Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon (Lukas 4:24-26)
1. Kalau engkau mendambakan sesuatu, alam semesta bekerjasama membantumu memperolehnya.
2. Ada peristiwa-peristiwa tertentu yang memang harus kita alami untuk menuntun kita kembali ke jalur sejati Legenda Pribadi kita. Ada juga peristiwa lain yang mesti terjadi agar kita bisa mempraktekkan segala sesuatu yang telah kita pelajari. Ada hal-hal yang terjadi agar kita bisa menarik pelajaran darinya.
SATU
1. Tuhan adalah Tuhan. Tidak dikatakan-Nya kepada Musa, apakah Dia baik atau jahat. Dia hanya mengatakan: Aku adalah Aku. Dia menyatakan diri-Nya dalam segala sesuatu yang ada di bawah matahari--dalam petir yang menyambar merusak rumah, dan dalam tangan manusia yang membangunnya kembali.
2. Kalau Dia Mahakuasa, kenapa Dia tidak menghindarkan orang-orang yang mengasihi-Nya dari penderitaan? Kenapa Dia tidak menyelamatkan mereka, bukannya justru memberikan kekuatan dan kemenangan kepada musuh-musuh-Nya?
3. Rencana-Nya tidak selalu sejalan dengan keadaan kita atau apa yang kita rasakan, tapi yakinlah... Dia punya alasan sendiri untuk semuanya ini.
DUA
1. Apakah kematian? Kematian menyergap dengan cepat, sesudah itu usailah. Kalaupun dia merasa sakit, rasa sakit itu akan segera berlalu, kemudian Tuhan yang Mahakuasa akan menerimanya dalam rengkuhan-Nya.
2. Hampir sepanjang hidupnya, manusia tidak berkuasa membuat keputusan.
TIGA
1. Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis yang berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. Tanpa itu, segala sesuatu di dalam jiwa tersebut akan mati, meski raganya masih terus hidup, dan orang-orang akan berkata, "Di dalam tubuh ini pernah hidup seorang manusia".
2. Orang yang berjalan menyongsong takdirnya seringkali diharuskan berpindah jalur. Pada saat lain, kekuatan-kekuatan di sekitar dirinya terlalu kuat, sehingga dia terpaksa melepaskan keberaniannya dan menyerah. Semua ini bagian dari proses latihanmu.
3. Aku orang yang telah menemukan kedamaian. Aku bisa hidup di padang pasir, mencari makanan untuk diriku sendiri dan merenungkan keindahan ciptaan Tuhan yang tak ada habisnya. Di dalam diriku ternyata bersemayam jiwa yang lebih mulia daripada yang kukira.
4. Engkau telah menemukan jalanmu, tapi janganlah engkau menghancurkan sebelum belajar membangun kembali.
EMPAT
1. Kalau ada yang meminta pertolongan padaku, berarti keberadaanku di dunia ini masih ada gunanya.
LIMA
1. Aku bukan melarikan diri, aku sedang menunggu saat yang tepat untuk pulang kembali.
2. Segala sesuatunya terjadi seperti telah digariskan Allah. Ada saat-saat kita mengalami cobaan-cobaan, dan ini tak bisa dihindari. Tapi ada alasannya kenapa semua itu terjadi.
3. Cara terbaik untuk mengenal dan menghancurkan musuh adalah dengan berpura-pura menjadi temannya.
ENAM
1. Kami tahu semakin berbahaya seseorang, semakin tinggi nilai kepalanya.
TUJUH
1. Kalau kita menunjukkan bahwa kita memperlakukan salah satu nabi mereka dengan baik, mereka pun akan menunjukkan kemurahan hatinya pada kita.
DELAPAN
1. Hanya seorang ibu yang bisa merasakan saat jiwa putranya hendak direnggutkan.
SEMBILAN
1. Kenapa aku harus melakukannya? Agar nama Tuhan dimuliakan.
2. Semua orang berhak meragukan tugas yang diperintahkannya kepadanya dan mengabaikannya sesekali, namun dia tidak boleh melupakannya. Sebab siapapun yang tidak meragukan dirinya sendiri berarti tidak layak-- sebab dengan keyakinan penuh akan kemampuannya, berarti dia telah berbuat dosa kesombongan. Diberkatilah mereka yang mengalami saat-saat ragu.
SEPULUH
1. Seringkali nasib manusia tidak ada kaitannya dengan keyakinannya ataupun ketakutannya.
2. Apa gunanya membangkitkan orang mati kalau tak seorangpun percaya dari mana sumber kekuatan itu berasal?
3. Memang tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuatan. Tapi semua orang memiliki kekuatan dari Tuhan dan tidak menggunakannya.
4.Tuhan membutuhkanmu untuk membangun kembali negerimu. Engkau akan kembali ke negerimu kalau engkau telah belajar untuk membangun kembali.
SEBELAS
1. Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya dan paling kuat adalah kata-kata. Belati dan tombak meninggalkan bekas darah, anak panah bisa terlihat dari kejauhan. Racun bisa dideteksi dan dihindari. Tapi kata-kata bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak.
DUA BELAS
1. Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari dalam sejarah dunia ini, dan kita mesti menerimanya.
2. Tidak ada yang kutakuti selain dua hal ini: Tuhan dan diriku sendiri.
3. Kau lihat Gunung Kelima itu? Dari arah manapun kau melihatnya, gunung itu kelihatan berbeda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh ciptaan: mereka merupakan cerminan wajah berbeda dari Tuhan yang sama.
4. Kalau kita menunda-nunda panen, buahnya menjadi busuk. Tapi kalau kita menunda-nunda membereskan masalah, mereka jadi bertambah.
5. Pejuang yang hebat adalah yang berhasil mengubah musuh menjadi sahabat.
TIGA BELAS
1. Cinta bisa menjadi pengalaman yang lebih menakutkan daripada berdiri di hadapan prajurit yang memegang anak panah ditujukan ke jantungnya. Kalau anak panah itu mengenai sasarannya, dia akan mati dan selanjutnya terserah Tuhan. Tapi kalau cinta menghinggapinya, dia sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi-konsekuensinya.
2. Seperti inilah kebebasan: bisa merasakan apa yang dihasratkan hati, tanpa perlu memikirkan pendapat orang lain. Dia merasa bebas, sebab cinta membebaskan.
EMPAT BELAS
1. Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang minta dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta.
2. Tuhan adalah gembalaku. Dia menyegarkan jiwaku. Dia membimbing aku ke air yang tenang. Dan Dia tidak akan membiarkan aku melupakan makna hidupku.
3. Belajarlah sesuatu. Pada saat ini, banyak orang berhenti menjalani kehidupan. Mereka tidak marah, juga tidak berseru-seru memprotes; mereka sekadar menunggu waktu berlalu. Mereka tidak menerima tantangan kehidupan, jadi kehidupan pun berhenti memberikan tantangan pada mereka. Kau juga mengambil resiko yang sama; tunjukkan reaksi, hadapi hidup, tapi jangan berhenti hidup.
4. Mulailah melakukan sesuatu, dengan begitu waktu bisa menjadi sahabatmu, bukan musuh.
LIMA BELAS
1. Saat pertempuran dimulai, yang kau hadapi bukanlah musuh yang kekuatannya lebih kecil, karenanya kau tidak bisa dianggap pengecut yang menindas yang lebih lemah.
DUA PULUH TIGA
1. Hal-hal yang tak terhindarkan ini selalu saja terjadi. Kau butuh disiplin dan kesabaran untuk mengatasinya. Dan harapan. Kalau harapan sudah tidak ada lagi, buat apa membuang-buang tenaga untuk melawan hal yang mustahil.
2. Orang-orang ini pada akhirnya kembali, namun mereka membawa kisah-kisah yang luar biasa. Mereka memperoleh segala sesuatu yang mereka idam-idamkan, sebab mereka tidak dibatasi oleh kekecewaan masa lalu.
3. Kalau engkau tidak puas dengan masa lalumu, lupakanlah sekarang. Bayangkan sebuah kisah baru tentang hidupmu, dan yakinlah. Pusatkanlah pikiranmu hanya pada saat-saat engkau memperoleh apa yang kauidamkan. Kekuatan ini akan membantumu meraih yang kau inginkan.
DUA PULUH EMPAT
1. Ingatlah perbuatan-perbuatan baik yang pernah kau lakukan, semua itu akan memberimu keberanian.
2. Segala sesuatu yang seharusnya bisa terjadi, tapi tidak terjadi, tak ada gunanya dibicarakan lagi.
3. Hidup ini tergantung pada cara kita menyikapinya. Ada hal-hal tertentu yang telah ditentukan bagi kita untuk dijalani. Alasannya tidaklah penting, dan apapun tindakan kita tidak akan bisa melewatkan takdir itu.
DUA PULUH LIMA
1. Oh Tuhan, pertempuran ini bukanlah antara bangsa Asyur dan Fenisia, melainkan antara Kau dan aku. Kau tidak memberitahukan padaku tentang peperangan kita ini, dan seperti biasanya, Kau keluar sebagai pemenang, dan kehendak-Mu terlaksana.
DUA PULUH ENAM
1. Aku juga sudah hancur lebur, seperti kota ini. Tapi seperti halnya kota ini, aku belum menyelesaikan misiku.
DUA PULUH TUJUH
1. Aku melakukannya untuk anak lelaki yang duduk tertunduk di sana itu: dia harus belajar bahwa hidupnya masih panjang.
2. Kepedihan yang kita rasakan tidak akan pernah hilang, tapi dengan bekerja bisa membantu kita meringankannya. Tubuh yang sudah lelah tidak akan sempat merasakan kesedihan lagi.
3. Kami melakukannya bukan untuk diri kami sendiri. Perempuan itu melakukannya untuk menunjukkan kepada si anak, bahwa masih ada masa depan. Aku sendiri melakukannya untuk menunjukan padanya bahwa masa lalu sudah lewat.
DUA PULUH DELAPAN
1. Dia harus membuktikan pada dirinya, bahwa dia cukup kuat untuk memulihkan harga dirinya.
DUA PULUH SEMBILAN
1. Aku juga pernah jadi anak kecil, dan aku tahu anak-anak tidak mengenal masa lalu.
2. Ada 3 hal yang bisa dipelajari orang dewasa dari anak kecil: merasa bahagia tanpa alasan, selalu sibuk dan ada saja yang dikerjakan, dan bagaimana menuntut sekuat tenaga agar keinginannya dikabulkan.
TIGA PULUH
1. Kadang-kadang kita perlu bergulat dengan Tuhan. Orang yang mencari makna hidupnya dan merasa Tuhan telah bertindak tidak adil padanya, akan menantang takdirnya sendiri dengan berani.
2. Orang-orang pemberani membakar segala yang sudah lama dan meninggalkan segala-galanya--meski harus membayar mahal dengan menanggung penderitaan batin--dan meneruskan langkah ke depan. Orang pemberani selalu keras kepala.
3. Hanya orang yang memiliki api suci di hati mereka berani menantang Tuhan. Dan hanya mereka yang tahu jalan untuk kembali menuju kasih-Nya, sebab mereka mengerti bahwa tragedi bukanlah hukuman melainkan tantangan.
4. Yakub tidak mau membiarkan Allah pergi kalau Allah belum memberkatinya. Pada saat itulah Allah bertanya, "Siapakah namamu?" Itulah poin paling penting: mempunyai nama. Setelah Yakub menjawab, Allah membaptisnya dengan nama baru: Israel. Tiap orang mempunyai nama yang diberikan padanya sejak lahir, tapi dia harus belajar membaptis hidupnya dengan kata yang telah dipilihnya untuk memberi makna bagi hidup tersebut.
5. Saat untuk merasa takut dan memendam harapan sudah lewat: sekarang yang ada hanyalah membangun kembali, atau menyerah kalah.
6. Apa yang kita kira sebagai tantangan terhadap Tuhan sebenarnya justru membawa kita kembali kepada Tuhan.
TIGA PULUH SATU
1. Musuh hanyalah alat ntuk menguji kekuatan kita.
TIGA PULUH DUA
1. Hanya anak-anak yang berhasil mengatasi tragedi, sebab mereka tak punya masa lalu--bagi mereka yang paling penting adalah saat ini.
2. Bisakah orang melupakan kesedihan yang ditimbulkan oleh kehilangan? Tidak, tapi dia bisa menemukan sukacita karena keberhasilannya.
3. Aku tidak ingin berdebat apakah Allahku lebih kuat atau lebih berkuasa; aku tidak ingin membicarakan perbedaan-perbedaan kita. Aku lebih tertarik pada kesamaan-kesamaan kita. Tragedi ini telah menyatukan kita dalam satu rasa: putus asa. Sebab kita mengira segala sesuatu bisa ditemukan jawabannya dan diputuskan dalam jiwa kita; dan kita tidak bisa menerima perubahan.
4. Pejuang selalu tahu apa yang layak diperjuangkan. Dia tidak akan maju perang demi hal-hal yang bukan urusannya, dan dia tidak membuang-buang waktu untuk provokasi.
5. Tragedi selalu terjadi, maka sudahlah. Untuk seterusnya kita mesti mengenyahkan rasa takut yang dibangkitkannya dalam diri kita, dan mulai membangun kembali.
TIGA PULUH TIGA
1. Yakub bergulat dengan-Mu sepanjang malam dan mendapat berkat-Mu menjelang fajar. Aku telah melawan-Mu selama berhari-hari, berbulan-bulan, dan Kau tetap menolak mendengarkan permohonanku. Aku akan melawan-Mu sampai Engkau memberkati aku dan memberkati juga buah-buah kerja kerasku. Suati hari nanti Engkau akan terpaksa menjawabku.
TIGA PULUH EMPAT
1. Pada hari Pendamaian ini, berikanlah kiranya padaku pengampunan-Mu, dan aku pun akan mengampuni-Mu, sehingga dapatlah kita kembali berjalan berdampingan.
2. Bangkitlah dan teruslah membuktikan bahwa perjuanganmu ada artinya, sebab sekarang engkau sudah belajar menyeberangi arus yang tak terhindarkan. Tapi engkau menyeberang dengan penuh harga diri, engkau telah mengarahkan perahumu dengan baik dan mengubah penderitaan menjadi tindakan.
3. Bertindaklah bijaksana, sebagaimana orang-orang yang telah diberi kesempatan kedua; jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jangan lupakan alasanmu diberi kehidupan.
TIGA PULUH LIMA
1. Akbar memang perlu dihancurkan dulu, agar semua orang bisa menyadari kekuatan yang selama ini tertidur di dalam diri mereka.
2. Kita telah melaksanakan kewajiban kita kepada Tuhan. Kita telah menerima tantangan-Nya dan kehormatan yang diberikan-Nya karena Dia mau bergulat melawan kita.
3. Pergulatan dengan Tuhanlah yang membuat kita bertumbuh dan diberkati. Kita meraih kesempatan yang muncul dalam tragedi itu, dan melaksanakan kewajiban kita kepada-Nya, dengan membuktikan kita sanggup mematuhi perintah-Nya untuk berjalan. Bahkan dalam situasi paling berat pun kita maju terus.
4. Ada kalanya Tuhan menuntut kepatuhan. Tapi ada kalanya juga Dia ingin menguji tekad kita, dan menantang kita untuk memahami kasih-Nya.
5. Lama berselang angin padang pasir telah menyapu bersih jejak-jejak kaki kita di pasir. Tapi dalam setiap detik kehidupanku, aku ingat apa yang terjadi; engkau masih tetap menghiasi mimpi-mimpiku dan hari-hariku. Terima kasih telah menemukan aku.
TIGA PULUH ENAM
1. Apa gunanya bala tentara kuat, kalau kami sudah tahu sebelumnya dimana mereka akan menyerang?
TIGA PULUH TUJUH
1. Dan sesudah beberapa lama, datanglah firman TUHAN kepada Elia dalam tahun yang ketiga: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada Ahab, sebab Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi" (I Raja-raja 18:1)
TIGA PULUH DELAPAN
1. Tuhan menghendaki engkau kembali untuk membebaskan bangsamu. Pergulatanmu dengan Dia telah berakhir, dan--pada saat ini--dia telah memberkatimu. Dia mengizinkanmu pergi untuk meneruskan karya-Nya di tanah itu.
2. Dan ingatlah kembali kata-kata Tuhan kepada Musa: "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu (Ulangan 8:2, 12-14).
3. Akbar akan tetap hidup tanpa dirimu, sebab engkau telah meninggalkan warisanmu pada mereka. Dan warisan itu akan tetap hidup hingga bertahun-tahun kemudian.
TIGA PULUH SEMBILAN
1. Yang terutama tuliskanlah semuanya itu di dalam hatimu; di sana sabda-sabda itu tidak bisa dibakar atau dihancurkan, dan kau akan membawanya bersamamu kemanapun engkau pergi.
2. Kau telah belajar membaca kehendak Tuhan, jadi tidak ada yang perlu kujelaskan lagi kepadamu.
3. Kesedihan yang kau lihat di mataku adalah bagian dari kisahku. Kesedihan tidak akan bertahan lama kalau kita melangkah ke arah yang sejak dulu kita impikan.
4. Kita harus selalu tahu, kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan sukacita dan makna hidup kita sebenarnya. Dan ada resiko kita akan diguncang hebat oleh Tuhan.
5. Kalau kita berada di tempat tinggi, kita melihat segala sesuatunya begitu kecil. Kepuasan dan kesedihan kita tidak lagi terasa penting. Segala pencapaian dan kehilangan kita tertinggal di bawah sana. Dari ketinggian gunung, kita bisa melihat betapa luasnya dunia ini, dan betapa lebar cakrawala-cakrawalanya.
6. Tuhan Mahakuasa. Kalau Dia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Mahakuasa. Justru karena kemahakuasaan-Nya itu, Dia memilih hanya berbuat kebaikan. Saat kita tiba di akhir cerita, barulah kita melihat bahwa seringkali hal-hal yang baik datang dalam kemasan yang kelihatannya jahat, tapi Dia terus mendatangkan kebaikan, dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi manusia.
EMPAT PULUH
1. Tuhan tidak pernah memilih secara acak tempat-tempat yang telah ditentukan-Nya untuk didiami manusia.
EMPAT PULUH SATU
1. Matius 17:10-13; Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka". Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.
PAULO COELHO
THE FIFTH MOUNTAIN
TIGA
1. Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis yang berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. Tanpa itu, segala sesuatu di dalam jiwa tersebut akan mati, meski raganya masih terus hidup, dan orang-orang akan berkata, "Di dalam tubuh ini pernah hidup seorang manusia".
2. Orang yang berjalan menyongsong takdirnya seringkali diharuskan berpindah jalur. Pada saat lain, kekuatan-kekuatan di sekitar dirinya terlalu kuat, sehingga dia terpaksa melepaskan keberaniannya dan menyerah. Semua ini bagian dari proses latihanmu.
3. Aku orang yang telah menemukan kedamaian. Aku bisa hidup di padang pasir, mencari makanan untuk diriku sendiri dan merenungkan keindahan ciptaan Tuhan yang tak ada habisnya. Di dalam diriku ternyata bersemayam jiwa yang lebih mulia daripada yang kukira.
4. Engkau telah menemukan jalanmu, tapi janganlah engkau menghancurkan sebelum belajar membangun kembali.
EMPAT
1. Kalau ada yang meminta pertolongan padaku, berarti keberadaanku di dunia ini masih ada gunanya.
LIMA
1. Aku bukan melarikan diri, aku sedang menunggu saat yang tepat untuk pulang kembali.
2. Segala sesuatunya terjadi seperti telah digariskan Allah. Ada saat-saat kita mengalami cobaan-cobaan, dan ini tak bisa dihindari. Tapi ada alasannya kenapa semua itu terjadi.
3. Cara terbaik untuk mengenal dan menghancurkan musuh adalah dengan berpura-pura menjadi temannya.
ENAM
1. Kami tahu semakin berbahaya seseorang, semakin tinggi nilai kepalanya.
TUJUH
1. Kalau kita menunjukkan bahwa kita memperlakukan salah satu nabi mereka dengan baik, mereka pun akan menunjukkan kemurahan hatinya pada kita.
DELAPAN
1. Hanya seorang ibu yang bisa merasakan saat jiwa putranya hendak direnggutkan.
SEMBILAN
1. Kenapa aku harus melakukannya? Agar nama Tuhan dimuliakan.
2. Semua orang berhak meragukan tugas yang diperintahkannya kepadanya dan mengabaikannya sesekali, namun dia tidak boleh melupakannya. Sebab siapapun yang tidak meragukan dirinya sendiri berarti tidak layak-- sebab dengan keyakinan penuh akan kemampuannya, berarti dia telah berbuat dosa kesombongan. Diberkatilah mereka yang mengalami saat-saat ragu.
SEPULUH
1. Seringkali nasib manusia tidak ada kaitannya dengan keyakinannya ataupun ketakutannya.
2. Apa gunanya membangkitkan orang mati kalau tak seorangpun percaya dari mana sumber kekuatan itu berasal?
3. Memang tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuatan. Tapi semua orang memiliki kekuatan dari Tuhan dan tidak menggunakannya.
4.Tuhan membutuhkanmu untuk membangun kembali negerimu. Engkau akan kembali ke negerimu kalau engkau telah belajar untuk membangun kembali.
SEBELAS
1. Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya dan paling kuat adalah kata-kata. Belati dan tombak meninggalkan bekas darah, anak panah bisa terlihat dari kejauhan. Racun bisa dideteksi dan dihindari. Tapi kata-kata bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak.
DUA BELAS
1. Ada hal-hal yang tidak bisa dihindari dalam sejarah dunia ini, dan kita mesti menerimanya.
2. Tidak ada yang kutakuti selain dua hal ini: Tuhan dan diriku sendiri.
3. Kau lihat Gunung Kelima itu? Dari arah manapun kau melihatnya, gunung itu kelihatan berbeda, padahal dia gunung yang sama. Begitu pula halnya seluruh ciptaan: mereka merupakan cerminan wajah berbeda dari Tuhan yang sama.
4. Kalau kita menunda-nunda panen, buahnya menjadi busuk. Tapi kalau kita menunda-nunda membereskan masalah, mereka jadi bertambah.
5. Pejuang yang hebat adalah yang berhasil mengubah musuh menjadi sahabat.
TIGA BELAS
1. Cinta bisa menjadi pengalaman yang lebih menakutkan daripada berdiri di hadapan prajurit yang memegang anak panah ditujukan ke jantungnya. Kalau anak panah itu mengenai sasarannya, dia akan mati dan selanjutnya terserah Tuhan. Tapi kalau cinta menghinggapinya, dia sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap konsekuensi-konsekuensinya.
2. Seperti inilah kebebasan: bisa merasakan apa yang dihasratkan hati, tanpa perlu memikirkan pendapat orang lain. Dia merasa bebas, sebab cinta membebaskan.
EMPAT BELAS
1. Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang minta dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta.
2. Tuhan adalah gembalaku. Dia menyegarkan jiwaku. Dia membimbing aku ke air yang tenang. Dan Dia tidak akan membiarkan aku melupakan makna hidupku.
3. Belajarlah sesuatu. Pada saat ini, banyak orang berhenti menjalani kehidupan. Mereka tidak marah, juga tidak berseru-seru memprotes; mereka sekadar menunggu waktu berlalu. Mereka tidak menerima tantangan kehidupan, jadi kehidupan pun berhenti memberikan tantangan pada mereka. Kau juga mengambil resiko yang sama; tunjukkan reaksi, hadapi hidup, tapi jangan berhenti hidup.
4. Mulailah melakukan sesuatu, dengan begitu waktu bisa menjadi sahabatmu, bukan musuh.
LIMA BELAS
1. Saat pertempuran dimulai, yang kau hadapi bukanlah musuh yang kekuatannya lebih kecil, karenanya kau tidak bisa dianggap pengecut yang menindas yang lebih lemah.
ENAM BELAS
1. Orang-orang yang bahagia akan lebih produktif.
2. Aku merindukan negeriku dan ingin kembali kesana. Kalau aku menyibukkan diri, aku jadi merasa berguna, dan lupa bahwa aku orang asing disini.
TUJUH BELAS
1. Manfaatkan setiap saat sebaik-baiknya sehingga kelak engkau tidak menyesali dan tidak meratapi masa mudamu yang akan berlalu. Dalam setiap masa kehidupan manusia, Tuhan memberikan kekhawatirannya sendiri-sendiri.
DELAPAN BELAS
1. FIRMAN TUHAN kepada Musa:
"Katakan pada mereka, 'Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu, janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya. Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya'.
SEMBILAN BELAS
1. Tuhanlah yang menentukan kapan aku harus mati. Dia yang memutuskan, bukan engkau.
2. Tidak ada yang namanya kesempatan langka. Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada manusia.
3. Yang paling mahir adalah dia yang memiliki sifat batu. Tanpa menghunus pedang, dia bisa membuktikan tak seorangpun sanggup mengalahkannya.
4. Kita bisa menarik pelajaran dari semua pertempuran dalam hidup ini, meski kita kalah. Kalau kau pejuang yang baik, kau tidak akan menyalahkan dirimu, tapi kau juga tidak akan mengulangi kesalahanmu.
5. Sebab manusia harus memilih. Disitulah letak kekuatannya; kesanggupannya untuk memilih.
6. Segala sesuatu ada alasannya: engkau tinggal memilah-milah mana yang sementara dan mana yang abadi. Manakah yang sementara? Yang tak terhindarkan. Dan manakah yang abadi? Pelajaran-pelajaran yang dipetik dari yang tak terhindarkan.
DUA PULUH
1. Rasa takut akan terus ada, sampai yang tak terhindarkan terjadi. Setelah itu, kita tak boleh membuang-buang energi kita untuk rasa takut.
DUA PULUH SATU
1. Aku menemukan ini: aku sendirilah yang menentukan makna hidupku.
2. Rasa takut berhenti setelah mencapai titik yang tak bisa dielakkan. Mulai dari situ, rasa takut itu tidak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah harapan bahwa kita telah membuat keputusan yang benar.
3. Perjalanan kita akan sangat jauh, dan kita tidak bisa beristirahat sebelum aku menyelesaikan tugas yang diberikan-Nya padaku. Namun cintamu akan menguatkan aku dan kalau nanti aku lelah melakukan pertempuran demi membela nama-Nya, aku akan mencari kedamaian dalam pelukanmu.
4. Rasa takut membuat orang memanjatkan doa, dan hasilnya adalah keberanian.
DUA PULUH DUA
1. "Tuhan, perbuatlah padaku sekehendak-Mu, sebab aku telah mengabdikan hidup dan matiku untuk kemuliaan nama-Mu".
2. Aku sangat ingin kau tetap bersamaku. Aku ingin kau mengajariku mencintai; hatiku sudah siap sekarang.
1. Orang-orang yang bahagia akan lebih produktif.
2. Aku merindukan negeriku dan ingin kembali kesana. Kalau aku menyibukkan diri, aku jadi merasa berguna, dan lupa bahwa aku orang asing disini.
TUJUH BELAS
1. Manfaatkan setiap saat sebaik-baiknya sehingga kelak engkau tidak menyesali dan tidak meratapi masa mudamu yang akan berlalu. Dalam setiap masa kehidupan manusia, Tuhan memberikan kekhawatirannya sendiri-sendiri.
DELAPAN BELAS
1. FIRMAN TUHAN kepada Musa:
"Katakan pada mereka, 'Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu, janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya. Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya'.
SEMBILAN BELAS
1. Tuhanlah yang menentukan kapan aku harus mati. Dia yang memutuskan, bukan engkau.
2. Tidak ada yang namanya kesempatan langka. Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada manusia.
3. Yang paling mahir adalah dia yang memiliki sifat batu. Tanpa menghunus pedang, dia bisa membuktikan tak seorangpun sanggup mengalahkannya.
4. Kita bisa menarik pelajaran dari semua pertempuran dalam hidup ini, meski kita kalah. Kalau kau pejuang yang baik, kau tidak akan menyalahkan dirimu, tapi kau juga tidak akan mengulangi kesalahanmu.
5. Sebab manusia harus memilih. Disitulah letak kekuatannya; kesanggupannya untuk memilih.
6. Segala sesuatu ada alasannya: engkau tinggal memilah-milah mana yang sementara dan mana yang abadi. Manakah yang sementara? Yang tak terhindarkan. Dan manakah yang abadi? Pelajaran-pelajaran yang dipetik dari yang tak terhindarkan.
DUA PULUH
1. Rasa takut akan terus ada, sampai yang tak terhindarkan terjadi. Setelah itu, kita tak boleh membuang-buang energi kita untuk rasa takut.
DUA PULUH SATU
1. Aku menemukan ini: aku sendirilah yang menentukan makna hidupku.
2. Rasa takut berhenti setelah mencapai titik yang tak bisa dielakkan. Mulai dari situ, rasa takut itu tidak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah harapan bahwa kita telah membuat keputusan yang benar.
3. Perjalanan kita akan sangat jauh, dan kita tidak bisa beristirahat sebelum aku menyelesaikan tugas yang diberikan-Nya padaku. Namun cintamu akan menguatkan aku dan kalau nanti aku lelah melakukan pertempuran demi membela nama-Nya, aku akan mencari kedamaian dalam pelukanmu.
4. Rasa takut membuat orang memanjatkan doa, dan hasilnya adalah keberanian.
DUA PULUH DUA
1. "Tuhan, perbuatlah padaku sekehendak-Mu, sebab aku telah mengabdikan hidup dan matiku untuk kemuliaan nama-Mu".
2. Aku sangat ingin kau tetap bersamaku. Aku ingin kau mengajariku mencintai; hatiku sudah siap sekarang.
DUA PULUH TIGA
1. Hal-hal yang tak terhindarkan ini selalu saja terjadi. Kau butuh disiplin dan kesabaran untuk mengatasinya. Dan harapan. Kalau harapan sudah tidak ada lagi, buat apa membuang-buang tenaga untuk melawan hal yang mustahil.
2. Orang-orang ini pada akhirnya kembali, namun mereka membawa kisah-kisah yang luar biasa. Mereka memperoleh segala sesuatu yang mereka idam-idamkan, sebab mereka tidak dibatasi oleh kekecewaan masa lalu.
3. Kalau engkau tidak puas dengan masa lalumu, lupakanlah sekarang. Bayangkan sebuah kisah baru tentang hidupmu, dan yakinlah. Pusatkanlah pikiranmu hanya pada saat-saat engkau memperoleh apa yang kauidamkan. Kekuatan ini akan membantumu meraih yang kau inginkan.
DUA PULUH EMPAT
1. Ingatlah perbuatan-perbuatan baik yang pernah kau lakukan, semua itu akan memberimu keberanian.
2. Segala sesuatu yang seharusnya bisa terjadi, tapi tidak terjadi, tak ada gunanya dibicarakan lagi.
3. Hidup ini tergantung pada cara kita menyikapinya. Ada hal-hal tertentu yang telah ditentukan bagi kita untuk dijalani. Alasannya tidaklah penting, dan apapun tindakan kita tidak akan bisa melewatkan takdir itu.
DUA PULUH LIMA
1. Oh Tuhan, pertempuran ini bukanlah antara bangsa Asyur dan Fenisia, melainkan antara Kau dan aku. Kau tidak memberitahukan padaku tentang peperangan kita ini, dan seperti biasanya, Kau keluar sebagai pemenang, dan kehendak-Mu terlaksana.
DUA PULUH ENAM
1. Aku juga sudah hancur lebur, seperti kota ini. Tapi seperti halnya kota ini, aku belum menyelesaikan misiku.
DUA PULUH TUJUH
1. Aku melakukannya untuk anak lelaki yang duduk tertunduk di sana itu: dia harus belajar bahwa hidupnya masih panjang.
2. Kepedihan yang kita rasakan tidak akan pernah hilang, tapi dengan bekerja bisa membantu kita meringankannya. Tubuh yang sudah lelah tidak akan sempat merasakan kesedihan lagi.
3. Kami melakukannya bukan untuk diri kami sendiri. Perempuan itu melakukannya untuk menunjukkan kepada si anak, bahwa masih ada masa depan. Aku sendiri melakukannya untuk menunjukan padanya bahwa masa lalu sudah lewat.
DUA PULUH DELAPAN
1. Dia harus membuktikan pada dirinya, bahwa dia cukup kuat untuk memulihkan harga dirinya.
DUA PULUH SEMBILAN
1. Aku juga pernah jadi anak kecil, dan aku tahu anak-anak tidak mengenal masa lalu.
2. Ada 3 hal yang bisa dipelajari orang dewasa dari anak kecil: merasa bahagia tanpa alasan, selalu sibuk dan ada saja yang dikerjakan, dan bagaimana menuntut sekuat tenaga agar keinginannya dikabulkan.
TIGA PULUH
1. Kadang-kadang kita perlu bergulat dengan Tuhan. Orang yang mencari makna hidupnya dan merasa Tuhan telah bertindak tidak adil padanya, akan menantang takdirnya sendiri dengan berani.
2. Orang-orang pemberani membakar segala yang sudah lama dan meninggalkan segala-galanya--meski harus membayar mahal dengan menanggung penderitaan batin--dan meneruskan langkah ke depan. Orang pemberani selalu keras kepala.
3. Hanya orang yang memiliki api suci di hati mereka berani menantang Tuhan. Dan hanya mereka yang tahu jalan untuk kembali menuju kasih-Nya, sebab mereka mengerti bahwa tragedi bukanlah hukuman melainkan tantangan.
4. Yakub tidak mau membiarkan Allah pergi kalau Allah belum memberkatinya. Pada saat itulah Allah bertanya, "Siapakah namamu?" Itulah poin paling penting: mempunyai nama. Setelah Yakub menjawab, Allah membaptisnya dengan nama baru: Israel. Tiap orang mempunyai nama yang diberikan padanya sejak lahir, tapi dia harus belajar membaptis hidupnya dengan kata yang telah dipilihnya untuk memberi makna bagi hidup tersebut.
5. Saat untuk merasa takut dan memendam harapan sudah lewat: sekarang yang ada hanyalah membangun kembali, atau menyerah kalah.
6. Apa yang kita kira sebagai tantangan terhadap Tuhan sebenarnya justru membawa kita kembali kepada Tuhan.
TIGA PULUH SATU
1. Musuh hanyalah alat ntuk menguji kekuatan kita.
TIGA PULUH DUA
1. Hanya anak-anak yang berhasil mengatasi tragedi, sebab mereka tak punya masa lalu--bagi mereka yang paling penting adalah saat ini.
2. Bisakah orang melupakan kesedihan yang ditimbulkan oleh kehilangan? Tidak, tapi dia bisa menemukan sukacita karena keberhasilannya.
3. Aku tidak ingin berdebat apakah Allahku lebih kuat atau lebih berkuasa; aku tidak ingin membicarakan perbedaan-perbedaan kita. Aku lebih tertarik pada kesamaan-kesamaan kita. Tragedi ini telah menyatukan kita dalam satu rasa: putus asa. Sebab kita mengira segala sesuatu bisa ditemukan jawabannya dan diputuskan dalam jiwa kita; dan kita tidak bisa menerima perubahan.
4. Pejuang selalu tahu apa yang layak diperjuangkan. Dia tidak akan maju perang demi hal-hal yang bukan urusannya, dan dia tidak membuang-buang waktu untuk provokasi.
5. Tragedi selalu terjadi, maka sudahlah. Untuk seterusnya kita mesti mengenyahkan rasa takut yang dibangkitkannya dalam diri kita, dan mulai membangun kembali.
TIGA PULUH TIGA
1. Yakub bergulat dengan-Mu sepanjang malam dan mendapat berkat-Mu menjelang fajar. Aku telah melawan-Mu selama berhari-hari, berbulan-bulan, dan Kau tetap menolak mendengarkan permohonanku. Aku akan melawan-Mu sampai Engkau memberkati aku dan memberkati juga buah-buah kerja kerasku. Suati hari nanti Engkau akan terpaksa menjawabku.
TIGA PULUH EMPAT
1. Pada hari Pendamaian ini, berikanlah kiranya padaku pengampunan-Mu, dan aku pun akan mengampuni-Mu, sehingga dapatlah kita kembali berjalan berdampingan.
2. Bangkitlah dan teruslah membuktikan bahwa perjuanganmu ada artinya, sebab sekarang engkau sudah belajar menyeberangi arus yang tak terhindarkan. Tapi engkau menyeberang dengan penuh harga diri, engkau telah mengarahkan perahumu dengan baik dan mengubah penderitaan menjadi tindakan.
3. Bertindaklah bijaksana, sebagaimana orang-orang yang telah diberi kesempatan kedua; jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. Jangan lupakan alasanmu diberi kehidupan.
TIGA PULUH LIMA
1. Akbar memang perlu dihancurkan dulu, agar semua orang bisa menyadari kekuatan yang selama ini tertidur di dalam diri mereka.
2. Kita telah melaksanakan kewajiban kita kepada Tuhan. Kita telah menerima tantangan-Nya dan kehormatan yang diberikan-Nya karena Dia mau bergulat melawan kita.
3. Pergulatan dengan Tuhanlah yang membuat kita bertumbuh dan diberkati. Kita meraih kesempatan yang muncul dalam tragedi itu, dan melaksanakan kewajiban kita kepada-Nya, dengan membuktikan kita sanggup mematuhi perintah-Nya untuk berjalan. Bahkan dalam situasi paling berat pun kita maju terus.
4. Ada kalanya Tuhan menuntut kepatuhan. Tapi ada kalanya juga Dia ingin menguji tekad kita, dan menantang kita untuk memahami kasih-Nya.
5. Lama berselang angin padang pasir telah menyapu bersih jejak-jejak kaki kita di pasir. Tapi dalam setiap detik kehidupanku, aku ingat apa yang terjadi; engkau masih tetap menghiasi mimpi-mimpiku dan hari-hariku. Terima kasih telah menemukan aku.
TIGA PULUH ENAM
1. Apa gunanya bala tentara kuat, kalau kami sudah tahu sebelumnya dimana mereka akan menyerang?
TIGA PULUH TUJUH
1. Dan sesudah beberapa lama, datanglah firman TUHAN kepada Elia dalam tahun yang ketiga: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada Ahab, sebab Aku hendak memberi hujan ke atas muka bumi" (I Raja-raja 18:1)
TIGA PULUH DELAPAN
1. Tuhan menghendaki engkau kembali untuk membebaskan bangsamu. Pergulatanmu dengan Dia telah berakhir, dan--pada saat ini--dia telah memberkatimu. Dia mengizinkanmu pergi untuk meneruskan karya-Nya di tanah itu.
2. Dan ingatlah kembali kata-kata Tuhan kepada Musa: "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu (Ulangan 8:2, 12-14).
3. Akbar akan tetap hidup tanpa dirimu, sebab engkau telah meninggalkan warisanmu pada mereka. Dan warisan itu akan tetap hidup hingga bertahun-tahun kemudian.
TIGA PULUH SEMBILAN
1. Yang terutama tuliskanlah semuanya itu di dalam hatimu; di sana sabda-sabda itu tidak bisa dibakar atau dihancurkan, dan kau akan membawanya bersamamu kemanapun engkau pergi.
2. Kau telah belajar membaca kehendak Tuhan, jadi tidak ada yang perlu kujelaskan lagi kepadamu.
3. Kesedihan yang kau lihat di mataku adalah bagian dari kisahku. Kesedihan tidak akan bertahan lama kalau kita melangkah ke arah yang sejak dulu kita impikan.
4. Kita harus selalu tahu, kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan sukacita dan makna hidup kita sebenarnya. Dan ada resiko kita akan diguncang hebat oleh Tuhan.
5. Kalau kita berada di tempat tinggi, kita melihat segala sesuatunya begitu kecil. Kepuasan dan kesedihan kita tidak lagi terasa penting. Segala pencapaian dan kehilangan kita tertinggal di bawah sana. Dari ketinggian gunung, kita bisa melihat betapa luasnya dunia ini, dan betapa lebar cakrawala-cakrawalanya.
6. Tuhan Mahakuasa. Kalau Dia membatasi diri-Nya hanya dengan melakukan apa yang baik, Dia tidak bisa disebut Mahakuasa. Justru karena kemahakuasaan-Nya itu, Dia memilih hanya berbuat kebaikan. Saat kita tiba di akhir cerita, barulah kita melihat bahwa seringkali hal-hal yang baik datang dalam kemasan yang kelihatannya jahat, tapi Dia terus mendatangkan kebaikan, dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi manusia.
EMPAT PULUH
1. Tuhan tidak pernah memilih secara acak tempat-tempat yang telah ditentukan-Nya untuk didiami manusia.
EMPAT PULUH SATU
1. Matius 17:10-13; Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka". Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.
PAULO COELHO
THE FIFTH MOUNTAIN

No comments:
Post a Comment