Beberapa bulan terakhir adalah bulan-bulan yang sangat gelap buat aku.
Aku bergumul dengan banyak luka, kekecewaan, kemarahan, dan berbagai emosi
negatif lainnya. Tapi puji Tuhan, tangan-Nya memulihkan setiap bagian hatiku
dengan sempurna.
Awalnya, sulit untuk aku merespon dengan benar ketika aku diperlakukan nggak adil, sulit menerima kenyataan bahwa aku dikecewakan lagi oleh orang yang menyebut dirinya pemimpin rohani tapi kelakuannya nggak rohani blas, sulit banget untuk mengampuni ketika aku berkali-kali dihakimi. Kecewa banget dengan semua perlakuan nggak adil yang ada, promosi yang nggak pernah dateng, en pertanyaan "Luc, kamu sakit? Nti isa tugas nggak?" yang dialamatkan ke aku tiap kali aku sakit. Bayangkan, saat aku sakit nggak pernah ada pertanyaan aku sakit apa, perlu dijenguk ato nggak, tapi sekali lagi tuntutan akan tanggung jawab! Emangnya aku robot ato komoditas yang selalu bisa dikeruk keuntungannya? Dikira aku nggak punya perasaan en kepentingan apa? Itu adalah masa-masa dimana air mata jadi makananku tiap hari, menyendiri jadi hobi baruku, dan kamar jadi tempat persembunyianku. Nggak dateng CG adalah satu-satunya pilihan terbaik buatku saat itu.
Singkat cerita, habis gelap terbitlah terang :D Tuhan menyatakan maksud-Nya yang mulia melalui masa-masa gelap itu. Aku makin merasakan kasih Tuhan yang nyata, yang nggak bisa ditandingi oleh siapapun. Aku makin memahami maksud dan tujuan-Nya yang besar dalam hidupku. Ketika orang-orang berpikir aku tersesat karena kabur dari CG, justru Tuhan membuat aku bertumbuh makin pesat. Siapa bilang pertumbuhan rohani dihasilkan oleh CG? Pertumbuhan yang sejati hanya datang dari keintiman dengan Tuhan sendiri.
Ada 5 hal yang Tuhan berikan sebagai kado saat masa-masa suram itu datang, yang aku tau hal-hal itu nggak akan datang ketika aku berada dalam kondisi baik-baik saja.
Pertama, Tuhan kasi aku waktu-waktu rest yang berkualitas. Rest disini bukan berarti tidur, tapi istirahat dari semua tuntutan pelayanan, tuntutan jabatan, dan tuntutan nggak jelas dari orang-orang di sekitarku. Aku baru tau bahwa aku exhausted sedemikian rupa, karena aku diperlakukan seperti robot yang harus terus bekerja. Tanpa kusadari jiwa en rohku jadi kering, kelelahan dengan semua tuntutan serta tanggungjawab yang nggak ada matinya. Waktu-waktu aku kabur itu, Tuhan kembali memberikan kekuatan yang baru, me-refresh jiwa en rohku, serta memurnikan motivasiku dalam melayani. “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia mambimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23:2-3).
Kedua, Tuhan kasi aku kepercayaan untuk melayani seseorang yang kasusnya sangat parah. Selama 8 tahun aku melayani, belum pernah aku dapet orang yang kasusnya sedemikian berat. Disitulah Tuhan menyatakan, yang kasi aku kepercayaan bukanlah statusku dalam pelayanan, apalagi pemimpin. Tapi kepercayaan sesungguhnya datang dari Tuhan. Sekalipun pemimpin tau kapasitasku, tapi dia nahan-nahan kepercayaan, Tuhan mau buktikan bahwa nggak ada yang bisa nahan jika Dia berkehendak. So, aku nggak perlu berharap promosi datang dari pemimpin. “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Mazmur 76:6-7).
Ketiga, Tuhan jawab doaku dengan kasi aku seorang partner rohani. Yesss! Selama 2-3 tahun terakhir, aku berdoa minta seorang partner lagi sama Tuhan. En finally Tuhan kasi aku seseorang untuk berjalan bareng aku dalam kerohanian, untuk saling membangun, mengasah, menegur, en mempraktekkan kasih Kristus. Thanks God for him! “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkotbah 4:12).
Keempat, Tuhan pulihkan hubunganku dengan partner lamaku. Eniwe, beberapa tahun lalu kami tau kalo kami uda nggak bisa jalan bareng sebagai partner lagi karena Tuhan uda patok bagian yang berbeda untuk kami masing-masing. En puji Tuhan, tahun ini Tuhan kembali bikin kami jalan bareng. How blessed to have him again.
Kelima, yang paling akhir tapi yang krusial buat kehidupanku secara pribadi. Ketika aku kabur dari CG, aku lepaskan semua beban atas tanggung jawab yang nggak masuk akal itu, en Tuhan kasi aku waktu untuk memikirkan hidup en masa depanku. Disitulah Tuhan menyadarkanku, bahwa pelayanan yang hebat nggak cukup, hidupku sendiri juga harus mencapai hal-hal besar. Saat itulah Tuhan re-direction aku ke His big plan. Dia menyatakan kalo aku harus belajar lagi di bidang yang Dia kehendaki sejak awal, karena tujuan-Nya di hidupku bukanlah di bidang accounting& finance. Tuhan ijinkan aku "nyasar" ke jurusan itu hanya supaya aku dapet temen-temen yang luar biasa en supaya karunia menulisku diasah.
Praise the Lord, masa-masa aku menjadi pelarian seperti Daud bukanlah masa yang terbuang sia-sia. Justru masa-masa kelam itu Dia ubahkan jadi masa-masa paling indah. Saat aku tau tujuan-Nya membawaku ke lembah kekelaman, aku nggak berhenti bersyukur. Thanks God, I'm stronger now because of You.
Aku menyadari bahwa masa-masa terkelam Daud merupakan masa-masa dia menghasilkan banyak mazmur yang indah, masa-masa dimana dia bergaul karib dengan Tuhan, masa-masa dimana hatinya dibentuk sedemikian rupa sehingga ia siap menjadi pemimpin atas Israel. Aku tau, itulah yang Tuhan kehendaki buat hidupku. Bukan kehancuran, tapi tunas yang baru dan segar sehingga aku siap melayani dengan hati en karakter yang telah diubahkan.
Awalnya, sulit untuk aku merespon dengan benar ketika aku diperlakukan nggak adil, sulit menerima kenyataan bahwa aku dikecewakan lagi oleh orang yang menyebut dirinya pemimpin rohani tapi kelakuannya nggak rohani blas, sulit banget untuk mengampuni ketika aku berkali-kali dihakimi. Kecewa banget dengan semua perlakuan nggak adil yang ada, promosi yang nggak pernah dateng, en pertanyaan "Luc, kamu sakit? Nti isa tugas nggak?" yang dialamatkan ke aku tiap kali aku sakit. Bayangkan, saat aku sakit nggak pernah ada pertanyaan aku sakit apa, perlu dijenguk ato nggak, tapi sekali lagi tuntutan akan tanggung jawab! Emangnya aku robot ato komoditas yang selalu bisa dikeruk keuntungannya? Dikira aku nggak punya perasaan en kepentingan apa? Itu adalah masa-masa dimana air mata jadi makananku tiap hari, menyendiri jadi hobi baruku, dan kamar jadi tempat persembunyianku. Nggak dateng CG adalah satu-satunya pilihan terbaik buatku saat itu.
Singkat cerita, habis gelap terbitlah terang :D Tuhan menyatakan maksud-Nya yang mulia melalui masa-masa gelap itu. Aku makin merasakan kasih Tuhan yang nyata, yang nggak bisa ditandingi oleh siapapun. Aku makin memahami maksud dan tujuan-Nya yang besar dalam hidupku. Ketika orang-orang berpikir aku tersesat karena kabur dari CG, justru Tuhan membuat aku bertumbuh makin pesat. Siapa bilang pertumbuhan rohani dihasilkan oleh CG? Pertumbuhan yang sejati hanya datang dari keintiman dengan Tuhan sendiri.
Ada 5 hal yang Tuhan berikan sebagai kado saat masa-masa suram itu datang, yang aku tau hal-hal itu nggak akan datang ketika aku berada dalam kondisi baik-baik saja.
Pertama, Tuhan kasi aku waktu-waktu rest yang berkualitas. Rest disini bukan berarti tidur, tapi istirahat dari semua tuntutan pelayanan, tuntutan jabatan, dan tuntutan nggak jelas dari orang-orang di sekitarku. Aku baru tau bahwa aku exhausted sedemikian rupa, karena aku diperlakukan seperti robot yang harus terus bekerja. Tanpa kusadari jiwa en rohku jadi kering, kelelahan dengan semua tuntutan serta tanggungjawab yang nggak ada matinya. Waktu-waktu aku kabur itu, Tuhan kembali memberikan kekuatan yang baru, me-refresh jiwa en rohku, serta memurnikan motivasiku dalam melayani. “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia mambimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23:2-3).
Kedua, Tuhan kasi aku kepercayaan untuk melayani seseorang yang kasusnya sangat parah. Selama 8 tahun aku melayani, belum pernah aku dapet orang yang kasusnya sedemikian berat. Disitulah Tuhan menyatakan, yang kasi aku kepercayaan bukanlah statusku dalam pelayanan, apalagi pemimpin. Tapi kepercayaan sesungguhnya datang dari Tuhan. Sekalipun pemimpin tau kapasitasku, tapi dia nahan-nahan kepercayaan, Tuhan mau buktikan bahwa nggak ada yang bisa nahan jika Dia berkehendak. So, aku nggak perlu berharap promosi datang dari pemimpin. “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain” (Mazmur 76:6-7).
Ketiga, Tuhan jawab doaku dengan kasi aku seorang partner rohani. Yesss! Selama 2-3 tahun terakhir, aku berdoa minta seorang partner lagi sama Tuhan. En finally Tuhan kasi aku seseorang untuk berjalan bareng aku dalam kerohanian, untuk saling membangun, mengasah, menegur, en mempraktekkan kasih Kristus. Thanks God for him! “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkotbah 4:12).
Keempat, Tuhan pulihkan hubunganku dengan partner lamaku. Eniwe, beberapa tahun lalu kami tau kalo kami uda nggak bisa jalan bareng sebagai partner lagi karena Tuhan uda patok bagian yang berbeda untuk kami masing-masing. En puji Tuhan, tahun ini Tuhan kembali bikin kami jalan bareng. How blessed to have him again.
Kelima, yang paling akhir tapi yang krusial buat kehidupanku secara pribadi. Ketika aku kabur dari CG, aku lepaskan semua beban atas tanggung jawab yang nggak masuk akal itu, en Tuhan kasi aku waktu untuk memikirkan hidup en masa depanku. Disitulah Tuhan menyadarkanku, bahwa pelayanan yang hebat nggak cukup, hidupku sendiri juga harus mencapai hal-hal besar. Saat itulah Tuhan re-direction aku ke His big plan. Dia menyatakan kalo aku harus belajar lagi di bidang yang Dia kehendaki sejak awal, karena tujuan-Nya di hidupku bukanlah di bidang accounting& finance. Tuhan ijinkan aku "nyasar" ke jurusan itu hanya supaya aku dapet temen-temen yang luar biasa en supaya karunia menulisku diasah.
Praise the Lord, masa-masa aku menjadi pelarian seperti Daud bukanlah masa yang terbuang sia-sia. Justru masa-masa kelam itu Dia ubahkan jadi masa-masa paling indah. Saat aku tau tujuan-Nya membawaku ke lembah kekelaman, aku nggak berhenti bersyukur. Thanks God, I'm stronger now because of You.
Aku menyadari bahwa masa-masa terkelam Daud merupakan masa-masa dia menghasilkan banyak mazmur yang indah, masa-masa dimana dia bergaul karib dengan Tuhan, masa-masa dimana hatinya dibentuk sedemikian rupa sehingga ia siap menjadi pemimpin atas Israel. Aku tau, itulah yang Tuhan kehendaki buat hidupku. Bukan kehancuran, tapi tunas yang baru dan segar sehingga aku siap melayani dengan hati en karakter yang telah diubahkan.

No comments:
Post a Comment