March 24, 2012

HIDUPLAH HARI INI!

 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (II Korintus 5:17).
Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang- orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia- sia” (Efesus 4:17).
                
Dalam panggung kehidupan ini, seringkali aku menemui orang- orang yang hidupnya sangat mengenaskan. Mengapa kukatakan hidup mereka sangat mengenaskan? Karena mereka hidup dengan membawa- bawa masa lalu mereka. Entah mereka masih hidup dalam kepahitan, atau penolakan, atau gambar diri yang rusak karena kejadian- kejadian di masa lalu. Orang- orang yang hidup seperti itu, kasihan banget, karena mereka nggak bisa menikmati berkat- berkat Tuhan dalam hidup mereka.
                
Sebagian besar orang memiliki masa lalu yang buruk, entah pernah ditolak oleh keluarga, mengalami penganiayaan (fisik, mental, atau verbal), dibuang oleh keluarga, dan sebagainya. Umumnya, orang- orang yang mengalami hal- hal tersebut, akan cenderung menjadi orang yang mudah terluka, mudah tersinggung, minder, atau tertekan. Tidak ada seorangpun yang ingin memiliki  masa lalu yang buruk, kita juga tidak bisa mengubahnya. Namun, kita bisa MEMILIH untuk menjadikan masa lalu adalah sebuah proses pembelajaran atau kita hidup berdasarkan masa lalu.
                
Kebanyakan orang hidup di hari ini dengan berpatokan kepada masa lalu mereka. Mereka masih membawa luka- luka mereka di masa lalu dalam kehidupan mereka hari ini. Ada yang karena dulunya diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya (dibanding- dibandingkan dengan saudaranya atau orangtuanya lebih mengasihi saudaranya), maka hari ini orang itu masih hidup dalam kepahitan terhadap orangtuanya. Atau bahkan yang lebih parah lagi, tanpa sadar orang itu melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. Ada juga orang yang dulunya dianiaya secara verbal (dikata-katai dengan buruk), lalu sampai hari ini orang tersebut masih merasa minder dan nggak bisa berbuat apa-apa, sama seperti hinaan yang ia terima. Mungkin juga, ada orang yang pernah diperlakukan dengan buruk oleh gurunya semasa sekolah, kemudian orang itu “membalas dendam” dengan cara menjadi guru yang kelakuannya sama dengan orang yang menyakitinya. Nah loh….
                
Sebagai orang-orang yang sudah mengenal Kristus, seharusnya kita tidak boleh hidup seperti itu. Kita harus hidup hari ini dengan hati dan roh yang diperbarui. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu kita, tidak boleh menghambat kehidupan kita hari ini. Setelah bertobat dan menerima Kristus, Dia mengubah kita menjadi MANUSIA BARU. Hal itu berarti semua masa lalu kita sudah tidak mempunyai kuasa atas hidup kita lagi hari ini hingga seterusnya. Betapa bodohnya kita, apabila kita masih mengingat- ingat kejadian masa lalu, apalagi jika kita masih hidup di dalamnya. Ampunilah orang- orang yang pernah menyakitimu, lupakan kejadian- kejadian itu (tapi bukan amnesia loh ya :P). Kemudian hiduplah dengan kehidupan yang baru.
                
Setiap hari merupakan karunia yang indah bagi hidup kita, oleh karena itu sudah selayaknya kita hidup dengan sukacita baru, hati yang baru, roh yang baru. Jangan lagi hidup dalam trauma masa lalu, kepahitan masa lalu, atau kebencian masa lalu. Masa lalu kita sudah mati, apa gunanya kita membawa- bawa kematian masa lalu dalam hidup kita hari ini? Orang yang masih membawa masa lalunya dalam hidup hari ini, bisa dikatakan bahwa orang itu hanya berlari di tempat, dia nggak akan kemana-mana sampai kapanpun. Padahal dalam hidup ini, kita harus selalu bergerak maju, berkembang, dan bertumbuh. Oleh karena itu, marilah kita hidup hari ini dengan kasih karunia Tuhan hari ini.

Ada satu lagu yang menurutku bagus banget:
Lupakan yang tlah lalu, mengarah pada tujuan
Dengan mata memandang Tuhan Yesus
Bertanding sampai menang, berlari sampai akhir
Tanggalkan semua dosa yang merintangi.
Reff:  
Dan kumau setia kan panggilan-Mu
Sbab Kau sanggup menjaga langkahku
Pada janji-Mu kupercaya
Kau kan sempurnakan pekerjaan-Mu dalamku.


Semoga tulisan ini memberkati kalian semua ^^

March 24th, 2012
1:05 pm

MEMIKUL KEMARAHAN TUHAN

Hari- hari ini aku sedang belajar tentang sosok Musa, seorang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Bagaimana seorang yang awalnya biasa-biasa dan pernah berbuat kesalahan (membunuh mandor Mesir), kemudian melarikan diri ke padang gurun, lalu dipanggil Tuhan untuk misi yang sangat besar. Musa tidak punya rahasia khusus, ia hanya punya hati yang spesial, yang membuat dia mampu menanggung tanggung jawab yang sangat berat.
                
Dalam kitab Keluaran hingga Ulangan, kita dapat membaca kisah yang luar biasa tentang Musa. Dengan kuasa Tuhan, Musa memukul bangsa Mesir dengan 10 tulah (keluaran 7- 12). Musa yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Kanaan . Bagaimana ia sabar menghadapi bangsa Israel dengan kebebalan mereka yang menjengkelkan. Bagaimana Musa naik ke gunung Tuhan dan memperoleh dua loh batu berisi 10 perintah Allah (Keluaran 19-20). Bagaimana Musa mengadakan mujizat demi mujizat di padang gurun yang tandus. Juga tentang kerinduan Musa untuk melihat kemuliaan Tuhan (Keluaran 33).
                
Namun hal yang paling jarang dibahas adalah tentang bagaimana Musa, seorang yang sungguh-sungguh taat dalam seluruh perintah Allah, memikul kemarahan Tuhan atas bangsa Israel. Berkali- kali bangsa Israel yang tegar tengkuk itu menimbulkan murka Tuhan, dan Musa melunakkan hati Tuhan (Keluaran 32:11). Bahkan demi meminta pengampunan atas bangsanya, Musa rela apabila namanya dihapuskan dari kitab kehidupan (Keluaran 32:32). Dan dalam Bilangan 14:26-30, Musa harus menanggung akibat dari ketidakpercayaan bangsa Israel kepada Tuhan, yaitu berputar- putar di padang gurun sampai satu angkatan binasa, yaitu selama 40 tahun.
                
Bagaimana respon Musa ketika Tuhan mengatakan hukuman atas bangsa Israel? Apakah ia menjadi kecewa dan marah, lalu mundur dari panggilan Tuhan? TIDAK! Musa taat, dia tetap melakukan tugasnya untuk memimpin bangsa itu hingga ia mati. Dia tetap melakukan hal- hal yan baik bagi bangsa itu, bangsa yang membuat ia juga harus menanggung penderitaan yang berat. Sebenarnya, Musa bisa saja menggerutu atas bangsa itu, atau bahkan Musa bisa saja membiarkan Tuhan memusnahkan bangsa itu, seperti yang Tuhan katakana. Namun karena kelembutan hatinya, Musa tidak melakukannya. Dia mau memikul kemarahan Tuhan atas bangsanya, sekalipun ia tidak termasuk dalam golongan orang- orang yang memberontak kepada Tuhan.

Coba kita cek kehidupan kita pribadi, bagaimana respon kita ketika kita menerima hukuman atau konsekuensi atas kesalahan kita? Apakah kita bersungut- sungut, marah, atau bahkan menjadi kecewa dan mengancam akan meninggalkan Tuhan? Apabila kita dihukum karena kesalahan kita, itu adalah hal yang sangat wajar. Namun, apabila kita juga ikut menanggung hukuman akibat kesalahan yang tidak perbuat, bukankah itu adalah suatu hal yang besar? Karena Yesus pun menderita serta menanggung kemarahan Tuhan, bukan karena dosanya, tapi karena dosa seluruh umat manusia. Maukah kita memiliki hati yang besar, untuk ikut menanggung kemarahan Tuhan atas keluarga kita, atas bangsa kita, agar kemuliaan Tuhan dinyatakan? Jika tidak ada seorang Musa yang mau memikul kemarahan Tuhan, pasti bangsa Israel binasa. Jika tidak ada Musa yang mau menengahi antara Tuhan dan bangsa Israel, pasti bangsa Israel tidak akan pernah masuk ke tanah Kanaan. Dibutuhkan pengorbanan yang besar untuk suatu kemuliaan yang besar.
God bless you ^^

March 24th, 2012
11:32 am

March 23, 2012

BERBUAH

Aku sempet stress sama judul skripsi yang (lagi-lagi) ditolak. Ini uda bulan apa, kok masih ditolak lagi? Fiuuuhhhhh (tarik nafas dulu) :D Aku sempet berpikir, semua area hidupku lagi berbuah lebat, kecuali skripsi. Rasanya nyandet nggak berujung deh. Banyak pemikiran yang melintas di pikiranku. Mungkin Tuhan pengen aku belajar sabar en kuat ngadepi dosenku yang super unik :P Mungkin Tuhan sengaja mbuat skripsiku nyandet supaya aku belajar memperhatikan sekelilingku en jadi berkat disana (dan emang ada benernya jugak). Mungkin juga ini adalah konsekuensi karena awalnya aku nggak tanya Tuhan en mutusin untuk magang (yang nggak kesampaian).
                
Terlintas di otakku, bahwa hidup kita sebagai anak-anak-Nya haruslah BERBUAH. Berbuah dalam hal apa saja? Dalam SEGALA HAL! Berbuah dalam keluarga, dalam pelayanan, dalam karakter, dalam lingkungan pergaulan, dalam studi en pekerjaan. Tuhan nggak pernah memberkati kita cuma untuk berbuah di satu bidang, misalnya dalam pelayanan berbuah lebat, tapi dalam karakter tetep aja manusia lama yang menonjol. Tuhan mau kita berbuah dalam segala hal, dalam segala musim. Aku inget kisah tentang Yesus yang mengutuk pohon ara (Matius 21:18-22). Mungkin kita berpikir, kok Yesus ngutuk pohon ara itu, padahal kan waktu itu emang bukan musimnya buah ara, wajar donk kalo tuh pohon kagak berbuah? Iya, secara logika emang wajar, tapi kisah itu mengajarkan kita bahwa kita nggak boleh musim- musiman kalo berbuah. Kita harus berbuah di SEGALA MUSIM.
                
Waktu itu aku ngomong sama Tuhan, “Tuhan, Kau sedang buat hidupku berbuah di semua bidang kan (pelayanan, keluarga, organisasi kampus, pemasa, lingkungan pergaulan), tapi kok nggak di skrispsiku? Aku juga pengen skripsiku berbuah, Tuhan. Aku pengen cepet bisa kerjakan skripsiku, cepet lulus trus menuhi panggilan-Mu dalam hidupku”. Lalu aku diingetin kisah tentang pokok anggur yang benar (Yohanes 15:1-8). Dan dalam perikop itu, aku disegarkan kembali. Waktu aku baca perikop itu, Tuhan ngomong secara spesifik ke aku. Di ayat 2, dikatakan “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah”. Tiba-tiba Tuhan singkapkan rahasia, intinya karena hidupku lagi berbuah di bidang- bidang lain, aku berpotensi untuk sombong! Oleh karena itu, uhan lagi bersihkan “rantingku” (hidupku), supaya aku lebih banyak berbuah, namun tetep inget kalo aku cuma ranting. Tanpa Yesus aku nggak ada gunanya “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (ayat 4). Lalu ayat 5 menegaskan lagi “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tingal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Without God, I can do nothing! Without God, I am nothing!
                
Kemudian kunci yang dahsyat ada di ayat 7-8 “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dieprmuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku”. Artinya kalo kita tinggal dalam Tuhan, kita melekat sama Tuhan, kita ngerti Firman-Nya, ngerti hati-Nya, MAKA apapun yang kita minta, akan dikabulkan. Maka pekerjaan kita akan dibuat berhasil. Tapi kuncinya adalah di MELEKAT itu tadi. Melekat dengan Tuhan membuat kita berbuah banyak, guys! Namun melekat dengan Tuhan dalam kondisi hati yang sudah dibersihkan, membuat kita mempermuliakan Bapa. Tuhan nggak cuma mau kita berbuah banyak, tapi Dia mau lebih dari itu. Dia mau kita memiliki kondisi hati yang benar, kemudian melekat, maka kita akan berbuah banyak dan bisa mempermuliakan Bapa. Berbuah banyak membuat hati kita sombong, namun ketika hati kita dibersihkan-Nya, maka kita menyadari bahwa semua berasal dari Bapa. Thanks Bapa, buat pengertian baru yang Kau berikan bagiku ^^

March 22th, 2012
11:35 am

March 20, 2012

TUHAN, DIMANAKAH ENGKAU?

Ketika jalanku gelap, tak seorangpun mengerti perasaanku, dimanakah Engkau?
Ketika aku sendiri, persoalan menghimpitku, dimanakah Engkau?
Ketika aku dikhianati, ditinggalkan, bahkan dianggap tak berguna, dimanakah Engkau?
Ketika aku berseru, memanggil nama-Mu, mencari wajah-Mu, dimanakah Engkau?
Ketika duniaku runtuh, semua harapanku hancur berkeping- keping, dimanakah Engkau?

Hening, sunyi, tak ada jawaban.
Air mataku menetes membanjiri ranjangku.
Keputusasaan menggerogotiku.
Sirna semua impian dan angan-anganku.
Hancur cita-cita dan asaku.

Aku berteriak mencari-Mu, namun Engkau tak menjawabku.
Aku memanggil nama-Mu, namun Kau tetap diam.
Aku berseru kepada-Mu, namun hanya keheningan yang menemaniku.
Aku menyeka air mataku, bangkit berdiri tanpa harapan.

Satu hal yang tak kusadari, Engkau selalu di sisiku.
Merasakan apa yang kurasakan.
Menangis bersamaku, menyeka air mataku.
Menopangku ketika ku lemah.
Memberiku kekuatan yang baru.
Tak perlu kuberteriak, Kau selalu di sampingku.
Thank you, Bapaku yang baik.

March 20th, 2012
8:28 pm




PENUNDAAN

“Tuhan, kalo begini terus, skripsi gue kagak kelar2 donk”, itu adalah respon pertamaku setelah bimbingan skripsi untuk kesekian kalinya dan judulku masih dipermasalahkan. Nih dosen mau yang gimana seh? Susah amat ngeluluhin hatinya ibu satu ini. Ini salah itu salah. Ini nggak bisa, itu nggak boleh. Ribeeeeetttt dah. Sempet kepikiran juga, jangan- jangan nih dosen sentimen sama gue.
                
Sebelum bimbingan, aku ketemu sama satu temen yang juga ngalami penganiayaan mental yang sama (lebay amat, wakakaka). Dosen pembimbingnya (doping) dia sama dengan dopingku. Dia menguatkanku dengan perkataan ini: “Semangat Luc, penundaan berarti Tuhan memberikan yang lebih baik buat kamu”. Pas dia bilang gitu, aku ngangguk2 doank. Setelah ketemu doping en ditolak lagi, aku bener2 tarik nafas dalam2 en berkata dalam hati “ya sudahlah, thanks Tuhan”.
                
Nggak ada feeling apa2 sampe keesokan subuhnya, aku terbangun dalam kondisi depressed. Sempet ngeluh ke Tuhan. “Sampe kapan aku kaya gini Tuhan? Temen2ku udah pada lulus, aku mulai aja masih nggak bisa”. Tiba2 Tuhan tuh nguatin aku dengan banyak perkataan. Aku jadi percaya bahwa penundaan tuh bukan berarti Dia ga berkenan, tapi Dia lagi pengen ajak aku “muter2” sedikit lebih lama (yang aku nggak tau sampe berapa lama :P) untuk sebuah tujuan yang lebih baik. Saat itu, Tuhan kasi aku pemahaman, kenpa Dia ijinkan aku muter- muter “sedikit”. Tanpa kusadari, selama ini aku terlalu sibuk dengan deadline, tuntutan, dan jadwal. Karena kesibukan- kesibukan itulah, seringkali aku nggak bisa nikmati hidupku.
                
Penundaan yang Tuhan beri, emang nggak enak buat dagingku (ya iyalah, bayar duit lagi untuk bimbingan skripsi semester ini :P). tapi aku tau bener-bener, kalo itu baik buat rohku. Aku diingetin tentang Abraham, pas dia putus asa tentang masalah keturunan. Tuhan ajak dia keluar dari kemah, buat apa? Supaya Abraham bisa ngeliat betapa besarnya ciptaan Tuhan, betapa dahsyatnya Penciptanya. Ketika Abraham disuruh liat langit en ngitung bintang, aku yakin Abraham takjub! Disitu Tuhan berjanji kalo Dia akan buat keturunan Abraham sebanyak bintang di langit. Mungkin Abraham bilang, “Duh Tuhan, nggak usa muluk-muluk deh. Satu aja gue kagak punya”. Tapi Tuhan sekali lagi meyakinkan Abraham, Tuhan suruh Abraham itung pasir di tepi laut (sampe besok juga kagak kelar bo). Disitulah iman Abraham bangkit! Kalo Tuhan yang berjanji, mau umur gue uda uzur, anak satu aje kagak punye, tetep pasti bisa! Firman Tuhan kagak mungkin gagal! Yes, disitulah raksasa keraguan Abraham tumbang.
                
Hari ini, aku belum ngalami kemenangan. Not yet! Tapi nggak berarti aku akan kalah terus. Walopun Tuhan nggak mbuat aku takjub kayak yang dilakukan-Nya ke Abraham, aku percaya kalo Dia akan buktikan kuasa-Nya sekali lagi dalam hidupku. Aku nggak akan liat fakta yang melemahkan imanku, tapi aku akan liat kepada jadwal Surgawi. Bukan berarti aku menutup mata terhadap fakta, tapi aku nggak ijinkan fakta mbuat imanku gugur! Allah yang berjanji pada Abraham dan menepati janji-Nya, adalah Allahku juga! Kalo ribuan tahun lalu Ia sanggup buktikan kuasa-Nya dalam kemustahilan, aku yakin kalo Dia masih mampu melakukan keajaiban hari ini. Imanku takkan goyah, sekalipun kenyataan semakin memburuk. Allah besertaku, bukankah itu merupakan awal kemenanganku?
                
Satu hal yang sangat menguatkanku di subuh itu adalah ketika aku menangis di hadapan-Nya, Dia menagtakan hal ini, “Aku mau tandatangan satas semua hal di hidupmu, Luc. Aku mau ketika skripsimu berhasil, kamu nggak sombong, tapi inget bahwa Akulah yang membuatmu berhasil”. Kata-kata itu kayak air dingin yang nyiram aku dari kepala sampe kaki, sangat menyegarkan. Aku yakin, bahwa aku nggak keluar dari kasih karunia-Nya, aku nggak keluar dari jalur-Nya. Ada proses yang harus aku jalani, dan oleh karena itu, aku harus kuat!
God’s purpose is always greater than the pain we go thru but we don’t usually understand it during pain. Clarity comes later.
If you can see the invisible, God will do the impossible.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Roma 8:28).
“You shall not be terrified of them; for the Lord your God, the great and awesome God, is among you!” (Deuteronomy 7:21)
Instead of being dragged down by mistakes you’ve made in the past, get ready for what God has in store for your future. It will supersede anything you’ve encountered before! (Joel Osteen).

March 16th, 2012
8:40 pm