November 5, 2012

UJIAN TER-GEJE


Senin lalu (29 Oktober 2012), aku ujian tengah bahasa mandarin. Aku ngoyo ngafalin hanzi yang rumit bin mbulet itu :P. Karena ujian tengah, kami cuma belajar bab 1-3 dari buku yang isinya 6 bab. Tiga bab itu aja udah berhasil bikin sakit kepala, hahahaha. En aku tersepona begitu kertas ujian dibagiin, ini ujian buat level berapa sih? Laoshi nggak salah ngopy soal ujian kah? Oh oh. Jadi ujian dimulai dengan kegalauan tingkat tinggi.

Suasana kelas pun tambah rame, dipenuhi dengan berbagai bahasa keluhan dari teman sekelas. Yang satu bilang kalo laoshi salah ambil soal ujian, yang satu bilang kalo soalnya mustahil untuk dikerjakan karena mbaca soalnya aja kami nggak bisa, yang lain bilang kalo laoshi-nya tega banget sama kami. Aku cuma geleng-geleng kepala. Kami baru level 5, en dikasi soal yang hanzi-nya serumit ini. Dalam hati aku mikir, ngapain sih nih laoshi kasi kami soal tingkat dewa kaya gini. Mbaca soalnya aja belum tentu bisa, apalagi njawabnya. Aku mbolak-balik kertas ujian en aku lumayan lega karena aku pernah kenal beberapa hanzi (aku pernah pinjam buku temanku yang kuliah di jurusan bahasa mandarin).
            
Dengan sedikit galau, aku mulai ngerjakan soal. Ada enam jenis soal. Yang pertama adalah listening, kedua adalah menjodohkan antara soal dan jawaban yang ada di bawahnya, ketiga adalah mengisi titik-titik, keeempat adalah membuat kalimat minimal 10 kata, kelima adalah menyusun kalimat, keenam adalah mengurutkan kalimat. Laoshi bilang kalo listening bakal dikerjakan belakangan aja. Jadi, aku mulai ngerjakan soal kedua. Karena saking galaunya (nggak ngerti nih soal perintahnya apaan), aku salah ngerti. Aku mengira kalo soal ini tuh disuru membetulkan kalimat yang salah. Alhasil, aku jadi melingkar-lingkari kata-kata yang menurutku salah.

Waktu itu laoshi berjalan keliling ke bangku tiap orang, sambil ngeliat kami ngerjakan soal. Pas laoshi sampai ke bangkuku, dia bingung karena aku melingkar-lingkari kata. Trus dia jelasin petunjuk alias perintah dari soal itu. Lalu aku membalik kertas ujianku ke arah laoshi en menunjuk kata-kata yang salah itu. Laoshi-ku senyum-senyum sambil bilang, “Oya, itu salah cetak ya”. Lalu laoshi kasi pengumuman ke depan kelas supaya semua mengkoreksi kata-kata itu sambil bilang, “Wah, enak ya, laoshi punya asisten yang tau mana yang salah”. Dieeenk!

Aku ngelanjutkan kerja soal sambil ngomel dalam hati. Nih laoshi kagak salah apa, ngasi soal model beginian, sampai aku salah ngerti nih soal harus diapain. Waktu itu, suasana kelas semakin heboh. Mereka bilang, untuk baca soal aja nggak bisa, nggak tau juga kalo ada kata yang salah cetak, apalagi ngerjakan. Karena atmosfer mengeluh begitu kuatnya (halah), akhirnya aku sempat ngeluh juga. Aku bilang, “Duh, soalnya kok susah sih. Aku nggak bisa baca beberapa hanzi loh”.  Teman di sebelahku denger en bilang, “Huixiang, kamu yang pinter aja nggak bisa, apalagi aku yang jarang masuk. Kamu bisa tau hanzi mana yang salah, lah aku mbaca aja nggak bisa.” Plaaak, rasanya ketampar dah. Setelah temanku komentar kaya gitu, aku jadi dieeeem aja. Jadi keinget “(SOMETIMES) SILENCE IS GOLDEN”. Lebih baik diem daripada bikin orang lain semakin galau, lebih baik nggak bersuara daripada bikin suasana semakin kacau, lebih baik tutup mulut en ngerjakan soal supaya yang lain nggak tambah pusing.

Di tengah-tengah keributan suasana ujian itu, laoshi kami menjelaskan tujuannya ngasi kami soal kaya gitu. Ternyata dia pengen tau kemampuan kami tuh sampai dimana. Dalam hati aku jawab, ya sampai di sinilah laoshi, belum kemana-mana. Apalagi buat teman-teman yang cuma belajar dari buku les, pasti nggak bisa mbaca sebagian besar hanzi yang ada.

Pulang ujian, aku berdoa en Tuhan berbicara tentang ujian itu. Dia menjelaskan, kalo terkadang Dia juga memberikan ujian yang di atas level kita, karena Dia ingin menguji kapasitas kita. Bukan karena Dia nggak tau kemampuan kita, bukan karena Dia nggak tau apa aja yang baru kita pelajari, tapi karena Dia pengen kita berjuang lebih daripada yang kita bisa lakukan. Seperti ketika ujian tadi, aku lumayan bisa mengerjakan karena aku pernah belajar dari buku lain di luar buku les. Begitu juga dengan kehidupan kerohanian kita, seharusnya kita nggak cuma belajar sebatas apa yang terjadi dalam hidup kita, tapi juga belajar dari pengalaman orang lain, belajar dengar-dengaran sama Roh Kudus setiap saat. Nggak cuma terbatas pada apa yang ada saat ini, tapi juga belajar lebih daripada apa yang kita rasa kita butuhkan.

Dengan membayar harga lebih (mengejar lebih daripada apa yang kita dapatkan), sebenarnya kapasitas kita meningkat, tanpa kita sadari. Kita nggak boleh puas dengan apa yang kita pahami saat ini, nggak boleh berhenti di titik yang telah kita capai saat ini. Tapi, kita harus lebih lagi mengejar pengenalan akan Tuhan. Nggak pernah ada kata “CUKUP” dalam mengenal Tuhan. Nggak boleh ada kata “PUAS” dalam pengejaran kita akan Pribadi-Nya. Seperti hanzi yang sedemikian banyak dan rumit yang masih belum aku pelajari en belum aku kenal, demikian juga Tuhan tuh punya banyak hal yang belum aku tau en kenal. Oleh karena itu, aku nggak mau ngerasa puas ato ngerasa cukup dengan apa yang sudah aku capai saat ini. Aku mau ngejar kapasitas yang lebih lagi.

No comments: