BAB 1: RUMSPRINGA YANG SAYA ALAMI
("Kita semua teolog. Pertanyaannya adalah, apakah pengetahuan kita tentang Allah itu memang benar?")
1. Dalam bahasa Belanda dialek Pennsylvania, rumspringa secara harafiah berarti "berlari keliling-keliling". Kata itu berarti musim melakukan apapun dan segala yang Anda inginkan tanpa aturan apapun. Delapan puluh hingga 90 persen remaja Amish memutuskan untuk kembali ke gereja Amish setelah menjalani rumspringa. Saya bertanya-tanya, kemana sebenarnya mereka kembali? Apakah mereka memang memilih Allah, atau sekadar memilih kehidupan yang aman dan sederhana?
2. Teologi adalah studi tentang Allah--siapa Dia dan bagaimana Ia berpikir dan bertindak. Teologi penting karena apa yang kita ketahui tentang Allah membentuk cara kita berpikir dan hidup. Apa yang Anda percayai tentang Allah--seperti apa Dia, apa yang Ia kehendaki dari Anda, dan apakah kelak Anda akan bertanggung jawab kepada-Nya--mempengaruhi segala bagian kehidupan Anda.
3. Yeremia 6:16 Beginilah firman TUHAN: "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!" Berjalan di jalan-jalan yang dahulu kala itu berarti berhubungan dengan Allah sebagaimana yang Ia kehendaki. Ini berarti menerima dan menaati pernyataan diri-Nya dengan penuh kerendahan hati dan kekaguman.
4. Ketika saya menonton film dokumenter tentang ritus rumspringa, hal yang menonjol bagi saya adalah para para remaja Amish memproses keputusan bergabung atau tidak dengan gereja Amish, kelihatannya tidak punya banyak kaitan dengan Allah. Mereka tidak mencari dalam Alkitab apakah ajaran gereja mereka tentang dunia, hati manusia, dan keselamatan memang benar. Mereka tidak bergulat dengan teologi. Keputusan tersebut lebih banyak berkaitan dengan soal memilih sebuah budaya dan gaya hidup. Dalam beberapa kasus tertentu, keputusan itu memberikan kepada mereka pekerjaan tetap, atau memungkinkan mereka menikahi orang yang mereka inginkan.
5. Hal-hal yang memang saya butuhkan, bahkan saya rindukan dalam hubungan saya dengan Allah, justru terbungkus dalam hal-hal yang dulu saya yakini tidak punya manfaat apa-apa. Saya tidak paham bahwa kata-kata yang terasa usang seperti teologi, doktrin, dan ortodoksi justru menjadi jalan kepada pengalaman misterius yang penuh kekaguman, yaitu sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus yang hidup.
BAB 2: DI MANA SAYA BELAJAR MENGGALI
("Di baliknya hadir pertanyaan yang lebih mendalam: pada dasar apa saya akan membangun kehidupan saya?")
1. Dalam perumpamaan orang yang membangun rumah di Lukas 6:46-49, orang bijak itu adalah orang yang datang kepada Yesus, mendengarkan kata-kata-Nya, lalu menerapkannya. Aktivitas ini--pendekatan penuh iman kepada Yesus, menerima kebenaran-Nya, lalu mengaplikasikan kebenaran itu--dikatakan Yesus sama seperti orang yang menggali dalam-dalam lalu membangunnya pada dasar yang kuat.
2. Yang paling sulit adalah menerapkan semuanya dalam perbuatan. Kebenaran menuntut tindakan. Datang kepada-Nya, menyebut Dia Tuhan, dan mengetahui firman-Nya tidak pernah cukup. Doktrin dan teologi dimaksudkan untuk diaplikasikan--bukan hanya untuk membentuk ulang sebuah pernyataan iman, tapi juga membentuk ulang berbagai keputusan praktis tentang bagaimana kita berpikir dan bertindak.
Sekedar tahu tentang Allah atau kesalehan tidaklah cukup, tapi kita mesti sungguh-sungguh mengenal Allah itu sendiri--karakter dan atribut-Nya (J. I. Packer dalam buku "Knowing God").
3. Di dasar apakah saya membangun hidup saya? Alih-alih mendasarkannya pada kesempatan, perasaan, ataupun pertimbangan pragmatis; seharusnya saya mendasarkan pilihan saya pada kebenaran tentang Allah dan apa yang Ia kerjakan di dunia. Doktrin tidak hanya memberitahu kita tentang apa yang telah Allah lakukan, tapi juga apa makna tindakan-Nya itu bagi kita.
4. Mengenali dan hidup berdasarkan doktrin yang sehat punya posisi sangat penting. Karena pada hari terakhir, hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan hidup bagi-Nya yang akan diselamatkan dari murka Allah. Dan karena di masa kini ketika kehidupan kita diguncang penderitaan, pengetahuan langsung akan karakter dan kasih Allah adalah satu-satunya hal yang mampu membuat kita bertahan.
5. Tidak ada yang lebih penting, lebih berharga, dan lebih mendatangkan keamanan hidup daripada mengenal dan hidup berdasarkan kebenaran Allah. Ketika Anda menyaksikan kekuatan dan rasa aman sebagai hasil dari menggali ke dalam kebenaran doktrinal, Anda juga ingin menggali ke dalam kebenaran itu sendiri.
BAB 3: DEKAT TAPI TIDAK BISA MASUK KE KANTONG SAYA
("Allah sangat berbeda dari saya. Dan fakta itu sangat mengagumkan")
1. Tidak ada yang lebih penting daripada mengenal Allah dengan benar serta memikirkan berbagai hal yang benar tentang Dia. Walaupun kita tidak bisa mengenal Allah secara mendalam, kita bisa mengenal-Nya dengan benar. Hal ini dimungkinkan karena Allah telah menyatakan sejumlah kebenaran tentang diri-Nya sendiri.
Yang membuat kita kesulitan memahami kebenaran tentang Allah bukan kebesaran-Nya yang melampaui segala sesuatu, tapi keterpusatan kita pada diri sendiri yang keterlaluan.
2. Dalam buku "Soul Searching", Smith dan Denton menggambarkan konsep tentang Allah yang lazim dianut kaum remaja sebagai "deisme terapeutik moralistis".
• Pandangan moralistis menyatakan bahwa jika saya menjalani kehidupan yang bermoral, melakukan yang baik-baik, dan mencoba tidak melakukan hal-hal yang buruk, Allah akan memberikan upah setimpal dan mengirim saya ke "tempat yang lebih baik" jika saya mati kelak.
• Orientasi terapeutik tentang Allah berkata bahwa alasan utama keberadaan-Nya adalah untuk membuat saya merasa senang dan damai. Jadi, Allah merupakan sebentuk terapi, sejenis pertolongan diri sendiri.
• Deisme mengatakan Allah itu hadir, tapi Ia berada jauh dan lebih sering tidak terlibat. Dengan kata lain, Allah tidak melibatkan diri dalam cara yang menguntungkan kita. Ia tidak akan menginterupsi rencana saya atau campur tangan dalam urusan saya.
3. J. I. Packer menulis: hanya karena Allah itu adalah Pribadi (artinya kita bisa berbicara kepada-Nya, berhubungan dengan-Nya, dan mengenal-Nya), tidak berarti Ia sama dengan kita. Kita terbatas dalam segala arah, tapi Allah kekal, tidak terbatas, dan Mahakuasa. Ia menggenggam kita dalam tangan-Nya, kita tidak pernah bisa menaruh-Nya di dalam tangan kita. Seperti kita, Ia adalah suatu pribadi, tapi tidak seperti kita, Ia agung.
4. Kasih Allah hanya akan jadi berita yang indah kalau kita memahami transendensi-Nya--ketika kita gemetar melihat kekudusan-Nya, terpesona oleh kesempurnaan dan kuasa-Nya. Melihat Allah sebagaimana adanya Dia membuat pemazmur bertanya, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:5).
5. Yesaya 57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk". Realitas yang luar biasa bahwa Allah yang "bersemayam untuk selamanya" dan kudus serta transenden itu juga adalah Allah yang mendekat kepada orang yang remuk dan rendah hati di hadapan-Nya.
6. Semakin kita mempelajari tentang siapa Allah sebenarnya, semakin dahsyat Dia mengundang kita untuk mengenal-Nya. Ketika Anda mengenal-Nya sebagai Allah yang tidak terbatas dan Mahakuasa, kudus, dan kekal yang tinggal di surga, Anda akan memahami pernyataan bahwa Ia mengasihi Anda dengan cara yang benar-benar baru.
7. Allah itu dekat. Tapi kita tidak bisa mengatur atau membungkus-Nya. Ia tidak akan muat di dalam kantong kita. Yang Mahakuasa itulah yang justru menggenggam kita di dalam tangan-Nya.
BAB 4: ROBEK, BAKAR, MAKAN
("Ketika kita membaca Alkitab, ia membuka diri kita. Alkitab membaca kita")
1. Alkitab mampu mentransformasi hidup secara radikal ketimbang sembarang buku penuh instruksi. Tapi kita tidak akan memahami atau memperoleh manfaat apapun darinya sebelum kita percaya kepada klaim Alkitab tentang dirinya sendiri. Alkitab adalah alat komunikasi yang hidup dari Allah yang adalah sebuah pribadi kepada umat manusia-secara spesifik, kepada Anda.
2. Salah satu bagian penting dari kehidupan yang didasari kebenaran bukanlah sekadar percaya Alkitab itu adalah Firman Allah, tapi juga memahami benang merah Alkitab dari awal hingga akhir. Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah berkarya dan bertindak di dalam sejarah manusia.
Di dalam setiap halaman Alkitab, setiap kisah membisikkan nama-Nya. Seluruh Kitab Suci diberikan kepada kita supaya kita bisa mengenal dan mengasihi-Nya. Wahyu diberikan demi menghadirkan hubungan.
3. Ketika kita membaca Alkitab, Roh Kudus memberi konfirmasi di dalam hati kita bahwa yang kita baca itu bukanlah kata-kata manusia, tapi Firman Allah itu sendiri. Firman Allah benar dan kekal. Amsal 30:5-6 berkata, "Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta".
4. Doktrin Alkitab mengajarkan kita tentang otoritas Firman Allah. Kitab Suci mesti menjadi aturan paling utama bagi iman dan praktik kehidupan kita. Bukan perasaan kita, bukan tanda-tanda atau kata-kata nubuatan atau firasat. Apakah kita akan taat ketika kita tidak menyukai apa yang dikatakan Alkitab? Kitab Suci selalu dimaksudkan untuk bekerja dalam kehidupan kita. Firman Allah memiiki otoritas, ketika kita menundukkan diri kepadanya, Kitab Suci memperlengkapi kita untuk pekerjaan baik. Firman memberikan kepada kita hal-hal yang kita butuhkan untuk mengasihi, melayani, dan berkorban.
5. Beberapa kata penting yang menolong kita berpikir secara tepat tentang Kitab Suci:
• Ineransi
Ajaran Ortodoks gereja Kristen menegaskan bahwa Firman Allah di dalam manuskrip aslinya tidak mengandung kesalahan (ineran). Ajaran ini dibangun dari kesaksian Alkitab bahwa Allah tidak pernah berbohong (Titus 1:2).
• Kejelasan
Roh Kudus menerangi hati kita untuk memahami pesannya dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Alkitab memiliki makna yang lugas. Saat sebuah bagian Alkitab sulit dipahami, kita bisa menguji sudut pandang kita dengan bagian-bagian lainnya. Ini berarti Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri.
• Kecukupan
Alkitab itu cukup, berarti Ia telah memberitahukan kepada kita segala yang kita perlu ketahui agar bisa sungguh-sungguh mengenal Dia, menemukan pengampunan dosa, dan diyakinkan mengenai kehidupan kekal bersama Sang Pencipta.
6. Firman Allah menemui kita di tempat kita berada. Firman itu menemui kita di tengah keraguan. Firman itu berbicara kepada kita di tengah pergumulan spiritual. Kita bisa menemukan sukacita di dalam Firman Allah dan dalam kepastian janji-janji-Nya, walaupun hati kita jauh dari sukacita.
7. Alkitab adalah kisah tentang apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Setiap kisah membisikkan nama-Nya. Yesus datang untuk mencari dan membebaskan kita. Ketika Anda memahami itu, membaca Alkitab niscaya menjadi sesuatu yang mendatangkan sukacita.

No comments:
Post a Comment