February 22, 2018

THE PILGRIMAGE (PAULO COELHO)

PROLOG
Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dahulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.

BAB I: KEDATANGAN
Aku akan pergi kemana aku harus pergi, dan disana aku akan meninggalkan apa yang dipercayakan kepadaku.

BAB II: SAINT JEAN PIED DE PORT
1. Semoga kau berjalan tidak terlalu lambat maupun terlalu cepat, tapi sesuai aturan dan ketentuan yang ditetapkan Jalan yang kau tempuh.
2. Kau tak perlu mendaki gunung untuk tahu tingginya. Tempat teraman untuk kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat.
3.  Jalan sejati menuju kebijaksanaan bisa dilihat dari 3 hal: (1) harus melibatkan agape, (2) harus memberikan manfaat praktis dalam kehidupan, (3) harus bisa diikuti semua orang tanpa kecuali.
4. Kau harus bisa mengalami sensasi pertama kali bersentuhan dengan kehidupan dengan cara-cara yang berbeda. Kau tentunya tahu, sulit bagimu mengambil keputusan meninggalkan segala milikmu dan menempuh Jalan menuju Santiago dalam pencarian pedangmu. Namun semua terasa sulit karena kau tahanan masa lalumu. Kau pernah kalah dan takut itu akan terjadi lagi. Kau telah mencapai sesuatu dalam hidupmu dan takut kehilangan itu. Namun pada saat yang sama, ada hasrat yang jauh lebih kuat mengalahkan segalanya. Jadi kau memutuskan untuk mengambil segala resiko.

BAB III: PENCIPTA DAN CIPTAAN
1. Ketika kau melakukan perjalanan, kau akan merasakan suatu kelahiran kembali dalam bentuk paling sederhana. Kau berhadapan dengan situasi-situasi baru, harimu akan berjalan lebih lambat, dan dalam sebagian besar perjalanan ini, kau akan menemui orang-orang yang berbahasa asing. Jadi kau bagaikan bayi yang baru keluar dari rahim. Hal-hal di sekitarmu akan lebih penting karena kelangsungan hidupmu tergantung pada hal-hal tersebut. Kau juga akan lebih terbuka terhadap orang lain karena mungkin mereka akan bisa membantumu di kala kesukaran. Dan kau akan menerima setiap karunia Tuhan dengan kebahagiaan tiada tara, seakan-akan karunia itu salah satu episode hidupmu yang terpenting.
2. Saat kau menempuh perjalananmu untuk mencapai sesuatu, kau harus senantiasa memperhatikan jalanmu. Jalanmulah yang akan menjadi petunjuk terbaik, dan memperkayamu saat kau menempuhnya. Hal serupa berlaku ketika kau memiliki tujuan dalam hidup. Tujuan itu akan menjadi baik atau buruk tergantung dari rute mana yang kaupilih untuk mencapainya dan bagaimana kau dapat menaklukkan rute tersebut.
3. Waktu bukanlah sesuatu yang selalu bergerak dalam kecepatan yang sama. Kitalah yang menentukan seberapa cepat waktu kita berjalan.
4. Cobalah untuk mencari kesenangan dari kecepatan jalan yang tak biasa kaulakukan. Mengubah rutinitas harianmu akan membuatmu bertumbuh menjadi pribadi baru. Namun saat semuanya berubah, kau harus memutuskan cara menghadapinya.

BAB IV: KEKEJAMAN
1. Hartamu ada di tempat hatimu berada, ia sesungguhnya memberitahumu pentingnya cinta dan budi baik. Dimanapun kau ingin menatap wajah-Nya, Ia akan senantiasa menemuimu.
2. Semua hal bisa terjadi kecuali gangguan atas manifestasi cinta. Saat gangguan terjadi, orang yang mencoba menghancurkan cinta bertanggung jawab menghidupkan itu kembali.
3. Tuhan bukan pendendam, Tuhan adalah cinta. Bentuk hukuman Tuhan hanya membuat orang yang menghentikan laku cinta agar meneruskannya kembali.
4. Kita tidak boleh berhenti bermimpi. Impian menyediakan nutrisi bagi jiwamu, seperti makanan bagi tubuh. Ada banyak momen dalam kehidupan kita saat impian tercerai dan harapan tidak sampai, tapi kita harus terus bermimpi. Jika kita berhenti bermimpi, jiwa kita akan mati, dan agape takkan pernah dapat mencapainya.
5. Saat kita berhenti bermimpi dan menemukan kedamaian, kita akan merasakan kedamaian singkat. Namun impian yang tak tercapai itu membusuk dan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Kita menjadi kejam terhadap orang di sekitar kita, kemudian mengarahkan kekejaman ini berbalik melawan kita. Itulah saat penyakit dan depresi melanda. Apa yang kita hindari dalam pertempuran-- kekecewaan dan kekalahan-- hadir karena kepengecutan kita sendiri.
6. Kau harus belajar bagaimana caranya berjuang dengan sekuat tenaga. Kau belajar menerima segala perjuangan dan tantangan hidup, tapi kau masih meragukan segala hal yang luar biasa.
7. Satu-satunya cara menyelamatkan impian kita adalah dengan mengasihi diri sendiri. Setiap usaha untuk menghukum diri sendiri-- betapapun halusnya itu-- harus ditangani dengan serius. Untuk mengetahui kapan kita kejam terhadap diri sendiri, kita harus mengubah tiap-tiap kesakitan spiritual-- semisal rasa bersalah, penyesalan, keraguan, dan kepengecutan-- menjadi kesakitan fisik. Dengan demikian, kita dapat mempelajari betapa itu dapat menyakiti kita.

BAB V: SANG PEWARTA
1. Sebelum turun ke dunia ini, Yesus terlebih dahulu pergi ke padang pasir untuk bercakap dengan iblisnya. Ia belajar semua hal yang perlu diketahuinya tentang manusia, tapi ia tak membiarkan iblis mengendalikannya; dengan cara ini Ia berhasil memenangkan pertarungan.
2. Iblis disebut sebagai sang pewarta, karena ia perantara utama antara kau dan dunia. Ia muncul di setiap aktivitas kita dan setiap saat kita berhubungan dengan uang. Jika kita membiarkannya lepas, ia akan menyebarkan dirinya. Jika kita mengusirnya, kita akan kehilangan kesempatan belajar darinya; ia tahu banyak hal tentang dunia dan manusia. Jika kita terpesona oleh kekuatannya, ia akan menguasai kita dan mencegah kita berjuang dengan sekuat tenaga.

BAB VI:  CINTA
1. Sang pewarta hanya memiliki satu kegunaan bagimu: ia akan membantu dalam urusan di dunia nyata. Dan ia akan berkenan memberikan bantuannya hanya jika kau tahu dengan pasti keinginanmu sendiri.
2. Jika seseorang hendak berjuang dengan sekuat tenaga, orang itu harus dapat memandang dunia sebagai harta karun yang menunggu untuk ditemukan dan dimenangkan.
3. Kau berada di sini, untuk mencari penghargaan. Kau berani bermimpi, dan kau melakukan segalanya untuk mewujudkan impian itu. Kau harus mencari tahu lebih baik, apa yang akan kaulakukan dengan pedangmu; dan hal ini harus jelas terlebih dahulu sebelum kau menemukan pedangmu.

BAB VII:  PERNIKAHAN
1. Eros, cinta yang mempersatukan mereka, hanya akan membuka sisi buruknya saja. Dan apa yang Tuhan anugerahkan kepada manusia sebagai sesuatu yang mulia akan menjadi sumber kebencian dan kerusakan.
2. Jika saja mereka tak membiarkan diri dijangkiti kemunafikan cinta yang mendominasi generasi sebelum mereka, dunia ini akan menjadi tempat yang berbeda.

BAB VIII: ANTUSIASME
1. "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan bahasa manusia dan malaikat... dan sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat... dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung... namun jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
2. Memancing pada dasarnya adalah simbol hubungan manusia dengan dunia; kita tahu alasan kita memancing, dan kita akan mendapat sesuatu jika kita bersabar, tapi apakah kita akan mendapat hasil atau tidak tergantung pada Tuhan.
3. Dalam hidup ini banyak hal yang tak bertahan lama.
4. Agape adalah cinta seutuhnya. Agape adalah jenis cinta yang akan menguasai orang yang mengalaminya. Siapapun yang mengalaminya akan merasa bahwa tak ada yang lebih penting di dunia-- kecuali cinta. Inilah jenis cinta yang Yesus berikan untuk kemanusiaan, dan cinta ini begitu agungnya hingga mengguncang langit dan mengubah jalan sejarah.
5. Agape adalah perasaan total, yang akan melingkupi keseluruhan diri kita, dan mengubah kebencian menjadi debu.
6. Antusiasme adalah agape yang dikonsentrasikan pada ide atau benda tertentu. Saat kita mencintai dan memercayai sesuatu sepenuh hati, kita akan merasa paling kuat di jagat raya, dan kita akan merasakan ketenangan yang berasal dari kepastian bahwa tak ada yang akan mampu mengguncang kepercayaan kita. Sebab saat kita berjuang dengan segenap tenaga, tak ada hal lain yang lebih penting; antusiasme akan membawa kita mencapai tujuan.
7. Kita kehilangan antusiasme karena mengalami kekalahan kecil tak terelakkan saat kita berjuang dengan sepenuh tenaga. Dan karena kita tak menyadari antusiasme adalah kekuatan ampuh, dapat membantu kita meraih kemenangan besar, kita membiarkan kekuatan itu lepas dari genggaman; kita melakukan ini tanpa menyadari kita sesungguhnya melepaskan makna sejati hidup.

BAB IX: KEMATIAN
1. Sebelum menemukan pedangmu, kau harus memutuskan apakah kau akan dikuasai kekuatan itu atau menguasainya.
2. Rasa percaya diri dan kemampuan penguasaanmu sangat tergantung pada bagaimana caramu mengatasi ancaman dari luar.
3. Saat berjuang dengan sekuat tenaga, kau tak boleh melupakan hal ini. Kau juga tak boleh melupakan bahwa menyerang atau melarikan diri adalah bagian dari perjuangan. Hal-hal yang bukan bagian dari perjuangan ini kan dilumpuhkan oleh ketakutan.
4. Manusia tak melihat dengan adanya kesadaran akan kematian, mereka akan menjadi lebih berani, untuk melangkah lebih jauh di kehidupan mereka, karena mereka tak punya apapun untuk dipertaruhkan-- karena kematian tidak bisa dihindari.
5. Kematian adalah teman kita yang paling setia, dan kematianlah yang memberikan arti hakiki pada kehidupan seseorang.

BAB X: WATAK JAHAT
1. Mari berdoa untuk meminta, jika kau nanti berhasil mendapatkan pedangmu, kau akan selalu menggenggam pedang dengan tangan yang takkan menimbulkan masalah bagimu.
2. Jangan palingkan belas kasih-Mu pada kami semua yang menggenggam pedang kami dengan tangan malaikat dan tangan iblis, dan sesungguhnya mereka adalah tangan yang sama. Karena kami adalah bagian dari dunia, dan akan terus menjadi bagian dari dunia, dan kami membutuhkan-Mu.

BAB XI: PENGUASAAN
1. Mustahil kau dapat memanjat gunung ini. Saat aku memintamu untuk memanjatnya, aku tak menguji keberanianmu. Aku menguji kebijaksanaanmu.
2. Jika kau mampu melakukan levitasi, kau takkan mendapatkan masalah berarti. Namun kau ingin menjadi pemberani, pada saat kau cukup menjadi cerdas.
3. Kau tak gentar,  dan kau bukan pemalas. Meski begitu, kau tak boleh berpikir aku memberimu perintah yang tak berguna. Kau tak melanggar sumpahmu hanya karena kau mampu memutuskan sendiri nasibmu. Seorang peziarah tak pernah dilarang untuk menggunakan kemampuan itu. 
4. Aku rasa ia akan lebih bahagia jika, alih-alih rasa sakit, orang-orang mempersembahkan rasa senang mereka.
5. Segala hal yang kau pelajari hingga saat ini akan masuk akal jika kau menerapkannya dalam keseharianmu. Kebajikan hanya bernilai jika mampu membantu kita mengatasi rintangan-rintangan.
6. Kau punya cara sendiri menjalani kehidupanmu,  mengatasi masalahmu,  dan mencapai kemenangan. Mengajar berarti mendemonstrasikan bahwa itu semua mungkin. Mempelajari berarti membuat semua itu menjadi mungkin bagi dirimu. 
7. Begitu masalah dapat diselesaikan, kesederhanaan pemecahannya akan mengagetkan. 
8. Segala pengalaman buruk di masa lalu tak boleh berulang-- aku harus menang. 

BAB XII: KEGILAAN
1. Manusia dan alam sama-sama tidak konsisten.  Kita membangun jembatan yang indah,  kemudian alam mengubah aliran sungai yang mengalir di bawahnya. 
2. Seperti sungai yang berubah aliran, kepercayaan manusia pun rentan terhadap perubahan. 
3. Setiap manusia mempunyai pijar kegilaan yang terbakar di dalam diri kita dan pijar itu berbahan bakar agape. Agape lebih agung dari segala konsep yang dimiliki manusia,  dan semua orang haus akan itu. 
4. Agar agape dapat tumbuh,  aku harus berani mengubah hidupku. Jika aku sungguh-sungguh menyukai jalan hidupku, tak masalah. Namun jika aku tak menyukainya, selalu ada waktu untuk berubah. Jika aku mengizinkan perubahan itu terjadi, aku mengubah diriku menjadi lahan subur dan mengizinkan sang Imajinasi Kreatif untuk menyemaikan benih di dalam diriku. 
5. Dalam menempuh jalan kehidupan,  kita akan selalu berpapasan dengan masalah yang sulit dipecahkan. Jadi kau harus membiarkan Imajinasi Kreatif-mu bekerja.
6. Satu-satunya cara untuk mengambil keputusan yang tepat adalah dengan mengetahui mana keputusan yang salah. Kau harus memikirkan alternatif lain, tanpa merasa takut atau ngeri, kemudian membuat keputusan. 
7. Aku terlalu takut pada kekuatan musuhku,  dan ini adalah perangkap. Ia tak lebih kuat dari aku.
8. Aku seharusnya menghadapi dunia dengan menggunakan senjata yang tadinya digunakan untuk melawanku. 

BAB XIII: PERINTAH DAN KEPATUHAN
1. Kemenanganmu sangat manis, tapi kau gagal pada saat-saat terpenting. 
2. Sebelum tanganmu dapat menggenggam pedang yang kucari, kau harus terlebih dahulu menemukan musuhmu dan bagaimana cara mengalahkannya. Pedang itu hanya akan menyerang sekali, tapi tanganmu terlebih dahulu meraih kemenangan atau kekalahan sebelum serangan itu kaulakukan. 
3. Ada rahasia dari pencarianmu ini, dan rahasia itu belum pernah kaupelajari sebelumnya. Jika kau tak melakukan itu, kau takkan pernah menemukan apa yang kaucari. 
4. Musuh kita merupakan perwujudan dari kelemahan kita. Kelemahan ini mungkin berwujud ketakutan akan sakit secara fisik, tapi bisa juga berwujud rasa kemenangan yang terlalu dini ataupun hasrat kuat untuk menghindari pertempuran karena kita merasa itu tak layak untuk diperjuangkan. 
5. Musuh kita ikut bertempur hanya karena ia tahu ia bisa melukai kita-- dan luka itu akan tepat mengenai titik tempat harga diri kita memberitahukan bahwa kita tak terkalahkan. Sepanjang pertempuran, kita selalu mencoba untuk melindungi titik lemah kita, jadi musuh akan menyerang sisi yang tak terlindungi-- sisi tempat kita menaruh kepercayaan akan kekuatan sendiri. Dan kita akan dapat dikalahkan karena kita membiarkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi: kita membiarkan musuh menguasai jalan pertarungan.
6. Berperang bukanlah dosa. Itu tindakan yang dilandasi cinta. Musuh akan membuat kita berkembang dan tajam. 
7. Musuh kita merupakan bagian dari agape, menguji keyakinan kita, keinginan kita, dan penguasaan pedang kita. Musuh ada dalam hidup kita-- dan kita ada dalam hidup mereka-- dengan suatu tujuan. Dan tujuan itu harus dicapai. Jadi, melarikan diri dari pertempuran adalah hal terburuk yang terjadi. Jika kita kabur, satu-satunya hal yang kita lakukan adalah meneguhkan kemenangan musuh kita. 
8. Semuanya terkandung di dalam suara-suara-- suara masa lampau, masa kini, dan masa depan. Orang yang tak tahu bagaimana caranya mendengarkan tak akan pernah mampu mendengar nasihat yang diberikan hidup kepada kita sepanjang waktu. Dan hanya orang yang mendengar suara masa kini yang akan mampu membuat keputusan yang tepat.
9. Jawaban yang keliru akan membawamu pada solusi yang tepat. 

BAB XIV: TRADISI
1. Orang yang menganggap dirinya bijaksana sering merasa ragu saat mereka diperintah dan akan memberontak saat mereka diharuskan untuk patuh. Mereka malu untuk memberi perintah dan menganggap menerima perintah adalah perbuatan tak terhormat. Jangan pernah menjadi seperti itu.
2. Saat kau belajar tentang latihan-latihan itu,  aku belajar tentang makna di baliknya. Dengan mengajarimu, aku benar-benar belajar sesuatu. Dengan menjadi pemandu, aku mampu menemukan jalanku yang sejati.
3. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu menjadi sebijak Salomo dan seperkasa Alexander Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.
4. Akan sangat sulit bagimu, yang terbiasa menjadi tuan atas diri sendiri, untuk menjadi pelayan bagi orang lain; kau akan jarang dapat melakukan segala sesuatu berdasarkan keinginanmu. 

BAB XV:  EL CEBRERO
1. Berlawanan dengan yang selama ini kita pelajari, hasil akhir sungguh penting. Kerja keras seseorang tentunya sangat diperlukan dan harus dihargai, namun tanpa hasil akhir, usaha itu akan sia-sia saja.
2. Pedang itu hanyalah hasil akhir. Aku ingin sekali menemukannya,  tapi aku lebih ingin tahu apa yang bisa dilakukan dengan pedang itu. Karena aku harus menggunakannya untuk keperluan praktis, sama saat aku mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hariku.
3. Saat kita menginginkan sesuatu, kita harus mempunyai tujuan yang jelas untuk sesuatu yang kita inginkan itu.
4. Keajaiban itu mujizat untuk mengubah apa yang kaulakukan menjadi sesuatu yang kaupercayai.

EPILOG
Orang selalu tiba pada saat yang tepat di tempat orang lain menunggu mereka.



PAULO COELHO

No comments: