Beberapa waktu lalu, waktu aku
merenungkan tentang visi hidupku di tahun 2013 (baca di SINI) en kotbah ko
Philip yang INI aku baru bener-bener ngerti secara keseluruhan maksud dari
visi yang Dia berikan bagiku tahun ini. Emang sih telat banget ngertinya, tapi
nggak apa-apa deh daripada nggak sama sekali :P
“Hanya
lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum yang diperintahkan
kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang
ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut
pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu” (Yosua 22:5).
“Aku berdoa,
supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya
dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal
kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa,
supaya kamu dipenuhi
di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:18-19).
Waktu dapet 2 ayat itu, aku cuma
ngerti bahwa untuk melakukan Yosua 22:5, aku butuh Efesus 3:18-19 dulu. Aku
butuh untuk ngalami kasih Tuhan, mengenal kasih Tuhan, en dipenuhi kasih Tuhan
barulah aku bisa mengasihi Tuhan en hidup seperti apa yang Dia kehendaki. Tapi ternyata
aku SALAH BESAR. Bener-bener salah besar.
Aku baru sadar en ngerti bahwa kasih itu adalah Pribadi Allah sendiri. Kasih bukan hanya sekedar perasaan, bukan hanya buah roh, bukan sekedar sebuah tindakan. Tapi kasih adalah Yesus itu sendiri. Bagaimana aku bisa mengasihi Pribadi yang adalah kasih itu sendiri? Akulah yang dikasihi, akulah yang dikasihi, dan akulah yang dikasihi. Bukan aku yang mampu mengasihi, bukan aku yang mampu bertindak, bukan aku yang bisa berbuat baik. Semua hanya bersumber dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.
Lebih dalam lagi, aku baru paham bahwa bukan saja aku nggak akan pernah mengasihi Dia kembali (membalas kasih-Nya), namun juga bahwa mengasihi sesama adalah satu-satunya cara yang “dianggap-Nya” sebagai tindakan kasih terhadap-Nya, sebagai sebuah tindakan ketaatan akan perintah-Nya. Duuh, aku jadi orang Kristen selama 8 tahun kok baru paham hal ini dengan jelas yak?
Jadi, ketika kita berbuat baik kepada sesama kita, Dia menganggapnya sebagai perbuatan baik kepada-Nya. Ketika kita memberi makan orang yang lapar, Dia memperhitungkannya sebagai pemebrian kepada-Nya. Ketika kita menghibur mereka yang terluka atau disakiti, Dia melihatnya sebagai sebuah tindakan yang comfort Him. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40) ini jadi makin jelas bagiku.
Tuhan, ajari Lucy untuk memahami kasih-Mu dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan. Ajari Lucy nggak lagi berusaha mengasihi-Mu dengan caraku, tapi dengan cara yang Kau mau, yaitu mengasihi jiwa-jiwa lebih lagi. Ajari aku untuk melihat dengan mata-Mu, mendengar dengan telinga-Mu, merespon dengan hati-Mu, bertindak dengan tangan-Mu, berjalan dengan kaki-Mu. Ajari aku untuk mengenal betapa besarnya Engkau, kasih itu sendiri.
Aug 3rd,
2013