Ketika kalian membaca judul “Hati yang Berkenan”, pasti kalian berpikir bahwa tulisan ini membahas tentang kehidupan Daud. Yup, tulisan ini lagi–lagi tentang Daud. Karena menurutku, kehidupan Daud tidak ada habisnya untuk dipelajari. Banyak hal yang patut diteladani dari hidup seorang anak bungsu yang dikucilkan oleh keluarganya sendiri ini.
Dari kisah Daud, kita dapat menemukan satu hal, yaitu bagaimanapun masa lalu kita, latar belakang keluarga kita, kekurangan dan kelemahan kita, semua itu tidak sanggup menghalangi pemakaian Allah dalam hidup kita. Haleluya! Masih ada harapan bagi aku dan kamu yang merasa dirinya tidaklah sehebat orang lain sehingga kita ragu apakah Tuhan akan memakai kita.
Hidup Daud yang dilatarbelakangi dengan penolakan yang hebat dari keluarganya ini, tidaklah membuatnya menjadi pribadi yang kecil hati. Kebersamaannya dengan Allah Israel sejak dia masih muda, mengubah trauma masa lalunya menjadi masa depan yang penuh kemenangan. Ketika keluarganya menolaknya, dia tidak membuang waktunya untuk meratapi nasib. Dia tidak mengambil keputusan untuk menjadi kecewa dan pahit terhadap keluarganya. Daud mengambil keputusan yang tepat – di usianya yang masih sangat muda – untuk berlari ke dalam hadirat Tuhan. Bukan dosa, kesenangan dunia, maupun kuasa gelap yang menjadi pelariannya. Namun kubu pertahanan yang kuatlah, yaitu Tuhan yang menjadi tempatnya mengutarakan isi hatinya.
Keputusan untuk “memilih tempat pelarian yang tepat” inilah yang membuat Daud menjadi tokoh yang paling banyak dibicarakan di seluruh Alkitab, setelah Yesus di urutan pertama. Masa-masa “pelariannya” di sungai hadirat Allah inilah yang membuat hidup seorang anak bungsu dari delapan bersaudara ini berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia dipilih Allah menjadi raja Israel bukan karena penampilan fisiknya, bukan karena kehebatannya dalam berperang, bukan karena elok parasnya, namun karena hatinya yang selalu mencari Allah. Karena hati yang melekat kepada Tuhan itulah, maka Tuhan membuatnya menjadi orang yang sangat luar biasa
I Samuel pasal 24 dan 26 mengisahkan bahwa Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, musuhnya yang selalu berusaha untuk melenyapkannya, sekaligus raja Israel yang diurapi Tuhan. Namun betapa besarnya hati Daud, sehingga ia “meluputkan” musuhnya dari pedangnya dan membiarkan Saul tetap hidup. Hari ini apabila kita diberi kesempatan untuk “membunuh” musuh kita, tindakan apakah yang akan kita ambil? Untuk memperjelasnya, saya akan mengatakan bahwa Saul merupakan alasan utama dari pelarian Daud selama kurang lebih 10 tahun. Berkali-kali Saul berusaha membunuh Daud, padahal Daud merupakan panglima perang Israel yang paling hebat dalam militer yang dimiliki oleh Saul, selain itu Daud juga adalah menantu dari Saul sendiri. Begitu kuatnya rasa iri menguasai hati Saul sehingga ia berkali-kali ingin memusnahkan Daud, orang terbaiknya.
Namun, hal yang paling luar biasa disini adalah respon Daud ketika dia memiliki kesempatan untuk “membalaskan dendam” dan memusnahkan musuhnya ini. Daud mengambil keputusan yang sangat langka, yaitu ia membiarkan musuhnya tetap hidup. Alasan yang mendasari keputusan Daud ini bukanlah karena ia menghormati Saul sebagai raja Israel, bukan juga karena Saul adalah ayah mertuanya, namun hanya karena ada urapan Tuhan di atas kepala Saul (sekalipun jauh sebelum itu Tuhan seudah menolak Saul sebagai raja Israel dan Roh-Nya telah undur dari Saul). Daud menghormati Tuhan yang “pernah” mengurapi Saul di masa lalu dan menghormati Saul seolah-olah Saul tetaplah orang yang diurapi Tuhan, walaupun Daud telah diurapi menjadi taja oleh nabi Samuel lama sebelum dia bertemu dengan Saul.
Daud menyerahkan pembalasan dendam ke tangan Allahnya. Dia tidak mau mengutamakan kedagingannya, walaupun ia memiliki hak untuk membalas dendam. Sungguh suatu respon hati yang sangat luar biasa. Karena keputusan-keputusan yang tepat yang diambil Daud selama hidupnya (terlepas dari kesalahan dan dosa yang dilakukannya), maka Allah mengaruniakan kepadanya kemenangan-kemenangan yang besar dalam hidupnya sehingga seluruh Israel tunduk di bawah kekuasaannya selama 33 tahun. Selama pemerintahannya yang gilang gemilang itu, Daud membawa Israel untuk mendekat kepada Tuhan yang benar. Karena hatinya yang berkenan kepada Allah itulah, maka Yesus membiarkan Diri-Nya untuk disebut sebagai “Anak Daud”.
Dari kisah hidup Daud, kita dapat memahami bahwa Allah tidaklah mencari orang yang sempurna, namun Allah mencari orang yang lemah tetapi memiliki hati yang mengutamakan perasaan-Nya dalam setiap tindakannya. Orang yang dipakai luar biasa adalah orang lemah yang menaruh dirinya di tangan Allah yang kuat.
Dari kisah Daud, kita dapat menemukan satu hal, yaitu bagaimanapun masa lalu kita, latar belakang keluarga kita, kekurangan dan kelemahan kita, semua itu tidak sanggup menghalangi pemakaian Allah dalam hidup kita. Haleluya! Masih ada harapan bagi aku dan kamu yang merasa dirinya tidaklah sehebat orang lain sehingga kita ragu apakah Tuhan akan memakai kita.
Hidup Daud yang dilatarbelakangi dengan penolakan yang hebat dari keluarganya ini, tidaklah membuatnya menjadi pribadi yang kecil hati. Kebersamaannya dengan Allah Israel sejak dia masih muda, mengubah trauma masa lalunya menjadi masa depan yang penuh kemenangan. Ketika keluarganya menolaknya, dia tidak membuang waktunya untuk meratapi nasib. Dia tidak mengambil keputusan untuk menjadi kecewa dan pahit terhadap keluarganya. Daud mengambil keputusan yang tepat – di usianya yang masih sangat muda – untuk berlari ke dalam hadirat Tuhan. Bukan dosa, kesenangan dunia, maupun kuasa gelap yang menjadi pelariannya. Namun kubu pertahanan yang kuatlah, yaitu Tuhan yang menjadi tempatnya mengutarakan isi hatinya.
Keputusan untuk “memilih tempat pelarian yang tepat” inilah yang membuat Daud menjadi tokoh yang paling banyak dibicarakan di seluruh Alkitab, setelah Yesus di urutan pertama. Masa-masa “pelariannya” di sungai hadirat Allah inilah yang membuat hidup seorang anak bungsu dari delapan bersaudara ini berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia dipilih Allah menjadi raja Israel bukan karena penampilan fisiknya, bukan karena kehebatannya dalam berperang, bukan karena elok parasnya, namun karena hatinya yang selalu mencari Allah. Karena hati yang melekat kepada Tuhan itulah, maka Tuhan membuatnya menjadi orang yang sangat luar biasa
I Samuel pasal 24 dan 26 mengisahkan bahwa Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, musuhnya yang selalu berusaha untuk melenyapkannya, sekaligus raja Israel yang diurapi Tuhan. Namun betapa besarnya hati Daud, sehingga ia “meluputkan” musuhnya dari pedangnya dan membiarkan Saul tetap hidup. Hari ini apabila kita diberi kesempatan untuk “membunuh” musuh kita, tindakan apakah yang akan kita ambil? Untuk memperjelasnya, saya akan mengatakan bahwa Saul merupakan alasan utama dari pelarian Daud selama kurang lebih 10 tahun. Berkali-kali Saul berusaha membunuh Daud, padahal Daud merupakan panglima perang Israel yang paling hebat dalam militer yang dimiliki oleh Saul, selain itu Daud juga adalah menantu dari Saul sendiri. Begitu kuatnya rasa iri menguasai hati Saul sehingga ia berkali-kali ingin memusnahkan Daud, orang terbaiknya.
Namun, hal yang paling luar biasa disini adalah respon Daud ketika dia memiliki kesempatan untuk “membalaskan dendam” dan memusnahkan musuhnya ini. Daud mengambil keputusan yang sangat langka, yaitu ia membiarkan musuhnya tetap hidup. Alasan yang mendasari keputusan Daud ini bukanlah karena ia menghormati Saul sebagai raja Israel, bukan juga karena Saul adalah ayah mertuanya, namun hanya karena ada urapan Tuhan di atas kepala Saul (sekalipun jauh sebelum itu Tuhan seudah menolak Saul sebagai raja Israel dan Roh-Nya telah undur dari Saul). Daud menghormati Tuhan yang “pernah” mengurapi Saul di masa lalu dan menghormati Saul seolah-olah Saul tetaplah orang yang diurapi Tuhan, walaupun Daud telah diurapi menjadi taja oleh nabi Samuel lama sebelum dia bertemu dengan Saul.
Daud menyerahkan pembalasan dendam ke tangan Allahnya. Dia tidak mau mengutamakan kedagingannya, walaupun ia memiliki hak untuk membalas dendam. Sungguh suatu respon hati yang sangat luar biasa. Karena keputusan-keputusan yang tepat yang diambil Daud selama hidupnya (terlepas dari kesalahan dan dosa yang dilakukannya), maka Allah mengaruniakan kepadanya kemenangan-kemenangan yang besar dalam hidupnya sehingga seluruh Israel tunduk di bawah kekuasaannya selama 33 tahun. Selama pemerintahannya yang gilang gemilang itu, Daud membawa Israel untuk mendekat kepada Tuhan yang benar. Karena hatinya yang berkenan kepada Allah itulah, maka Yesus membiarkan Diri-Nya untuk disebut sebagai “Anak Daud”.
Dari kisah hidup Daud, kita dapat memahami bahwa Allah tidaklah mencari orang yang sempurna, namun Allah mencari orang yang lemah tetapi memiliki hati yang mengutamakan perasaan-Nya dalam setiap tindakannya. Orang yang dipakai luar biasa adalah orang lemah yang menaruh dirinya di tangan Allah yang kuat.
No comments:
Post a Comment