September 28, 2013

SOMBONG BANGET SEH KAMU!

Minggu demi minggu kerja, aku semakin paham dengan sistem kerja perusahaan.  Hal itu bikin aku bisa bekerja dengan lebih efektif, sehingga aku bisa selesain tugasku dengan baik. Bahkan mulai pertengahan minggu kedua, aku lebih banyak nganggur di kantor karena aku udah selesaiin semua tanggung jawabku. En aku seneng banget karena aku ngeliat rekan-rekan kerjaku mulai kendor sembahyang dengan cara mereka (aku berdoa supaya mereka mengenal Allah yang benar, bukan dengan taat menyembah ke ilah lain). Secara atmosfer, mulai terjadi pemutarbalikan. Puji Tuhan!
           
Bahkan saking nganggurnya, aku bisa bantu kerjaan rekan-rekanku yang overloaded, dengan cara yag lebih efektif en waktu yang jauh lebih singkat. Setiap pekerjaan yang ditaruh ke mejaku, kuselesaikan sesegera mungkin dengan amat baik. Pujian mulai datang, mereka mulai mengakui kemampuan kerjaku,tanpa sadar kepalaku mulai terangkat. 

Sampai di satu hari (tanggal 11 September), adik boss minta tolong ke aku untuk kirim fax ke salah satu customer yang hutangnya numpuk selama berbulan-bulan. Sebenernya itu bukan tugasku, tapi karena dia ngeliat aku nggak ada kerjaan, jadi dia minta tolong ke aku. Dia minta aku bikin surat konfirmasi piutang en minta aku tandatangan di surat itu, lalu di-fax ke customer. Aku kerjakan tanpa punya feeling apa-apa. Sebelum kirim fax, aku emang sempet berdoa dalam hati supaya hutangnya customer ini segera dibayar.
            
Keesokan harinya pas mendekati detik-detik pulang kerja, rekan kerjaku yang biasanya bagian nagih piutang customer tiba-tiba bilang: “Eh, tandatangan’e Lucy berharga yo, kemaren kirim fax, hari ini langsung utang’e dibayar xxx juta. Padahal aku berkali-kali telpon untuk nagih, gak dibayar-bayar”. Entah setan apa yang tiba-tiba mendatangiku, aku langsung update status di Blackberry tentang hal itu. Lupa sama sekali bahwa bukan aku yang hebat, tapi Tuhan.
            
Sekitar setengah jam kemudian, aku ngerasa ada hal yang ngganjel di hati lalu aku hapus status itu. Tiba-tiba ada seorang temen yang notabene bukan anak Tuhan BBM aku en negur: “Jangan update status kayak gitu, ga baik buat kamu. Jangan pernah nyebutin nominal” (Thanks tegurannya en diberkatilah engkau yang udah negur Lucy :D). Plaaaaakkk, kata-katanya nampar aku, hatiku langsung berbicara: “Kamu sombong Luc, padahal bukan kamu yang hebat tapi Tuhan. Kamu cuma hamba”.
            
Aku baru sadar kalo aku berubah jadi orang yang sombong, aku ngerasa diriku lebih hebat daripada rekan-rekan kerjaku. Aku nggak sadar kalo perlahan-lahan aku mulai angkuh karena setiap pekerjaan yang dikasi ke tanganku selalu beres. Aku berubah menjadi congkak en ngerasa bahwa akulah yang mampu.

“Ampuni Lucy, Tuhan. Ingatkan Lucy bahwa aku hanyalah seorang hamba yang nggak bisa melakukan apapun tanpa-Mu. Seorang hamba hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Jangan angkat aku ke level yang lebih tinggi, jangan beri aku kepercayaan yang lebih besar Tuhan, jika Engkau tahu bahwa aku nggak mampu untuk menanggungnya. Aku nggak mau memperoleh banyak hal namun kehilangan perkenanan-Mu”. En tiba-tiba aku inget satu bab yang bahas tentang kesombongan di buku “Facing Your Giants”, bisa dibaca di SINI

No comments: