January 26, 2022

ARE YOU A TAKER OR A GIVER?

"Wherefore I say unto thee, her sins, which are many, are forgiven; for she loved much: but to whom little is forgiven, the same loveth little" (Luke 7:47, KJV).


Beberapa waktu lalu ada temen yang tiba2 ngetag aku di IG story en masang foto jar cookies yang udah kosong en nulis "abis...mau lagi donk enak". Bener2 ga tau diri sih yaa, udah dikasi gratis eh beraninya minta lagi, tanpa berpikir untuk ngasi balik. Padahal selama 2 taon lebih, orang itu banyak curcol, minta saran, konseling, bahkan ngerepoti aku sampai tengah malem. Ahahahaha.


Sampai akhirnya ada beberapa orang yang aku kasi tarif tiap kali mau konseling, karena mereka tuh tipe taker yang cuma mau ambil untung dalam bangun hubungan denganku. Aku punya skill yang kudapet dengan bayar harga en butuh waktu bertaon2, aku ga mau orang2 take me for granted anymore. Bukannya oportunis sih, tapi itu caraku menyeleksi sekaligus "menyingkirkan" orang2 yang ga tau diri dari hidupku. Wkwkwkwkwk.


Aku makin paham bahwa not everyone is a giver, but everyone born as a taker. Sejak lahir kita ngertinya meminta, menuntut, memanipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita as a baby. Tapi dengan berkembangnya karakter en usia, seharusnya kita sadar betapa pentingnya untuk berkontribusi dalam kehidupan. Take and give tuh bukan sekedar motto tapi harus jadi gaya hidup.


Ga semua orang yang udah menerima tuh bisa otomatis bisa jadi seorang pemberi, karena ga semua orang sadar arti penting dari memberi. Ga semua orang yang kaya ato mampu tuh bisa dengan murah hati memberi, karena memberi tuh nilai Kerajaan Sorga. Hanya orang2 yang hatinya udah dijamah oleh Tuhan yang bisa dengan mudah memberi karena sadar dirinya sudah banyak diberi.


Aku makin sadar bahwa dalam kehidupan ini ga banyak orang yang bener2 ngerti arti hidup en value. Memberi itu bukan soal punya ato nggak, tapi dari hati yang bener2 sadar bahwa kita sangat diberkati en perlu untuk berbagi ke orang lain sebagai bentuk kasih. Hanya hati yang sudah diubahkan yang bisa dengan mudah memberi dan berbagi, karena kita merasakan berkat yang melimpah yang dari Tuhan sendiri.


Aku tau bahwa banyak orang yang mampu bahkan kaya tapi punya mentalitas miskin, sehingga mereka hanya bisa mengambil dan mengeruk, bukannya memberi. Esensi memberi itu ada nilai pengorbanannya, namun ada efek sukacita yang ga terkatakan. Memberi tuh bener2 menyenangkan ketika kita punya mindset bahwa kita sangat diberkati, sangat berkelimpahan, sehingga kita ga takut kekurangan.


Ada 1 kejadian yang menurutku cukup unik hari Sabtu kemarin. Pagi itu aku ngajak diskusi salah 1 anak buahku yang kuliat selalu overload ama kerjaannya. Aku menelaah apa yang jadi permasalahannya berdasarkan apa yang kuliat selama 2 minggu, aku tanya apa aja jobdesknya lalu tanya detail prosedur yang dia jalankan, lalu kasi dia 2 metode untuk dia coba supaya kerjanya lebih efektif. For me is a piece of cake, but she almost cry when I gave my suggestion. Aku baru tau kalo selama ini dia udah curcol kanan kiri but no one give her a support or suggestion, mereka cuma menyepelekan en nganggep orang ini lebay.


I know as a manager, my main jobdesk is not only to accomplish daily task, but also to give impact to others. Aku tau bahwa goal-ku bukan hanya kerja, tapi bawa anak buahku mencapai potensi terbaik mereka serta bisa enjoy dalam pekerjaannya. Dan aku sangat menikmati posisi baru yang kujalani saat ini en aku berniat untuk adakan beberapa perubahan dalam jobdesk anak buahku.


Sorenya ketika pulang, aku evaluasi gimana kerjaan anak buahku itu, en dia bilang kalo dia jadi lebih bisa ngatur dengan baik. Lalu dia ngasi aku salak (FYI kami dapet jatah lunch en buah tiap hari) sebagai ucapan terima kasih. It's a simple thing sih, toh buah itu juga dapetnya gratis dari kantor, tapi 1 hal yang aku liat dari orang ini adalah dia tau etika. Dia ga mau menerima saranku gitu aja, but she has a good value, she know how to appreciate someone's kindness.


Aku tau hal itu bukan hal yang wajar dilakukan oleh orang seperti dia, apalagi yang kulakukan "hanya kasi saran". Tapi aku menilai karakter en value-nya, aku rasa orang ini berpotensi untuk dibentuk en dikasi kesempatan untuk berkembang lebih lagi. Thank God for gimme a people like her. And I thank God for gimme parents who taught me to be a generous giver.



No comments: