September 29, 2013

NO GUARANTEE


“Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku” (Mazmur 11:50).
            
Aku kerja di sebuah kantor yang isinya hanya 5 orang (boss, bagian pembelian plus pajak, bagian penjualan, aku sebagai akuntan, en office boy). Tiga karyawan yang ada tuh semuanya berasal dari agama seberang en mereka rajin banget sembahyang, namun kerja asal-asalan. Dari hari pertama kerja, aku ngeliat mereka dateng telat, trus begitu nyampe kantor, mereka masih ngobrol en ngemil. Astagaaa! Hal ini tentunya bikin aku nggak sreg, karena aku adalah orang yang serius en fokus kalo kerja.
            
Berjalan 1 minggu, aku makin nggak sreg. Capek fisik karena kerjaanku banyaaaak, aku menemukan adanya hal-hal yang nggak jujur, capek jiwa karena ngeliat kelakuan mereka yang super nyantai padahal kerjaan numpuk, en capek roh karena peperangan rohani tiap hari. Aku tau kalo boss percayai aku banyak hal, bahkan lebih banyak daripada yang aku bayangkan. Bahkan boss ngasi aku kepercayaan untuk ngawasi pegawai lain. Entah boss ngeliat apa dari aku sampe-sampe dia bisa segitu percayanya sama aku.
            
Jujur, minggu pertama kerja, aku ngomel trus sama Tuhan saking stresnya. Waktu itu, bacaan Alkitab harianku nyampe di kitab Rut. Tiba-tiba pasal 1 berbicara kuat untuk hidupku secara pribadi, “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel” (Rut 1:1). Ternyata, di zaman para hakim (orang yang dipilih dan diurapi Tuhan) memerintah, terjadi kelaparan.  Disitu aku dapet sebuah rhema, bahwa sekalipun kita diurapi, sekalipun kita berada dalam kehendak dan rencana-Nya, nggak berarti hidup kita aman sentosa en bebas masalah. Hal itu berarti nggak ada jaminan kenyamanan ketika kita memilih untuk mengikut Tuhan, nggak ada jaminan kehidupan yang bebas badai ketika kita taat pada kehendak Tuhan, ngak ada jaminan bahwa hidup akan selalu happy saat kita tinggal di tempat yang Ia inginkan.

Hal itulah yang bikin Elimelekh dan Naomi sekeluarga jadi pahit hati sama Tuhan en memilih untuk keluar dari tanah perjanjian, keluar dari rencana Allah, bahkan mereka memilih tinggal di negeri asing yang orang-orangnya tidak mengenal Tuhan (baca Rut 1:1-2). Kisah ini bener-bener jadi perenungan buat aku pribadi, karena aku tau bahwa aku punya kemampuan untuk cari kerja di tempat lain, aku punya background pendidikan yang baik, aku punya kesempatan untuk memilih perusahaan lain yang jauh lebih baik. Tapi aku sadar, kalo aku keluar dari perusahaan ini hanya karena tempat ini nggak nyaman untuk diriku, aku nggak akan bertumbuh di area yang namanya PENYERAHAN DIRI.

Jadi, aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa sambil menaruh kepercayaanku ke dalam tangan Tuhan, bahkan aku meminta supaya aku semakin mengenal kehendak Tuhan selama aku ditempatkan di kantor ini. Saat aku berdoa dengan berjuta keluhan yang tak terucapkan *wink*, Dia berkata: “Luc, waktumu di kantor ini nggak akan lama kok, ini hanyalah sumur bagi Yusuf. Kerjakan saja bagianmu dengan setia. Kalo waktu-Ku tiba, Aku akan mengeluarkanmu dari sini dengan cara-Ku”.

Perkataan-Nya itulah yang menjadi bekalku untuk menjalani hari-hariku di kantor. Aku mulai mengubah cara hidupku. Kalo mereka berani sembahyang berkali-kali di kantor sekalipun dilihat orang, akupun juga berani berdoa di kantor. Aku bekerja lebih serius en lebih fokus, setiap hal yang ditaruh ke dalam tanganku selalu kuselesaikan dengan baik en cepat. Aku berusaha untuk bergaul dengan mereka, masuk ke dalam pembicaraan mereka, bahkan menegur mereka dengan cara yang halus. Aku berusaha menjadi pribadi yang mendengarkan keluh kesah mereka dan memberi solusi serta penghiburan.

Aku mau taat dengan kehendak-Nya sekalipun ini nggak nyaman bagiku. Aku nggak mau cari kenyamanan bagi hidupku jika hal itu nggak menyenangkan hati-Nya. Hal tertinggi yang kukejar di hidup ini bukanlah kenyamanan, bukanlah gaji, bukanlah relasi, bukanlah promosi. Yang kukejar adalah sebuah senyuman di wajah-Nya.

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30).

September 28, 2013

GOD'S PROMOTION

Minggu demi minggu kujalani di kantor dengan harapan aku segera selesaiin jobdesk yang dari Tuhan. Semakin lama, aku semakin nggak sreg dengan kantor ini, dengan sistem kerja yang ada, dengan sikap boss, dengan beberapa fakta tentang manipulasi dan kecurangan yang ada. Ditambah lagi kata-kata boss: “Kalo aku atau adikku nggak ada di tempat, kamu yang tanda tangan SPT (Surat Pemberitahuan Pajak) ya, Luc”. Ogah banget, pajaknya dilaporin nggak sesuai fakta oyy. Lagian kalo aku yang tandatangan, ntar aku yang kudu tanggung jawab donk kalo orang pajak nemuin hal yang ga bener dari SPT itu. Ogah... 

Aku berdoa supaya Tuhan segera melakukan cawan ini dari hidupku (lebay amat sih, wakaka). Aku berdoa supaya Tuhan kasi aku hikmat untuk ngerti hati-Nya en ngerjakan segala kehendak-Nya dengan tepat en cepat. Aku berdoa supaya aku bisa segera keluar dari tempat yang bikin hatiku nggak damai sejahtera ini. Eniwei, aku nggak peduliin kenyamanan pribadiku. Aku nggak permasalahin soal gaji yang nggak begitu besar seperti harapanku. I don’t care mengenai jumlah pegawai yang super sedikit ataupun letak kantor yang cukup jauh dari rumah. I don’t care anymore.        

Tapi aku nggak nyaman banget tiap kali ngecek sesuatu en aku tau kalo hal itu nggak sesuai dengan seharusnya. Hatiku tergelitik untuk ngajuin protes ke boss, bilang hal yang bener, entah dia mau berubah atau kagak. Ini adalah pengalaman pertamaku kerja, en aku mau mulai dengan benar serta jujur, no matter what. Sekalipun resikonya dipecat.         

Sempet sih aku debat sama boss tentang masalah pajak yang nggak dilaporkan sesuai dengan jumlah seharusnya, PPh (pajak penghasilan) yang isinya mencurigakan en nggak sesuai dengan fakta. En ujungnya boss berkelit dengan begitu cerdiknya. En aku cuma bisa berdoa dalam hati serta nyerahkan semuanya dalam tangan Tuhan.         

En God gives me surprise! Di tengah-tengah kegalauan hati yang super luar biasa itu, tiba-tiba aku di-sms sama sebuah perusahaan yang gede, dimana aku sempet kirim CV di awal Juli en nggak ada kabar. Ternyata aku dapet panggilan untuk interview keesokan harinya en ditawarin sebagai staf keuangan! STAF KEUANGAN! Sebuah posisi yang sesuai banget sama kemampuanku (walopun aku lulusan akuntansi). Posisi kantornya dekeeettt banget sama rumah pula. Waow!

Singkat cerita, aku super galau. Aku masih baru 2-3 minggu kerja di kantor yang sekarang, eh dapet tawaran perusahaan yang lebih gede. Aku berdoa, sambil diskusi sama ortu en minta pendapat beberapa temen. Aku ngerasa damai sejahtera Tuhan turun en aku ambil keputusan untuk dateng interview. Aku nggak belajar apa-apa karena Tuhan bilang nggak perlu. “Beneran nggak perlu belajar ta, Tuhan? Ini perusahaan gede loh, ntar kalo ada test gimane?” Tuhan bilang; “Kamu udah pasti ketrima kok”. Waow, beneran kah?

Ternyata emang beneran nggak ada test yang berhubungan dengan keuangan. Yang ada hanya psikotest, test kepribadian, en test gambar (aiyaaa, untuk yang satu ini aku tutup mata en berdoa deh. Gambarku paling jelek dibandingin dengan kandidat lainnya :P). Interview dengan general manager berjalan lancar, nggak ditanyai hal-hal yang sulit. Aku sampai melongo karena interview-nya cuma 10-15 menit. Hahaha. Aku nggak berharap ketrima karena sempet ditanyain: “Kamu kerja belum sampai 1 bulan, kenapa cari kerjaan lain?” Aku jawab: “Saya udah lama nglamar di tempat ini dan nggak ada kabar pak. Entah kenapa kemarin ditelpon en dipanggil interview”. Jawaban macam apa pula itu >.<       

Sorenya, aku ditelpon lagi en dikabari kalo aku lolos interview pertama en dipanggil lagi untuk interview dengan HRD (Human Resource Department). Loh, aku lolos yak? *kedip-kedip nggak percaya* Sebelum interview dengan HRD, aku sempet bilang ke Tuhan: “Tuhan, Kau kasi kerjaan baru tuh karena emang tugasku di kantor ini udah selesai atau karena Engkau terlalu sayang sama aku sampai nggak tega liat penderitaanku disini? Kalo Kau kasi kerjaan baru hanya karena Engkau terlalu sayang sama aku, buat aku gagal di interview, aku mau selesaiin misi yang Kau berikan di kantor yang sekarang”. Lalu Tuhan jawab: “Aku nggak akan bikin kamu gagal di interview, Luc, karena kamu punya kemampuan. Justru ketika kamu diterima di kantor baru, kamu akan belajar semakin dewasa dan ngerti kehendak-Ku”. Nah loh, bingung setengah idup kalo dapet jawaban model begitu kan.

En interview dengan HRD (seperti yang udah aku duga), hanyalah dijelasin tentang sistem kerja perusahaan en deal gaji. Ternyata aku diterima! Entah harus seneng atau makin galau, hahaha. Selama berminggu-minggu, aku berdoa en akhirnya aku mantap untuk pindah ke kantor baru. Dengan catatan, aku selesaiin semua tanggung jawabku di kantor lama, aku berusaha jadi berkat en terang buat rekan kerja en boss, I want to finishing well.

Bagiku, dapet kerjaan di kantor baru ini mustahil banget kalo bukan karena pertolongan Tuhan! Aku tahu kalo itu adalah upah ketaatanku karena aku nurut dengan apa yang Tuhan mau, tapi ketaatanku pun nggak cukup layak untuk dibayar dengan kesempatan yang super gede ini. Bener-bener nggak nyangka bisa semudah itu lolos interview en ketrima. Thanks God 😍            

Yang bikin aku lebih kaget lagi, di kantor baru ini, semua doaku di masa-masa masih bergumul sama skripsi tuh dijawab sama Tuhan. Aku inget banget kalo aku pernah berdoa minta kantor yang letaknya deket rumah, perusahaan nasional, ada jenjang karir, gaji sekian juta, hari sabtu libur, en beberapa hal lain yang tidak bisa kusebutkan disini :P

Pengalaman ini bener-bener bikin aku semakin takjub sama Tuhan. Tuhan tuh dahsyat bangets! Ketika kita mau belajar taat dengan apa yang Dia mau (sekalipun ketaatan kita nggak sempurna, sekalipun masih ada ngomelnya, meskipun masih ada tawar menawarnya), Dia SANGGUP MEMBERIKAN PROMOSI DALAM HIDUP KITA! Dia sanggup bawa aku ke hal-hal yang lebih dari apa yang pernah kubayangkan. Haleluya!

Aku semakin ngerti bahwa nggak perlu takut untuk berjalan dalam kebenaran, sekalipun kita seolah-olah berjalan sendirian. Banyak temenku bilang: “Perusahaan yang manipulasi pajak tuh udah biasa Luc, semua perusahaan jugak gitu. Kalo kamu mau cari perusahaan yang bener-bener jujur, nggak ada lah”. Oke, mungkin perusahaan yang 100% jujur tuh hanya ada 1 di antara sejuta, emang kenapa? Aku nggak mau diem aja kalo aku tau ada hal yang nggak sepatutnya. Aku nggak peduli tanggapan manusia kayak apa. Aku tau bahwa suatu saat, aku harus mempertanggungjawabkan hidupku di hadapan 1 Hakim Agung, Yesus Kristus. Dan aku mau Dia mendapati bahwa tidak ada kecurangan padaku, tidak ada hal yang kusembunyikan, tidak ada yang bengkok dalam diriku.

 “Call to Me and I will answer you and tell you great and unsearchable things you do not know” (Jeremiah 33:3, NIV).

However, as it is written: “No eye has seen, no ear has heard, no mind has conceived what God has prepared for those who love Him” (I Corinthians 2:9)


I will follow You that’s my promise
I will follow You till the end
I will follow You for no other
have love me more

I will follow You with my whole heart
I will follow You with my strength
I will follow You till my whole life
Brings fragrance and glory to Your name
(I Will Follow You, Giving My Best)


SOMBONG BANGET SEH KAMU!

Minggu demi minggu kerja, aku semakin paham dengan sistem kerja perusahaan.  Hal itu bikin aku bisa bekerja dengan lebih efektif, sehingga aku bisa selesain tugasku dengan baik. Bahkan mulai pertengahan minggu kedua, aku lebih banyak nganggur di kantor karena aku udah selesaiin semua tanggung jawabku. En aku seneng banget karena aku ngeliat rekan-rekan kerjaku mulai kendor sembahyang dengan cara mereka (aku berdoa supaya mereka mengenal Allah yang benar, bukan dengan taat menyembah ke ilah lain). Secara atmosfer, mulai terjadi pemutarbalikan. Puji Tuhan!
           
Bahkan saking nganggurnya, aku bisa bantu kerjaan rekan-rekanku yang overloaded, dengan cara yag lebih efektif en waktu yang jauh lebih singkat. Setiap pekerjaan yang ditaruh ke mejaku, kuselesaikan sesegera mungkin dengan amat baik. Pujian mulai datang, mereka mulai mengakui kemampuan kerjaku,tanpa sadar kepalaku mulai terangkat. 

Sampai di satu hari (tanggal 11 September), adik boss minta tolong ke aku untuk kirim fax ke salah satu customer yang hutangnya numpuk selama berbulan-bulan. Sebenernya itu bukan tugasku, tapi karena dia ngeliat aku nggak ada kerjaan, jadi dia minta tolong ke aku. Dia minta aku bikin surat konfirmasi piutang en minta aku tandatangan di surat itu, lalu di-fax ke customer. Aku kerjakan tanpa punya feeling apa-apa. Sebelum kirim fax, aku emang sempet berdoa dalam hati supaya hutangnya customer ini segera dibayar.
            
Keesokan harinya pas mendekati detik-detik pulang kerja, rekan kerjaku yang biasanya bagian nagih piutang customer tiba-tiba bilang: “Eh, tandatangan’e Lucy berharga yo, kemaren kirim fax, hari ini langsung utang’e dibayar xxx juta. Padahal aku berkali-kali telpon untuk nagih, gak dibayar-bayar”. Entah setan apa yang tiba-tiba mendatangiku, aku langsung update status di Blackberry tentang hal itu. Lupa sama sekali bahwa bukan aku yang hebat, tapi Tuhan.
            
Sekitar setengah jam kemudian, aku ngerasa ada hal yang ngganjel di hati lalu aku hapus status itu. Tiba-tiba ada seorang temen yang notabene bukan anak Tuhan BBM aku en negur: “Jangan update status kayak gitu, ga baik buat kamu. Jangan pernah nyebutin nominal” (Thanks tegurannya en diberkatilah engkau yang udah negur Lucy :D). Plaaaaakkk, kata-katanya nampar aku, hatiku langsung berbicara: “Kamu sombong Luc, padahal bukan kamu yang hebat tapi Tuhan. Kamu cuma hamba”.
            
Aku baru sadar kalo aku berubah jadi orang yang sombong, aku ngerasa diriku lebih hebat daripada rekan-rekan kerjaku. Aku nggak sadar kalo perlahan-lahan aku mulai angkuh karena setiap pekerjaan yang dikasi ke tanganku selalu beres. Aku berubah menjadi congkak en ngerasa bahwa akulah yang mampu.

“Ampuni Lucy, Tuhan. Ingatkan Lucy bahwa aku hanyalah seorang hamba yang nggak bisa melakukan apapun tanpa-Mu. Seorang hamba hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Jangan angkat aku ke level yang lebih tinggi, jangan beri aku kepercayaan yang lebih besar Tuhan, jika Engkau tahu bahwa aku nggak mampu untuk menanggungnya. Aku nggak mau memperoleh banyak hal namun kehilangan perkenanan-Mu”. En tiba-tiba aku inget satu bab yang bahas tentang kesombongan di buku “Facing Your Giants”, bisa dibaca di SINI

OBEDIENCE

Banyak cerita, banyak pengalaman, banyak kejadian yang mewarnai  hidupku selama 1 bulan terakhir. En aku bersyukur sama Tuhan buat semua hal yang Dia ijinkan terjadi. Dia selalu baik, sekalipun hal-hal yang kualami nggak baik. Justru dari semua kejadian yang ada, aku belajar untuk semakin melekat sama Tuhan.

Waktu aku belajar taat sama Tuhan untuk bekerja di kantor ini, aku merasakan kasih karunia-Nya melimpah. Emang sih awal-awal kerasa berat banget karena masih penyesuaian: tanggung jawab yang cukup banyak ditambah peperangan rohani tiap hari bikin aku sempet drop secara fisik. Tapi puji Tuhan, Dia memampukanku melakukan segala perkara bersama Roh-Nya.

Dari awal, aku emang udah nggak sreg sama perusahaan ini: boss konseling ke aku pada saat harusnya aku interview, rekan kerja yang hanya 3 biji en semuanya beragama lain, letak perusahaan yang lumayan jauh dari rumah, en aku mengendus bau-bau ketidakjujuran di kantor ini.  Tapi aku mau belajar TAAT sama Tuhan ketika Dia bilang bahwa Dia mau aku disini untuk sementara waktu, untuk menjadi TERANG. Nggak mudah untuk aku taat saat aku udah tau hal-hal mencekam yang akan aku alami disini, hahaha.

Minggu pertama kerja, tiada hari tanpa keluhan:
“Tuhan, aku nggak suka tempat ini, rekan kerjaku rajin banget sembahyang, tapi males-malesan kerja”.
“Tuhan, aku nggak suka dengan yang paling senior, mentang-mentang boss nggak di tempat, aku dilimpahin kerjaan yang bukan tanggung jawabku”.
“Tuhan, aku nggak tahan dengan sistem kerja yang amburadul en serabutan ini”.
“Tuhan, Engkau bilang kantor ini adalah the land of blessing buat aku, tapi mana? Nyatanya disini padang gurun, aku exhausted karena tiap hari kerjaan overloaded, peperangan rohani trus”.
“Tuhan, Lucy nggak suka tempat ini. Bener-bener penuh dengan kegelapan. Nggak usah secara rohani deh Tuhan, secara jasmani aja, mereka nggak bisa kerja dengan bener, bahkan yang paling senior berani-beraninya ngasi kerjaan dia yang ditumpuk berbulan-bulan ke mejaku”.
(En jutaan keluhan yang aku sendiri nggak inget :P).

Sampai Tuhan negur aku: “Luc, kalo Aku bilang ini adalah the land of blessing berarti ya emang the land of blessing. Masalahnya, kamu mau percaya sama Aku atau nggak? Kalo kamu terus-terusan ngomong disini adalah padang gurun, maka disini bener-bener akan jadi padang gurun buat kamu!”

Jawaban Tuhan bener-bener membuat mulutku bungkam. Disitulah aku sadar bahwa aku bukan lagi anak kecil yang dikit-dikit boleh mengeluh ketika menemui hal-hal yang nggak sesuai dengan harapanku. Aku belajar untuk bergantung penuh sama Tuhan tiap aku ngerasa lemah, tiap kali aku ngerasa nggak mampu, tiap kali aku ngerasa mencapai batas kekuatanku. Aku mengalami ketika aku angkat tangan karena nggak mampu, Dia turun tangan dan memberiku kekuatan yang baru.

Aku langsung nangis en bertobat (sekalipun itu posisinya di kantor): “Ampuni Lucy yang nggak percaya ini, Tuhan. Ampuni kalo Lucy cuma ngeliat apa yang terlihat secara jasmani, bukan apa yang Kau lihat. Ajari Lucy punya hati yang terbeban disini, Lucy mau lakuin apa yang Tuhan perintahkan”.

Waktu itu, Tuhan menyadarkan aku pas aku baca kisah Saul yan diurapi sebagai raja, namun ia bersembunyi saat pemilihan (baca I Samuel 10:20-22). Tiba-tiba Tuhan nanya ke aku: “Luc, Aku udah pilih dan urapi kamu, apa kamu mau bersembunyi seperti Saul saat Aku membutuhkanmu untuk sebuah misi?” Disitulah aku sadar bahwa bekerja di tempat ini bukanah sebuah bencana, tapi mengandung sebuah misi yang perlu kukerjakan. Bahkan sekalipun aku nggak ngerasa nyaman, Tuhan ngingetin aku bahwa semua hal yang Ia ijinkan terjadi bukan untuk bikin aku nyaman. Mungkin ada banyak hal yang ada di hidup ini yang Dia ijinkan terjadi untuk kebaikan orang lain, untuk keselamatan jiwa orang lain, agar orang melihat Kristus. I’m not the center of my life, but He is.

Sejak saat itu, aku mengubah cara pandangku, respon hatiku, en aku tunjukkin kualitas kerjaku. Aku mau tunjukkin kalo orang Kristen tuh beda, excellent, radikal, en bersinar terang. Kerjaan yang mereka tumpuk selama berbulan-bulan, aku selesaiin dalam waktu 1-2 hari. Hal-hal kecil yang mereka abaikan, aku kerjakan dengan segenap hati. Ketika mereka nyantai-nyantai padahal kerjaan mereka masih buanyak, aku fokus ngerjakan bagianku, bahkan aku minta mereka untuk segera selesaiin. Bahkan aku nggak segan-segan untuk bantu kerjaan mereka yang sebenernya bukan tugasku, sambil selipin kata-kata teguran. Hahaha.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan SEGENAP HATIMU seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

September 15, 2013

TOB = A GOOD PLACE TO GROW IN FAITH

Hola~

Akhirnya sempet update blog juga setelah 1 bulan aku masuk ke dunia kerja. Hari-hari pertama kerja, aku stress berat. Maklum, selama ini jadi anak rumahan yang kerjaannya bantu-bantu kerjaan mama di rumah. Waktu mau masuk ke dunia kerja, sebenernya aku udah siapin hati, tenaga, en mental (kayak orang mau berangkat perang aje :P). Waktu tanggal 19 Agustus tiba, aku ngerasa udah siap segalanya, tapi ternyata nggak semudah yang aku bayangkan. 

Aku belajar dari kisah Yefta:

“Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia adalah anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: “Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.” Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob, di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia” (Hakim-hakim 11:1-3).

Dan ayat yang paling aku suka dari kisahnya ada di ayat 11: “Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa”. 

Kisah Yefta ini mengajarkan beberapa hal buat hidupku secara pribadi. Yang pertama, kita nggak pernah bisa memprediksi hal apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Dikatakan bahwa Yefta adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa yang dilahirkan oleh perempuan sundal en ketika dia besar dia diusir dari rumah ayahnya karena hal itu. Dia nggak bisa memilih, dia lahir dari rahim wanita seperti apa, di keluarga macam apa, ataupun rencana Tuhan dalam hidupnya. Aku belajar bahwa hidup kita SEPENUHNYA BERADA DALAM TANGAN TUHAN, DALAM RENCANA-NYA YANG SEMPURNA. Sekalipun aku kerja di tempat yang nggak jujur, rekan kerjanya males-malesan, suasana kerjanya nggak menantang, aku tau bahwa ada hal baik yang Tuhan rancangkan.

Yang kedua, tempat/ situasi/ orang-orang yang buruk bisa Tuhan pakai untuk memproses karakter kita en menimbulkan sebuah karakter yang baik. Yefta lari ke tempat yang namanya Tob (bahasa aslinya “Tov”, artinya good). en dia menjadi pemimpin dari petualang-petualang en mereka merampok bareng-bareng. Awalnya aku mikir, apanya yang baik (Tob/Tov), lah disitu adalah tempat dimana Yefta ketemu sama preman en merampok bareng-bareng kok. Tapi, manusia emang nggak pernah bisa menyelami maksud Tuhan yang baik di balik setiap kejadian buruk. Justru ketika Yefta ketemu en bergaul dengan preman-preman en merampok dengan mereka, mungkin Tuhan usik hati Yefta en nyadarkan dia bahwa bukan hidup kayak gitu yang Tuhan mau. Mungkin Tuhan bukakan destiny yang Ia sediakan untuk Yefta, bahwa Ia mau Yefta jadi pahlawan yang gagah perkasa, bukan preman. Aku belajar di tempat kerjaku, bahwa ketika aku kerja bareng mereka, ngeliat cara mereka hidup en ibadah dengan cara mereka, aku semakin sadar bahwa aku butuh Tuhan untuk membentuk hidupku  dan aku mengerti destiny yang Tuhan sediakan bagi hidupku.

The last, bawalah seluruh perkaramu (entah baik entah buruk) ke hadapan Tuhan. Ketika tua-tua Gilead dateng ke Yefta en minta dia menjadi pemimpin untuk melawan bani Amon, Yefta nggak langsung nerima dengan senang hati ataupun nyiapin strategi perang. Dia membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan. Hal inilah yang kulakukan setiap hari ketika aku masuk ke dunia kerja, setiap kali sebelum aku ambil keputusan, aku selalu nanya ke Tuhan. Aku belajar bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kukerjakan, bukan seberhasil apa pekerjaanku, tapi yang terpenting adalah APAKAH HAL ITU BERKENAN DI HADAPAN TUHAN.

Justru dari tepat yang bernama Tob itulah, Yefta menemukan destiny yang dari Tuhan dan ia menjadi orang yang bertanya kepada Tuhan sebelum ia mengambil keputusan. Justru dari sebuah tempat berkumpulnya para preman itulah, Yefta belajar menjalani kehidupan yang Tuhan inginkan. Dan justru dari Tob-lah Tuhan mempromosikan dia menjadi pemimpin perang. Sayangnya, Yefta nggak mengakhiri hidupnya dengan baik. Semoga kisah Yefta ini bener-bener menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi hidupku.

September 10, 2013

MERCIES IN DISGUISE


We pray for blessings
We pray for peace
Comfort for family, protection while we sleep
We pray for healing, for prosperity
We pray for Your mighty hand to ease our suffering
All the while, You hear each spoken need
Yet love us way too much to give us lesser things

‘Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
What if trials of this life are Your mercies in disguise

We pray for wisdom
Your voice to hear
And we cry in anger when we cannot feel You near
We doubt Your goodness, we doubt Your love
As if every promise from Your Word is not enough
All the while, You hear each desperate plea
But long that we'd have the faith to believe

‘Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
And what if trials of this life are Your mercies in disguise

When friends betray us
When darkness seems to win
We know the pain reminds this heart
That this is not our home,

‘Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
And what if a thousand sleepless nights
Are what it takes to know You’re near
What if my greatest disappointments
Or the aching of this life
Is the revealing of a greater thirst this world can’t satisfy
And what if trials of this life
The rain, the storms, the hardest nights
Are your mercies in disguise