November 20, 2015

BERKENAN, BUKAN SEKEDAR BERKESAN

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat" (I Korintus 10:31-33)


Akhir-akhir ini aku merasa muak dengan banyak orang di gereja yang bersikap munafik, pasang topeng, pura-pura bersikap baik hanya ketika event-event tertentu. Saat pelayanan, nunjukkin tampang malaikat di depan banyak orang, sok rendah hati, ato sok rohani dengan perkataan en tindakannya. Tapi saat ngga dipandang orang banyak, bersikap arogan en pengen disapa duluan, demen nggegosip, ato malah idup dengan cara yang lebih parah dari orang dunia.

Bahkan ngga sedikit orang yang "menusuk" orang di  kanan kiri en "menjilat" leader dengan kata-kata manis demi mendapatkan sebuah jabatan, memfitnah orang laen dengan cerita bohong, atopun sok-sokan kesaksian tapi bukan meninggikan Tuhan melainkan kehebatan diri sendiri. Banyak yang sok-sokan pasang status rohani, status berpuasa sekian puluh hari, pasang profil picture buku rohani, padahal kelakuannya sehari-hari ngga mencerminkan suatu kehidupan yang benar. Bahkan ada orang yang menjalani hidup sebagai seorang "yes man" untuk menyenangkan semua orang, supaya diberi kepercayaan untuk melayani. Hal itu sangat menggelikan bagiku.

Semua hal yang kulihat, kualami, en kurasakan membuat aku ngga lagi dengan mudahnya menganggap orang-orang rohani tuh luar biasa, kecuali aku sudah membuktikan sendiri bahwa kehidupan sehari-harinya emang demikian. Kemurnian mungkin memang menjadi sesuatu yang langka di dunia ini, termasuk di kalangan gereja. Banyak orang hidup hanya untuk menampilkan suatu pencitraan yang baik, mengesankan manusia, dan menuai decak kagum dari sesamanya

Aku ngerasa kalo orang-orang itu hanya berusaha menampilkan suatu kehidupan yang mengesankan di hadapan manusia, bukan suatu kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Berkesan dan berkenan sih beda tipis secara huruf, tapi beda banget secara harafiah. Lagipula, bukankah hidup ini hanya Tuhan yang menjadi penonton sejati dan memberikan skor terakhir?

Baru-baru ini aku denger cerita tentang seseorang yang pernah kukenal dekat en kukagumi karena kuanggap dia adalah teladan yang baik. Dulu mungkin memang hidupnya luar biasa, menginspirasi, dan memberkati banyak orang. Tapi hidupnya hari ini dipenuhi dengan serangkaian pencitraan dan kemunafikan. Di depan banyak orang, dia bersikap seolah-olah dia masih seseorang yang luar biasa dekat dengan Tuhan, hidupnya berkemenangan, tapi aslinya ngga begitu. Mungkin memang orang masih diberkati en terkesan, tapi apakah Tuhan juga berkenan atas kehidupan yang demikian?

Kemaren pagi saat aku memikirkan orang tersebut, tiba-tiba Tuhan kasi aku sebuah perkataan hikmat, "KEJARLAH HIDUP YANG BERKENAN, BUKAN SEKEDAR BERKESAN". Kehidupan yang mengesankan memang kelihatannya baik, tapi itu hanya bertahan sementara. Sedangkan kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan akan menuntun kita pada hal-hal yang kekal.

Pas aku baca I Korintus 10, aku nangkep bahwa orang yang ngalami banyak pengalaman spektakuler dengan Tuhan serta hidup dalam berkat en pemeliharaan Tuhan pun, belum tentu semuanya berkenan di hadapan Tuhan (1 Korintus 10:5, "Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun"). Di jaman Musa, sebagian besar orang Israel ngga masuk dalam tanah perjanjian karena mereka hidup untuk memuaskan diri mereka sendiri, bukan hidup dalam kehendak Tuhan. Ngeri banget kalo sampai ditolak ama Tuhan en "dimusnahkan" sehingga ngga masuk dalam tanah perjanjian.

Di jaman yang penuh dengan pencitraan, egosentisme, dan hedonisme ini, kita perlu banyak-banyak berdoa minta Roh Kudus memurnikan hati kita supaya hidup kita berkenan di hadapan-Nya. Hidup ini perlu dikembalikan lagi pada tujuan-tujuan ilahi, bukan kepentingan en kesenangan pribadi. Hidup ini bukan untuk dinilai oleh sesama tapi oleh Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.


"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Galatia 1:10).

No comments: