September 28, 2013

OBEDIENCE

Banyak cerita, banyak pengalaman, banyak kejadian yang mewarnai  hidupku selama 1 bulan terakhir. En aku bersyukur sama Tuhan buat semua hal yang Dia ijinkan terjadi. Dia selalu baik, sekalipun hal-hal yang kualami nggak baik. Justru dari semua kejadian yang ada, aku belajar untuk semakin melekat sama Tuhan.

Waktu aku belajar taat sama Tuhan untuk bekerja di kantor ini, aku merasakan kasih karunia-Nya melimpah. Emang sih awal-awal kerasa berat banget karena masih penyesuaian: tanggung jawab yang cukup banyak ditambah peperangan rohani tiap hari bikin aku sempet drop secara fisik. Tapi puji Tuhan, Dia memampukanku melakukan segala perkara bersama Roh-Nya.

Dari awal, aku emang udah nggak sreg sama perusahaan ini: boss konseling ke aku pada saat harusnya aku interview, rekan kerja yang hanya 3 biji en semuanya beragama lain, letak perusahaan yang lumayan jauh dari rumah, en aku mengendus bau-bau ketidakjujuran di kantor ini.  Tapi aku mau belajar TAAT sama Tuhan ketika Dia bilang bahwa Dia mau aku disini untuk sementara waktu, untuk menjadi TERANG. Nggak mudah untuk aku taat saat aku udah tau hal-hal mencekam yang akan aku alami disini, hahaha.

Minggu pertama kerja, tiada hari tanpa keluhan:
“Tuhan, aku nggak suka tempat ini, rekan kerjaku rajin banget sembahyang, tapi males-malesan kerja”.
“Tuhan, aku nggak suka dengan yang paling senior, mentang-mentang boss nggak di tempat, aku dilimpahin kerjaan yang bukan tanggung jawabku”.
“Tuhan, aku nggak tahan dengan sistem kerja yang amburadul en serabutan ini”.
“Tuhan, Engkau bilang kantor ini adalah the land of blessing buat aku, tapi mana? Nyatanya disini padang gurun, aku exhausted karena tiap hari kerjaan overloaded, peperangan rohani trus”.
“Tuhan, Lucy nggak suka tempat ini. Bener-bener penuh dengan kegelapan. Nggak usah secara rohani deh Tuhan, secara jasmani aja, mereka nggak bisa kerja dengan bener, bahkan yang paling senior berani-beraninya ngasi kerjaan dia yang ditumpuk berbulan-bulan ke mejaku”.
(En jutaan keluhan yang aku sendiri nggak inget :P).

Sampai Tuhan negur aku: “Luc, kalo Aku bilang ini adalah the land of blessing berarti ya emang the land of blessing. Masalahnya, kamu mau percaya sama Aku atau nggak? Kalo kamu terus-terusan ngomong disini adalah padang gurun, maka disini bener-bener akan jadi padang gurun buat kamu!”

Jawaban Tuhan bener-bener membuat mulutku bungkam. Disitulah aku sadar bahwa aku bukan lagi anak kecil yang dikit-dikit boleh mengeluh ketika menemui hal-hal yang nggak sesuai dengan harapanku. Aku belajar untuk bergantung penuh sama Tuhan tiap aku ngerasa lemah, tiap kali aku ngerasa nggak mampu, tiap kali aku ngerasa mencapai batas kekuatanku. Aku mengalami ketika aku angkat tangan karena nggak mampu, Dia turun tangan dan memberiku kekuatan yang baru.

Aku langsung nangis en bertobat (sekalipun itu posisinya di kantor): “Ampuni Lucy yang nggak percaya ini, Tuhan. Ampuni kalo Lucy cuma ngeliat apa yang terlihat secara jasmani, bukan apa yang Kau lihat. Ajari Lucy punya hati yang terbeban disini, Lucy mau lakuin apa yang Tuhan perintahkan”.

Waktu itu, Tuhan menyadarkan aku pas aku baca kisah Saul yan diurapi sebagai raja, namun ia bersembunyi saat pemilihan (baca I Samuel 10:20-22). Tiba-tiba Tuhan nanya ke aku: “Luc, Aku udah pilih dan urapi kamu, apa kamu mau bersembunyi seperti Saul saat Aku membutuhkanmu untuk sebuah misi?” Disitulah aku sadar bahwa bekerja di tempat ini bukanah sebuah bencana, tapi mengandung sebuah misi yang perlu kukerjakan. Bahkan sekalipun aku nggak ngerasa nyaman, Tuhan ngingetin aku bahwa semua hal yang Ia ijinkan terjadi bukan untuk bikin aku nyaman. Mungkin ada banyak hal yang ada di hidup ini yang Dia ijinkan terjadi untuk kebaikan orang lain, untuk keselamatan jiwa orang lain, agar orang melihat Kristus. I’m not the center of my life, but He is.

Sejak saat itu, aku mengubah cara pandangku, respon hatiku, en aku tunjukkin kualitas kerjaku. Aku mau tunjukkin kalo orang Kristen tuh beda, excellent, radikal, en bersinar terang. Kerjaan yang mereka tumpuk selama berbulan-bulan, aku selesaiin dalam waktu 1-2 hari. Hal-hal kecil yang mereka abaikan, aku kerjakan dengan segenap hati. Ketika mereka nyantai-nyantai padahal kerjaan mereka masih buanyak, aku fokus ngerjakan bagianku, bahkan aku minta mereka untuk segera selesaiin. Bahkan aku nggak segan-segan untuk bantu kerjaan mereka yang sebenernya bukan tugasku, sambil selipin kata-kata teguran. Hahaha.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan SEGENAP HATIMU seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

No comments: