"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya" (1 Korintus 9:19-23)
Beberapa waktu lalu ngga sengaja ketemu ama seorang ayi yang dulunya sepelayanan ama aku. Ayi ini nanya ke aku, gimana kabarku sekarang, trus gimana kondisiku abis out dari dunia pelayanan. Aku jawab kalo idupku saat ini JAUUUHHH lebih baik daripada saat aku join di pelayanan yang penuh dengan tuntutan, pemimpin yang pilih kasih en suka menghakimi, serta rekan sesama pelayan yang suka iri hati en ngerasani. Aku bilang kalo aku malah bisa ngembangin diri dalam berbagai bidang en kenal orang-orang baru saat ini. Pola berpikirku tentang pelayanan dirombak total, yang dulu aku berpikir bahwa pelayanan terbaik adalah tergabung dalam sebuah departemen di gereja, sekarang aku berpikir bahwa dimanapun aku berada, itulah kesempatan terbaik untuk melayani.
Semua orang yang kenal deket ama aku punya pendapat yang sama tentang aku sekarang: jadi pribadi lebih baik en lebih bahagia. Yes, absolutely right! Aku bahagia karena ngga ada lagi kuk perhambaan alias serentetan tuntutan en jadwal pelayanan yang menyiksa, ngga ada lagi pemimpin yang suka nyindir en ngehakimi, bebas dari orang-orang yang demen nyinyir. I live my life according what God wants me to be. Aku menikmati hidupku sepenuhnya, belajar banyak hal, kenal orang-orang baru, travelling, en menemukan makna idup yang sesungguhnya. Aku belajar memahami hidup dari berbagai aspek kehidupan yang dulunya belum pernah kuselami karena terlalu sibuk dengan dunia "rohani". It's my life, I don't let other person reign over me anymore, bahkan atas alasan otoritas rohani.
Minggu lalu, sempet ngobrol ama salah satu sahabat kental yang dulunya sama-sama mokong, sama-sama peka en punya banyak karunia, sama-sama tajam dalam hal kerohanian. Hari ini, kami sama-sama jadi orang yang jauh lebih "mendarat", bukan lagi melayang-layang bak malaikat dengan serangkaian aturan rohani yang memenjarakan diri, ngga lagi gencar melayani tapi bersikap eksklusif. Kami mendapati bahwa ngga ada gunanya join pelayanan kalo idup kami ngga jadi berkat buat orang terdekat, ngga ada gunanya begitu tajam en peka tapi ngga punya kasih, ngga ada artinya bergerak begitu dahsyat dalam karunia kalo kami ngga bisa mengerti makna idup sesungguhnya. Kami ngga mau jadi seperti kebanyakan kaum rohaniwan yang idupnya kayak orang Farisi en ahli Taurat, banyak aturan en mencekik orang dengan penghakiman serta jago bersilat lidah.
Kami mendapati bahwa yang terpenting adalah menjalani kehidupan dengan seimbang: bertumbuh dalam kerohanian serta berkembang dalam kehidupan sosial. Kalo terlalu ekstrem dalam satu bidang, sementara ngga berkembang dalam bidang yang lainnya, maka pasti akan terjadi crash. Seperti pepatah bilang, "orang ngga peduli seberapa banyak kamu tahu sampai orang tahu seberapa kamu peduli". Kalo kita hebat dalam kerohanian, tapi kita menggunakan karunia kita dengan sombong en kita jadi orang yang freak, maka orang pasti ngga akan terberkati dengan pelayanan kita en nama Tuhan bukannya dipermuliakan. Kita perlu peduli ama kebutuhan terdalam orang lain dan menggunakan apa yang kita punya untuk melayani orang tersebut.
Kami menyadari bahwa semua aturan dalam Alkitab itu baik, tapi jika orang menjalani terlalu ekstrem en tanpa kasih, maka pasti orang itu kehilangan esensinya. Tuhan yang kita sembah identik dengan kasih, walopun di sisi lain Ia adalah adil. Jalankan seluruh kehidupan dengan kasih baru keadilan, jangan terbalik. Kenali hati Tuhan baru bertindak, jangan berusaha menjalankan hukum Taurat dengan membabi buta. Jadilah dewasa dalam kasih, jadilah jawaban bagi sekelilingmu, jangan hanya jago bicara ayat-ayat Alkitab tapi idupmu membuat banyak orang tersandung.
Aku setuju dengan apa yang John C. Maxwell tulis dalam "SUCCESS 101" bahwa kesuksesan adalah mengetahui tujuan hidup Anda, bertumbuh untuk mencapai kemampuan maksimum Anda, dan menabur benih yang menguntungkan orang lain. Penting banged buat memahami apa tujuan kita diciptakan, mengembangkan diri sesuai dengan karunia yang Tuhan percayakan, serta melakukan sesuatu yang memberi dampak bagi orang lain alias melayani. Aku rasa 3 hal itu sangat Alkitabiah, Yesus pun menjalankan kehidupan yang demikian. Lakukan segala hal terbaik, jangkaulah sebanyak mungkin yang kita bisa, menangkan mereka bagi Kristus melalui hidupmu.
No comments:
Post a Comment