November 28, 2012

THIS IS LIFE

Alunan simfoni yang harmonis
Deburan ombak menghempas
Belaian tangan penuh kasih
Rasa sakit yang menyiksa batin
           
      Senyuman indah menghias wajah
Derai air mata mengalir di pipi
Kepuasan menggapai asa
Terhempas dalam jurang 
keangkuhan diri

Mendaki naik ke puncak gunung
Terjatuh hingga ke dasar lembah
Hembusan angin sepoi-sepoi
Angin ribut penghancur harapan

            Impian menjadi nyata
            Penantian panjang tak berujung
            Kegembiraan membahana
       Doa yang menggantung di langit-
       langit

Sorak sorai penuh dukungan
Caci maki bak batu beterbangan
Tepuk tangan gegap gempita
Kesunyian di malam yang sepi
           
            Itulah kehidupan
            Saat  naik, saat turun
      Masa gembira, masa berduka
      Syukuri karunia Tuhan, indah 
      smua yang Dia bri

Oct 31st 2012


November 20, 2012

THE EFFECTIVE PRAYER

“Therefore, one who speaks in a tongue should pray for the power to interpret. For if I pray in a tongue, my spirit prays but my mind is unfruitful. What I am to do? I will pray with my spirit, but I will pray with my mind also; I will sing praise with my spirit, but I will sing with my mind also” (I Corinthians 14:13-15).


Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, doa bukanlah hal yang baru bagi setiap kita. Kita tahu dan paham benar bahwa kita memerlukan doa sebagai nafas kehidupan kita, sehingga banyak dari antara kita telah rutin berdoa. Bahkan mungkin sebagian besar dari kita sangat paham dan menerapkan berbagai jenis doa.

Namun, seringkali kita hanya berdoa dengan pikiran dan akal budi kita saja, berdasarkan apa yang kita ketahui atau berdasarkan informasi maupun fakta yang kita peroleh saja. Tanpa kita sadari bahwa pengetahuan kita sangatlah terbatas, padahal doa merupakan senjata yang sangat ampuh untuk menghadapi peperangan yang paling dahsyat. Firman Tuhan dalam Yakobus 5:17 berkata, “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Jelas bahwa doa memiliki peran yang besar dalam kehidupan orang percaya.

Oleh karena doa memiliki peran yang sangat penting, maka kita perlu belajar untuk menaikkan doa-doa yang efektif, doa-doa yang tepat pada sasaran, doa-doa yang menggetarkan Sorga. Doa yang efektif tidak dapat dicapai hanya dengan kemampuan kita sebagai manusia saja. Kita memerlukan pertolongan dari Roh Kudus untuk menaikkan doa-doa kita. Kita tahu bahwa Roh Kudus dapat membantu kita berdoa dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan (Roma 8:26).

Untuk menghasilkan doa-doa yang efektif, kita perlu menggabungkan antara pikiran kita dengan bahasa Roh (berdoa dengan bantuan Roh Kudus). Dengan pikiran, kita mendoakan apa yang kita ketahui serta apa yang diperlukan. Namun dengan berbahasa Roh, kita mendoakan hal-hal yang lebih mendalam, hal-hal yang tidak kita ketahui. Jadi ketika kita berdoa dalam bahasa Roh, kita mengarahkan pikiran kita juga berdoa untuk hal tersebut. Gabungan antara pikiran dan Roh Kudus akan menghasilkan doa-doa yang dahsyat, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng, serta mencapai sasaran dengan tepat.


Nov 20th 2012

November 5, 2012

UJIAN TER-GEJE


Senin lalu (29 Oktober 2012), aku ujian tengah bahasa mandarin. Aku ngoyo ngafalin hanzi yang rumit bin mbulet itu :P. Karena ujian tengah, kami cuma belajar bab 1-3 dari buku yang isinya 6 bab. Tiga bab itu aja udah berhasil bikin sakit kepala, hahahaha. En aku tersepona begitu kertas ujian dibagiin, ini ujian buat level berapa sih? Laoshi nggak salah ngopy soal ujian kah? Oh oh. Jadi ujian dimulai dengan kegalauan tingkat tinggi.

Suasana kelas pun tambah rame, dipenuhi dengan berbagai bahasa keluhan dari teman sekelas. Yang satu bilang kalo laoshi salah ambil soal ujian, yang satu bilang kalo soalnya mustahil untuk dikerjakan karena mbaca soalnya aja kami nggak bisa, yang lain bilang kalo laoshi-nya tega banget sama kami. Aku cuma geleng-geleng kepala. Kami baru level 5, en dikasi soal yang hanzi-nya serumit ini. Dalam hati aku mikir, ngapain sih nih laoshi kasi kami soal tingkat dewa kaya gini. Mbaca soalnya aja belum tentu bisa, apalagi njawabnya. Aku mbolak-balik kertas ujian en aku lumayan lega karena aku pernah kenal beberapa hanzi (aku pernah pinjam buku temanku yang kuliah di jurusan bahasa mandarin).
            
Dengan sedikit galau, aku mulai ngerjakan soal. Ada enam jenis soal. Yang pertama adalah listening, kedua adalah menjodohkan antara soal dan jawaban yang ada di bawahnya, ketiga adalah mengisi titik-titik, keeempat adalah membuat kalimat minimal 10 kata, kelima adalah menyusun kalimat, keenam adalah mengurutkan kalimat. Laoshi bilang kalo listening bakal dikerjakan belakangan aja. Jadi, aku mulai ngerjakan soal kedua. Karena saking galaunya (nggak ngerti nih soal perintahnya apaan), aku salah ngerti. Aku mengira kalo soal ini tuh disuru membetulkan kalimat yang salah. Alhasil, aku jadi melingkar-lingkari kata-kata yang menurutku salah.

Waktu itu laoshi berjalan keliling ke bangku tiap orang, sambil ngeliat kami ngerjakan soal. Pas laoshi sampai ke bangkuku, dia bingung karena aku melingkar-lingkari kata. Trus dia jelasin petunjuk alias perintah dari soal itu. Lalu aku membalik kertas ujianku ke arah laoshi en menunjuk kata-kata yang salah itu. Laoshi-ku senyum-senyum sambil bilang, “Oya, itu salah cetak ya”. Lalu laoshi kasi pengumuman ke depan kelas supaya semua mengkoreksi kata-kata itu sambil bilang, “Wah, enak ya, laoshi punya asisten yang tau mana yang salah”. Dieeenk!

Aku ngelanjutkan kerja soal sambil ngomel dalam hati. Nih laoshi kagak salah apa, ngasi soal model beginian, sampai aku salah ngerti nih soal harus diapain. Waktu itu, suasana kelas semakin heboh. Mereka bilang, untuk baca soal aja nggak bisa, nggak tau juga kalo ada kata yang salah cetak, apalagi ngerjakan. Karena atmosfer mengeluh begitu kuatnya (halah), akhirnya aku sempat ngeluh juga. Aku bilang, “Duh, soalnya kok susah sih. Aku nggak bisa baca beberapa hanzi loh”.  Teman di sebelahku denger en bilang, “Huixiang, kamu yang pinter aja nggak bisa, apalagi aku yang jarang masuk. Kamu bisa tau hanzi mana yang salah, lah aku mbaca aja nggak bisa.” Plaaak, rasanya ketampar dah. Setelah temanku komentar kaya gitu, aku jadi dieeeem aja. Jadi keinget “(SOMETIMES) SILENCE IS GOLDEN”. Lebih baik diem daripada bikin orang lain semakin galau, lebih baik nggak bersuara daripada bikin suasana semakin kacau, lebih baik tutup mulut en ngerjakan soal supaya yang lain nggak tambah pusing.

Di tengah-tengah keributan suasana ujian itu, laoshi kami menjelaskan tujuannya ngasi kami soal kaya gitu. Ternyata dia pengen tau kemampuan kami tuh sampai dimana. Dalam hati aku jawab, ya sampai di sinilah laoshi, belum kemana-mana. Apalagi buat teman-teman yang cuma belajar dari buku les, pasti nggak bisa mbaca sebagian besar hanzi yang ada.

Pulang ujian, aku berdoa en Tuhan berbicara tentang ujian itu. Dia menjelaskan, kalo terkadang Dia juga memberikan ujian yang di atas level kita, karena Dia ingin menguji kapasitas kita. Bukan karena Dia nggak tau kemampuan kita, bukan karena Dia nggak tau apa aja yang baru kita pelajari, tapi karena Dia pengen kita berjuang lebih daripada yang kita bisa lakukan. Seperti ketika ujian tadi, aku lumayan bisa mengerjakan karena aku pernah belajar dari buku lain di luar buku les. Begitu juga dengan kehidupan kerohanian kita, seharusnya kita nggak cuma belajar sebatas apa yang terjadi dalam hidup kita, tapi juga belajar dari pengalaman orang lain, belajar dengar-dengaran sama Roh Kudus setiap saat. Nggak cuma terbatas pada apa yang ada saat ini, tapi juga belajar lebih daripada apa yang kita rasa kita butuhkan.

Dengan membayar harga lebih (mengejar lebih daripada apa yang kita dapatkan), sebenarnya kapasitas kita meningkat, tanpa kita sadari. Kita nggak boleh puas dengan apa yang kita pahami saat ini, nggak boleh berhenti di titik yang telah kita capai saat ini. Tapi, kita harus lebih lagi mengejar pengenalan akan Tuhan. Nggak pernah ada kata “CUKUP” dalam mengenal Tuhan. Nggak boleh ada kata “PUAS” dalam pengejaran kita akan Pribadi-Nya. Seperti hanzi yang sedemikian banyak dan rumit yang masih belum aku pelajari en belum aku kenal, demikian juga Tuhan tuh punya banyak hal yang belum aku tau en kenal. Oleh karena itu, aku nggak mau ngerasa puas ato ngerasa cukup dengan apa yang sudah aku capai saat ini. Aku mau ngejar kapasitas yang lebih lagi.

(SOMETIMES) SILENCE IS GOLDEN


Minggu lalu aku ikut sebuah retreat en sangat diberkati dengan Firman Tuhan yang disampaikan. Tapi yang aku mau share disini bukan tentang apa saja kotbahnya, tapi tentang sebuah sikap hati. Waktu itu, ada kegiatan outbond dan jujur aja, aku nggak begitu suka dengan kegiatan outbond karena bosan (well, aku sudah berkali-kali ikut kegiatan outbond, baik di kegiatan kampus maupun di retreat, dan sebagian besar permainannya itu-itu aja).
          
Waktu itu, aku dapat pemimpin kelompok yang belum aku kenal. Kesan pertama waktu kenalan adalah, nih orang nggak punya karakter seorang pemimpin. Oke, aku tau ini adalah penilaian pribadi en nggak adil karena baru kenalan. Tapi, di hari berikutnya, kesan pertamaku itu terbukti!
            
Kelompok kami tuh beranggotakan 13 orang. Sepuluh orang cewek en tiga orang cowok. Tapi karena berbagai hal, hanya tersisa 10 orang yang terdiri dari 9 makhluk wanita dan 1 makhluk pria. Dari retreat hari kedua, pemimpin kelompokku sudah pesimis. Dia berkata “Duh, gimana nih cowoknya cuma satu. Kalo besok outbondnya berat-berat, kita bisa kalah”. Aku diem aja, tapi dalam hati dongkol juga. Cowok ato cewek, masalah buat loe?

Di retreat hari ketiga, kami outbond. Cuaca cukup panas en pos-pos outbond diletakkan di tempat-tempat yang berjauhan sehingga kami harus naik turun bukit. Hal itu cukup melelahkan, ditambah dengan komentar negatif dari pemimpin kelompok. Di waktu outbond, masing-masing kelompok harus mengikuti permainan di 8 pos en diberi waktu 2,5 jam. Ketika kami tiba di pos pertama dan mau bermain, ketua kelompokku kembali mengeluarkan kata-kata sakralnya alias mengeluhkan jumlah cowok yang cuma sebiji itu tadi. Alhasil, hal itu cukup melemahkan semangat anggota-anggota kelompok. Aku sempet mikir, cowok atopun cewek nggak masalah lah, ngapain sih diributin. Bukannya dia sebagai ketua kelompok harusnya kasi semangat buat anggota yang ada, secara anggotanya tuh banyak yang usianya lebih muda daripada dia. Lah ini malah ngoceh kagak penting. Waktu permainan di pos 1, kami kalah en ketua kelompok mulai ngoceh, bilang seandainya cowoknya lebih banyak lah, dsb. Padahal kami yang salah strategi en permainan itu sama sekali nggak butuh kekuatan cowok. Aku sempet bilang, “Udahlah, kalah juga ga masalah. Toh ini cuma game. Masih ada 7 pos lagi”. Temenku yang satu-satunya cowok itu ngasi support ke anggota kelompok, dia bilang, “Kalah ato menang, kita harus tetap sukacita. Ayo semangat, rek!”.

Berjalan ke pos 2, ketua kelompok mulai ngoceh lagi. Akhirnya aku geregetan dan aku nyahut, “Ce, kita nggak boleh pesimis. Meskipun cowoknya cuma satu, kita harus optimis bahwa kita bisa menang”. Perkataanku itu membungkam rapat mulutnya. Aha! Hal itu bikin aku jengkel banget, dalam hati aku bilang, nih orang pemimpin tapi nggak punya kualitas seorang pemimpin. Bukannya support, eh malah bikin drop semangat orang. Di pos itu, kami kalah lagi. Selanjutnya di pos 3, ternyata permainannya butuh keahlian cewek. En kami berhadapan dengan kelompok yang isinya banyak cowoknya. Disitulah kelompok kami menang en ketua kelompok semakin bungkam.

Satu hal yang membekas di hatiku adalah respon hatimu menentukan kemenangan ato kekalahanmu! Masalahnya bukan jumlah cowok dalam kelompok, tapi apakah kamu bisa menerima keadaan yang ada en memaksimalkan potensi yang kamu miliki dengan sebaik-baiknya. Di mata Tuhan, cowok en cewek tuh nggak ada bedanya. Justru dalam beberapa hal, cewek tuh unggul dibandingkan dengan cowok. Masalahnya, apa kamu punya mental seorang pemenang ato nggak. Masalahnya adalah gimana kamu bisa set your heart to face your situation. Itulah yang bener-bener melekat kuat di hatiku ketika aku pulang retreat. Ada saatnya kita tutup mulut daripada ngucapin perkataan yang bikin lemah orang lain. Ada kalanya lebih baik diam daripada ngomong hal yang nggak berguna. (Sometimes) silence is golden.

Ada satu kejadian yang memperkuat istilah “(Sometimes) silence is golden” itu. Tapi, aku bakal lanjutin di notes berikutnya aja ya.