Post kali ini adalah cerpen pertama yang coba kutulis di taon 2012 setelah disupport oleh ce Sianne. Dia memintaku bukan hanya menulis artikel rohani, tapi cerpen supaya imajinasiku berkembang pesat. Hasilnya? Aku ngga ngerasa bagus sih, en menurutku nulis cerpen emang lebih susah daripada nulis artikel. Check this out, hehehe.
“Nat, boleh aku jadi temanmu?”, tanya Sean sambil mengikuti langkah kakiku.
“Nggak!”, jawabku dengan ketus.
“Kenapa? Aku pengen loh berteman sama kamu”, Sean mengerutkan dahi mendengar jawabanku.
“Aku nggak mau berteman sama kamu”, ujarku sambil jengkel.
“Tapi aku pengen jadi temanmu”, Sean memohon.
“Sudahlah, pergi sana!” Orang ini nyebelin banget sih, kataku dalam hati.
“Nat, please. Jadi temanku yah?”
“Nggak bakal!”, kataku sambil berlari meninggalkannya.
***
Aku nggak tau, kenapa aku begitu sial. Ini adalah tahun terakhirku di SMA, aku berharap aku bisa menikmati masa-masa ini, namun yang terjadi adalah hal-hal yang buruk. Awalnya aku ditempatkan di kelas yang berbeda dengan teman-teman baikku, Cindy dan Kezia. Lalu entah kenapa, aku dipindahkan ke kelas mereka, tetapi mereka sudah punya teman baru. Aku dibuang begitu saja. Huh, apa mereka tidak ingat dua tahun yang kami lalui bersama? Ternyata semudah itu mereka meninggalkanku, demi teman baru mereka, si kembar yang sok cantik, Laurent dan Lindsay.
Karena tidak punya teman dekat, aku selalu sendirian ketika jam istirahat. Lalu ada seorang pria yang selalu memperhatikanku dan berusaha menjadi temanku. Dia adalah Sean, cowok menyebalkan yang tadi mengejarku ketika jam sekolah usai.
Cowok itu aneh banget, sering curi-curi pandang saat jam kosong. Wajahnya tidak ganteng, tapi selalu tersenyum ramah. Apa sih tujuannya mengajakku berteman?
***
“Kamu tau ngga Nat, si Sean tuh aneh banget loh. Suka SKSD sama orang”.
“Dia tuh cowok yang nggak banget deh, aku males banget berurusan sama dia”.
“Dia tuh baik, tapi usilnya nggak main-main. Lebih baik kamu nggak dekat-dekat sama dia deh, Nat”
***
Itu adalah komentar dari beberapa temanku tentang Sean. Sebelum kenal dia, aku udah kasi dia nilai minus. Pas aku mulai masuk di kelas ini, nilai dia di mataku semakin minus. Cowok aneh, yang sok-sokan baik sama aku, sok perhatian, sok mau berteman sama aku. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan, gayanya kekanak-kanakan, namun sok baik. Baru kali ini juga aku menemui orang yang memaksa menjadi temanku. Benar-benar aneh. “Ah sudahlah, lebih baik aku tidur siang”, kataku sambil membenamkan kepalaku di bantal.
Hari demi hari, minggu demi minggu, Sean tetap saja tidak menyerah dengan permintaan konyolnya. Aku heran dengannya, apa sih yang sebenarnya dia inginkan? Aku sempat dengar kalo dia suka berteman dengan cewek-cewek cantik, mungkin dia memang playboy. Tapi, aku kan bukan cewek cantik, aku juga kasar dan ketus. Apa yang membuatnya sedemikian gigih untuk menjadi temanku? Hal apa yang membuatnya tak kenal lelah menanggapi penolakanku? Hal apa yang membuatnya tak bosan mengajukan pertanyaan bodoh yang sama? Apa yang membuatnya sedemikian ngotot?
Setiap ada waktu ketika berganti pelajaran, Sean selalu mendatangiku, bercerita hal-hal kecil yang dia alami. Ketika guru masuk, dia berlari kecil kembali ke bangkunya.
Setiap jam kosong, dia mendatangiku, menggodaku dengan gurauan konyol yang membuatku semakin kesal padanya. Ketika dia sudah selesai praktikum, dia selalu datang ke mejaku dan menawarkan bantuan untuk mencucikan tabung reaksi dan sebagainya. Dia salah besar jika dia berpikir aku tertarik berteman dengannya melalui semua hal yang dia lakukan.
Aku heran dibuatnya. Aku duduk di taman depan kelas sambil berpikir. Tiba-tiba Cindy dan Kezia datang menghampiriku. Tumben sekali tidak ada si kembar sok cantik bersama mereka. Apa si kembar membuang mereka sehingga mereka kembali datang padaku?
“Mana si kembar?”, tanyaku dengan sinis. “Oh, mereka sedang di kelas XIIA1 bersama Cute family”, jawab Kezia. Cindy diam saja, ragu-ragu untuk menyapaku. “Kamu kenapa, Nat? Kayaknya ada yang kamu pikirkan nih, cerita donk”, kata Kezia. Aku tidak yakin untuk memberitahu mereka. Tapi toh teman-teman sekelas juga sudah tau tentang Sean yang selalu mendekatiku dengan tujuan yang tak jelas itu. Hingga beberapa teman, bahkan guru mulai curiga kalo ada sesuatu di antara kami. Wali kelas kami pun tesenyum penuh arti ketika melihat kami.
“Kamu mikirin Sean ya? Kayaknya dia suka sama kamu loh”, kata Cindy memecah lamunanku. “Apa-apaan sih kamu? Nggak mungkin lah, aku kan baru kenal dia. Lagipula, dia itu aneh banget, maksa-maksa jadi temanku”, sangkalku.
“Ya mungkin aja dia suka kamu Nat, tapi dia bilang mau jadi temanmu sebagai alasan untuk deketi kamu”, kata Kezia sambil mengedipkan matanya pada Cindy.
“Nggak mungkin lah, aku kan baru beberapa hari pindah ke kelas ini”, jawabku lagi.
Kezia dan Cindy tersenyum penuh arti.
Kriiiinnnggg.... Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Kami bertiga pun masuk ke kelas. “Hai teman-teman”, sapa Sean dengan senyum lebar. “Hai, Sean”, jawab Cindy dan Kezia serempak. Aku mengacuhkannya dan langsung berjalan ke kelas mendahului mereka. Aku menghempaskan tubuhku di kursi dengan kesal. Huh, cowok aneh. Teman-teman yang juga tak kalah anehnya. Aku mengambil buku-buku dan peralatan untuk praktikum biologi. Ketika aku membalikkan badan, hendak berjalan, aku terkejut karena Sean berdiri di dekatku. “Nggak ada yang ketinggalan? Ke lab bareng yuk, Nat", ajak Sean. Tanpa sepatah katapun, aku meninggalkannya, berjalan dengan cepat menuju lab biologi.
“Nat, tunggu donk”, kata Sean sambil mengejarku. “Kamu mau apa sih?”, kataku sambil menghentikan langkah dan membalikkan badanku kearahnya. “Aku mau bareng kamu ke lab. Itu aja”, katanya sambil tersenyum. Senyum yang sama, yang selalu manis dan ramah, namun membuatku muak.
“Aku ga mau bareng kamu, aku pengen jalan sendirian”, kataku sambil berlari ke lab biologi.
Braaak... Aku membanting buku-buku biologi di meja lab. “Kenapa lagi Nat? Pasti karena Sean ya?, tanya pak Josh, asisten lab biologi. “Biasa pak, dia kan memang selalu bikin kesel”, jawabku.
“Apa salahnya sih kamu berteman sama dia? Dia cuma mau berteman sama kamu kok. Kalo kalian berteman, pasti dia nggak akan ngejar-ngejar kamu kayak gitu lagi”, kata pak Josh. “Aku nggak minat berteman sama orang aneh kayak gitu pak, males banget deh”, kataku lagi. “Kalian ngomongin aku ya?”, tanya Sean ketika dia tiba di lab biologi. Huh, langsung saja aku membuang muka. Pak Josh hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kami berdua.
Sikap Sean yang aneh terhadapku itulah yang membuatku semakin enggan berteman dengannya. Terhadap cewek lain, dia juga ramah, tapi dia tidak berusaha menjadi teman mereka, seperti yang dia lakukan kepadaku. Setiap kali melihatku, dia selalu tersenyum. Setiap kali mata kami beradu, dia selalu menyapaku. Keramahannya yang tak beralasan itulah yang membuatku semakin tidak mengerti. Bukan dia yang lelah dengan penolakanku, tetapi aku yang lelah menghadapi dia. Mungkin saran pak Josh bisa kupertimbangkan, pikirku.
“Oke, aku mau jadi temanmu. Kamu puas kan?”, kataku pada Sean. “Wah, thankyou ya, Nat. Aku seneng banget”, katanya sambil tersenyum lebar.
Mulai hari itu, kami berteman. Nggak nyaman bagiku tentunya. Karena ketika kami berteman, dia semakin sering mendatangi bangkuku, mengajakku mengobrol ataupun menceritakan hal-hal yang terjadi di hidupnya. Namun, kurasa lebih baik berteman dengannya daripada setiap hari diberi pertanyaan konyol yang sama.
***
Setahun kemudian, saat perayaan kelulusan Sean bercerita kepadaku kalo dia menyukai seorang cewek. “Nat, aku lagi suka sama 1 cewek nih. Dia mirip banget sama kamu, nggak gampang deket sama cowok”, kata Sean.
“Oya?”, jawabku sambil menelan ludah. Hancurlah hatiku ketika mendengar bahwa Sean jatuh cinta pada cewek lain. Aku pun mulai menjaga jarak dengannya, mulai tidak membalas chat-nya, mulai menolak ajakannya untuk pergi bareng, menolak untuk mengangkat telepon darinya. Hingga akhirnya Sean dan Agnes jadian.
Aku semakin menjauh darinya, membawa pergi hatiku yang mengucurkan darah karena terluka. Cinta terpendam bukanlah keinginanku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hubungan kami bisa sedekat ini. Tak kusangka bahwa hatiku akan terpikat dalam pesona Sean, pria yang awalnya kuhindari mati-matian. Sadar bahwa dia hanya menganggapku sebagai teman baik, semakin menorehkan luka di hatiku. Pergi sejauh mungkin adalah satu-satunya cara untuk melupakan Sean.
Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di Kanada, tanpa memberitahu Sean. Kezia dan Cindy memberitahuku, betapa sedihnya Sean ketika tau bahwa aku pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Dia mengirimkan email, menanyakan mengapa aku tidak memberitahukan rencanaku untuk kuliah di luar negeri kepadanya. Aku mengacuhkan email-email darinya. Dia meminta informasi dari Cindy dan Kezia, namun mereka tidak membuka mulut karena aku menyuruh mereka diam. Sia-sialah semua usaha yang dilakukan oleh Sean. “Semua sudah terlambat, Sean”, ujarku dalam hati.
Hari demi hari kulewati dengan belajar, belajar, dan belajar. Aku berusaha mencapai prestasi terbaik dan menghilangkan bayang-bayang Sean dari hidupku. Dengan prestasi yang aku capai, banyak pria yang mendekatiku, menyatakan ketertarikan mereka terhadapku. Namun, aku telah mengunci hatiku rapat-rapat. Aku belum bisa atau tidak mau, entahlah, membuka hatiku kepada pria lagi. Aku takut dikecewakan.
Fokusku adalah menyelesaikan studi dengan hasil yang terbaik. Aku berubah menjadi wanita yang semakin dingin dan tak peduli kepada hubungan antara pria dan wanita. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Raphael, seorang pria tampan dan baik hati yang mencintaiku dengan tulus. Namun, cinta dan perhatian Raphael pun tak dapat membuka hatiku yang telah tertutup. Selama 3 tahun, Raphael membuktikan betapa serius cintanya kepadaku. Dia tidak pernah berpaling kepada wanita lain, walaupun banyak wanita cantik yang terpikat padanya. Seolah hanya ada aku saja di matanya. Aku tak bergeming, tak tertarik untuk membuka hatiku baginya.
Setelah lulus kuliah, aku memutuskan untuk menetap di Kanada. Aku mencari pekerjaan, aku ingin menghapus ingatanku akan Sean. Aku berhasil membangun karirku dengan cukup baik. Aku memperoleh berbagai penghargaan bergengsi di bidang sains. Aku merasa bahwa inilah hidupku dan beginilah aku akan menjalaninya seterusnya, tanpa ada Sean di dalamnya.
Suatu malam, papa meneleponku, mengabarkan bahwa oma sedang sakit keras dan ingin bertemu denganku. Tujuh tahun sudah aku meninggalkan Indonesia. Sekarang aku bukanlah Natasha yang polos seperti dulu. Aku yang sekarang adalah seorang wanita muda yang cantik, dengan karir cemerlang. Aku berusaha keras menepis keenggananku untuk pulang ke Indonesia, demi oma tercinta. Aku tau bahwa beberapa tahun terakhir, oma berkali-kali sakit. Siapa yang tau kalau ini adalah kali terakhir aku bisa bertemu dengan oma. Akhirnya, aku memesan tiket pulang ke Indonesia.
Sesampainya di bandara, aku sangat terkejut karena Sean-lah yang menjemputku. Tak ada orangtua maupun saudaraku. Aku berjalan melewatinya, tak peduli walaupun dia berkali-kali memanggil namaku. Sia-sia sudah usahaku untuk melupakannya selama ini. Aku tak habis pikir, mengapa dia yang menjemputku di bandara? Darimana dia tahu kalau aku akan pulang ke Indonesia? Hanya orangtuaku yang tahu rencana kepulanganku.
Aku berlari menghindari Sean dan menyetop taksi. Sean berusaha mengejarku, namun langkahnya terhenti karena ada mobil yang menabraknya. Aku terkesiap kemudian segera turun dan menghampirinya. Wajahnya bersimbah darah, aku menangis melihatnya. Aku menyadari bahwa hatiku masih menyayanginya. Tujuh tahun yang kulalui tanpa dirinya tak mampu menghapus dirinya dari hatiku.
Dengan senyumnya yang khas, Sean berkata kepadaku, “Jangan menangis, Nat. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi. Aku pengen kamu tau, betapa menyesalnya aku karena telah berpacaran dengan Agnes. Sesungguhnya, wanita yang kucintai adalah kamu, Nat”. Kepala Sean tergolek lemah di pangkuanku. Aku menjerit putus asa.
Oct 13, 2012
No comments:
Post a Comment