May 13, 2017

NO REGRET IN LIFE, JUST LESSON LEARNED

"Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang merombak dan merusak engkau meninggalkan engkau" (Yesaya 49:17).

"Your builders are faster than your wreckers. The demolition crews are gone for good" (Isaiah 49:17, NIV).


Beberapa hari lalu saat baca bible, ayat ini melompat en memberikan damai sejahtera yang luar biasa ke dalam hatiku, inilah jawaban yang Tuhan kasi atas banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Jujur aja, aku uda lelah dengan semua drama dari orang-orang negatif, orang-orang yang datang hanya take me for granted, datang saat butuh en mencampakkanku saat mereka hepi. Aku mulai merenung, apa yang salah dengan diriku, sikapku, ato perkataanku. En orang-orang terdekatku bilang bahwa bukan aku yang bermasalah, tapi banyak orang yang memang ngga selayaknya diberi kesempatan untuk stay di hidupku, en inilah saat yang tepat untuk menyortir mereka.

Setelah dapet ayat ini, aku berdoa sungguh-sungguh en Tuhan singkapkan banyak hal tentang beberapa orang yang meninggalkanku di masa-masa sulit, sekalipun selama sekian taon aku menganggap mereka sebagai sahabat. Tuhan tau yang terbaik bagi hidupku, Dia mengetahui setiap niat dalam hati manusia, Dia merancangkan semua hal yang indah sekalipun aku harus melewati rasa sakit dan dikhianati. Aku ngga lagi sedih ato kecewa karena kehilangan "sahabat", ngga lagi nyesel karena ngenalin temen satu ke temen laen en ujungnya aku "dibuang", karena sejatinya mereka hanyalah "wreckers".

Akhirnya aku tau bahwa ada orang-orang yang memang menempel di hidupku bertaon-taon hanya seperti benalu, menyerap banyak hal yang baik dariku lalu mencampakkanku. Ada orang yang menjadikanku tameng supaya mereka terlihat "baik" di depan orang. Ada juga yang memakai namaku untuk mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri, lalu membusukkan namaku. Ada orang yang memanfaatkan hubungan denganku untuk mendapat penerimaan orang lain (teman baru, jodoh, juga keuntungan materi) bahkan menjadi social climber. Ada juga yang sekalipun aku menabur banyak hal baik buat hidupnya, dia tetep berniat menusukku dari belakang. Ngeri, tapi itu fakta yang selama ini tersembunyi. That's why aku ngga pernah bangga kalo ada orang yang berpendapat "Waow, temenmu banyak ya, Luc". Baru ktauan kan kalo ngga semuanya layak disebut sebagai "teman".

En aku mulai memilah-milah siapa aja yang perlu kupertahankan sebagai teman, tentu saja dengan mempertimbangkan kesetiaan dan sikap mereka selama aku berada di masa sulit setengah taon terakhir ini. Aku mulai mencoret nama orang-orang yang menghakimi aku hanya berdasar penilaian dari orang laen, orang yang kuanggep sahabat namun tiba-tiba menjauhiku hanya karena konflik sepele, orang yang hanya datang saat mereka susah lalu menghilang saat mereka hepi, orang yang hidupnya hanya berputar-putar di padang gurun bernama "mengasihani diri", orang yang selalu menebar kebencian dan perkataan negatif, orang yang selalu iri denganku, orang yang ngga pernah ngerasa salah en melimpahkan kesalahan ke aku, orang yang...

Kurasa semakin lama daftar ini akan semakin panjang. En aku menemukan bahwa aku perlu menghabiskan waktuku lebih banyak lagi untuk orang yang benar-benar berharga; yaitu ortu en adekku. Membangun persahabatan en koneksi itu penting, tapi aku menyadari bahwa aku perlu menyediakan waktu lebih banyak untuk family. Apalagi karena aku yakin bahwa yang tetep bertahan di hidupku hanyalah keluarga. Teman itu hanya sementara saja, sekejap menjadi sahabat, sesaat kemudian bisa berbalik menjadi musuh.

Aku tau bahwa Tuhan mengizinkan aku mengalami serangkaian masa sulit selama setengah taon ini demi kebaikanku, untuk menyingkirkan "belalang-belalang pengerip" yang hanya bikin hidupku keliatan berwarna namun ngga berdampak kekal. Tuhan tau karakter setiap orang en Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi supaya mataku tercelik, supaya hatiku terbuka, en aku bisa waspada. Ngga semua orang bener-bener berkualitas seperti yang terlihat di luar.

Aku mengampuni setiap orang yang berbuat buruk kepadaku akhir-akhir ini, orang-orang yang meninggalkanku di masa sulit, orang yang membalas kebaikanku dengan kejahatan, serta orang yang menunjukkan karakter aslinya setelah persahabatan semu sekian taon. Thanks guys, semua itu membentukku menjadi Lucy yang sekarang. Tuhan memakai semua perbuatan kalian demi kebaikan yang lebih besar. Aku ngga punya hak untuk membenci ato menghakimi kalian, itu urusan kalian sendiri.

Bahkan akhirnya aku sadar bahwa selama bertaon-taon Tuhan pakai karuniaku untuk jadi penghubung bagi banyak orang, tapi iblis berusaha bikin aku trauma ngenalin orang supaya karunia ini mati. Aku ngga tau akan ada berapa banyak perkara besar yang Tuhan kerjakan ketika aku mengenalkan temenku yang satu ke lainnya, tapi aku ngga mau pakai 1 pengalaman buruk kali ini sebagai alasan untuk aku berhenti pergunakan karuniaku. Biar Tuhan yang kasi aku hikmat lebih lagi bagaimana bisa pergunakan karunia ini en menghubungkan banyak anggota tubuh Kristus demi kemajuan Kerajaan Sorga.

Yang aku tau, namanya persahabatan tuh butuh effort dari dua belah pihak untuk saling memahami, saling berjuang, saling memaafkan, en saling membangun. Kalo cuma aku yang berusaha untuk menjalin komunikasi, berusaha menjelaskan, merendahkan diri en ngajak baikan, ogah deh. Aku uda ngga mau lagi bergaul ama orang yang karena masalah sepele trus ninggalin aku gitu aja. Aku uda ngga mau direpoti ama orang-orang yang ngerasa ngga punya temen en pacar trus memanipulasi waktuku buat keegoisannya, lalu membuang aku setelah dia mendapatkan yang dia butuhkan.

Thanks God buat semua hal baik yang Kau kerjakan di balik setiap masa sukar en penuh pergolakan ini. Thanks buat kesetiaan dan persahabatan sejati yang Kau tunjukkan bagiku. Thanks buat orang-orang yang berkualitas yang Kau letakkan dalam hidupku. Aku menanti-nantikan penggenapan firman-Mu bagi hidupku. Amen.

No comments: