Keputusanku untuk keluar dari pelayanan
doa, sempat bikin aku drop beberapa waktu. Yang dulunya aku sibuk dengan
berbagai program, event, dan pelayanan, sekarang aku bener-bener nganggur. Hari-hari
yang dulunya dipenuhi dengan prayer meeting, briefing, doa menara, en sejumlah
kegiatan lain, sekarang jadi kosong.
Di satu titik, aku inget kalo aku pernah berdoa sama Tuhan, kalo aku udah kerja, aku pengen bisa ikut mission trip ke berbagai kota di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Tapi hari ini, keinginan itu sirna bersama keputusanku untuk keluar. Sedih banget kalo inget betapa dulunya aku pengen ikut mission trip tapi nggak bisa karena belum punya duit. En lebih sedih lagi karena sekarang hal itu nggak akan pernah kesampean. Lebih tepatnya, aku nggak akan pernah ikut mission trip sebagai pendoa. Whoaaaaa.
Sempet timbul penyesalan yang besaaaar banget kalo inget-inget keputusanku itu. Tapi aku tau kalo aku nggak pengen berlama-lama di pelayanan yang uda nggak berjalan sesuai hati Tuhan. Aku inget betapa keringnya tiap kali aku masuk ke menara doa. Doa sendiri di rumah aja lebih gampang masuk ke hadirat Tuhan daripada doa bareng di menara. Belom lagi banyak hal yang udah keluar jalur en tetep dibiarin gitu aja. Aku kangen jaman kepemimpinan mami Olive, dimana pemimpin yang satu itu bener-bener cuma kejar hati Tuhan, bukan kepentingannya sendiri. Salut buat pemimpin-pemimpin yang hatinya tetap benar sekalipun udah dipakai besar sama Tuhan!
Aku berusaha bangkit, tapi berkali-kali gagal. Berusaha tegar, tapi masih sering nangis kalo inget-inget 8 tahun melayani di menara doa. Tuhaaan, aku bener-bener nggak pengen mengakhirinya dengan cara kayak gini, dengan alasan banyak penyimpangan di dalamnya pula. Tuhan, aku pengen mengakhirinya dengan baik, dengan bener-bener manis. Tapi sayangnya nggak bisa.
Berkali-kali Tuhan menguatkan aku bahwa inilah jalan yang harus kutempuh. Suatu jalan yang memang nggak mudah, tapi ada kemuliaan yang jauh lebih besar di depan. Suatu jalan yang berliku-liku en bikin aku bertanya-tanya, tapi ada jaminan berkat di depan. Tuhan nggak pernah salah di hidupku. Tapi entah kenapa, hati ini masih nggak bisa merelakan. Aku pengen menara doa kembali ke rencana awal Tuhan, bukan kayak gini. Rasanya nggak enak banget ninggalin sesuatu yang harusnya bisa diperbaiki. Tapi mungkin bukan aku yang akan memperbaiki, mungkin tangan Tuhan sendiri yang akan bertindak.
Bener-bener salah satu masa terkelam dalam perjalanan hidupku. Tanpa Roh Kudus, aku nggak mungkin bisa menghadapinya. Tanpa kasih Tuhan, pasti aku sudah hancur digilas kekecewaan en kepahitan. Tanpa kuasa-Nya, sudah pasti aku hengkang dari dunia rohani. Mungkin beberapa orang yang baca tentang hal ini mikir "gitu aja kok sampe drop sih, gitu aja sampe bikin nangis en stres". Tapi bagi aku yang ngalami, hal ini emang bener-bener nggak gampang untuk dijalani.
Sampai akhirnya Tuhan menguatkan aku pas aku nonton sebuah film: DIVERGENT. Aku dikuatkan bahwa aku nggak perlu lagi memandang lagi ke belakang ketika aku sudah ambil keputusan. Aku diteguhkan bahwa kalo aku udah memilih, aku harus berusaha untuk survive, aku harus membiasakan diriku di tempatku yang sekarang (suatu pelayanan baru yang Tuhan mau untuk aku masuki), aku harus melatih diriku untuk bisa berada di sini, di kehendak Tuhan yang lebih mulia.
Nggak boleh ada penyesalan lagi di hatiku, toh aku nggak bisa (dan nggak akan mau) kembali ke tempat itu. Toh keadaan nggak bisa diubah, keputusan untuk meng-off-kan aku bukan ada dalam kendaliku. Life must go on! Aku harus berjuang untuk hidupku sekarang en ke depan.
Aku hanya berusaha melakukan the best thing yang aku bisa, en aku mau serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Menjadi divergent (berbeda dari orang lain) nggak berarti salah. Terkadang seorang yang memiliki hati, kepekaan, kemampuan, serta pandangan yang berbeda itu baik. Bahkan mungkin bisa menyelamatkan diriku dari suatu kehancuran yang fatal.
Aku hanya mau bersyukur sama Tuhan buat semua kebaikan-Nya di tengah kejahatan banyak orang, untuk kesetiaan-Nya untuk selalu berada di sampingku di malam-malam penuh air mata, untuk kepercayaan yang lebih besar yang Dia letakkan di pundakku. Nggak ada yang perlu disesali jika Tuhan ada di pihakku. Nggak perlu lagi menoleh ke belakang en berkata "seandainya...".
Aku mau bangkit en bergerak maju. Seperti yang Life Tree katakan dalam lagunya "Hidup bukan untuk sekedar berlalu, karna ada masa depan yang menunggu. Hidup yang diberi tuk kerjakan sesuatu. Hadapi yang datang, jadilah pemenang".
Be it
unto me
According
to your Word
According
to your promises
I can
stand secure
Carve
upon my heart
The
truth that sets me free
According
to your Word O Lord
Be it
unto me
You
promised your blood will deliver
Lord, we
believe it's true
You
promised us joy like a river
Lord we
receive it from you
These
things you have spoken
And
you're bringing to pass
This
world's disappearing
But your
word will last
Be it
unto me
According
to your Word
According
to your promises
I can
stand secure
Carve
upon my heart
The
truth that sets me free
According
to your Word O Lord
Be it
unto me
You
promised to carry our sorrows
Lord, we
believe it's true
You
promised unending tomorrows
Lord we
receive them from you
You be
our provider
In Your
word it's revealed
And by
the stripes that you bore
Lord we
have been healed
(Be it unto me)
1 comment:
Semangat terus yah :)
Post a Comment