June 28, 2018

STOP BODY SHAMING

"Lus, kamu gemuk lagi ya?"
"Jaga makan donk, kalo langsing kan caem"


Beberapa minggu lalu ada salah satu tante yang lagi2 komen soal penampilan fisikku di sosmed. Pas baca, aku cuek trus mbales biasa aja. Eh tapi kok jadi jengkel juga ya, inget kalo udah bertaon2 ga ktemu tapi tiap kali dia komen di sosmed (sekali lagi, SOSMED) tuh soal fisik mulu. Nih tante kurang kerjaan kali ya. Maklum sih, dulunya ga ada sosmed, jadi sekarang dia asal komen biar kliatan eksis #eh

Body shaming... Sadar ato kaga, beberapa dari antara kita pasti pernah mengalaminya ato malah jadi pelakunya. Kita mengomentari fisik seseorang dengan nada (sok) care padahal itu cuma terlontar dari mulut yang gatel, tanpa peduli perasaan orang itu, apalagi peduli ama apa yang sedang dipergumulkan oleh orang tersebut.

Kita ga pernah (mau) tau kenapa seseorang jadi gemuk, kurus, item, chubby, tirus dst. Ada yang berubah jadi gemuk karena pengendalian diri yang lemah akan makanan ato sistem pencernaannya terganggu, kurus karena stress, item karena perjuangan hidup, chubby (lebih tepatnya bengkak) karena efek obat yang harus diminum, tirus karena menderita berbagai macam masalah. Tanpa babibu, kita seenak jidat melontarkan komen yang kedengarannya ringan namun menusuk.

"eh kamu cantik loh kalo kurus gini"
"muke lo item banget yak"
"tuh pipi ato bakpao sih"
"gendut banget sekarang, diet donk biar sehat"

Mulut diciptakan untuk membangun, bukan untuk meruntuhkan. Sah2 aja punya pendapat tentang penampilan fisik seseorang, tapi ga perlu lah ya itu dijadiin topik utama dalam setiap percakapan yang ujungnya bikin orang laen jadi malu, minder, jengkel, ato sedih. Usahakan pakai perkataanmu buat menyegarkan hati seseorang, bukan bikin orang jadi sebel.

Kalo ngeliat ada seseorang yang penampilan fisiknya berubah (trutama dari gendud jadi kurus banget), cobalah bener2 menunjukkan kasih, tanya apa ada hal yang perlu dibantu ato didoakan. Jangan hakimi, jangan ucapkan kata2 yang ga perlu apalagi menyakitkan hati.

Kecantikan sejati dihasilkan dari dalam, bukan dari apa yang terlihat di luar. Siapa tau karena penderitaan, penampilan fisik seseorang berubah jadi jelek, namun hatinya menjadi berharga seperti mutiara. Penampilan fisik bisa dipoles, namun kecantikan hati sulit dihasilkan tanpa proses yang menyakitkan.

Be wise with your words, perkataanmu bisa membangun, bisa juga meruntuhkan harga diri seseorang. Ga jarang body shaming berdampak negatif sehingga orang menderita bulimia ato anoreksia demi mencapai bentuk tubuh ideal (bahkan ada yang mencoba berbagai obat pelangsing berbahaya yang mengancam nyawa). You never know the struggle is so real.

So stop body shaming. Pilihlah topik lain yang berguna untuk dibicarakan, arahkan percakapan ke hal2 yang membangun, gunakan waktu2 yang ada untuk membangun hubungan berkualitas. Boleh kok kasi saran supaya penampilan fisik seseorang lebih baik, misal sama2 diet ato workout, kasi panduan tentang healthy food ato olahraga. Ayo jadi berkat lewat mulut (dan jarimu di sosmed).

Nulis beginian ga bikin aku takut dianggep harsh ato sensi, menurutku ada hal-hal seperti body shaming yang emang perlu distop dengan cara dilawan. Jangan pernah berdiam diri untuk sesuatu yang butuh untuk diperangi. Beranilah ambil tindakan untuk menghentikan perbuatan bodoh orang lain yang membuatmu ga nyaman. Speak up whatever in your mind about that thing.

"Be who you are and say what you feel, because those who mind don't matter and those who matter don't mind" (Dr. Seuss) 

No comments: