“Sapa sih loe, pake tegur- tegur gue?” Pernah nggak ngucapin kalimat ini ke orang lain? Pernah nggak kita ngerasa sebel banget sama orang yang negur kita? Kok rasanya orang itu sok banget sih, pake negur-negur aku segala. Duh, kamu itu bukan sapa- sapa, lebih muda daripada aku, tapi berani banget negur aku. Ato kamu emang lebih tua daripada aku, tapi nggak usa sok deh negur aku.
Sadarkah kita, dalam kehidupan ini, kita bukanlah orang yang sempurna. Kita adalah manusia yang jatuh dalam dosa, yang perlu terus menerus diingatkan untuk tetap berjalan di jalan yang benar. Oleh karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang menegur, mengoreksi, dan menunjukkan apa yang benar untuk kita lakukan. Pada dasarnya, teguran merupakan hal yang tidak mengenakkan bagi kita, namun teguran merupakan bahan bakar yang diperlukan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Memang ada berbagai macam motivasi ketika orang lain menegur kita. Orang yang menegur kita, tidak selalu mempunyai maksud yang baik kepada kita, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Tentunya, kita harus memiliki hati yang terbuka terhadap teguran, terutama terhadap teguran dari Roh Kudus. Selain itu, kita juga harus membuka hati kita terhadap teguran yang datang dari sesama kita. Hidup kita harus selalu diperbarui dari hari ke hari, harus selalu dikoreksi dari waktu ke waktu. Jangan sampai kita menjadi orang yang menutup diri dan hati terhadap teguran. Orang yang menutup diri terhadap teguran atau bahkan menolak teguran, adalah orang yang sudah mati selagi hidup. Mengapa aku katakan demikian? Karena hidup ini merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti, sampai kita menghembuskan nafas terakhir. Ketika orang lain menegur kita, kita belajar. Ketika orang lain bahkan mengkritik kita dengan kejam, kita pun belajar. Namun ketika kita menutup hati kita terhadap teguran orang lain, berarti kita menolak untuk belajar karena kita merasa bahwa kita sudah hebat.
Ketika posisi kita di bawah, kita dengan rendah hati dan dengan mudahnya, mau menerima teguran. Bahkan mungkin kita dapat dengan cepat berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun masalah timbul ketika kita sudah berada di posisi yang cukup tinggi (baik secara usia maupun jabatan), kita cenderung merasa diri lebih baik daripada orang lain. Hal ini menyebabkan kita menjadi gengsi atau sombong, sehingga kita cenderung menolak ketika ditegur. Terutama apabila orang yang menegur kita merupakan orang yang posisinya di bawah kita, atau lebih muda usianya dibandingkan kita. Yang perlu kita ketahui adalah orang yang merespon teguran dengan sikap hati yang benar, dia akan diberkati Tuhan. Namun orang yang tidak mau ditegur (terutama apabila kita salah), maka kita akan memperoleh ganjaran dari Tuhan.
Kita akan melihat contoh dari 2 tokoh Alkitab, bagaimana mereka merespon teguran yang mereka terima. Saul dan Daud adalah orang yang dipilih dan diurapi Tuhan untuk menjadi raja Israel. Mereka sama-sama orang yang terpilih, mereka adalah orang yang sangat dihormati. Namun mereka juga adalah manusia biasa, yang bisa berbuat salah. Yang membedakan mereka adalah RESPON HATI KETIKA DITEGUR.
Dalam kitab 1 Samuel 13:11-12, kita dapat melihat respon Saul ketika nabi Samuel datang menegur kesalahannya, “Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul:”Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran”. Respon Saul sungguh sangat mengejutkan, dia tidak mengakui kesalahannya dan bertobat, tetapi malah sibuk menyalahkan orang lain. Dia menyalahkan rakyatnya (orang Israel), dia menyalahkan nabi Samuel yang tidak kunjung datang, dia membenarkan situasinya yang sedang terjepit oleh orang Filistin, dan dia melanggar perintah Tuhan yang sudah dia ketahui bahwa hanya imam yang boleh mempersembahkan korban kepada Tuhan. Namun sadarkah kita, seringkali kita juga merespon sama seperti Saul merespon. Bahkan mungkin kita lebih buruk lagi, karena kita mungkin juga menyalahkan Tuhan untuk membenarkan tindakan kita.
Kita lihat juga dalam 1 Samuel 15:13-24. Secara singkat, kejadiannya hampir sama dengan sebelumnya, namun respon Saul lebih mengerikan lagi. “Lalu kata Saul kepada Samuel:”Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal” (15:20-21). Yang lebih hebat lagi, Saul tidak sungguh- sungguh bertobat bahkan masih meminta nabi Samuel menunjukkan hormat kepadanya. “Berkatalah Saul kepada Samuel:”Aku telah berdosa, sebab telah kulanggar titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN”(15:24-25). “Tetapi kata Saul:”Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juag hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu” (15:30).
Mengapa Saul merespon seperti itu? Tidak tahukah dia, bahwa dia sedang berhadapan dengan nabi Tuhan, bukan dengan orang biasa yang dapat dibantahnya? Aku berpikir, mungkin Saul malu ketika Samuel menegurnya seperti itu, karena ditegur di depan orang Israel. Mungkin Saul merasa dipermalukan di depan rakyat, sementara posisinya saat itu adalah raja Israel. Mungkin juga Saul merasa dirinya adalah raja, yang harus dihormati walaupun dia berbuat salah. Atau mungkin juga, kesombongan Saul tidaklah hilang karena dari mulanya dia adalah anak orang kaya. Namun satu hal yang perlu kita pelajari dari kisah ini adalah tanggalkan egomu ketika kamu ditegur karena kesalahanmu. Hal ini dpaat kita temukan dalam diri Daud.
Sekarang kita akan melihat bagaimana respon Daud ketika seorang nabi menegurnya dalam posisinya sebagai raja Israel. Dalam kitab 2 Samuel 12, dikisahkan bahwa nabi Natan menegur Daud atas perzinahan dan pembunuhan yang telah dilakukannya. Bagaimana Daud merespon? “Lalu berkatalah Daud kepada Natan:” Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud:” TUHAN telah menjauhkan dosamu itu:engkau tidak akan amti. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (2 Samuel 12:13-14). Bahkan setelah Daud tahu bahwa anaknya pasti mati, Daud tidak marah kepada Tuhan, malahan dia masih memohon kepada Tuhan, “Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila iamasuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah” (12:16).
Daud sungguh-sungguh bertobat ketika nabi Natan menegur kesalahannya. Daud tidak membela diri, tidak menyalahkan orang lain, bahkan dia langsung merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bersedia menerima konsekuensi atas dosanya. Sunguh sebuah respon yang berbeda dibandingkan dengan respon Saul. Tidak heran apabila Tuhan menyebut Daud sebagai “orang yang berkenan di hati-Ku”.
Marilah kita sama-sama belajar dari 2 tokoh di atas dan kita mengambil respon hati yang benar dalam hidup kita sehari-hari. Bahkan walaupun kita ditegur oleh orang yang tidak lebih benar daripada kita sekalipun atau kita ditegur oleh orang yang posisinya di bawah kita, hendaklah kita berdiam diri dan menerima teguran itu sambil duduk di bawah kaki Tuhan. Siapa tahu Tuhan memakai orang tersebut untuk menegur kesalahan kita dan Tuhan sedang menguji sikap hati kita. Ketika kita menolak teguran, kerohanian kita tiba-tiba akan berhenti tumbuh. “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5). “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19)
February 20th 2012
12:52 pm
No comments:
Post a Comment