November 29, 2017

BROKEN VESSEL

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum" (Yesaya 42:3)

Beberapa hari ini banyak merenung, banyak diajar, banyak diingatkan dan dibukakan sesuatu. Aku menyadari bahwa ada segelintir orang masih menghakimi aku berdasarkan masa laluku, tanpa mau melihat diriku yang sekarang. Mereka ngga update apapun tentang diriku yang sekarang, tapi tiap kali ktemu selalu pakai takaran lama untuk menilai diriku. Semua uda ngga relevan lah ya, manusia itu dinamis, berubah seiring berjalannya waktu dan proses yang dihadapi. Dan yang aku tau, orang-orang yang menghakimi bukanlah orang yang beneran mengasihiku, melainkan hanya memanfaatkanku saat mereka butuh lalu menjelek-jelekkanku di belakang saat aku ngga lagi berguna buat mereka. So, woles aja ama penghakiman mereka walopun sempet mikir pengen mbales huahaha #devil's laugh

Puji Tuhan, pada saat sulit seperti ini, Tuhan kasi beberapa orang yang membangkitkan semangat, yang kasi compliment tentang perubahan hidupku, yang bilang kalo melalui aku mereka belajar sesuatu dan diubahkan. Aku sangat menghargai pengakuan seperti itu en berasa begitu bersyukur karena Tuhan bersedia pake bejana yang retak ini untuk jadi berkat bagi beberapa orang. I'm not perfect, tapi aku tau bahwa aku ngalami perubahan dan pertumbuhan. Hanya mata yang penuh kasih yang bisa melihat perubahan hidup sementara mata penuh penghakiman akan selalu ngeliat kekurangan dan luka yang ditimbulkan oleh masa lalu. Kamu tipe yang mana?

Aku tau bahwa aku ngga perlu mencapai kesempurnaan dulu baru dipakai Tuhan jadi saluran tangan-Nya buat sekelilingku, ngga perlu 100% pulih baru bisa dipakai memulihkan sekelilingku,  ngga perlu mencapai takaran orang laen untuk melayani orang-orang yang Bapa tunjuk. Aku belajar taat, sekalipun hidupku masih banyak cacat cela, jatuh bangun, dan ketidaksempurnaan. Aku ngga mau jadi orang munafik yang sok suci ketika melayani orang laen, aku mengakui bahwa akupun masih terluka, bahwa aku masih terseok-seok berjalan dalam panggilan-Nya, bahwa aku masih perlu kasih karunia-Nya untuk tetap bertahan dalam jalur kebenaran-Nya.

Aku pun ngga mau menghakimi orang laen yang dengan kerendahan hati membuka dark side mereka, memohon pertolongan serta mencari nasihat untuk kehidupan yang lebih baik. Aku melihat mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan, sekalipun compang-camping namun berharga di mata-Nya. Aku ngga berhak menilai mereka ngga layak sementara aku sendiri pun tau bahwa diriku sudah dilayakkan oleh darah Kristus. Dan aku pun mau melihat mereka seperti Kristus melihat; bahwa mereka berharga, bahwa mereka dikasihi, bahwa mereka pun dalam proses menuju kehidupan yang jauh lebih baik (sekalipun mungkin sekarang belom keliatan hasilnya).

Beneran dikuatkan pas baca status kak Echa beberapa hari lalu:
"Love is ever ready to believe the best of every person (I Corinthians 13:7, AMPC). Kasih selalu siap untuk percaya yang terbaik dari setiap orang. Termasuk orang-orang yang sulit, yang menyakitimu, mengecewakanmu, menggosipkanmu, tidak tahu berterima kasih, tidak membalas chat-chatmu, anak rohani yang memberontak, teman yang tidak membayar hutang, dsb. Kasih siap untuk percaya yang terbaik dari setiap mereka, bahwa mungkin ada alasan di balik tindakan-tindakan mereka, bahwa mungkin mereka sendiri terluka, bahwa mereka masih bisa berubah, bahwa mereka tidak seperti itu. Kasih-Nya...Kasih-Nya dalam hati saya".

Sekalipun aku dihakimi, dicerca, dan dijauhi... Aku belajar untuk mengampuni orang-orang itu, kuakui ngga mudah, tapi aku ngga mau menghakimi mereka balik. Mungkin mereka pun pernah terluka dengan sikap ato tindakanku, lalu berbalik menghujamku dengan cara menghakimi. Itu hak mereka, itu pilihan mereka, dan itu sama sekali ngga mendefinisikan diriku yang sebenarnya. Identitasku ada dalam Yesus, aku tau bahwa aku dibaharui dari hari ke hari, aku tau bahwa aku dalam proses dan ngalami progress, aku tau bahwa aku sedang berjalan maju bukan stagnasi.

Fokusku sekarang adalah menggali luka-luka apa aja yang masih perlu disembuhkan, bagian-bagian apa yang perlu dipulihkan, dan aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke tangan Bapa yang penuh kasih untuk menggilasku sedemikian rupa. Aku ngga mau lagi menyakiti orang laen, ngga mau membalas kejahatan dengan kejahatan, ngga mau lagi menjauhi orang yang menyakitiku, ngga mau bicara yang buruk tentang mereka yang mengkhianatiku. Mereka pun masih dibentuk oleh Tuhan, mereka pun broken vessel yang sedang dalam proses.

Apapun kondisimu hari ini, siapapun kamu, yuk sama-sama belajar untuk saling memandang dengan kasih, bukan dengan penghakiman ato sikap penuh pembenaran diri sendiri. Pandanglah orang lain sebagai orang yang dikasihi Tuhan, yang sedang dalam proses dimana mereka pun mau pulih, dimana mereka pun mau untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pandanglah Kristus yang menciptakan mereka dan ngga lepas tangan atas hidup mereka, dukunglah orang-orang yang sedang menghadapi proses mereka, dan tunjukkan buah-buah roh terutama kesabaran. Biar broken vessels ini sama-sama bisa dipakai untuk menyinarkan secercah cahaya bagi sekeliling. Amen.



No comments: