March 24, 2012

MEMIKUL KEMARAHAN TUHAN

Hari- hari ini aku sedang belajar tentang sosok Musa, seorang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Bagaimana seorang yang awalnya biasa-biasa dan pernah berbuat kesalahan (membunuh mandor Mesir), kemudian melarikan diri ke padang gurun, lalu dipanggil Tuhan untuk misi yang sangat besar. Musa tidak punya rahasia khusus, ia hanya punya hati yang spesial, yang membuat dia mampu menanggung tanggung jawab yang sangat berat.
                
Dalam kitab Keluaran hingga Ulangan, kita dapat membaca kisah yang luar biasa tentang Musa. Dengan kuasa Tuhan, Musa memukul bangsa Mesir dengan 10 tulah (keluaran 7- 12). Musa yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Kanaan . Bagaimana ia sabar menghadapi bangsa Israel dengan kebebalan mereka yang menjengkelkan. Bagaimana Musa naik ke gunung Tuhan dan memperoleh dua loh batu berisi 10 perintah Allah (Keluaran 19-20). Bagaimana Musa mengadakan mujizat demi mujizat di padang gurun yang tandus. Juga tentang kerinduan Musa untuk melihat kemuliaan Tuhan (Keluaran 33).
                
Namun hal yang paling jarang dibahas adalah tentang bagaimana Musa, seorang yang sungguh-sungguh taat dalam seluruh perintah Allah, memikul kemarahan Tuhan atas bangsa Israel. Berkali- kali bangsa Israel yang tegar tengkuk itu menimbulkan murka Tuhan, dan Musa melunakkan hati Tuhan (Keluaran 32:11). Bahkan demi meminta pengampunan atas bangsanya, Musa rela apabila namanya dihapuskan dari kitab kehidupan (Keluaran 32:32). Dan dalam Bilangan 14:26-30, Musa harus menanggung akibat dari ketidakpercayaan bangsa Israel kepada Tuhan, yaitu berputar- putar di padang gurun sampai satu angkatan binasa, yaitu selama 40 tahun.
                
Bagaimana respon Musa ketika Tuhan mengatakan hukuman atas bangsa Israel? Apakah ia menjadi kecewa dan marah, lalu mundur dari panggilan Tuhan? TIDAK! Musa taat, dia tetap melakukan tugasnya untuk memimpin bangsa itu hingga ia mati. Dia tetap melakukan hal- hal yan baik bagi bangsa itu, bangsa yang membuat ia juga harus menanggung penderitaan yang berat. Sebenarnya, Musa bisa saja menggerutu atas bangsa itu, atau bahkan Musa bisa saja membiarkan Tuhan memusnahkan bangsa itu, seperti yang Tuhan katakana. Namun karena kelembutan hatinya, Musa tidak melakukannya. Dia mau memikul kemarahan Tuhan atas bangsanya, sekalipun ia tidak termasuk dalam golongan orang- orang yang memberontak kepada Tuhan.

Coba kita cek kehidupan kita pribadi, bagaimana respon kita ketika kita menerima hukuman atau konsekuensi atas kesalahan kita? Apakah kita bersungut- sungut, marah, atau bahkan menjadi kecewa dan mengancam akan meninggalkan Tuhan? Apabila kita dihukum karena kesalahan kita, itu adalah hal yang sangat wajar. Namun, apabila kita juga ikut menanggung hukuman akibat kesalahan yang tidak perbuat, bukankah itu adalah suatu hal yang besar? Karena Yesus pun menderita serta menanggung kemarahan Tuhan, bukan karena dosanya, tapi karena dosa seluruh umat manusia. Maukah kita memiliki hati yang besar, untuk ikut menanggung kemarahan Tuhan atas keluarga kita, atas bangsa kita, agar kemuliaan Tuhan dinyatakan? Jika tidak ada seorang Musa yang mau memikul kemarahan Tuhan, pasti bangsa Israel binasa. Jika tidak ada Musa yang mau menengahi antara Tuhan dan bangsa Israel, pasti bangsa Israel tidak akan pernah masuk ke tanah Kanaan. Dibutuhkan pengorbanan yang besar untuk suatu kemuliaan yang besar.
God bless you ^^

March 24th, 2012
11:32 am

No comments: