bagaimana kita berpikir dan bertindak.
Sekedar tahu tentang Allah atau kesalehan tidaklah cukup, tapi kita mesti sungguh-sungguh mengenal Allah itu sendiri--karakter dan atribut-Nya (J. I. Packer dalam buku "Knowing God").
3. Di dasar apakah saya membangun hidup saya? Alih-alih mendasarkannya pada kesempatan, perasaan, ataupun pertimbangan pragmatis; seharusnya saya mendasarkan pilihan saya pada kebenaran tentang Allah dan apa yang Ia kerjakan di dunia. Doktrin tidak hanya memberitahu kita tentang apa yang telah Allah lakukan, tapi juga apa makna tindakan-Nya itu bagi kita.
4. Mengenali dan hidup berdasarkan doktrin yang sehat punya posisi sangat penting. Karena pada hari terakhir, hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan hidup bagi-Nya yang akan diselamatkan dari murka Allah. Dan karena di masa kini ketika kehidupan kita diguncang penderitaan, pengetahuan langsung akan karakter dan kasih Allah adalah satu-satunya hal yang mampu membuat kita bertahan.
5. Tidak ada yang lebih penting, lebih berharga, dan lebih mendatangkan keamanan hidup daripada mengenal dan hidup berdasarkan kebenaran Allah. Ketika Anda menyaksikan kekuatan dan rasa aman sebagai hasil dari menggali ke dalam kebenaran doktrinal, Anda juga ingin menggali ke dalam kebenaran itu sendiri.
BAB 3: DEKAT TAPI TIDAK BISA MASUK KE KANTONG SAYA
("Allah sangat berbeda dari saya. Dan fakta itu sangat mengagumkan")
1. Tidak ada yang lebih penting daripada mengenal Allah dengan benar serta memikirkan berbagai hal yang benar tentang Dia. Walaupun kita tidak bisa mengenal Allah secara mendalam, kita bisa mengenal-Nya dengan benar. Hal ini dimungkinkan karena Allah telah menyatakan sejumlah kebenaran tentang diri-Nya sendiri.
Yang membuat kita kesulitan memahami kebenaran tentang Allah bukan kebesaran-Nya yang melampaui segala sesuatu, tapi keterpusatan kita pada diri sendiri yang keterlaluan.
2. Dalam buku "Soul Searching", Smith dan Denton menggambarkan konsep tentang Allah yang lazim dianut kaum remaja sebagai "deisme terapeutik moralistis".
• Pandangan moralistis menyatakan bahwa jika saya menjalani kehidupan yang bermoral, melakukan yang baik-baik, dan mencoba tidak melakukan hal-hal yang buruk, Allah akan memberikan upah setimpal dan mengirim saya ke "tempat yang lebih baik" jika saya mati kelak.
• Orientasi terapeutik tentang Allah berkata bahwa alasan utama keberadaan-Nya adalah untuk membuat saya merasa senang dan damai. Jadi, Allah merupakan sebentuk terapi, sejenis pertolongan diri sendiri.
• Deisme mengatakan Allah itu hadir, tapi Ia berada jauh dan lebih sering tidak terlibat. Dengan kata lain, Allah tidak melibatkan diri dalam cara yang menguntungkan kita. Ia tidak akan menginterupsi rencana saya atau campur tangan dalam urusan saya.
3. J. I. Packer menulis: hanya karena Allah itu adalah Pribadi (artinya kita bisa berbicara kepada-Nya, berhubungan dengan-Nya, dan mengenal-Nya), tidak berarti Ia sama dengan kita. Kita terbatas dalam segala arah, tapi Allah kekal, tidak terbatas, dan Mahakuasa. Ia menggenggam kita dalam tangan-Nya, kita tidak pernah bisa menaruh-Nya di dalam tangan kita. Seperti kita, Ia adalah suatu pribadi, tapi tidak seperti kita, Ia agung.
4. Kasih Allah hanya akan jadi berita yang indah kalau kita memahami transendensi-Nya--ketika kita gemetar melihat kekudusan-Nya, terpesona oleh kesempurnaan dan kuasa-Nya. Melihat Allah sebagaimana adanya Dia membuat pemazmur bertanya, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:5).
5. Yesaya 57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk". Realitas yang luar biasa bahwa Allah yang "bersemayam untuk selamanya" dan kudus serta transenden itu juga adalah Allah yang mendekat kepada orang yang remuk dan rendah hati di hadapan-Nya.
6. Semakin kita mempelajari tentang siapa Allah sebenarnya, semakin dahsyat Dia mengundang kita untuk mengenal-Nya. Ketika Anda mengenal-Nya sebagai Allah yang tidak terbatas dan Mahakuasa, kudus, dan kekal yang tinggal di surga, Anda akan memahami pernyataan bahwa Ia mengasihi Anda dengan cara yang benar-benar baru.
7. Allah itu dekat. Tapi kita tidak bisa mengatur atau membungkus-Nya. Ia tidak akan muat di dalam kantong kita. Yang Mahakuasa itulah yang justru menggenggam kita di dalam tangan-Nya.
BAB 4: ROBEK, BAKAR, MAKAN
("Ketika kita membaca Alkitab, ia membuka diri kita. Alkitab membaca kita")
1. Alkitab mampu mentransformasi hidup secara radikal ketimbang sembarang buku penuh instruksi. Tapi kita tidak akan memahami atau memperoleh manfaat apapun darinya sebelum kita percaya kepada klaim Alkitab tentang dirinya sendiri. Alkitab adalah alat komunikasi yang hidup dari Allah yang adalah sebuah pribadi kepada umat manusia-secara spesifik, kepada Anda.
2. Salah satu bagian penting dari kehidupan yang didasari kebenaran bukanlah sekadar percaya Alkitab itu adalah Firman Allah, tapi juga memahami benang merah Alkitab dari awal hingga akhir. Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah berkarya dan bertindak di dalam sejarah manusia.
Di dalam setiap halaman Alkitab, setiap kisah membisikkan nama-Nya. Seluruh Kitab Suci diberikan kepada kita supaya kita bisa mengenal dan mengasihi-Nya. Wahyu diberikan demi menghadirkan hubungan.
3. Ketika kita membaca Alkitab, Roh Kudus memberi konfirmasi di dalam hati kita bahwa yang kita baca itu bukanlah kata-kata manusia, tapi Firman Allah itu sendiri. Firman Allah benar dan kekal. Amsal 30:5-6 berkata, "Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta".
4. Doktrin Alkitab mengajarkan kita tentang otoritas Firman Allah. Kitab Suci mesti menjadi aturan paling utama bagi iman dan praktik kehidupan kita. Bukan perasaan kita, bukan tanda-tanda atau kata-kata nubuatan atau firasat. Apakah kita akan taat ketika kita tidak menyukai apa yang dikatakan Alkitab? Kitab Suci selalu dimaksudkan untuk bekerja dalam kehidupan kita. Firman Allah memiiki otoritas, ketika kita menundukkan diri kepadanya, Kitab Suci memperlengkapi kita untuk pekerjaan baik. Firman memberikan kepada kita hal-hal yang kita butuhkan untuk mengasihi, melayani, dan berkorban.
5. Beberapa kata penting yang menolong kita berpikir secara tepat tentang Kitab Suci:
• Ineransi
Ajaran Ortodoks gereja Kristen menegaskan bahwa Firman Allah di dalam manuskrip aslinya tidak mengandung kesalahan (ineran). Ajaran ini dibangun dari kesaksian Alkitab bahwa Allah tidak pernah berbohong (Titus 1:2).
• Kejelasan
Roh Kudus menerangi hati kita untuk memahami pesannya dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Alkitab memiliki makna yang lugas. Saat sebuah bagian Alkitab sulit dipahami, kita bisa menguji sudut pandang kita dengan bagian-bagian lainnya. Ini berarti Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri.
• Kecukupan
Alkitab itu cukup, berarti Ia telah memberitahukan kepada kita segala yang kita perlu ketahui agar bisa sungguh-sungguh mengenal Dia, menemukan pengampunan dosa, dan diyakinkan mengenai kehidupan kekal bersama Sang Pencipta.
6. Firman Allah menemui kita di tempat kita berada. Firman itu menemui kita di tengah keraguan. Firman itu berbicara kepada kita di tengah pergumulan spiritual. Kita bisa menemukan sukacita di dalam Firman Allah dan dalam kepastian janji-janji-Nya, walaupun hati kita jauh dari sukacita.
7. Alkitab adalah kisah tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Setiap kisah membisikkan nama-Nya. Yesus datang untuk mencari dan membebaskan kita. Ketika Anda memahami itu, membaca Alkitab niscaya menjadi sesuatu yang mendatangkan sukacita.
