November 5, 2012

(SOMETIMES) SILENCE IS GOLDEN


Minggu lalu aku ikut sebuah retreat en sangat diberkati dengan Firman Tuhan yang disampaikan. Tapi yang aku mau share disini bukan tentang apa saja kotbahnya, tapi tentang sebuah sikap hati. Waktu itu, ada kegiatan outbond dan jujur aja, aku nggak begitu suka dengan kegiatan outbond karena bosan (well, aku sudah berkali-kali ikut kegiatan outbond, baik di kegiatan kampus maupun di retreat, dan sebagian besar permainannya itu-itu aja).
          
Waktu itu, aku dapat pemimpin kelompok yang belum aku kenal. Kesan pertama waktu kenalan adalah, nih orang nggak punya karakter seorang pemimpin. Oke, aku tau ini adalah penilaian pribadi en nggak adil karena baru kenalan. Tapi, di hari berikutnya, kesan pertamaku itu terbukti!
            
Kelompok kami tuh beranggotakan 13 orang. Sepuluh orang cewek en tiga orang cowok. Tapi karena berbagai hal, hanya tersisa 10 orang yang terdiri dari 9 makhluk wanita dan 1 makhluk pria. Dari retreat hari kedua, pemimpin kelompokku sudah pesimis. Dia berkata “Duh, gimana nih cowoknya cuma satu. Kalo besok outbondnya berat-berat, kita bisa kalah”. Aku diem aja, tapi dalam hati dongkol juga. Cowok ato cewek, masalah buat loe?

Di retreat hari ketiga, kami outbond. Cuaca cukup panas en pos-pos outbond diletakkan di tempat-tempat yang berjauhan sehingga kami harus naik turun bukit. Hal itu cukup melelahkan, ditambah dengan komentar negatif dari pemimpin kelompok. Di waktu outbond, masing-masing kelompok harus mengikuti permainan di 8 pos en diberi waktu 2,5 jam. Ketika kami tiba di pos pertama dan mau bermain, ketua kelompokku kembali mengeluarkan kata-kata sakralnya alias mengeluhkan jumlah cowok yang cuma sebiji itu tadi. Alhasil, hal itu cukup melemahkan semangat anggota-anggota kelompok. Aku sempet mikir, cowok atopun cewek nggak masalah lah, ngapain sih diributin. Bukannya dia sebagai ketua kelompok harusnya kasi semangat buat anggota yang ada, secara anggotanya tuh banyak yang usianya lebih muda daripada dia. Lah ini malah ngoceh kagak penting. Waktu permainan di pos 1, kami kalah en ketua kelompok mulai ngoceh, bilang seandainya cowoknya lebih banyak lah, dsb. Padahal kami yang salah strategi en permainan itu sama sekali nggak butuh kekuatan cowok. Aku sempet bilang, “Udahlah, kalah juga ga masalah. Toh ini cuma game. Masih ada 7 pos lagi”. Temenku yang satu-satunya cowok itu ngasi support ke anggota kelompok, dia bilang, “Kalah ato menang, kita harus tetap sukacita. Ayo semangat, rek!”.

Berjalan ke pos 2, ketua kelompok mulai ngoceh lagi. Akhirnya aku geregetan dan aku nyahut, “Ce, kita nggak boleh pesimis. Meskipun cowoknya cuma satu, kita harus optimis bahwa kita bisa menang”. Perkataanku itu membungkam rapat mulutnya. Aha! Hal itu bikin aku jengkel banget, dalam hati aku bilang, nih orang pemimpin tapi nggak punya kualitas seorang pemimpin. Bukannya support, eh malah bikin drop semangat orang. Di pos itu, kami kalah lagi. Selanjutnya di pos 3, ternyata permainannya butuh keahlian cewek. En kami berhadapan dengan kelompok yang isinya banyak cowoknya. Disitulah kelompok kami menang en ketua kelompok semakin bungkam.

Satu hal yang membekas di hatiku adalah respon hatimu menentukan kemenangan ato kekalahanmu! Masalahnya bukan jumlah cowok dalam kelompok, tapi apakah kamu bisa menerima keadaan yang ada en memaksimalkan potensi yang kamu miliki dengan sebaik-baiknya. Di mata Tuhan, cowok en cewek tuh nggak ada bedanya. Justru dalam beberapa hal, cewek tuh unggul dibandingkan dengan cowok. Masalahnya, apa kamu punya mental seorang pemenang ato nggak. Masalahnya adalah gimana kamu bisa set your heart to face your situation. Itulah yang bener-bener melekat kuat di hatiku ketika aku pulang retreat. Ada saatnya kita tutup mulut daripada ngucapin perkataan yang bikin lemah orang lain. Ada kalanya lebih baik diam daripada ngomong hal yang nggak berguna. (Sometimes) silence is golden.

Ada satu kejadian yang memperkuat istilah “(Sometimes) silence is golden” itu. Tapi, aku bakal lanjutin di notes berikutnya aja ya.

No comments: