December 12, 2013

HOW TO GET PEACE

1. Yesaya 32:17 --> "Dimana ada kebenaran ada damai sejahtera"
Lakukan kebenaran dimanapun kita berada, maka akan ada damai sejahtera :)

2.Matius 11:29 --> Pikullah kuk yang dari Tuhan, bukan kuk yang bukan dari Tuhan.
Kalo kita pikul kuk yang dari Tuhan, maka jadi ringan!
Mateo= matetes => pemuridan.
Kita perlu cari mentor, perlu dimuridkan.

Kuda liar Sumbawa harus lewati 2 step pemuridan:
a. Di-training oleh motor (untuk. menghilangkan egonya)
b. Di-training oleh kuda senior (untuk belajar submit pada pemimpin)

"Kuk yg Kupasang itu enak dan BELAJARLAH KEPADAKU!"
Kalo kita ngotot sama Tuhan, akibatnya kita cedera.
Belajarlah tunduk!
Hati dan jiwa kita tenang jika kita belajar tunduk.

Harus belajar tunduk kepada siapa?
A. Tuhan
B. Pemimpin
C. Lembaga manusia
D. Orang tua

Seringkali kita pura-pura tunduk tapi sebenarnya kita nanduk.
Belajar punya penundukan diri. Orang yang nggak pernah belajar submit, dia nggak akan tenang dalam hidupnya, nggak punya damai sejahtera.
"Tunduklah kepada Allah dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu".
Belajar TAAT pada otoritas yang di atas.


Orang yang mendua hati dan nggak mau tunduk nggak akan tenang dalam hidupnya.
Kita harus berada di posisi yang benar di bawah otoritas.
Kalo pemimpin di atasmu salah, tegurlah 4 mata. Bukan untuk digosipkan, tapi untuk diselesaikan.
Menyebarluaskan kesalahan pemimpin/ menggosipkan termasuk pemberontakan.
Kalo pemimpinmu nggak mau ditegur, naik lagi ke otoritas ke atasnya (ngomong ke pemimpin di atasnya lagi).
Banyak orang yang pindah-pindah CG karena nggak mau tunduk. Jangan pindah-pindah, tapi belajar submit sama pemimpin yang ditunjuk atas hidupmu.


Kalo kamu submit dengan pemimpin di atasmu, nanti kamu akan dapat urapan yang dahsyat. Belajar seperti Daud, yang nggak mau bunuh Saul karena dia tau ada urapan Allah atas hidup Saul. Nggak heran Daud diangkat tinggi.
Kalo mau punya doa-doa yang penuh kuasa, harus belajar submit.
Cek dan koreksi kualitas hatimu!

Manusia sering kali nggak tenang karena:
1. Mendua hatj
2. Fokus kepada mamon
3. Tidak ada penundukan diri


Pdt. Arman Harijanto
Doa malam
Sept 20, 2013



TANDA KEHIDUPAN

Sejak ngalami konflik dengan pemimpin menaraku, kuakui bahwa hatiku kecewa dan terluka. Aku belajar mengampuni, mendoakan, bahkan memberkati dia. Tapi nggak jarang hati ini sakit pas inget kejadian itu en kata-katanya yang menghakimi aku dengan kejamnya. Fiuuhhh.

Aku mulai males untuk datang ke menara doa, apalagi kalo dia yang mimpin. Aku mulai males nanggepi setiap info yang ada di grup tentang pelayanan doa disana dan disini. Aku tau hal ini salah. Aku tau kalo aku nggak boleh kayak gini. Tapi aku butuh waktu untuk pulih.

Suatu malem, aku nangis di hadapan Tuhan. Aku curahkan setiap perasaan yang ada dalam hatiku. Aku nangis sejadi-jadinya, aku udah nggak peduli dengan apapun juga. En Dia selalu memelukku dengan kasih-Nya yang sempurna. Dia bilang kayak gini: “Luc, bagus kalo kamu tau apa yang ada dalam hatimu. Bagus kalo kamu tau bahwa kamu nggak seharusnya kayak gini. Bagus kalo kamu menyadari apa yang sedang terjadi dalam hidupmu. Nggak apa-apa. Hidup ini memang ngalami naik dan turun, susah dan senang, dikasihi dan dikecewakan. Aku mengijinkan kamu ngalami hal ini supaya kamu tau bahwa kamu masih memiliki kehidupan yang penuh warna”.            

Aku baru tersadar, bahwa naik dan turunnya kehidupan, pasang surutnya masalah, tinggi rendahnya emosi merupakan tanda kehidupan. Seperti yang ada dalam alat kedokteran, jika masih ada garis naik dan turun, itu artinya pasien masih hidup. Nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan selama kita masih hidup, karena jika kita masih bernafas, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu, berarti masih ada peluang untuk meraih kehidupan yang lebih baik, berarti masih ada jalan untuk dipulihkan.

Yang perlu dikhawatirkan adalah jika kehidupan kita sudah mengalami yang namanya stagnasi, nggak ada pergolakan batin, nggak ada masalah sama sekali, semuanya baik-baik aja. Karena ketika stagnasi terjadi, hal itu menimbulkan sebuah potensi “kematian” dalam kehidupan kita, entah ketumpulan kepekaan, kurangnya kesadaran bahwa kita membutuhkan Tuhan, maupun hal-hal lainnya.

So, jika hari ini hidup kita mengalami naik dan turun, bersyukurlah. Sadarilah bahwa itu merupakan tanda kehidupan, itu adalah tanda bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidup kita.

KEMURAHAN HATI


Sekitar 2 minggu lalu, aku belajar sebuah pelajaran yang sangat berkesan. Kuakui dunia kerja tuh bener-bener penuh dengan tantangan besar. Dari kejadian itulah aku sadar bahwa karakter dan hatiku masih perlu banyak diproses oleh Roh Kudus. Ternyata masih banyak hal yang belum tepat seperti yang Kristus kehendaki dalam hidupku.

Hari itu ceritanya aku sudah mulai ditinggal sama seniorku (dia sudah mulai pindah ke bagian accounting untuk ngerjakan job desk barunya). Aku mulai kerjakan job desk-ku sendirian, bingung sana bingung sini. Tanya sana nanya sini. Tapi tangan Tuhan tuh nyata banget sehingga sekitar jam 3 sore semua kerjaan udah kelar. Seperti biasa, aku nggak suka nganggur di kantor. Aku mulai cari-cari hal lain yang bisa kukerjakan. (FYI, bagianku tuh meriksa tagihan alias hutang, trus bikin giro en bukti bank keluar, lalu serahin kerjaanku untuk dicek sama manager en GM. Trus minta tandatangan direksi en minta penjadwalan pembayaran tagihan ke GM). Anehnya hari itu, semua udah beres.

Karena masih ada 2 jam lagi menuju jam pulang kantor, aku tengok kanan kiri. Senior di sebelahku bilang: “Udah selesai semua yah? Dinikmati aja waktu-waktunya, nyantai aja”. Tapi aku nggak mau. Trus ada temen dari bagian accounting mampir ke mejaku en nanya aku ngapain. Trus aku bilang kalo aku nggangur en ngantuk banget, karena nggak ada lagi yang bisa kukerjakan. Tiba-tiba dia nyeletuk: “Si cece A (dia tuh bagian petty cash) kayaknya banyak kerjaan tuh, kamu mau bantuin dia ngarsip kerjaannya ta?” Aku pikir no problem lah, toh aku nganggur. So akhirnya aku bantuin si cece itu dengan senang hati. Dia ngajarin aku ngurutkan tanggal en nomer petty cash-nya sebelum dimasukkin ke ordner.

Sebenernya kerjaannya gampang, nggak makan tenaga banyak. Tapi yang bikin aku kesel tuh sikapnya dia. Jadi waktu itu, ternyata kertas-kertas petty cash-nya itu nggak urut bahkan ada yang salah penomorannya, trus aku bilang ke dia kan. Karena uda jam pulang, dia nggak seberapa nganggep aku. Dia sibuk banget beres-beres, trus dengan santainya bilang: “Oh itu salah ya, berarti ke belakang-belakangnya salah juga. Ya udah deh, besok aja dilanjutin, aku mau pulang. Thankyou ya”. Trus dia ngeloyor pergi. Dienkkkk.

Jujur, waktu itu aku dongkol banget. Tuh orang kok bisa-bisanya ninggal kerjaannya kayak gitu. Uda dibantuin, kok sikapnya kayak gitu. Karena kejadian itu, aku mikir percuma yah aku repot-repot bantuin dia. Tau gitu aku nikmatin aja waktu-waktu santaiku kan. Duuuuhhhh >.<

Besoknya, aku ngeliat tuh cece dengan jengkel, jadi males nyapa dia, jadi males ngomong sama dia. Pokoknya males deh berhubungan sama dia. Dalem hati aku bilang, seumur-umur aku nggak bakalan bantuin dia lagi deh. Th kalo dia nganggur en tau aku banyak kerjaan, dia juga nggak pernah mau bantuin kok, malah asyik ngobrol sama manager. Ngapain aku berbaik hati sama orang yang nggak ada timbal baliknya. *jengkel bin mangkel bin dongkol, hahahaha*

Trus aku sempet doa dalam hati, sambil rada ngomel jugak sih: “Tuhan, aku nyesel loh kemarin bantuin cece itu. Dia kok nggak ada rasa terima kasihnya sama sekali, main ngeloyor pulang aja. Padahal aku kan udah repot-repot bantuin dia”. Yang bikin aku hampir nangis tuh pas Tuhan bilang: “Aku kan nggak nyuruh kamu bantuin dia, Luc. Justru disitulah Aku mau ngajar kamu untuk murah hati, seperti Aku murah hati. Murah hati tuh berarti kamu nggak ngungkit-ngungkit kebaikan yang kamu lakukan. Murah hati tuh berarti tetap mengasihi sekalipun kamu dikecewakan”. Huuuuwwwaaaaaaaa.

Aku sadar sebagai manusia, aku nggak sempurna. Aku sadar kalo seringkali aku berbuat baik sama orang lain dengan keinginan untuk dapet balasan yang sama. Aku sadar kalo aku ngebantuin dia nggak tulus, sekalipun aku nganggur en nggak keberatan untuk bentuin dia. Aku jadi paham kedegilan hatiku, ternyata aku bantuin dia karena aku berharap dia bisa bantuin aku kalo lagi sibuk.

Thanks Tuhan untuk sebuah kesempatan dimana Kau menguji keberadaan hatiku. Thanks Tuhan karena Kau sudah menyadarkanku kondisi hatiku yang sebenarnya. Thanks untuk sebuah pelajaran berharga agar aku jadi orang yang murah hati.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6: 36).
“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5: 43-48).

Dec 8, 2013
8: 57


选择有风险

Xuan ze you feng xian. Setiap pilihan memiliki resiko masing-masing. Itulah yang kurasakan sejak aku masuk ke kantor baru. Overall, aku suka dengan suasana kerja kantor ini, dengan segala macam kesibukan dan rutinitas yang ada, dan dengan teman-teman yang memiliki keunikan masing-masing.

Aku tau bahwa di kantor ini, setiap waktu karakterku dibentuk sedemikian rupa, melalui setiap kejadian dan masalah yang baru bagiku. Tapi aku mulai merasakan “dampak-dampak negatif”, seperti kelelahan fisik karena selalu pulang jam 17.30 dan 1 minggu 2-3 kali malamnya masih harus les mandarin, nggak punya waktu dan kekuatan untuk menulis blog, nggak ada waktu khusus untuk baca buku. Bahkan aku selalu kecapekan saat aku seharusnya melayani di menara doa di hari Jumat sehingga sering bolos x_x

Banyak kejadian yang bikin aku stress di kantor, banyak hal yang bikin aku ngerasa aku nggak efektif untuk Kerajaan Sorga, banyak hal yang bikin aku nggak punya waktu sama orang-orang di sekelilingku. Seolah-olah kegiatanku setiap hari cuma kerja, kerja ,dan kerja. Apalagi mendekati akhir tahun, dokumen tagihan makin menggunung en makin dikejar-kejar vendor dengan sumpah serapahnya untuk segera bayar hutang perusahaan. Belum lagi beberapa hari terakhir, aku melakukan banyak banget kesalahan konyol, sehingga aku merepotkan senior-seniorku, bahkan managerku.

Jumat kemarin (6 Desember 2013), pas jam makan siang, aku merenung di kantor. Dengan banyaknya kejadian buruk yang terjadi dan keteledoran demi keteledoran yang sebelumnya nggak mungkin aku lakukan, aku berpikir mungkinkah ini sebuah pertanda.  Aku berdoa, nanya sama Tuhan, apakah berada di kantor ini merupakan rencana-Nya bagiku. Ataukah, Dia mengijinkanku ada disini hanya karena Dia mengasihiku sehingga Ia mengabulkan keinginanku untuk bekerja disini? Aku sampai di satu kesimpulan: LEBIH BAIK BERADA DI PADANG GURUN ASALKAN BERSAMA TUHAN, DARIPADA DI PADANG RUMPUT YANG HIJAU TANPA PERKENANAN TUHAN.

Sampai saat ini, aku belum tau, apakah bekerja di kantor ini merupakan kehendak-Nya yang sempurna bagiku, ataukah ini adalah sebuah pelajaran bagiku. Sebuah pelajaran bahwa betapa indahnya ketika aku berada dalam kehendak-Nya, sekalipun hal itu nggak sesuai dengan keinginanku.



Ditulis dengan penuh pertanyaan dalam hati mengenai kehendak Tuhan dalam hidup penulis


Dec 8, 2013
8:30 pm

F.R.I.E.N.D.S.H.I.P.


Topik tentang  friendship atau persahabatan adalah sebuah topik yang nggak akan habis untuk ditulis. Aku nggak sedang membahas tentang persahabatan antara lawan jenis yang berujung pada hubungan romantis, tapi aku menulis mengenai persahabatan secara universal. Thanks Tuhan, untuk sebuah hubungan yang diberi nama persahabatan, yang dilahirkan dari hati yang saling terikat oleh kasih, yang diperkokoh oleh konflik serta pengampunan, serta dipermanis oleh adanya saling pengertian. Sebuah persabatan adalah harta yang nggak ternilai yang Tuhan percayakan dalam kehidupan manusia.
            
Persahabatan yang paling indah ditunjukkan oleh Daud dan Yonatan. Yonatan rela memberikan segala yang ia miliki kepada Daud, karena ia tahu bahwa bukan dirinya yang dipilih Tuhan menjadi raja, sekalipun ia adalah anak Saul. Bahkan Yonatan menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah, ketika Daud berada dalam ketakutan (I Samuel 23:16). Nggak heran apabila Daud masih menghargai persahabatan mereka sekalipun Yonatan telah meninggal dunia. Bahkan Daud masih memegang teguh perjanjian mereka dan menunjukkan kasih kepada keturunan Yonatan (II Samuel 9:1-7). Sungguh sebuah persahabatan yang luar biasa en sangat menginspirasi, dimana persahabatan mereka nggak lekang digerus waktu. Benarlah yang dikatakan oleh Amsal 17:7; “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”.
            
Dalam kehidupan ini, sahabat nggak selalu ada bersama-sama dengan kita, entah karena terpisahkan oleh kesibukan, jarak maupun waktu. Namun, sahabat adalah orang yang selalu dapat diandalkan saat kita berada dalam masa-masa sulit. Sahabat bukanlah orang yang hanya berbuat baik kepada kita, namun juga berani mengambil resiko untuk mengoreksi kita sekalipun hal itu menyakitkan hati kita. Seorang sahabat adalah orang terdekat yang menginginkan hal terbaik untuk hidup kita.
            
Dalam hidup ini, kita memiliki banyak teman, namun hanya beberapa sahabat. Persahabatan yang kuat adalah persahabatan yang telah diuji oleh badai masalah, diterpa oleh angin kesalahpahaman, serta dibanjiri oleh kasih yang tanpa syarat. Ada kalanya kita bertengkar dengan sahabat, salah mengerti dengan keputusan yang ia buat, berbeda pendapat tentang suatu hal. Namun, melalui semua itu, kita semakin mengenal kepribadian sahabat kita.
            
Jika hari ini kita memiliki sahabat, bersyukurlah kepada Tuhan, sekalipun ada sifat dari sahabat kita yang mungkin membuat kita jengkel, ada hal-hal kecil yang membuat kita kurang sreg, maupun hal-hal yang terkadang bikin kita sedih. Sadarilah bahwa sebagai manusia, kita membutuhkan sahabat untuk menopang, mengoreksi, mendoakan, bahkan hanya untuk sekedar hangout bareng. Manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi, saling memberi, saling dibentuk secara karakter, serta saling mengampuni.
            
Timbulnya konflik dalam persahabatan adalah hal yang biasa terjadi. Amsal 27:17 mengatakan “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Hal ini berarti bahwa karakter kita bisa dipertajam melalui setiap konflik yang kita hadapi, dengan catatan respon hati kita benar. Dalam sebuah persahabatan, kita perlu berhati-hati dengan perkataan kita demi menjaga hati sahabat kita. Kita tahu bahwa lidah kita memiliki kuasa, dan perkataan yang keras sekalipun mengandung kebenaran mampu melukai hati seseorang, terutama jika kata-kata tersebut diucapkan oleh orang yang dekat dengan kita. Lebih baik menjaga lidah untuk tidak menyakiti daripada memulihkan luka yang pernah kita timbulkan.
            
Satu hal yang aku pelajari untuk membangun sebuah persahabatan yang kokoh adalah kita perlu melibatkan Tuhan dalam persahabatan kita, seperti yang dilakukan oleh Daud dan Yonatan. Salomo mengatakan; “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkotbah 4:12).


Raihlah janji yang Tuhan b’ri
di dalam hatimu yang suci
Serasa aku tak percaya
harapan Dia b‘ri dalam hidupku
Kita s’lalu berdekatan
tak terasa kini kan berpisah
Kesatuan hati yang terbuka
yang membuat kita kuat
Reff:
Persahabatan kan kekal bila Yesus beserta
Persahabatan tak kenal perasaan kecewa
Sampai waktunya tiba pulang ke rumah Bapa
Waktu hidup tak panjang, bersahabatlah


Sept 30, 2013
13:26
           

THE DREAM COMES TRUE

Akhirnya aku pindah ke kantor baru per 1 Oktober 2013. Bersyukur banget keluar dari kantor lama yang penuh dengan penderitaan en pergumulan batin., karena disuruh acc atas manipulasi pajak. Kalo inget-inget gimana aku bisa masuk ke kantor baru ini, rasanya nggak bisa berhenti untuk mengucap syukur sama Tuhan.            

En ada 1 hal lagi yang bikin aku makin terpesona sama Tuhan. Jadi ceritanya, pas aku kecil (nggak inget umur berapa, yang jelas masih SD), aku tuh sering banget lewat jalan di depan kantorku yang sekarang ini. Jaman aku kecil, nggak banyak gedung bertingkat tinggi. En sebagaimana anak kecil yang masih polos waktu itu, aku terpesona sama tingginya gedung itu. Kalo diinget-inget, jadi malu deh, ternyata aku pernah sepolos itu, wakakaka. Karena seringnya lewat jalanan depan kantor ini, aku jadi punya keinginan untuk kerja di gedung ini pas aku gede. Sebenernya itu cuma keinginan iseng seorang anak kecil, yang nggak ada seorangpun yang tau. Bahkan aku sendiri udah lupa sama keinginan masa kecilku itu.

Sampai di bulan Juli kemarin, pas aku masukkin lamaran kerja di kantor ini. Pas aku naik lift menuju HRD kantor tempatku sekarang kerja, tiba-tiba Tuhan ngingetin aku akan keinginan “iseng” masa kecilku. Pas diingetin hal itu, aku senyum-senyum en bilang ke Tuhan dalam hati: “Wah, kalo aku keterima di kantor ini, berarti the dream comes true ya Tuhan”. En ternyata aku beneran keterima dengan mudahnya, tentunya karena kasih karunia Tuhan.

Aku jadi inget sebuah ayat: “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:3-4). Dia memberikan kepadaku bukan hanya sekedar pekerjaan yang aku butuhkan, tapi apa yang pernah kuinginkan dalam hatiku saat aku masih kecil, saat dimana aku belum mengenal Pribadi-Nya, bahkan saat itu aku belum ngerti apa-apa. Waow! Dia Tuhan yang setia, Dia nggak pernah lupa keinginan kecilku bertahun-tahun lalu. Gimana nggak makin kesengsem sama Tuhan tuh? :p

Aku nggak pernah ngebayangin aku bakalan kerja di gedung ini. Aku bahkan nggak inget aku pernah punya keinginan itu. Yang aku tau, Tuhan tuh baik banget. Dia tau apa yang jadi keinginan kita (bukan hanya kebutuhan kita), en Dia sanggup serta mau memberikan kepada kita, asalkan hati kita percaya kepada-Nya tanpa ragu.

November 10, 2013

DUG DOWN DEEP PART 2 (JOSHUA HARRIS)

BAB 7: BAGAIMANA YESUS MENYELAMATKAN GREGG EUGENE HARRIS

("Bagaimana karya keselamatan yang diselesaikan di luar kota Yerusalem memberikan hidup yang baru bagi seorang anak muda di pantai California?")

1. Anugerah Allah, seperti yang dikatakan Jerry Bridges, adalah "kebaikan Tuhan yang ditunjukkan kepada orang yang tidak layak". Keselamatan bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan atau beli. Efesus 2:8-9 mengatakan, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri".

2. Tulang yang mati menjadi pasukan yang kuat dalam kisah Yehezkiel, itulah gambaran keselamatan yang dari Allah. "Keselamatan adalah dari TUHAN!" (Yunus 2:9). Keselamatan adalah kuasa supernatural Allah dalam jiwa manusia. Hanya Dia yang bisa memberikannya. Cara pandang keselamatan seperti ini membuat kita rendah hati. 

3. Yesus mengatakan supaya seseorang diselamatkan dan jadi bagian dari Kerajaan-Nya, orang itu harus "dilahirkan kembali" (Yohanes 3:3). Kelahiran baru yang Yesus jelaskan disebut regenerasi. John Frame menulis regenerasi adalah "tindakan dari Allah yang berdaulat, yang memulai kehidupan rohani yang baru dalam kita". Dengan regenerasi, Tuhan memberi seseorang sifat baru, hati baru, dan kehidupan rohani baru.

4. Bertobat berarti berbalik dari sesuatu, menolaknya. Pertobatan yang sejati melibatkan suatu perasaan berdukacita karena melakukan dosa dan sudah menyakiti hati Tuhan. Tapi dukacita ini bukanlah dukacita tanpa harapan. Dukacita ini membuat kita berbalik dan percaya bahwa Yesus bisa mengampuni dosa kita dan dengan kematian-Nya menghapus rasa bersalah kita.

5. Iman dan pertobatan tidak bisa dipisahkan. Ketika seseorang bertobat, mereka tidak hanya sekedar berbalik dari dosa dan kelakuan buruk mereka; mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan ketuhanan-Nya. Mereka percaya kematian-Nya untuk menebus dosa mereka. Mereka percaya kalau Dia bisa menyelamatkan. Mereka berbalik kepada-Nya sebagai Raja dan mereka berbalik dari dosa serta pemerintahan dirinya sendiri.

6. Kita bisa dengan mudah salah berpikir karena kita diperintahkan untuk mempunyai iman. Tapi iman bukan dasar keselamatan kita. Keselamatan hanya bisa didapat oleh anugerah saja (lihat Efesus 2:8-10). Iman adalah saluran anugerah Allah. Jerry Bridges mengatakan, "iman adalah tangan yang menerima anugerah Allah dan Tuhan melalui Roh-Nya membuka tangan kita untuk menerima anugerah-Nya".

7. Aspek penting dari karya keselamatan Allah ini disebut pembenaran dan pengangkatan. Pembenaran memberi kita status baru. Pengangkatan memberi kita keluarga dan ayah yang baru. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa semua orang yang menerima Yesus, semua yang percaya kepada nama-Nya, "diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah". Roma 8:15-16 menggambarkan Roh Kudus sebagai "Roh yang menjadikan kamu Anak Allah", yang memampukan kita memanggil Allah sebagai Abba--istilah Ibrani yang menggambarkan keintiman dengan memanggil ayah kita papa. Ini adalah kombinasi dari keintiman dan rasa hormat.


BAB 8: TELAH DIUBAH, SEDANG DIUBAH, AKAN DIUBAH

("Pengudusan adalah kerja keras. Tapi itu kerja yang baik--hak istimewa mereka yang telah ditebus")

1. Hanya Injil Yesus Kristus yang menawarkan pengharapan riil bagi perubahan yang radikal dan kekal, karena hanya melalui iman di dalam Yesus hakikat seseorang bisa diubah. 2 Korintus 5:17 berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang".

2. Pengudusan tidak berakhir dengan pemutusan dramatis yang kita lakukan terhadap dosa saat kita pertama kali percaya--itu berlangsung seumur hidup kita. Semua itu berlangsung secara progresif, dan juga melibatkan upaya kita. Allah tidak membiarkan kita sendirian, Ia memberi kita Roh-Nya dan memampukan kita oleh Roh-Nya. Kekudusan bukanlah sesuatu yang opsional bagi orang percaya. Ibrani 12:14 berkata, "Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan".

3. Mengapa proses perubahan itu begitu sulit? Mengapa orang Kristen masih mesti bergumul dengan dosa? Analogi ini tidak sempurna, tapi kita bisa diandaikan seperti tahanan perang yang telah dibebaskan dari kurungan tapi masih ada di wilayah musuh. Kita memang telah diselamatkan--kita tidak lagi terkurung, tapi perang belum berakhir. Kita masih menunggu komandan kita untuk kembali dan menaklukkan musuh sepenuhnya. Dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, iblis, dan hati kita yang masih melantur kemana-mana itu masih mengancam kita. Justru melebihi sebelumnya, kita mesti berjaga-jaga. 

4. Realitas yang sudah terjadi dan belum terjadi dari keselamatan ini menolong kita menempatkan semuanya pada perspektif yang tepat. Pertama, Allah telah mengubah kita. Saat kita percaya, kita diberi hidup baru, hasrat yang baru, dan identitas yang baru sebagai anak-anak Allah (Efesus 2:4-5, Yohanes 1:12). Kedua, saat kita menjalani kehidupan Kristen, kita tetap diubah. Saat kita bekerja sama dengan Roh Allah, berbalik menjauhi dosa, dan belajar menaati Firman Allah, kita sedang dijadikan serupa dengan gambar Allah dan dijadikan kudus (Kolose 3:8-10). Ketiga, orang Kristen menantikan kedatangan Yesus supaya bisa diubah sepenuhnya dan selamanya. Pada saat itulah kita dijadikan seperti Kristus dengan tubuh kemuliaan yang bebas dari dosa dan segala dampak yang merusaknya.

5. Walaupun seorang Kristen tidak lebih dibenarkan dari orang Kristen lainnya, sebagian orang Kristen lebih menyerupai Yesus. Mereka yang mendengarkan Firman Allah dan berusaha menaatinya di dalam kuasa Roh akan lebih menjadi seperti Dia. Mereka yang secara aktif mematikan dosa dan mengenakan perilaku Sang Juruselamat akan bertumbuh di dalam kekudusan. Mereka yang memberi perhatian kepada persekutuan dengan Allah melalui doa dan pembelajaran Firman-Nya akan lebih menyerupai Yesus Kristus. Filipi 2:12-13 mendesak kita, "kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya".

6. Mengakui dosa dan kesalahan kita memang menyengat keangkuhan kita, tapi jika kita tidak jujur untuk menyebut dosa apa adanya, kita tidak akan pernah menerima kuasa yang Allah sediakan untuk mengatasinya. 1 Yohanes 1:8-10 berkata, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita".

7. Pertumbuhan mesti didefinisikan dengan cara menjadi seperti Yesus. Hal itu mesti berakar di dalam hubungan kita dengan-Nya dan dibangun di atas keyakinan yang riil dan berakar pada Alkitab. Menjadi serupa dengan Yesus tidak terbatas pada hanya tidak melakukan yang salah. Keserupaan iru berkaitan dengan "melakukan" yang benar secara aktif. Keserupaan itu terkait dengan mengejar ketaatan. Roma 13:14 memerintahkan kita untuk menghindari daging, tapi hal itu diawali dengan "kenakanlah Tuhan Yesus Kristus". 

8. Bagaimana kita menyapa Allah mengungkapkan bagaimana kita berpikir tentang Dia. Dan apa yang kita pikirkan tentang Dia membentuk cara kita berhubungan dengan-Nya. Bagaimana kita berhubungan dengan-Nya menentukan bagaimana kita menafsirkan karya-Nya di dalam diri kita serta maksud-Nya bagi kita.

9. Kekudusan bukanlah sekadar daftar aturan. Kekudusan berarti meniru Bapa saya (I Petrus 1:15-16). Ia penuh kasih, baik, suci, jujur, sabar, dan lembut. Dan karena saya adalah anak-Nya, saya ingin menjadi seperti-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Saya ingin bertumbuh di dalam penghormatan, pengenalan, dan apapun yang mendatangkan berkat bagi hati Bapa saya.

10. Pengudusan berarti kerja keras. Tapi itu adalah kerja yang baik. Kerja itu dimungkinkan oleh Roh Kudus. Kerja itu merupakan hak istimewa umat yang telah ditebus. Bekerja untuk menjadi seperti Bapa mereka merupakan kemuliaan besar anak-anak yang diangkat oleh Allah.



BAB 9: AKU PERCAYA ROH KUDUS
("Saya rindu mengetahui Tuhan hadir, dan bahwa apa yang saya lakukan lebih dari sekadar menyanyikan lagu-lagu ke langit-langit")
1. Pemahaman yang benar tentang Roh Kudus dimulai dengan memikirkan hal yang benar tentang ke-Tritunggal-an Allah. John Frame menulis, "Roh Kudus juga Allah dan Dia adalah Pribadi dari Tritunggal, yang berbeda dari Bapa dan Putra". Roh Kudus bukan malaikat yang melayani yang Tuhan utus untuk sebuah misi. Dia bukan sekedar kuasa dari Tuhan. Dia adalah Tuhan itu sendiri.
2. Jangan terlalu merohanikan karunia roh. Karunia roh yang diberikan Allah pada Anda untuk melayani gereja adalah karunia yang sama yang Anda gunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Jangan kuatir apakah karunia Anda ada dalam daftar karunia roh di Alkitab. Perhatikan sekitar Anda dan lihat apa yang mereka butuhkan dan cobalah untuk menjawab kebutuhan mereka. Ini bukan masalah Anda dan karunia Anda; ini masalah melayani kebutuhan orang lain dan memuliakan Yesus melalui hidup Anda.
3. Tidak ada hadiah yang lebih besar yang diberikan Allah daripada Roh-Nya sendiri. Apakah Anda sadar bagaimana Dia bekerja dalam diri Anda? Roh Kudus membentuk dan mengubah kita menjadi serupa dengan Kristus (II Tesalonika 2:13, Titus 3:5), memberi kita keberanian untuk menyaksikan Yesus pada orang lain (Kisah Para Rasul 1:8), memberikan karunia kepada orang percaya untuk melayani dan membangun gereja (I Korintus 12:4-7). Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri kita, akan ada dinamika kekudusan, keberanian untuk menginjili dan kerelaan untuk melayani orang lain.
4. Vitalitas iman kita hilang ketika sikap kita terhadap Tuhan berubah dari "saya percaya kepada..." menjadi "saya rasa..." Dan Wallace mengakui salah satu alasan dia membatasi Allah adalah keinginan untuk mengontrol. "Yang saya kurang suka dari orang Karismatik adalah mereka tidak punya kontrol, mereka emosional", katanya. "Tapi bukankah seharusnya kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya? Bukankah harusnya kita berserah pada-Nya karena kita tahu di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa?"
5. Tujuan Roh Kudus adalah menunjukkan Yesus dalam segala kesempurnaan, kekudusan, dan anugerah-Nya. Anda tahu Roh Kudus sedang bekerja kalau Anda merasa lebih kagum pada Yesus, lebih bergairah untuk melayani dan menaati-Nya, lebih siap untuk menceritakan Dia pada orang lain, lebih siap melayani gereja yang Dia kasihi.


BAB 10: YANG TIDAK TERLIHAT MENJADI TERLIHAT
("Rencana Allah selalu melibatkan satu kelompok--Dia menyatakan diri-Nya lewat satu umat")
1. Semua metafora yang digunakan Alkitab untuk menggambarkan gereja adalah bagaimana Tuhan sangat peduli pada gereja-Nya. Dia menyebut gereja mempelai-Nya (Efesus 5:25-32), rumah-Nya atau keluarga-Nya (2:19), bait-Nya dimana Roh-Nya tinggal dalam kita (2:21-22), tubuh-Nya (1:22-23). Bagaimana kita bisa mengklaim kita mengenal dan mengasihi Yesus tapi membenci mempelai-Nya, keluarga-Nya, tubuh-Nya?
2. Sejarah bangsa Yahudi di Perjanjian Lama adalah gambaran tentang rencana final Allah untuk menyelamatkan umat-Nya melalui Yesus. Sepanjang berabad-abad, Allah terus-menerus memberi petunjuk tentang kedatangan Kristus dan pendirian kerajaan-Nya yang kekal dimana semua suku dan bangsa akan ikut di dalamnya. Ini membuat saya kagum. Allah yang kekal, yang tidak kelihatan, memilih untuk menyatakan diri-Nya kepada sekelompok manusia yang biasa-biasa saja.
"Kalau gereja adalah pusat dari rencana Tuhan, seperti terlihat dalam sejarah dan Injil, gereja juga harusnya menjadi pusat dari hidup kita" (John Stott).
3. Karakter dan tujuan gereja adalah:
• persekutuan orang-orang yang tunduk kepada kebenaran dan otoritas Alkitab untuk mengajar, melatih, menegur dan memperbaiki kesalahan (II Timotius 3:16)
• prioritas baptisan dan perjamuan kudus menekankan kembali kebutuhan gereja untuk menjadi komunitas yang jelas yang berpegang pada Injil Yesus Kristus
• mengajar dan melatih orang Kristen untuk taat dan mengenal Tuhan
4. Bertumbuh sebagai orang Kristen bukan sesuatu yang bisa saya lakukan sendirian. Untuk bisa maju sebagai seorang murid Kristus, membutuhkan hubungan dan komunitas. Kita membutuhkan hubungan di gereja untuk mempraktekkan apa yang sudah kita tahu.
Menjadi orang Kristen berarti kita menjadi milik Tuhan dan milik satu sama lain, dan bersama-sama memenuhi tujuan Allah di bumi.
5. J. I. Packer menulis, "tugas gereja adalah untuk membuat kerajaan yang tidak kelihatan menjadi kelihatan melalui kehidupan orang Kristen yang setia dan memberi kesaksian". Dunia Melihat-Nya ketika kita melakukan segala sesuatu di bumi--penyembahan kira, membangun komunitas Kristen, melayani, bekerja--semuanya dilakukan untuk menyebarkan kemuliaan Yesus sehingga bangsa-bangsa tahu dan menyembah Dia bersama-sama dengan kita.
6. Tujuan komunitas Kristen, yang juga menjadi misinya adalah menunjukkan dan mendirikan pemerintahan dan kerajaan Allah di bumi. Dia menyuruh pengikut-Nya menjadi kudus dan pergi memberitakan Injil ke seluruh dunia. Supaya gereja menjadi setia, kita membutuhkan gairah untuk menjadi kudus dan hati untuk menjangkau dunia. Kita harus mengevaluasi motif, pilihan gaya hidup, dan usaha kita untuk berteman dengan orang-orang yang belum mengenal Yesus.
"Ada perbedaan antara memisahkan diri dan menguduskan diri. Isunya bukan peraturan yang memisahkan kita, tapi hati yang diserahkan" (John Piper) 
7. Umat Allah tidak bisa menjangkau dunia kalau mereka bersembunyi. Kita tidak bisa menjangkau dunia kecuali kita menjadi berbeda dengan mereka. Kita harus kembali menangkap hubungan antara kekudusan dan misi. Tuhan memanggil kita untuk menjadi kudus supaya tetangga kita bisa melihat kuasa perubahan Yesus Kristus yang telah disalib dan bangkit kembali.
8. Kasihlah yang membuat Allah mengutus Anak-Nya dalam misi keselamatan (Yohanes 3:16). Hanya perintah utama untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi dan mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri yang bisa mendorong kita keluar dan membuat kita melupakan kepentingan sendiri (Matius 12:28-34). Misi kita harus diwarnai oleh kasih akan Allah yang membuat kita merasa sakit melihat orang-orang di dunia belum mengalami kasih dan anugerah Allah, malah menuju ke neraka.
9. Yesus meminta kita untuk mati, tapi ini adalah kematian yang pelan-pelan. Ini bukan kematian yang akan membuat kita kehilangan nyawa, tapi kematian yang membuat orang lain hidup. Ini adalah kematian karena menanggung salib dan berjalan di jalan salib yang pernah dilalui Juruselamat kita. Ini adalah penderitaan demi Injil. Ini adalah kematian terhadap popularitas dan menjadi gereja yang membela kebenaran.
10. Kenapa Dia memberi kita misi yang sangat sulit? Karena Dia ingin memberi kita cerita yang akan kita ceritakan saat kita berkumpul di sekitar api unggun di surga. Kisah bagaimana Dia memampukan kita untuk mengasihi di hadapan lawan, kebencian, dan maut sekalipun. Kisah bagaimana Dia menggunakan suara kita yang kecil dan bergetar untuk menyampaikan pesan keselamatan Injil. Kisah bagaimana Dia menciptakan kekacauan sejarah dunia sehingga orang-orang dari berbagai suku, bangsa, dan bahasa akan terwakili dalam keluarga-Nya di hari terakhir.


BAB 11: ORTODOKSI YANG RENDAH HATI
("Inilah yang membuat kesombongan saya sirna seperti uap terkena panas; mencoba menghidupi kebenaran diri saya sendiri")
1. Ortodoksi berarti berpikir yang benar tentang Tuhan. Ortodoksi adalah pengajaran dan kepercayaan yang berdasarkan kebenaran iman yang sudah terbukti, kokoh dan berharga. Dan doktrin hanyalah sebuah pengajaran Kristen. Kita butuh keyakinan dan kelemahlembutan. Kita butuh ortodoksi dan kerendahan hati.
2. Di pesan terakhirnya, Paulus mendorong Timotius untuk tidak malu berdiri atas kebenaran kehidupan, penderitaan, dan kebangkitan Yesus. Anda mungkin berpikir menyuruh orang Kristen "mengingat Yesus" adalah pekerjaan yang tidak perlu. Paulus tahu orang Kristen bisa mengaku masih mengenal Yesus tapi kehilangan makna yang sebenarnya dari kematian dan kehidupan-Nya.
"Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita" (II Timotius 1:13-14)
3. Kebenaran berarti, tapi sikap kita juga penting. Kita harus menghidupi, mengatakan, dan berinteraksi dengan orang lain dalam roh kerendahan hati. Paulus menulis, "Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya ( 2 Timotius 2:23-26)
4. Solusi untuk ortodoksi yang sombong bukanlah mengurangi, tapi menambah ortodoksi. Kalau kita benar-benar mengenal dan memegang teguh ortodoksi, kita seharusnya jadi makin rendah hati. Ketika kita tahu kebenaran tentang Allah--kuasa-Nya, kebesaran-Nya, kekudusan-Nya, kasih-Nya--kita tidak akan bisa sombong; tapi kagum. Kita tidak akan merasa benar sendiri, tapi kagum karena kita sudah diselamatkan-Nya.
"Teologi yang rendah hati adalah teologi yang menundukkan diri kepada kebenaran Firman Allah" (Mark Denver)
5. Apakah Anda mau menjaga ortodoksi Anda rendah hati? Cobalah menghidupinya. Habiskan banyak waktu untuk menghidupi kebenaran yang Anda tahu daripada mengkhawatirkan apa yang orang lain tahu atau tidak tahu. Itulah yang dikatakan Paulus pada Timotius, "Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau" (I Timotius 4:16).
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9)
6. Yesus berkata kalau dasar hidup yang tidak tergoyahkan hanya ditemukan dalam pengenalan akan dia, dengan mempercayai Firman-Nya, dan menghidupi kebenaran-Nya. Pertanyaan paling penting adalah, "Apakah saya membangun hidup saya di atas siapa Yesus itu dan apa yang sudah Dia lakukan? Apakah hidup saya dibangun di atas dasar batu karang pengenalan akan Tuhan?" Berakar dalam batu karang itu membuat kita sadar bahwa kita sebenarnya sangat tergantung. Hal itu seharusnya membuat kita makin rendah hati. Satu-satunya yang bisa membuat kita berdiri teguh adalah Yesus dan Firman-Nya.
7. Pesan ortodoksi Kristen adalah saya salah dan Tuhan penuh dengan kasih karunia. Saya salah dan Tuhan membuat jalan agar saya diampuni dan diterima dan dikasihi untuk selamanya. Saya salah dan Tuhan memberikan Anak-Nya untuk mati menggantikan saya menerima hukuman. Saya salah, tapi melalui iman di dalam Yesus, saya dijadikan benar di hadapan Allah yang kudus. Ini adalah kebenaran yang di atasnya kita bisa membangun hidup kita dan menaruh harapan kekal kita.



JOSHUA HARRIS
DUG DOWN DEEP

DUG DOWN DEEP PART 1 (JOSHUA HARRIS)

BAB 1: RUMSPRINGA YANG SAYA ALAMI 

("Kita semua teolog. Pertanyaannya adalah, apakah pengetahuan kita tentang Allah itu memang benar?")

1. Dalam bahasa Belanda dialek Pennsylvania, rumspringa secara harafiah berarti "berlari keliling-keliling". Kata itu berarti musim melakukan apapun dan segala yang Anda inginkan tanpa aturan apapun. Delapan puluh hingga 90 persen remaja Amish memutuskan untuk kembali ke gereja Amish setelah menjalani rumspringa. Saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya mereka kembali? Apakah mereka memang memilih Allah, atau sekadar memilih kehidupan yang aman dan sederhana? 

2. Teologi adalah studi tentang Allah--siapa Dia dan bagaimana Ia berpikir dan bertindak. Teologi penting karena apa yang kita ketahui tentang Allah membentuk cara kita berpikir dan hidup. Apa yang Anda percayai tentang Allah--seperti apa Dia, apa yang Ia kehendaki dari Anda, dan apakah kelak Anda akan bertanggung jawab kepada-Nya--mempengaruhi segala bagian kehidupan Anda.

3. Yeremia 6:16 Beginilah firman TUHAN: "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!" Berjalan di jalan-jalan yang dahulu kala itu berarti berhubungan dengan Allah sebagaimana yang Ia kehendaki. Ini berarti menerima dan menaati pernyataan diri-Nya dengan penuh kerendahan hati dan kekaguman.

4. Ketika saya menonton film dokumenter tentang ritus rumspringa, hal yang menonjol bagi saya adalah para para remaja Amish memproses keputusan bergabung atau tidak dengan gereja Amish, kelihatannya tidak punya banyak kaitan dengan Allah. Mereka tidak mencari dalam Alkitab apakah ajaran gereja mereka tentang dunia, hati manusia, dan keselamatan memang benar. Mereka tidak bergulat dengan teologi. Keputusan tersebut lebih banyak berkaitan dengan soal memilih sebuah budaya dan gaya hidup. Dalam beberapa kasus tertentu, keputusan itu memberikan kepada mereka pekerjaan tetap, atau memungkinkan mereka menikahi orang yang mereka inginkan.

5. Hal-hal yang memang saya butuhkan, bahkan saya rindukan dalam hubungan saya dengan Allah, justru terbungkus dalam hal-hal yang dulu saya yakini tidak punya manfaat apa-apa. Saya tidak paham bahwa kata-kata yang terasa usang seperti teologi, doktrin, dan ortodoksi justru menjadi jalan kepada pengalaman misterius yang penuh kekaguman, yaitu sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus yang hidup.


BAB 2: DI MANA SAYA BELAJAR MENGGALI

("Di baliknya hadir pertanyaan yang lebih mendalam: pada dasar apa saya akan membangun kehidupan saya?")

1. Dalam perumpamaan orang yang membangun rumah di Lukas 6:46-49, orang bijak itu adalah orang yang datang kepada Yesus, mendengarkan kata-kata-Nya, lalu menerapkannya. Aktivitas ini--pendekatan penuh iman kepada Yesus, menerima kebenaran-Nya, lalu mengaplikasikan kebenaran itu--dikatakan Yesus sama seperti orang yang menggali dalam-dalam lalu membangunnya pada dasar yang kuat.

2. Yang paling sulit adalah menerapkan semuanya dalam perbuatan. Kebenaran menuntut tindakan. Datang kepada-Nya, menyebut Dia Tuhan, dan mengetahui firman-Nya tidak pernah cukup. Doktrin dan teologi dimaksudkan untuk diaplikasikan--bukan hanya untuk membentuk ulang sebuah pernyataan iman, tapi juga membentuk ulang berbagai keputusan praktis tentang bagaimana kita berpikir dan bertindak.

Sekedar tahu tentang Allah atau kesalehan tidaklah cukup, tapi kita mesti sungguh-sungguh mengenal Allah itu sendiri--karakter dan atribut-Nya (J. I. Packer dalam buku "Knowing God").

3. Di dasar apakah saya membangun hidup saya? Alih-alih mendasarkannya pada kesempatan, perasaan, ataupun pertimbangan pragmatis; seharusnya saya mendasarkan pilihan saya pada kebenaran tentang Allah dan apa yang Ia kerjakan di dunia. Doktrin tidak hanya memberitahu kita tentang apa yang telah Allah lakukan, tapi juga apa makna tindakan-Nya itu bagi kita. 

4. Mengenali dan hidup berdasarkan doktrin yang sehat punya posisi sangat penting. Karena pada hari terakhir, hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan hidup bagi-Nya yang akan diselamatkan dari murka Allah. Dan karena di masa kini ketika kehidupan kita diguncang penderitaan, pengetahuan langsung akan karakter dan kasih Allah adalah satu-satunya hal yang mampu membuat kita bertahan.

5. Tidak ada yang lebih penting, lebih berharga, dan lebih mendatangkan keamanan hidup daripada mengenal dan hidup berdasarkan kebenaran Allah. Ketika Anda menyaksikan kekuatan dan rasa aman sebagai hasil dari menggali ke dalam kebenaran doktrinal, Anda juga ingin menggali ke dalam kebenaran itu sendiri. 


BAB 3: DEKAT TAPI TIDAK BISA MASUK KE KANTONG SAYA

("Allah sangat berbeda dari saya. Dan fakta itu sangat mengagumkan")

1. Tidak ada yang lebih penting daripada mengenal Allah dengan benar serta memikirkan berbagai hal yang benar tentang Dia. Walaupun kita tidak bisa mengenal Allah secara mendalam, kita bisa mengenal-Nya dengan benar. Hal ini dimungkinkan karena Allah telah menyatakan sejumlah kebenaran tentang diri-Nya sendiri.

Yang membuat kita kesulitan memahami kebenaran tentang Allah bukan kebesaran-Nya yang melampaui segala sesuatu, tapi keterpusatan kita pada diri sendiri yang keterlaluan.

2. Dalam buku "Soul Searching", Smith dan Denton menggambarkan konsep tentang Allah yang lazim dianut kaum remaja sebagai "deisme terapeutik moralistis".

Pandangan moralistis menyatakan bahwa jika saya menjalani kehidupan yang bermoral, melakukan yang baik-baik, dan mencoba tidak melakukan hal-hal yang buruk, Allah akan memberikan upah setimpal dan mengirim saya ke "tempat yang lebih baik" jika saya mati kelak.

Orientasi terapeutik tentang Allah berkata bahwa alasan utama keberadaan-Nya adalah untuk membuat saya merasa senang dan damai. Jadi, Allah merupakan sebentuk terapi, sejenis pertolongan diri sendiri.

Deisme mengatakan Allah itu hadir, tapi Ia berada jauh dan lebih sering tidak terlibat. Dengan kata lain, Allah tidak melibatkan diri dalam cara yang menguntungkan kita. Ia tidak akan menginterupsi rencana saya atau campur tangan dalam urusan saya. 

3. J. I. Packer menulis: hanya karena Allah itu adalah Pribadi (artinya kita bisa berbicara kepada-Nya, berhubungan dengan-Nya, dan mengenal-Nya), tidak berarti Ia sama dengan kita. Kita terbatas dalam segala arah, tapi Allah kekal, tidak terbatas, dan Mahakuasa. Ia menggenggam kita dalam tangan-Nya, kita tidak pernah bisa menaruh-Nya di dalam tangan kita. Seperti kita, Ia adalah suatu pribadi, tapi tidak seperti kita, Ia agung.

4. Kasih Allah hanya akan jadi berita yang indah kalau kita memahami transendensi-Nya--ketika kita gemetar melihat kekudusan-Nya, terpesona oleh kesempurnaan dan kuasa-Nya. Melihat Allah sebagaimana adanya Dia membuat pemazmur bertanya, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:5).

5. Yesaya 57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk". Realitas yang luar biasa bahwa Allah yang "bersemayam untuk selamanya" dan kudus serta transenden itu juga adalah Allah yang mendekat kepada orang yang remuk dan rendah hati di hadapan-Nya.

6. Semakin kita mempelajari tentang siapa Allah sebenarnya, semakin dahsyat Dia mengundang kita untuk mengenal-Nya. Ketika Anda mengenal-Nya sebagai Allah yang tidak terbatas dan Mahakuasa, kudus, dan kekal yang tinggal di surga, Anda akan memahami pernyataan bahwa Ia mengasihi Anda dengan cara yang benar-benar baru.

7. Allah itu dekat. Tapi kita tidak bisa mengatur atau membungkus-Nya. Ia tidak akan muat di dalam kantong kita. Yang Mahakuasa itulah yang justru menggenggam kita di dalam tangan-Nya.


BAB 4: ROBEK, BAKAR, MAKAN

("Ketika kita membaca Alkitab, ia membuka diri kita. Alkitab membaca kita")

1. Alkitab mampu mentransformasi hidup secara radikal ketimbang sembarang buku penuh instruksi. Tapi kita tidak akan memahami atau memperoleh manfaat apapun darinya sebelum kita percaya kepada klaim Alkitab tentang dirinya sendiri. Alkitab adalah alat komunikasi yang hidup dari Allah yang adalah sebuah pribadi kepada umat manusia-secara spesifik, kepada Anda.

2. Salah satu bagian penting dari kehidupan yang didasari kebenaran bukanlah sekadar percaya Alkitab itu adalah Firman Allah, tapi juga memahami benang merah Alkitab dari awal hingga akhir. Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah berkarya dan bertindak di dalam sejarah manusia.

Di dalam setiap halaman Alkitab, setiap kisah membisikkan nama-Nya. Seluruh Kitab Suci diberikan kepada kita supaya kita bisa mengenal dan mengasihi-Nya. Wahyu diberikan demi menghadirkan hubungan.

3. Ketika kita membaca Alkitab, Roh Kudus memberi konfirmasi di dalam hati kita bahwa yang kita baca itu bukanlah kata-kata manusia, tapi Firman Allah itu sendiri. Firman Allah benar dan kekal. Amsal 30:5-6 berkata, "Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta".

4. Doktrin Alkitab mengajarkan kita tentang otoritas Firman Allah. Kitab Suci mesti menjadi aturan paling utama bagi iman dan praktik kehidupan kita. Bukan perasaan kita, bukan tanda-tanda atau kata-kata nubuatan atau firasat. Apakah kita akan taat ketika kita tidak menyukai apa yang dikatakan Alkitab? Kitab Suci selalu dimaksudkan untuk bekerja dalam kehidupan kita. Firman Allah memiiki otoritas, ketika kita menundukkan diri kepadanya, Kitab Suci memperlengkapi kita untuk pekerjaan baik. Firman memberikan kepada kita hal-hal yang kita butuhkan untuk mengasihi, melayani, dan berkorban.

5. Beberapa kata penting yang menolong kita berpikir secara tepat tentang Kitab Suci:

Ineransi

Ajaran Ortodoks gereja Kristen menegaskan bahwa Firman Allah di dalam manuskrip aslinya tidak mengandung kesalahan (ineran). Ajaran ini dibangun dari kesaksian Alkitab bahwa Allah tidak pernah berbohong (Titus 1:2). 

Kejelasan

Roh Kudus menerangi hati kita untuk memahami pesannya dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Alkitab memiliki makna yang lugas. Saat sebuah bagian Alkitab sulit dipahami, kita bisa menguji sudut pandang kita dengan bagian-bagian lainnya. Ini berarti Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri. 

Kecukupan

Alkitab itu cukup, berarti Ia telah memberitahukan kepada kita segala yang kita perlu ketahui agar bisa sungguh-sungguh mengenal Dia, menemukan pengampunan dosa, dan diyakinkan mengenai kehidupan kekal bersama Sang Pencipta.

6. Firman Allah menemui kita di tempat kita berada. Firman itu menemui kita di tengah keraguan. Firman itu berbicara kepada kita di tengah pergumulan spiritual. Kita bisa menemukan sukacita di dalam Firman Allah dan dalam kepastian janji-janji-Nya, walaupun hati kita jauh dari sukacita.

7. Alkitab adalah kisah tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Setiap kisah membisikkan nama-Nya. Yesus datang untuk mencari dan membebaskan kita. Ketika Anda memahami itu, membaca Alkitab niscaya menjadi sesuatu yang mendatangkan sukacita.


BAB 5: ALLAH YANG MEMILIKI PUSAR
("Yesus itu unik. Dan Ia datang untuk melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan siapapun")
1. Pribadi-Nya berkenaan tentang siapa diri Yesus, sementara karya-Nya membahas apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Pribadi dan karya Kristus adalah satu kesatuan. Saat kita mempelajari keduanya, kita akan belajar bahwa Yesus berbeda dengan segala tokoh lain dalam Alkitab dan dalam sejarah. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Ia datang ke dalam dunia ini untuk mencapai sesuatu yang tidak akan bisa dilakukan orang lain.
2. Alkitab menyatakan kemanusiaan Kristus penting karena tujuan unik misi-Nya. Yesus datang untuk mewakili umat manusia di hadapan Allah. Sebagian dari karya-Nya di bumi adalah menjadi imam bagi kita. Ia mesti menjadi orang yang datang dari kalangan mereka, salah satu dari mereka, supaya persembahan yang Ia bawa ke hadapan Allah akan diperhitungkan sebagai persembahan umat-Nya.
3. Emosi yang sejati--yang bisa diandalkan dan tidak menyesatkan kita--selalu merupakan respons atas realitas, atas kebenaran. Mengenal Yesus dan merasakan emosi yang tepat tentang-Nya diawali dengan mengetahui kebenaran tentang siapa diri-Nya dan apa yang Ia telah lakukan.
4. Kesatuan yang didatangkan Yeaus adalah kuasa total atas segala sesuatu. Efesus 1:21 menyatakan bahwa Allah telah menempatkan Yesus "jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguas dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap nama-nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang". Dengan kata lain, Ialah yang memegang kuasa. Musuh-musuh-Nya diremukkan, para pendosa dihukum, dan semua orang bertekuk lutut di hadapan-Ny (Wahyu 21:8, Roma 14:11). Dunia ini dipersatukan karena semua menaati Yesus. 
5. Pengantara adalah seseorang yang berdiri di hadapan Allah dan manusia. Hanya Yesus, melalui kematian-Nya di salib, yang bisa memperdamaikan surga dan bumi. Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).


BAB 6: CARA UNTUK MENJADI BAIK LAGI
("Berita bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa saya sudah terlalu lama tidak punya makna riil apa-apa")
1. Salib bukanah kegagalan tragis dari rencana Yesus; salib justru merupakan penggenapan rencana-Nya. Momen sengsara-Nya yang paling mendalam justru merupakan momen yang menjadi tujuan kedatangan-Nya (lihat Yohanes 12:27). John Stott menulis tentang Yesus demikian, "Melebihi semua yang lain, Ia ingin dikenang melalui kematian-Nya. Karena itu, dengan kokoh kita bisa menegaskan bahwa, tidak akan ada kekristenan tanpa salib. Jika salib posisinya tidak begitu sentral di dalam agama kita, maka agama kita itu bukanlah agama dari Yesus".
2. Allah Anak menjadi dosa dengan cara mewakili umat manusia dan berdiri menggantikan manusia yang berdosa. Yesus tidak terjebak. Ia memegang kendali. Dan karena kasih, Ia memilih untuk menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Yesus berkata, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku" (Yohanes 10:17-18).
3. Inilah kebenaran yang paling menyejukkan sekaligus mengerikan di seluruh dunia: karena Allah itu kudus dan adil, tidak seoranngun yang bisa meloloskan diri semasa hidupnya. Pada akhir jaman, akan ada pertanggungjawaban yang final dan sempurna di hadapan-Nya. Dan ironisnya, Allah atas keadilan yang sempurna itulah yang kita rindukan sekaligus juga kita takuti. Ketika sorotan mata-Nya jatuh pada kita, kita sadar bahwa kitapun bersalah, kita pun layak menerima hukuman-Nya.
4. Bagaimana Allah bisa membuat kita baik kembali di hadapan Dia? Bagaimana Ia menangani kebersalahan dan dosa kita? Pesan tidak terbayangkan yang disampaikan Alkitab adalah kasih Allah bagi kita begitu besar sehingga Ia telah membuat jalan supaya kita bisa baik kembali melalui penebusan kehidupan dan kematian Anak-Nya. Yesus melakukan bagi kita apa yang tidak mungkin bisa kita lakukan sendiri.
5. Tanpa tercurahnya darah Yesus Kristus bagi dosa-dosa kita, tidak akan ada penebusan, pengampunan, rekonsiliasi. Tidak ada harapan. Ada cara untuk menjadi baik kembali, yaitu percaya kepada Yesus dan kematian-Nya yang menebus kita. Menerima penyelamatan-Nya melalui iman. Hanya darah Anak Domba Allah yang bisa membersihkan, menutupi, dan menyelamatkan kita dari penghukuman.