Tanpa kita sadari, agenda kita penuh dengan jadwal, meeting, rencana, maupun tugas yang harus kita selesaikan. Deadline adalah sesuatu yang membantu kita semakin sibuk dan bekerja keras. Bangun tidur di pagi hari, kita tak lupa mengecek agenda kita, agar kita tahu hari ini apa saja yang harus kita lakukan. Sibuk ini, sibuk itu, harus melakukan ini dan itu, ada janji bertemu dengan si A dan si B.
Kesibukan dan jadwal bukanlah suatu hal yang salah. Kehidupan manusia memang dipenuhi dengan semua jadwal, rencana, tugas, dan tujuan. Namun ketika kita semakin tenggelam dalam kesibukan dan rutinitas itulah yang menjadi masalah. Terutama ketika kita mulai mengabaikan hal- hal yang terpenting, seperti Tuhan, keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan sebagainya.
Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah artikel sederhana. Initnya tentang seorang profesor yang membawa sebuah toples, bola golf, batu koral, pasir, dan secangkir kopi ketika masuk ke kelas untuk mengajar. Profesor itu memasukkan bola golf ke dalam toples, kemudian bertanya kepada murid- muridnya, “Apakah toples tersebut sudah penuh?” Murid-muridnya menjawab, “Sudah”. Kemudian sang profesor memasukkan batu koral ke dalam toples, segera saja batu koral itu mengisi setiap tempat yang masih disisakan oleh bola golf. Lalu profesor bertanya lagi, “Apakah sekarang toples ini sudah terisi penuh?” Murid-muridnya menjawab, “Yes”.
Sekali lagi sang professor memasukkan pasir ke dalam toples, dan bertanya lagi, “Apakah menurut kalian, sekarang toples ini sudah penuh?” Murid-muridnya sekali lagi menjawab, “Tentu saja”. Untuk terkahir kali, profesor menuangkan secangkir kopi ke dalam toples, sehingga tidak ada lagi tempat yang tersisa. Murid-muridnya bersorak dan sepakat mengatakan bahwa toples telah terisi penuh.
Sang profesor menjelaskan bahwa toples itu melambangkan hidup kita. Kemudian bola golf melambangkan hal- hal yang utama dalam hidup ini, yaitu Tuhan, keluarga, kesehatan. Batu koral melambangkan hal- hal yang penting, antara lain pekerjaan, keuangan. Pasir melambangkan hal- hal yang kurang penting, seperti hobi. Sedangkan kopi melambangkan, dalam kesibukan kita, selalu ada waktu untuk secangkir kopi bersama sahabat.
Kemudian sang profesor melanutkan penjelasannya, ketika kita memasukkan hal- hal yang kurang penting dalam hidup ini, maka tidak ada lagi tempat untuk hal- hal yang penting dan utama. Namun ketika kita memasukkan hal- hal yang utama terlebih dahulu, maka masih ada tempat untuk hal- hal yang penting dan kurang penting. Hal ini berbicara tentang kebijaksanaan dalam mengatur prioritas.
Hari ini, ketika kita membaca kisah di atas, coba kita merenung sejenak tentang hidup kita. Apakah selama ini kita telah mengatur prioritas dengan tepat? Apakah kita justru salah menempatkan prioritas dalam hidup kita? Apakah ada prioritas yang perlu kita atur ulang?
Biarlah semakin hari kita bukan hanya semakin sibuk dengan banyak hal yang harus kita lakukan, tapi marilah kita menjadi produktif atas setiap hal yang kita kerjakan dalam hidup kita. Ketika kita mengutamakan apa yang utama, maka dapat dipastikan bahwa hidup kita akan menghasilkan buah yang kekal, bukan hanya tenggelam dalam kesibukan dan rutinitas. Ketika kita menaruh Tuhan di posisi yang benar, maka semua hal dalam hidup kita akan berada di tempat yang benar dan hidup kita akan menjadi semakin berarti.
Ketika kita hanya sibuk dengan jadwal dan rencana kita, maka kita cenderung hanya menghasilkan hal- hal yang biasa. Namun ketika kita mengutamakan hal yang utama, memperhatikan apa yang prioritas, maka hidup kita menghasilkan buah yang baik, yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Kesibukan menghasilkan rasa lelah dan sedikit uang, namun produktivitas akan menghasilkan buah yang kekal, rasa puas, dan kemuliaan bagi Tuhan.
Nov 23th, 2011
12:55 pm
No comments:
Post a Comment