February 5, 2018

FATHERHOOD AND SONSHIP

Minggu lalu nonton acara TV China 爸爸去哪儿 ato "Dad, where we are going?" season 5 episode 12 (nontonnya acak karena ga paham kalo ada season en episodenya)  dan belajar banyak hal dari sana. Jadi intinya tuh ada 5 aktris (4 papa en anak kandung, ama 1 aktor yang jadi papa intern trus dikasi "anak angkat") yang tinggal di daerah pedesaan bersama anaknya selama 2 hari, tanpa sang mama. Disitulah kita ngeliat gimana perjuangan para papa dalam menyesuaikan diri hidup di daerah asing bersama anaknya sambil menyelesaikan tantangan yang diberikan. Seru, lucu, kadang terharu juga dengan kepolosan para anak, kadang takjub juga dengan sikap para papa. But sayangnya ga ada subtitle Inggris ato Indo, bagi yang ga bisa Mandarin, gpp deh liat ekspresi mereka aja buat refreshing 😀

Ngeliat gimana para papa kasi teladan, gimana mereka arahkan anaknya buat nyelesaiin challenge, gimana mereka ajarkan nilai-nilai kehidupan ke anaknya, gimana mereka berproses bareng anaknya en menemukan beberapa hal berharga, gimana mereka menyadari kesalahan mereka sebagai seorang papa dan mereka mau berubah. Amazing!

Aku belajar bahwa fatherhood bukanlah sesuatu yang serta merta muncul saat seseorang punya anak, tapi merupakan sebuah proses pembelajaran yang ga ada abisnya. Tiap anak punya sifat dan karakter masing-masing, sehingga ga bisa mendidik mereka dengan metode yang sama, dan proses belajar bersama adalah cara yang paling tepat untuk mengenalinya. Karena mereka kudu ngurusi anaknya sendirian, comfort anak kecil yang sering nangis en takut ngadepi banyak hal asing, kudu gendong anaknya saat dikejar waktu selesaiin challenge, dari situlah para papa ngerti gimana sifat anaknya, mereka punya waktu untuk pelajari sesuatu bareng-bareng, mereka bangun bonding yang lebih kuat daripada sebelumnya.

Di episode itu, yang bikin terharu ada 3 hal: (1) Papanya Xiao Paofu yang begitu gentle dalam handle anak ceweknya, dia jelasin pelan-pelan nilai yang perlu dipelajari, dia support anaknya untuk selesaikan challenge, dia comfort his daughter perfectly. Keliatan banget sang papa ini kenal sifat anaknya sehingga bisa handle dengan baik (2) papanya Qiqi aka Enheng sempet bikin puisi en bilang bahwa "kalo kamu sudah besar, kamu boleh rancangkan cita-citamu sendiri sepenuhnya dari awal, walopun ga ada (cita-cita) papa di dalam cita-citamu itu". That's really eye opening! Selama ini berapa banyak ortu yang maksain cita-cita en impiannya ke dalam diri sang anak, tanpa peduli apa panggilan Tuhan serta impian sang anak. Anak bukanlah "alat" untuk meneruskan cita-cita ortu yang belom kesampean, anak adalah alat Tuhan buat mencapai cita-cita-Nya. (3) how to handle kids itu tergantung kita, kitalah yang pegang kendali karena umumnya the kids adalah refleksi dari diri kita dan pasangan kita, serta refleksi dari gimana kita meneladankan sesuatu ke mereka. Karena anak kecil ibarat kertas putih yang akan menuliskan secara permanen segala sesuatu yang kita ajarkan ke mereka. Thanks buat Chen laoshi yang recommend acara ini buat nambah kosakata bahasa Mandarinku, ternyata aku belajar banyak nilai hidup hehehe.

Ga kebetulan juga aku denger kotbah Natal "The Gift of Sonship" dan belajar bahwa untuk menjadi seorang papa yang baik, kita perlu belajar menjadi seorang anak di hadapan Bapa, perlu untuk punya rasa aman, serta perlu semakin bertumbuh dalam kesadaran akan betapa besarnya kasih Bapa. Ga boleh terjebak dalam pengalaman ato trauma masa lalu dalam mendidik anak. Dan dari semuanya itu aku semakin sadar betapa pentingnya peran seorang papa dalam keluarga, sekarang ga cuma mikir gimana cari suami yang baik en mapan, tapi juga papa yang baik buat anak-anakku nantinya. En hal ini diteguhkan dengan kotbah ibadah kemaren. Jadi gue makin ga buru-buru deh nyari calon suami, karena makin ngerti banyak berarti kudu makin selektif kan yaa.


"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Efesus 6:1-4)


Update:
Karena penasaran, aku nonton season 5 dari episode 1 dimana Denglun pertama kali ktemu ama "anak angkatnya", Xiao Shanzhu. They're very cute, kompak walopun baru kenal, en mereka belajar banyak hal bareng. Xiao Shanzhu ini anak yang ceria, ramah, pemberani, dewasa en care. Dari awal, Denglun tuh papa yang hebat, dia bisa handle Shanzhu dengan baik, bisa kuncir rambut, super perhatian sampe dia jadiin pahanya sebagai kursi buat Shanzhu duduk (klik SINI)
Abis gitu aku terpukau ama season 4 (klik INI untuk liat cuplikannya)  karena ada anak cewek luwcu yang demen nyanyiin apapun en pola pikirnya unik banget, namanya Arale. Seneng banget ngeliat Dongli (papa intern) yang awalnya ga bisa apa-apa trus dia mbelani belajar masak, belajar kuncir rambut Arale, sering gendong Arale karena Arale masih terlalu kecil buat jalan sendiri en sering jatoh. Dongli menyadari bahwa dia beneran sayang ama Arale serta pola pikirnya berubah tentang anak kecil. Sering ketawa ngakak karena respon Arale yang diluar dugaan, jawabannya yang dewasa, sikapnya yang ngga mudah nyerah walopun masih nangisan. Season 4 ini beneran asyik buat diikuti. 

No comments: