Kemaren sepulang gereja mampir ke tempat adeknya papa yang baru balik dari Penang buat berobat en aku belajar sesuatu yang sangat berharga. Sebenernya kami dateng buat jenguk dia en pengen tau kondisi terakhirnya, ngga disangka dia cerita banyak hal.
Dia cerita tentang rencananya kemaren ke Penang buat berobat abis gitu jalan-jalan, eh ternyata kakinya bengkak sehingga dia harus bedrest selama 5 hari di rumah sakit. Secara finansial, om-ku ini termasuk sangat berkecukupan, dia punya pekerjaan yang mapan, en anak kembar yang sudah bekerja. Tapi dia punya penyakit varises di kaki yang mengganggu aktivitasnya sehingga harus rutin berobat ke Penang. Disitu aku bersyukur, sekalipun belom pernah ke luar negeri, keluargaku diberkati Tuhan dengan kesehatan. Bukankah kesehatan adalah anugerah yang lebih berharga daripada uang? Siapa sih yang mau keluar negeri tapi menderita sakit yang menyiksa? Bersyukur dengan keadaan kita saat ini adalah cara terbaik dalam menghadapi kehidupan.
Abis gitu, dia curhat soal anak sulungnya yang beberapa bulan lalu kabur dari rumah. Koko sepupuku ini orangnya emang dari dulu mokong en semaunya sendiri. Trus begitu dia liat temen-temennya buka usaha sampai bisa nyicil mobil en rumah, dia jadi kepengen ikutan buka usaha sendiri. Papanya ngga mau ngasi modal karena dia ngga jelas kepengen buka usaha apa. Trus dia marah en kabur dari rumah. Dia ngga ngeliat aspek laen dari temen-temennya selaen kesuksesan, padahal temen-temennya itu semuanya berontak dari keluarga. Mereka semua sukses sih, tapi apa artinya kesuksesan jika mereka ngga hormat pada ortu? Kesuksesan sejati adalah sukses yang kita raih dengan restu dari ortu en bisa berbagi dengan orang terkasih.
Aku tahu ngga ada gunanya ngomong sama koko sepupuku saat ini, yang perlu kami lakukan sebagai keluarga besarnya adalah terus mendoakan dia sampai mata hatinya dicelikkan Tuhan. Aku percaya bahwa lebih baik seorang anak kabur dari rumah menyadari kesalahannya, lalu bertobat. Ketimbang tetep ada di dalam rumah namun dalam kondisi hati yang terus memberontak. Proses pendewasaan seringkali terjadi saat seseorang memutuskan untuk menjalani kehidupannya sendiri, terlepas dari naungan ortunya.
My dear cousin, dimanapun kamu berada saat ini, aku percaya bahwa Tuhan akan terus ketuk hatimu. Please go home! We still waiting for you. Ngga akan ada penghakiman atopun penolakan dari kami, kami mengasihimu, kami mengharapkan kamu pulang. Aku yakin Tuhan ngga pernah melepaskan tangan-Nya dari kamu. Aku percaya suatu saat ketika kamu pulang, kamu akan jadi pribadi yang jauuuhhh lebih baik.
No comments:
Post a Comment