Sabtu 12 November 2011, aku mendapatkan sebuah mimpi buruk yang sangat mengejutkanku. Dalam mimpi itu, aku diberitahu seseorang bahwa papaku meninggal. Seketika itu juga, aku menangis, shock, menyesal, takut. Perasaan- perasaan itu menyesakkan dada. Aku nyesel karena belum sempat memberitakan keselamatan bagi papaku. Tiba- tiba dalam mimpi itu seperti di Adijasa (rumah duka), dan seperti ada ibadah penghiburan. Lalu dalam mimpi itu, ada pendetaku (ko Philip) datang memelukku. Pada saat dipeluk itulah aku merasakan kasih Bapa, kemudian aku terbangun.
Mimpi yang cukup singkat itu benar- benar menempelakku. Aku takut sekali waktu aku bangun, apakah mimpi itu benar- benar menjadi kenyataan? Karena beberapa kali aku bermimpi orang meninggal dan nggak lama kemudian orang yang bersangkutan benar- benar meninggal. Aku mau telpon papaku, tapi aku takut. Akhirnya, pagi itu aku berdoa sambil menangis. “Tuhan, apa maksud dari mimpi itu? Papa nggak kenapa- napa kan?” Tuhan menjawab, “Mimpi itu adalah sebuah warning bagimu, Luc. Apa hari ini kamu masih menginginkan keselamatan bagi keluargamu seperti dahulu? Apa kamu masih menyadari betapa pentingnya keselamatan jiwa mereka? Apakah kamu masih berdoa dengan hati yang terbeban untuk mereka, ataukah kamu berdoa sebatas rutinitas dan ucapan bibir saja?”
Aku nggak bisa bilang apa- apa ketika itu, aku duduk merenung dalam- dalam. Apakah bagiku keselamatan keluargaku masih penting, ataukah aku mulai melupakannya? Aku menyadari beberapa minggu terakhir ini, aku sibuk dengan banyak hal. Aku sibuk memikirkan skripsiku, masa depanku, pasangan hidup, pekerjaan setelah aku lulus, dan sebagainya. Dan perlahan- lahan, aku mulai mengesampingkan betapa pentingnya keselamatan bagi keluargaku.
Pagi itu aku kembali bertobat, aku meminta hati yang baru, hati yang benar- benar mengasihi keluargaku dan terbeban dengan keselamatan mereka. Bahakn aku meminta kairos (kesempatan yang tepat) unutk menginjili mereka. Aku menyadari bahwa berdoa dan menjadi teladan saja tidaklah cukup. Diperlukan tindakan yang nyata agar mereka bisa mendengar dan merasakan kasih Bapa.
Kemudian malamnya, aku datang ke connect group. Pemimpin connect group waktu itu menyampaikan tentang “Seberapa penting Roh Kudus dalam hidupmu?” Aku sempat sharing tentang mimpiku. Kemudian pemimpinku bertanya, “Kalau hari ini kamu dihadapkan pada pilihan antara keselamatan papamu dan Roh Kudus, mana yang kamu pilih?” Aku berpikir sejenak dan aku menjawab “Roh Kudus”. Karena bagiku, tanda Roh Kudus, segala sesuatu tidak ada artinya.
Aku menjawab demikian bukan sekedar menjawab. Aku ingat, beberapa tahun lalu Tuhan pernah menantangku, “Seandainya saja sampai detik terakhir papamu tidak selamat, apakah kamu masih akan tetap setia mengasihi-Ku?” Aku menangis ketika Dia menanyaiku demikian. Bagiku pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Aku mengasihi papaku dan tentunya aku ingin papaku diselamatkan. Namun jika sampai akhir papaku tetap menolak keselamatan dari Yesus, apakah aku masih bisa mengasihi-Nya? Aku tidak tahu. Pada saat itu, Tuhan memberiku pengertian yang sangat jelas, bahwa keselamatan papaku adalah perkara yang mudah bagi-Nya. Namun, ia ingin aku menyadari bahwa mengasihi-Nya bukanlah keinginan satu dua hari. Mengasihi-Nya merupakan komitmen seumur hidup. Apakah kasihku kepada-Nya murni, ataukah kasih yang bersyarat? Oleh karena itu, Dia memberiku pertanyaan berat tersebut.
Kembali disadarkan ketika connect group malam itu, betapa aku mulai menggeser posisi-Nya di hatiku. Roh Kudus adalah Pribadi yang paling berharga di dunia ini. Aku bisa mencapai semua hal yang aku inginkan, aku bisa memperoleh hal-hal terpenting di hidup ini, namun apa artinya semua itu tanpa kehadiran Roh Kudus dalam hidupku? Tanpa Roh Kudus, rohku mati. Tanpa Roh Kudus, hidupku hampa. Tanpa Roh Kudus, segalanya nggak berarti.
Biar mulai hari ini, kita kembali menempatkan Roh Kudus di posisi pertama dalam hati dan hidup kita. Kita boleh memiliki impian, harapan, cita-cita, keinginan, dan sebagainya. Namun jangan sampai semua itu melebihi kerinduan kita terhadap Roh Kudus.
Nov 20th, 2011
2:30 pm
No comments:
Post a Comment