“Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku” (Mazmur 11:50).
Aku kerja di sebuah kantor yang isinya hanya 5 orang (boss, bagian pembelian plus pajak, bagian penjualan, aku sebagai akuntan, en office boy). Tiga karyawan yang ada tuh semuanya berasal dari agama seberang en mereka rajin banget sembahyang, namun kerja asal-asalan. Dari hari pertama kerja, aku ngeliat mereka dateng telat, trus begitu nyampe kantor, mereka masih ngobrol en ngemil. Astagaaa! Hal ini tentunya bikin aku nggak sreg, karena aku adalah orang yang serius en fokus kalo kerja.
Berjalan 1 minggu, aku makin nggak sreg. Capek fisik karena kerjaanku banyaaaak, aku menemukan adanya hal-hal yang nggak jujur, capek jiwa karena ngeliat kelakuan mereka yang super nyantai padahal kerjaan numpuk, en capek roh karena peperangan rohani tiap hari. Aku tau kalo boss percayai aku banyak hal, bahkan lebih banyak daripada yang aku bayangkan. Bahkan boss ngasi aku kepercayaan untuk ngawasi pegawai lain. Entah boss ngeliat apa dari aku sampe-sampe dia bisa segitu percayanya sama aku.
Jujur, minggu pertama kerja, aku ngomel trus sama Tuhan saking stresnya. Waktu itu, bacaan Alkitab harianku nyampe di kitab Rut. Tiba-tiba pasal 1 berbicara kuat untuk hidupku secara pribadi, “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel” (Rut 1:1). Ternyata, di zaman para hakim (orang yang dipilih dan diurapi Tuhan) memerintah, terjadi kelaparan. Disitu aku dapet sebuah rhema, bahwa sekalipun kita diurapi, sekalipun kita berada dalam kehendak dan rencana-Nya, nggak berarti hidup kita aman sentosa en bebas masalah. Hal itu berarti nggak ada jaminan kenyamanan ketika kita memilih untuk mengikut Tuhan, nggak ada jaminan kehidupan yang bebas badai ketika kita taat pada kehendak Tuhan, ngak ada jaminan bahwa hidup akan selalu happy saat kita tinggal di tempat yang Ia inginkan.
Hal itulah yang bikin Elimelekh dan Naomi sekeluarga jadi pahit hati sama Tuhan en memilih untuk keluar dari tanah perjanjian, keluar dari rencana Allah, bahkan mereka memilih tinggal di negeri asing yang orang-orangnya tidak mengenal Tuhan (baca Rut 1:1-2). Kisah ini bener-bener jadi perenungan buat aku pribadi, karena aku tau bahwa aku punya kemampuan untuk cari kerja di tempat lain, aku punya background pendidikan yang baik, aku punya kesempatan untuk memilih perusahaan lain yang jauh lebih baik. Tapi aku sadar, kalo aku keluar dari perusahaan ini hanya karena tempat ini nggak nyaman untuk diriku, aku nggak akan bertumbuh di area yang namanya PENYERAHAN DIRI.
Jadi, aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa sambil menaruh kepercayaanku ke dalam tangan Tuhan, bahkan aku meminta supaya aku semakin mengenal kehendak Tuhan selama aku ditempatkan di kantor ini. Saat aku berdoa dengan berjuta keluhan yang tak terucapkan *wink*, Dia berkata: “Luc, waktumu di kantor ini nggak akan lama kok, ini hanyalah sumur bagi Yusuf. Kerjakan saja bagianmu dengan setia. Kalo waktu-Ku tiba, Aku akan mengeluarkanmu dari sini dengan cara-Ku”.
Perkataan-Nya itulah yang menjadi bekalku untuk menjalani hari-hariku di kantor. Aku mulai mengubah cara hidupku. Kalo mereka berani sembahyang berkali-kali di kantor sekalipun dilihat orang, akupun juga berani berdoa di kantor. Aku bekerja lebih serius en lebih fokus, setiap hal yang ditaruh ke dalam tanganku selalu kuselesaikan dengan baik en cepat. Aku berusaha untuk bergaul dengan mereka, masuk ke dalam pembicaraan mereka, bahkan menegur mereka dengan cara yang halus. Aku berusaha menjadi pribadi yang mendengarkan keluh kesah mereka dan memberi solusi serta penghiburan.
Aku mau taat dengan kehendak-Nya sekalipun ini nggak nyaman bagiku. Aku nggak mau cari kenyamanan bagi hidupku jika hal itu nggak menyenangkan hati-Nya. Hal tertinggi yang kukejar di hidup ini bukanlah kenyamanan, bukanlah gaji, bukanlah relasi, bukanlah promosi. Yang kukejar adalah sebuah senyuman di wajah-Nya.
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30).