November 13, 2017

GOODBYE FOREVER

 "Halo...Tumben kamu ngontak, ada masalah ya? Hmm, tolong donk mulai sekarang delete semua kontakku, aku ngga mau diganggu lagi. Tenkiu"


Iya, kamu tau namaku, kamu tau sebagian masa laluku dari ceritaku. Tapi kamu ngga pernah ngalami sehingga kamu ngga bakal ngerti apa aja yang udah kulewati hingga aku jadi diriku yang sekarang. Trus pas aku punya masalah en ngehindari kamu, kamu ngejudge aku unusual, unlogical, ngga cengli. Bukannya kalo kamu tau aku unusual, mestinya kamu paham kalo aku ngalami sesuatu yang buruk ya? Tapi kamu mana peduli, kan kamu uda ngga butuh aku. Bahkan kamu ngga mau diajak ktemuan untuk slesaiin kesalahpahaman kita, kamu lebih asik ama geng gejemu, trus dengan sinisnya kamu bilang "bagiku uda selesai" bahkan kamu bilang "aku ngga akan ajak kamu keluar lagi". Dan bagiku that's the end of this toxic relationship.

Semua persahabatan yang kita bangun sekian taon hancur berkeping-keping, aku kecewa dan marah ama sikapmu yang memerlakukanku seperti abis manis sepah dibuang. Dan aku inget ini bukan pertama kali kamu merlakuin aku seperti itu, but aku pastiin bahwa that's the last. Aku ngga butuh sebuah hubungan yang ngga jelas kayak gitu. Terlebih lagi, aku ngga butuh kamu judge dengan chat panjang lebar berkedok "dari seorang yang tidak ingin sahabatnya celaka", it's totally fake! If you were really my friend, you will stay beside me in my trouble times, not hurt and left me just like you did.

Aku capek ngadepi sifat childishmu yang memalukan, kelakuanmu yang ngga behave, kamu ngga sadar apalagi minta maaf kalo salah, cara bercandamu yang sering merendahkan bahkan menyakitiku. Berkali-kali aku tegur dengan tegas, tapi cuma kamu anggep angin lalu. Kamu emang egois, ngga pernah peduli dengan perasaan orang laen, tapi selalu marah kalo ditegur soal sifat childish dan kasarmu. Aku benci dengan perilakumu yang datang dan pergi sesuka hati, kamu selalu maksa ktemuan kalo kamu punya masalah (bahkan maksa anter jemput aku en bayari makananku), tapi kamu selalu ngilang kalo hepi. Harga persahabatan ngga semurah jasa anter jemput en harga makanan, tau!

Aku ngerasa begitu bodoh, kenapa dulu pernah membiarkanmu sebegitu dekat, pernah jatuh cinta ama kamu, bahkan pernah nganggep kamu sebagai sodaraku. Dan ujungnya berakhir dengan begitu buruk, bahkan sempat memporakporandakan emosiku. Aku menyesali semua waktu yang pernah kuhabiskan denganmu, berbagi kisah dan sharing banyak hal, bahkan hal rohani sekalipun. Ngga bisa dipungkiri, kamu pernah berperan besar untuk menyembuhkan luka batinku, namun kamu menorehkan luka baru yang lebih dalam dari yang pernah ada.

Aku tau bahwa seharusnya aku melepaskanmu dari dulu, terutama ketika sama-sama tau bahwa kita ngga berjodoh. Entah kenapa, aku ngga rela ngelepas kamu. Mungkin karena aku belom nemuin pria laen yang bisa mengasihiku, sehingga aku bertahan dengan orang yang mengasihiku karena ada maunya, memanipulasi emosiku demi kepentingan pribadinya. Bodoh dan naif memang, tapi aku pernah sebegitu butanya karena cinta. Cinta yang ngga perlu ada apalagi bertumbuh di hatiku.

Setaon terakhir, ketika aku memutuskan untuk lost contact denganmu adalah masa paling indah yang pernah kumiliki dalam hidup ini (dan aku berniat memperpanjangnya seumur hidupku). Aku memperoleh segala sesuatu yang jauuuuhh lebih baik dari apa yang pernah kamu berikan, aku menemukan kehendak Tuhan, aku berjumpa dengan orang-orang yang mengasihiku apa adanya sekalipun mereka tau semua kecacatan dan keburukanku. Aku mulai mengerti jalan-jalan Tuhan yang sulit diselami, namun semuanya begitu indah dalam simfoni. Dan aku bertumbuh sedemikian rupa dalam kasih karunia-Nya, ketika aku membiarkan semua impianku yang semu diremukkan-Nya.

Aku ingat 2 taon lalu Tuhan pernah berbisik; "Serahkan dia dalam tangan-Ku, seperti Abraham menyerahkan Ishak. Serahkan untuk melepaskan, bukan untuk menerima kembali. I have someone better for you". Dan akhirnya aku memahami hal itu, aku paham kenapa kita ngga berjodoh, kenapa mama en semua sahabatku ngga suka ama kamu. Kamu emang ngga layak buat aku, dan ngga baik kalo kita bersama. Semua kekusutan dan jalan buntu selama bertaon-taon mendadak menjadi begitu jelas.

Aku menyadari bahwa aku ngga perlu berjuang untuk seseorang yang ngga akan pernah jadi milikku, bahkan aku uda ngga berminat ama kamu sekalipun kamu ngejar-ngejar aku. Aku ngga akan ngasi kamu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu ato mengubah apapun yang sudah terjadi. Seandainya aku lebih cepat melepasmu, pasti hidupku jauh lebih bahagia dan aku sudah mencapai banyak hal yang baik dalam hidup ini. Tapi sayangnya semua harus kubayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu penundaan.

Aku tau bahwa semua ini bukan sepenuhnya salahmu, akupun bersalah karena membiarkan diriku diperlakukan demikian. Aku pun berdosa terhadap diriku karena mengijinkanmu menyakiti dan memanipulasiku bertaon-taon lamanya. Jika saja dari dulu aku menetapkan batasan serta bersikap tegas, pasti hari ini akan berbeda kisahnya. Namun semua ngga bisa diulang, ngga ada yang bisa kembali seperti semula. Biarlah hubungan ini retak dan ngga akan pernah tersambung kembali, bahkan jika hanya untuk sebatas teman.


Terima kasih pernah menjadi tamengku dari pria-pria ngga jelas yang mendekatiku, untuk setiap doa yang pernah kau panjatkan untukku kepada Tuhan, karena kesabaranmu menghadapi temperamenku. Terima kasih telah mengajarkanku banyak hal, menemaniku menghadapi banyak situasi, mendidikku agar mengandalkan Tuhan lebih dari apapun juga. Dan terutama aku berterima kasih karena kamu pernah memerlakukanku sedemikian buruk, hingga akhirnya aku bisa melepasmu.


Aku mengampunimu sepenuhnya, tak ada dendam, tak ada lagi kekecewaan. Memang seharusnya aku ngga pernah menaruh harapan apapun kepadamu. Namun ini caraku, mengampuni namun "membakar jembatan" sehingga aku dan kamu terpisah oleh jarak yang tak terseberangi. Aku ngga akan biarkan dirimu mendekat, stalking, ato tau apapun tentang diriku. Dan aku ngga akan pernah cari tau apapun tentang kamu lagi. Inilah akhir dari kisah kita.

No comments: