March 8, 2013

MULUTMU HARIMAUMU!



Post ini sempet aku turunkan dari blog karena berbagai pertimbangan. Tapi, makin lama aku makin banyak ngeliat orang-orang yang berlabelkan “Kristen”, bahkan pemimpin rohani yang nggak paham akan bahaya sebuah lidah. So, akhirnya aku memutuskan untuk publish lagi post ini dengan tujuan agar orang-orang yang membacanya bisa berjaga-jaga minimal atas mulutnya sendiri, supaya nama Tuhan jangan sampai dihujat orang.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Amsal 18:21).
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar” (Yakobus 3:5).
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33).
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11).


Jumat lalu (1 Maret 2013), aku sempet marah di menara doa. Waow, seorang Lucy terkenal sangat pendiam di menara bisa marah juga ternyata yah :P Waktu itu yang dateng cuma 7 orang. Pas aku dateng, ada 2 orang yang guyonan nggak karuan. Aku nggak nganggep mereka waktu itu, tapi aku liatin trus supaya mereka nyadar, tapi nggak nyadar jugak. Nggak lama setelah aku dateng, ada 1 orang lagi yang dateng (cece ini se-CG sama mereka berdua sekaligus ketua CG mereka).

Awalnya aku diemin aja, tapi tambah lama tambah gila guyonannya. Mereka saling hina satu sama lain, gojlok-gojlokan, pokoknya nggak karuan sama sekali deh. Trus diperparah waktu itu sama salah seorang cece yang dipercaya untuk mimpin menara hari itu, ngomong dengan sombongnya ke kedua temennya itu (karena kedua temennya itu ada pertemuan untuk pemimpin en calon pemimpin CG), “Kalian berdua nggak keluar ta? Aku mau mimpin”. Dalem hati aku langsung dongkol, “Ih, sombong banget, selama ini mimpin nggak pernah bener ae kok sombong banget seh”. Akhirnya ekspresi wajahku berubah karena nahan emosi. Nah pas itu, aku duduk berhadapan sama pemimpinku. Pemimpinku sadar kalo ekspresiku berubah en nanya ke aku, ada apa. Aku cuma bilang kalo aku nggak suka sama suasananya. Trus pemimpinku tanya lagi, kenapa. Aku jawab kalo ini kan menara doa, bukan tempat untuk guyonan kaya gitu. Pas aku jawab kaya gitu, ketiga orang geje itu kaget en langsung mematung. Pemimpinku juga nggak nyangka aku bakal jawab kaya gitu.

Sebenernya, udah lama banget aku keganggu sama model ketiga orang itu. Secara umur, mereka lebih tua dari aku 11-12 tahun, tapi cara ngomong, sikap, en tindakan mereka lebih childish daripada aku. Nggak jarang aku jengkel ngeliat mereka yang nggak bisa komitmen dalam pelayanan (pelayanan cuma 1 minggu sekali, itupun mereka belom tentu dateng 1 kali dalam sebulan!), trus hidup mereka yang kayak orang yang di luar Tuhan. Belom lagi mereka bertiga tuh pergaulannya eksklusif, cuma deket satu sama lain, nggak bisa membaur sama anggota menara yang lain. Pokoknya waktu itu numpuk puk trus langsung duaaar deh.

Aku marah bukan karena dendam pribadi. Tapi karena mereka tuh nggak nunjukkin sikap seorang hamba Tuhan. Kami semua ini pendoa, tapi nggak semua punya karakter seorang pendoa. Nggak semua punya karakter seperti Kristus (bahkan ada orang yang nggak punya hati yang mau ditegur en diajar alias ngerasa diri paling sempurna di muka bumi), nggak semua bisa pakai mulutnya dengan bener. Kalo kamu pendoa, please deh jaga hidupmu (termasuk sikap en mulutmu) dengan lebih ekstra. Jangan asal cuap-cuap aja. Gimana bisa mulutmu dipakai Tuhan untuk berdoa memberkati orang lain kalo kamu nggak jaga mulutmu dengan baik?

Aku aja yang denger guyonan mereka tuh sama sekali nggak ngerasa lucu malah eneg, bahkan ngerasa kalo mending mereka diem daripada saling hina kaya gitu. Bukankah seharusnya mulut kita dipakai untuk saling memberkati, saling menguatkan, saling membangun? En gimana bisa mulutmu mengucapkan perkataan dengan penuh kuasa kalo kamu nggak pernah jagai apa yang masuk ke dalam hidupmu (termasuk dengan siapa kamu bergaul)?

Yah, pengalaman itu menyadarkan aku akan satu hal. Aku nggak boleh diem terus kalo ngeliat sesuatu yang nggak bener, apalagi kalo yang nggak bener tuh diterus-terusin. Inget loh “penghakiman dimulai dari rumah Tuhan” (lihat I Petrus 4:7). Jadi, kalo kamu menyebut dirimu adalah anak Tuhan, hamba Tuhan, ato pelayan Tuhan, please jaga hidupmu dengan lebih baik lagi. Jangan sampai karena kehidupanmu yang nggak berubah, nama Tuhan jadi dihina atau dihujat oleh orang yang belum mengenal Kristus. Inget, kalo pelayan Tuhan tuh hidupnya disorot, dituntut lebih daripada jemaat biasa, en kepadamu dipercayakan nama Tuhan.

Aku harap kemarahan singkatku hari itu menempelak hidup mereka en membuat mereka berubah. Semoga aja mereka sadar en bertobat, karena aku rindu tim menara ini jadi orang-orang yang dipercayai Tuhan secara luar biasa. Amin.


March 8th 2013
12:34 pm



No comments: