May 1, 2012

HAK KESULUNGAN


Sebagai anak Tuhan, kita dikatakan “memiliki hak kesulungan”, yaitu hak untuk menjadi ahli waris Kerajaan Sorga. Pada jaman Israel kuno, anak laki-laki sulung memiliki hak kesulungan, yaitu hak untuk mendapatkan warisan dua kali lipat lebih banyak daripada saudara-saudaranya. Hak kesulungan itu merupakan hal yang sangat istimewa pada saat itu.
            
Sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, kita pun memperoleh hak kesulungan, bahkan hak kesulungan kita bernilai jauh lebih besar daripada sekedar harta warisan. Hak kesulungan kita memiliki nilai yang sangat tinggi, yaitu memperoleh Kerajaan Sorga dan berhak untuk memerintah bersama Yesus. Waow, dahsyat banget kan? Namun, ternyata ada hal yang bisa membuat kita kehilangan hak kesulungan kita loh. Waduh, gawat tuh. Apa sih yang dimaksud dengan kehilangan hak kesulungan en gimana mencegah supaya kita nggak kehilangan hak kesulungan kita?
            
Dalam kitab Kejadian, dikisahkan seorang anak sulung yang menjual hak kesulungannya demi semangkok sup kacang merah. Siapa orangnya? Tentunya, kita semua bisa menjawab dengan tepat. Yup, jawabannya adalah ESAU. Coba kita lihat dalam Kejadian 25: 31-34; “Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” Sahut Esau:”Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” Kata Yakub:” Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepada Yakub. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu”. Apakah akibat yang diterima oleh Esau dari kecerobohannya itu? Paulus menjelaskannya dalam Ibrani 12:16-17; ”Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata”.
            
Kita tahu bahwa Esau kehilangan hak kesulungannya karena dia meremehkan hak kesulungan itu dan menjualnya kepada Yakub demi makanan. Namun, bagaimana kita sebagai orang Kristen kehilangan hak kesulungan kita? Yaitu ketika kita “menjual Yesus”! Apa yang dimaksud dengan “menjual Yesus”? Dikatakan dalam Ibrani 6:4-6, “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum”. Yang dimaksud dengan “menjual Yesus” ato murtad adalah ketika kita kembali lagi kepada kehidupan kita yang lama, kepada dosa dan kebiasaan lama kita, padahal kita udah menerima bagian yang lebih baik daripada kehidupan masa lalu yang penuh dosa.
            
Orang yang murtad berarti “menjual hak kesulungannya” kepada hal-hal yang tidak bernilai. Orang yang meninggalkan Yesus untuk sesuatu yang fana, berarti sama seperti Esau yang meremehkan hak kesulungannya untuk sesuatu yang tidak bertahan lama. Berhati-hatilah! Jangan sampai kita menjual hak kesulungan kita hanya demi pasangan hidup, harta, jabatan, teman, atau apapun juga. Biarlah Yesus menjadi yang paling berharga dalam hidup kita, suatu harta yang sangat kita pertahankan apapun yang terjadi. Agar kita tidak menjadi orang yang murtad en menjual hak kesulungan kita, kita perlu berakar kuat di dalam pengenalan akan Tuhan. Seperti pohon yang ditanam di dalam tanah, kemudian berakar kuat dan bertumuh, demikian juga hidup kerohanian kita perlu berakar kuat di dalam Dia. Ketika kita telah berakar kuat di dalam pengenalan akan Kristus, maka segala badai tidak mampu menggoyahkan iman kita. Bahkan ketika hidup kita tidak menentu, kita tidak akan mudah “tercabut” dari iman kita atau meninggalkan Tuhan. Marilah kita berakar dan bertumbuh di dalam Kristus, karena Dia adalah dasar dan sumber dari segala sesuatunya. Apakah gunanya kita memperoleh dunia ini namun kehilangan hal yang paling berharga?

No comments: