September 1, 2015

WAITING AND DATING (MYLES MUNROE)

Holaaa... Uda masuk bulan September nih. En masih banyak wishlist-ku yang belom tercapai. Semoga taon ini banyak wishlist yang tergenapi, amen. Hmm, akhir-akhir ini aku banyak dicurhati tentang topik PH (lagi-lagi). Trus ada 1 best friend yang rekomen sebuah buku. Kebetulan aku demen ama penulisnya, so aku beli deh. Toh buat bekalku pribadi en konselingin orang. Penasaran? Check this out!

BAB 1: MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK BERKENCAN
1. Anda siap untuk berkencan pada saat Anda menyadari sepenuhnya manfaat dan bahaya dari berkencan.
2. Anda siap untuk berkencan pada saat Anda sudah terlebih dahulu menerapkan serangkaian pedoman yang jelas bagi perilaku berdasarkan firman Tuhan.
3. Anda siap berkencan pada saat Anda sudah memastikan di dalam roh Anda bahwa Anda tidak akan menurunkan atau mengkompromikan standar-standar tersebut demi alasan apapun, bahkan jika itu berarti harus kehilangan teman kencan.
4. Anda siap untuk berkencan saat Anda tidak memerlukannya.
5. Anda siap untuk berkencan saat Anda sudah belajar terlebih dahulu bagaimana hidup sendirian.
6. Seorang yang utuh mempunyai konsep diri yang sehat.
7. Seorang yang utuh mempunyai iman yang jelas dan teguh.
8. Seorang yang utuh menumbuhkan akarnya sendiri di dalam Tuhan.
9. Anda seharusnya sibuk mempersiapkan diri Anda sendiri untuk siapa pun yang Tuhan sedang persiapkan bagi Anda.
10. Prioritas utama kita sebagai orang-orang percaya adalah mencari Kerajaan dan kebenaran Tuhan.
11. Jangan pernah terlalu sibuk memikirkan siapa yang Anda inginkan sehingga Anda lupa menjadi diri Anda sendiri.
12. Kesatuan pikiran dan tujuan-- berjalan dalam kesepakatan-- adalah jenis hubungan yang orang-orang percaya harus miliki agar mengalami kuasa Tuhan.
13. Keintiman adalah suatu keadaan hidup yang di dalamnya kedua pasangan dalam hubungan semakin dan semakin mempercayai yang lainnya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang paling dalam.
14. Tujuan utama berkencan adalah mengembangkan keintiman yang sejati-- suatu keutuhan roh-- antara seorang pria dan seorang wanita.
15. Persahabatan sejati-- bukan sekadar kenalan biasa, melainkan orang-orang yang dipersatukan dalam hati dan jiwa-- adalah fondasi dari semua hubungan jangka panjang yang berhasil.

BAB 2: MEMBANGUN PERSAHABATAN: TUJUAN BERKENCAN
1.  Persahabatan sejati didasarkan pada kasih yang berasal dari Tuhan.
2. Memusatkan perhatian kepada orang lain adalah salah satu dari prinsip-prinsip yang teguh dalam sebuah persahabatan.
3. Persahabatan dengan seorang kenalan didasarkan pada suatu hubungan dengan pengetahuan sangat mendasar dan umum tentang satu sama lain.
4. Kita seharusnya menganggap kenalan-kenalan kita sebagai pertemuan-pertemuan ilahi.
5. Teman biasa didasarkan pada daya tarik, aktivitas, dan kepedulian yang sama.
6. Teman biasa dipupuk oleh kesenangan yang didapatkan dari minat-minat yang sama.
7. Sahabat-sahabat dekat didasarkan pada sasaran-sasaran hidup yang saling menguntungkan dengan kebebasan untuk menyarankan proyek-proyek yang saling menguntungkan ke arah pencapaian sasaran-sasaran tersebut.
8. Sahabat-sahabat intim saling berkomitmen pada perkembangan karakter masing-masing.
9. Sahabat-sahabat intim mempunyai kebebasan untuk saling memperbaiki.
10. Sahabat-sahabat intim berbagi visi dan sasaran-sasaran hidup yang sama, dan berjalan ke arah yang sama.
11. Persahabatan intim memikul tanggung jawab yang saling menguntungkan untuk kejujuran yang terbuka dengan kebijaksanaan.
12. Persahabatan sejati, sama seperti cinta sejati, selalu memusatkan perhatian kepada orang lain, bukan pada diri sendiri.

BAB 3: MITOS TENTANG MENEMUKAN PASANGAN HIDUP
1. Tuhan tidak mempunyai satu dan hanya satu orang istimewa bagi kita.
2. Ada banyak orang di dunia ini yang berpotensi menjadi pasangan kita karena kesamaan-kesamaan dalam kepribadian, karakter, nilai-nilai, dan minat seperti kita.
3. Jika ada beberapa orang yang "cocok" untuk kita nikahi, menikah dengan salah satu dari mereka menjadi suatu pilihan yang kita buat.
4. Pilihan yang kita buat untuk menikahi orang tersebut membutuhkan komitmen yang teguh dari pihak kita agar kita berlaku setia kepada orang yang kita pilih.
5. Tuhan tidak memilih bagi kita orang yang Ia ingin kita nikahi.
6. Tuhan menciptakan kita semua dengan kebebasan untuk memilih dan Ia tidak pernah melanggar kebebasan tersebut.
7. Tuhan mungkin membawa seorang yang berpotensi menjadi pasangan ke jalur Anda, tetapi Ia tidak memilihkan orang itu bagi Anda. Anda membuat sendiri pilihan tersebut, berdasarkan apa yang Anda pelajari tentang orang tersebut dan berdasarkan sifat persahabatan yang berkembang.
8. Dunia membangun hubungan-hubungan berdasarkan satu bagian atau lebih dari empat kriteria dasar: penampilan fisik, status sosial, kemampuan intelektual, kemampuan finansial.
9. Kunci dari menemukan pasangan yang tepat, pertama adalah mengenali kualitas dan karakter yang akan kita pegang sebagai standar kita tanpa kompromi, dan kemudian mengevaluasi calon-calon berpotensi yang kita jumpai berdasarkan standar tersebut.
10. Dari semua orang yang kita kenal, dari semua persahabatan yang kita kembangkan, dari semua "kemungkinan" sah yang ada di depan kita, kita memilih satu orang untuk menghabiskan sisa hidup bersama.

BAB 4: MENENTUKAN PASANGAN HIDUP YANG TEPAT
1. Hubungan rohani adalah hubungan pertama yang seharusnya menjadi fokus dua orang dengan sasaran menjadi satu dalam roh.
2. Kesatuan roh memimpin pada diskusi yang intim, bukan hanya tentang sasaran rohani, tetapi juga sasaran pribadi, intelektual, dan jasmani.
3. Pernikahan adalah gerbang menuju kesatuan fisik, tingkat ketiga dari suatu hubungan.
4. Menentukan pasangan hidup yang tepat berarti nengajukan serangkaian pertanyaan yang meneliti seperti:
a. Apakah ia orang Kristen?
b. Apakah sasaran hidupku?
c. Apakah ia mempunyai penguasaan diri?
d. Apakah ada keharmonisan di rumah?
e. Apakah ini saat yang tepat? (contoh: persetujuan orang tua, kesiapan finansial, penyelesaian pendidikan)
f. Apakah karuniaku?

BAB 5: PERTUNANGAN: MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENIKAH
1.Pertunangan adalah intisari perencanaan, dimana pasangan mempersiapkan hal-hal praktis tentang kehidupan setelah pesta pernikahan.
2. Setiap pasangan yang percaya kepada Tuhan harus mempunyai fondasi rohani yang kuat dan kukuh bagi pernikahan mereka selama masa pertunangan mereka.
3. Keharmonisan rohani mempromosikan kesatuan, yang merupakan satu karakteristik vital yang harus dikembangkan oleh pasangan selama pertunangan mereka.
4. Jauh sebelum mereka berkata, "Saya bersedia", pasangan-pasangan seharusnya mendiskusikan dan merancang strategi finansial yang akan mereka bawa ke dalam pernikahan mereka.
5. Perencanaan dan persiapan yang matang selama masa pertunangan dapat membantu memastikan sepasang tunangan untuk berhasil mencapai cita-cita mereka.
6. Sebelum pasangan maju ke altar pernikahan, mereka seharusnya sudah terlebih dahulu menemukan kesepakatan menyeluruh dalam filsafat dan rencana mereka untuk menjadi orang tua.
7. Sangat penting bagi pasangan yang sudah bertunangan untuk berkomitmen pada standar kemurnian seksual seutuhnya sebelum pernikahan.
8. Pertunangan adalah masa dimana pasangan-pasangan Kristen membuktikan standar mereka, dan karena itulah pertunangan begitu penting.
9. Pertunangan adalah waktu dimana semua benih keberhasilan bagi pernikahan di masa yang akan datang ditanamkan.


MYLES MUNROE

No comments: